Curahan Hati Amelia Az-Zahra

Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kepada Pak SBY yang Terhormat dan Tersayang,

Ketika buku ini sudah terbit saya tidak tahu apakah anda akan membaca buku ini dan membaca surat ku atau tidak. Mungkin saat anda mendengar buku ini terbit ada beberapa respon yang akan muncul. Yang pertama mungkin anda tidak ingin membaca buku ini karena takut berisi kritikan dan berisi keinginan rakyat yang selalu meminta haknya. Dan kemungkinan kedua, ketika anda mendengar buku ini telah terbit anda akan membaca buku ini karena anda peduli pada apa yang ingin kami katakan. Dan jika anda sedang membaca buku ini sekarang aku mengucapkan beribu-ribu ungkapan terima kasih. Karena telah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan kami. Domo Arigatou Gozaimasu.

Pak SBY yang Terhormat, Aku tidak akan menuliskan seperti tulisan-tulisan lainnya seperti yang ada di koran, atau tulisan-tulisan saat demo. Aku tidak akan menuliskan tentang keinginan para rakyat untuk disejahterakan. Aku juga tidak akan menuliskan sesuatu untuk meminta anda agar turut membantu Palestina. Saudara kita seiman yang sedang butuh pertolongan. Aku takut jika aku menuliskan itu semua anda sudah terlalu bosan untuk mengetahuinya. Sedangkan untuk memberikan solusinya entah apakah anda bisa. Tapi dengan kekuasaan anda sebagai presiden aku yakin anda pasti bisa. Tapi karena aku juga pernah menjadi seorang pemimpin walaupun hanya memimpin hal kecil. Aku juga jadi ikut merasakan yang mungkin sedang anda rasakan sekarang yaitu ternyata memimpin itu susah. Terlebih memimpin begitu banyak rakyat yang setiap orang memiliki perbedaan persepsi. Aku maklum pasti akan sulit sekali. Jadi,aku akan bererita tentang hal lain saja. Tentang masalah pribadiku. Terserah anda apakah anda akan membaca buku ini atau tidak. Atau akan memberikan solusi atau tidak. Aku akan tetap menuliskannya. Anggap saja anda sedang membaca sebuah buku diary seseorang.

Dear pak SBY. Saat ini aku ingin menuliskan sebuah buku. Tapi sayang sekali tulisan itu belum rampung. Setiap aku menuliskan sesuatu maka muncul lagi ide lain. Mereka terus berdesak-desakan meminta agar aku menuliskan apa yang sedang kupikirkan. Bahkan terkadang aku jadi bingung mau menuliskan ide itu di bagian mana. Ide itu terus muncul, sampai-sampai aku beranggapan semua ini tidak akan selesai pada tanggal 30 September 2011. Belum lagi aku harus mengeditnya. Ini semua terlihat begitu mustahil. Belum lagi ada halangan lain. Aku sudah mulai kuliah. Tempat kuliahku begitu jauh. Sampai rumah rasanya aku begitu mengantuk. Sampai-sampai ketika aku melihat laptop nganggur aku memalingkan wajah. Aku terlalu pusing untuk menatap tulisanku yang acak-acakan belum diedit itu. Padahal biasanya. Sewaktu aku liburan kemarin, saat aku belum masuk kuliah. Aku sampai perebutan dengan mas Io kaka ku.

Tapi di saat sabtu dan minggu ini. Di saat libur ini aku melanjutkan tulisanku. Berusaha mengeluarkan semua ingatanku. Kesempatan awalku untuk menerbitkan tulisanku adalah dengan ikut acara Book your Blog. Tapi deadline nya semakin dekat. Aku semakin menyadari jika deadline disingkat menjadi 2 kata akan menjadi DL dan singkatan lain dari DL adalah Derita Loe. Haha,,, begitu sangat berhubungan. Jadi, kalaupun waktunya tidak keburu. Mungkin masih ada kesempatan lain. Misal harus bayar Rp. 500. 000,00- ke penerbit indie. Atau mungkin aku harus ngeprint tulisanku dan mengirimkan ke penerbit lain berharap semoga diterima.

Yeah itu adalah sebagian solusinya. Semoga semuanya baik-baik saja. Karena aku tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi nanti kecuali jika waktu telah berputar dan menuju saat itu.

[Curhat Untuk SBY] CURHAT SEORANG PEDAGANG

Assalamu’alaikum Bapak SBY

 

Sebelumnya saya mau minta maaf kalau saya sudah lancang untuk ikut curcol ke Bapak, sebenarnya saya juga menyadari kalau tugas Bapak sebagai Bapak bagi Negara Indonesia kita yang tercinta sudah sangat menyita waktu, perhatian, tenaga, dan pikiran Bapak. Tetapi saya ingin juga curcol ke Bapak seperti yang teman-teman saya lakukan, oh ya Pak, mungkin saja Bapak kurang mengerti apa itu curcol, karena ini merupakan bahasa tidak resmi alias bahasa alay (anak layangan), padahal saya bisa dikatakan bukan termasuk jamaah alay lho pak hanya ikut-ikutan saja memakainya, oh ya kembali ke masalah curcol, curcol adalah singkatan kata dari curhat colongan, kalau dalam bahasa resmi bisa dibilang keluhan.

 

Saya sangat berharap kalau curcol saya ini bisa dibaca oleh Bapak secara langsung sewaktu Bapak masih menjabat sebagai Presiden mengingat dua tahun lagi Bapak sudah akan menyelesaikan tugas mulia tersebut, oh ya perkenalkan dahulu saya adalah pedagang di pasar Temanggung yang sehari-hari menjual alat-alat pancing dan alat-alat tulis, sehubungan dengan profesi saya tersebut maka saya juga akan curcol masalah yang ada hubungannya dengan itu.

 

Pak SBY yang tercinta, sebagai presiden yang terpilih dengan metode baru yaitu presiden yang terpilih secara langsung, pada awal dilantiknya Bapak kami sangat berharap banyak agar Bapak bisa membawa angin perubahan di segala bidang terutama pemberantasan masalah korupsi, kolusi, nepotisme sampai ke akar-akarnya, namun sungguh sayang kepercayaan dan harapan kami yang pada awalnya sudah besar sedikit demi sedikit mulai luntur, hal itu karena Bapak lebih mengedepankah pencitraan diri, pemberantasan korupsi yang pada awalnya sudah bagus, lama-kelamaan mulai melempem selayaknya kerupuk yang terkena cipratan air atau seperti balon yang bocor yang lama-kelamaan kempis.

 

Yang paling banyak menyita perhatian banyak masyarakat adalah kasus skandal Bank Century yang sekarang sudah bermetaforsis menjadi Bank Permata dengan alasan bisa berdampak sistemik kalau tidak diselamatkan (menurut perhitungan para ahli yang berkompeten di bidang perbankan dan pengambil kebijakan di negeri ini), namun konon menurut prhitungan para ahli laiinnya sudah merugikan negara sebanyak 6.7 Triliun, wah angka sebanyak itu nolnya berapa ya Pak? bingung juga saya, karena ketika saya mencoba menulisnya di kalkulator saya ternyata angka digitnya kurang (maklum yang biasa saya hitung hanya sejumlah ribuan saja).

 

Sehubungan dengan profesi yang sedang saya geluti ini (doakan agar sukses ya Pak), maka sebagai seorang pedagang alat-alat pancing maka angan-angan saya langsung jauh membayangkan, seandainya saja uang sejumlah itu dibelikan ikan (lele, combro, tawes, bader, nila, gurame) lalu di lepas ke sungai-sungai di seluruh Indonesia, maka akan sangat banyak sekali dampaknya positifnya bagi banyak rakyat Indonesia, saya ilustrasikan saja, berapa banyak anak-anak sampai orang dewasa yang akan menikmati acara memancing massal tersebut (sejenak melupakan beban hidup), berapa banyak petani pembibit yang bisa menikmati kecipratan rezeki nomplok tersebut, berapa banyak pedagang alat-alat pancing yang juga ikut kebanjiran pembeli, berapa banyak para perajin pembuat alat-alat pancing yang akan ikut kecipratan order barang-barang, selanjutnya banyak pengangguran yang akan terserap ke lapangan pekerjaan pengerjaan pembuatan alat-alat pancing, pembibitan dan lain-lain, ke depannya tidak ada lagi penduduk Indonesia yang harus mengadu nasib sampai ke negeri arab juga ke negeri tetangga yang terkenal dengan para malingnya kalau di negeri kita tersedia banyak lapangan pekerjaan, juga kelestarian alam di sungai-sungai Indonesia akan terjaga dengan baik, itu menurut bayangan saya sebagai rakyat yang berkecimpung di bisnis yang berkaitan dengan pancing memancing.

 

Sebenarnya saya ingin curcol banyak hal, namun rasanya tidak etis dan bijaksana bila diperpanjang lebar, mengingat waktu dan tenaga Bapak yang sudah sangat banyak tersita untuk mengurusi banyaknya “anak” yang Bapak punya.

 

Kurang lebih itu saja curcol saya untuk Bapak, sangat berharap banyak bila seandainya bisa berbincang-bincang langsung bukan kapasitasnya sebagai rakyat dan penguasa, tetapi sebagai anak yang berbincang ke orang tuanya, ngobrol santai sembari menikmati secangkir kopi capucinno di teras belakang istana

 

Sekian

 

Wassalamu’alaikum

 

 

NB: Curhat Untuk SBY ini adalah Proyek Nulis Buku Bareng yang diprakarsai oleh Pak Abrar Rifai. Untuk informasi selengkapnya, bisa klik: https://www.facebook.com/notes/abrar-rifai/buku-antologi-curhat-untuk-sby/10150384111250622

September 25, 2011 at 11:31am

[Curhat untuk SBY] OLEH-OLEH GANTUNGAN KUNCI

As.Wr.Wb. Salam hormat Bapak SBY.

Seandainya boleh setiap orang di negeri ini berkirim surat atau berkirim SMS kepada Pak SBY, mungkin saya termasuk orang yang akan berkirim surat, atau mungkin juga surat saya yang paling sering diantarkan oleh pak Pos, bisa jadi surat saya juga surat terpanjang yang pernah pak SBY terima, bisa-bisa melebihi isi berita di surat kabar pagi ini. Atau bisa jadi SMS saya yang paling sering masuk di HP pak SBY, paling tidak bertanya kabar : sarapan di mana Pak SBY, atau makan siangnya gak usah pakai sambel kacang  nanti asam uratnya kambuh, atau mungkin hanya sekedar ucapkan selamat malam dan selamat istirahat.

Mohon maaf sebelumnya, karena saya menyebut Bapak hanya dengan nama SBY, padahal saya tahu itu sangat tidak sopan, tetapi itu sering saya dengar dan sering pula tertulis besar sekali di surat kabar. Seharusnya saya memanggil Bapak dengan nama lengkap Susilo Bambang Yudoyono, dengan tambahan gelar di depan seperti kata Yang MuliaTuan atau Baginda, seperti yang sering tersebut dalam cerita-cerita rakyat, untuk memanggil Pemimpin Tertinggi atau seorang Penguasa. Tapi karena negeri ini bukan Negeri Dongeng, dan bukan pula Kerajaan, maka saya lebih baik memanggil bapak dengan sebutan Pak SBY saja. Bukan berarti saya tidak menghormati Bapak, justru ini adalah panggilan tertinggi dan sangat terhormat menurut saya, yaa hitung-hitung sekalian berhemat kertas dan tinta, jika melalui SMS supaya bisa memuat kata-kata lebih banyak. Andai saja Bapak SBY punya akun FB, yaa saya kan bisa jadi teman di FB, bisa gabung di grup ini Proyek Nulis Buku Bareng.

Sebenarnya saya tahu, setiap orang boleh saja mengirim surat kepada Bapak, tetapi saya yakin surat saya tidak akan pernah sampai di tangan Bapak, apalagi membacanya, karena Bapak sangat sibuk dari pagi hingga malam, bahkan tidak ada hari libur bagi Bapak, tidak ada kalender merah bagi Bapak, karena setiap hari terus saja memikirkan Negeri ini. Jadi mana mungkin sempat membaca surat dari rakyat jelata seperti saya, paling juga hanya akan di baca oleh orang-orang yang setia membantu Bapak bekerja. Walau begitu saya sudah merasa senang, karena paling tidak surat saya sudah sampai di Jakarta sana, dibaca atau tidak, bagi saya tidak terlalu penting.

Jakarta itu menurut saya sangat jauh sekali Pak SBY, maklum saja saya tinggal di Sangatta jauh di Pelosok Desa, jangankan pesawat, angkot saja tidak mau masuk ke daerah tempat tinggal saya, paling juga hanya ada ojek, itupun harus yang sudah kenal, jika tidak mana ada yang mau mengantarkan ke daerah tempat tinggal saya di pelosok ini.

Saya merasa lebih dekat Bulan di langit sana daripada Jakarta, karena bulan bisa saya pandang dari halaman rumah, sedangkan Jakarta tidak dapat saya lihat, padahal saya sudah naik di puncak tertinggi “Gunung Menangis” tanjakan tersulit yang harus di lalui jika dari Kota Samarinda, tapi tetap saja Jakarta tidak terlihat, malah terasa Bulan lebih dekat sepertinya hanya nyangkut di pucuk kelapa di “Bukit Pelangi” sana di kawasan Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.

Kapan yaa kira-kira Bapak SBY bisa jalan-jalan ke Sangatta, tapi jika ke Sangatta, biar saya bongceng  naik kendaraan roda dua saja, supaya Bapak SBY tidak mabuk di jalan, karena jalan ke Sangatta sudah banyak rusak, banyak lobangnya dalam-dalam apalagi musim hujan begini, jika naik mobil pak SBY bisa nginap di jalan, tapi jika dibonceng saya, pasti sampai di Sangatta, mau bertanding kecepatan dengan mobil juga boleh. Maaf yaa Pak SBY, karena saya hanya punya kendaraan roda dua saja, lagi pula jika Pak SBY ke Sangatta, pasti jalan-jalan di perbaiki,  kan Bapak mau lewat, tapi jika yang lewat hanya penjual sayur, atau orang seperti saya saja, jalannya tidak akan di perbaiki, gitu Pak SBY.

Hitung-hitung kita bisa berhemat biaya, karena di Sangatta kadang-kadang Bensin atau minyak tanah atau juga gas elpiji sangat sulit di dapatkan. Padalah di tempat saya ini penghasil batu bara, ada juga sumur gas, juga banyak sekali sumur-sumur minyak, tidak kurang dari 150 sumur yang tiap hari dipompa, tapi di tempat saya sering kali kehabisan minyak, sampai-sampai antrian mobil di Pom Bensin itu mencapai dua kilo meter, bisa juga antrian derijen minyak tanah disusun rapi hingga memenuhi lapangan volly terkadang sampai berminggu-minggu.  Mengapa begitu ya Pak SBY?

Wah jika sampai di Sangatta, terus jangan nginap di rumah saya ya Pak SBY, karena di rumah saya belum ada Air PDAM,  yang ada hanya air sumur, lagi pula dirumah saya belum ada listrik PLN, saya hanya pakai mesin disel sendiri dinyalakan hanya malam hari saja, itu juga patungan dengan tetangga untuk beli solarnya. Sudah daftar juga di PLN sana, tapi belum lama, baru dua kali Pemilu Langsung, kira-kira seumur dengan masa Jabatan Bapak SBY, namun sampai sekarang juga belum di pasang, sudah tiga kali ganti Kepala  PLN belum juga di pasang, sampai-sampai saya di hapal oleh orang PLN lho, belum lagi saya masuk ke kantor PLN, saya sudah dapat senyuman dan di sapa ramah “Belum ada pemasangan Pak” begitu terus, padahal jika rumah Pejabat di daerah saya yang pasang, rumahnya belum jadi listrik PLN sudah di pasangkan.

Ketika saya pulang ke kampung halaman sering saya berpikir, kapan anak-anak dapat menikmati kemajuan Negeri kita ini, seperti di negeri dongeng sana. Televisi tidak ada, buku sulit diidapatkan, padahal anak-anak di kampung halaman saya sana, semangatnya untuk sekolah luar biasa sekali. Pagi-pagi mereka berangkat ke sekolah, walau tanpa alas kaki, terkadang juga, jika hujan hanya berpayung daun pisang, tapi tetap saja mereka berangkat ke sekolah, walau sekolahnya hanya SD Filial yang jauh dari Ibukota Kecamatan dan hanya ada satu ruangan kelas. Gurunya juga bukan guru benaran, hanya seorang perantau yang sedih melihat kondisi anak-anak, sehingga mengorbankan waktunya untuk memberikan pelajaran membaca dan menulis serta berhitung. Padalah seperti yang saya dengar, bahwa dana untuk pendidikan itu besar sekali, katanya sih 20 persen, tapi saya juga tidak mengerti apa maksudnya, apa 20 persen yang sampai untuk pendidikan anak-anak, ataukah 20 persen itu juga termasuk untuk anak-anak yang jauh berada di kampung halaman saya sana.

Semoga saja pada tanggal merah nanti Bapak SBY sempat menceritakan atau jika mungkin sekalian bisa jalan-jalan ke kampung halaman saya sana, karena selama ini tempat-tempat seperti di kampung halaman saya itu tidak pernah di kunjungi oleh Pejabat negeri ini, paling juga ada yang berkunjung lima tahunan, saat-saat kampanye ada yang datang, dengan perahu yang membawa muatan penuh janji-janji, begitu terpilih malah lupa dengan janjinya. Kadang sih ada juga warga masyarakat yang datang ke kantor sang Pembawa Janji  tadi, tapi biasanya mereka tersebut sangat dihormati, bahkan selalu di jaga ketat oleh Petugas Keamanan sehingga hanya diperbolehkan duduk dihalaman kantor.

Kapan ya Pak SBY….saya bisa jalan-jalan ke Jakarta, masuk ke halaman Istana Negara, atau mutar-mutar di Tugu Monas, atau berkeliling di pertokoan Manga Dua, atau melihat-lihat pasar Tanah Abang, yaa seperti orang rekreasi gitulah. Agak jenuh juga rasanya saya sudah melihat pedagang sayur pasar tradisional di Sangatta Seberang sana, atau di Pasar Teluk Lingga, setiap pagi mereka selalu di datangi orang yang bukan pembeli, tapi di datangi oleh petugas Retribusi. Menurut cerita yang saya dengar, uang itu sih di setor ke Negara, digunakan untuk biaya pembangunan, untuk menggaji para Pejabat Negeri ini, juga untuk mendanai proyek-proyek, seperti studi banding para pejabat dan bos-bos besar pergi  ke Luar Negeri, pulang-pulang bawa “oleh-oleh gantungan kunci”, padahal jujur saja pedagang sayur yang menggelar dagangannya di pinggir jalan itu tidak perlu gantungan kunci, karena ada saja di antara mereka yang rumahnya tidak punya daun pintu, jadi kunci apa yang akan di gantung.

Mohon maaf pak SBY, curhat untuk bapak SBY kali ini mungkin terlalu luas, seluas negeri kita ini, dan banyak sekali yang di curhatkan, tapi masih belum sebanyak jumlah pulau-pulau di negeri ini, apalagi jika dibanding dengan permasalahan di negeri yang Bapak pimpin ini. Satu diantara pulau tersebut adalah tempat saya tinggal, yaitu di Provinsi Kalimantan Timur yang langsung berbatasan dengan negara tetangga. Sebagai seorang yang ahli dalam strategi berperang, saya sebenarnya ingin mendengar cerita Bapak SBY tentang, bagaimana pengamanan di setiap perbatasan antar negara, termasuk yang ada di daerah saya. Jujur saja rasanya saya ingin sekali mendengar cerita tentang pulau Sipadan dan Ligitan atau cerita di Ambalat, tetapi saya juga takut jika terjadi perang, karena saya tidak pandai menembak, dan bukan hanya itu kekhawatiran saya juga karena teringat dengan saudara-saudara saya yang sering mengeluhkan  pelayanan negeri kita, dan justru mereka sering membanggakan negara tetangga di banding Negeri kita. Saya ingin sekali mendengarkan cerita Bapak SBY tentang cara menanamkan rasa bangga Indonesia melalui meningkatkan pelayanan di wilayah perbatasan.

Terima kasih pak SBY, jika berkenan membaca curhat saya ini, karena tadi pagi saya juga sempat membaca surat kabar, walau surat kabar tiga bulan lalu, tapi cukup membuat saya berpikir agak keliru. Tertulis besar judul berita Presiden SBY…, dalam benak saya mengapa orang menulis seperti itu, seharusnya “Presiden RI, SBY…” tapi begitulah yang sering saya lihat di TV atau berita di korang-koran. Sepertinya berita di buat tanpa filter samasekali. Khawatir saja akan menyulut api pergolakan di masyarakat kita, hanya karena berita yang belum jelas sumbernya, kemudian di besar-besarkan melalui berita, hingga akhirnya meletus seperti balon ulang tahun.

Terima kasih sekali lagi Pak SBY, mohon maaf karena telah menyita waktu bapak SBY, hanya kerena curhat orang seperti saya dari “ndeso klutuk” ini. Semoga pak SBY tidak bosan membacanya. Selamat bertugas Pak SBY.

As.Wr.Wb.

Salam : Haidi Yan ([email protected])

—————-

NB: Curhat Untuk SBY ini adalah Proyek Nulis Buku Bareng yang diprakarsai oleh Pak Abrar Rifai. Untuk informasi selengkapnya, bisa klik: https://www.facebook.com/notes/abrar-rifai/buku-antologi-curhat-untuk-sby/10150384111250622

September 24, 2011 at 8:25pm ·

[Curhat Untuk SBY] Belajar Dari Pak Harto

Dear, SBY-ku…

Dari dulu saya pengin bisa curhat ke Bapak. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan ke Bapak. Namun apa boleh buat, saya tidak mempunyai daya untuk menyampaikan uneg-uneg saya sampai ke Cikeas atau Istana Negara. Maka, izinkanlah saya untuk menyampaikan sedikit curahan hati saya untuk Bapak tercinta, yang  menjadi orang nomor satu di negeri ini. Yaitu negeriku tercinta, Indonesia.

 

Presidenku yang tercinta…

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SD sampai dengan SMP, kebanyakan di ruang tamu rumah rakyat Indonesia, persis menghadap pintu depan, foto ukuran 10 R dengan pigura dari kayu yang diukir, terpampang wajah penuh senyum setengah badan, dialah Pak Soeharto dan wakilnya.

 

Waktu itu, Pak Harto adalah magnet. Laksana Raja Midas, apapun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Siapapun yang dirangkul Pak Harto, maka buatnya terbentanglah jalan yang lurus dan nyaman, tanpa ada aral merintang. Sampai-sampai ada semacam hokum tak tertulis di kalangan pejabat negeri ini, siapapun tidak akan pernah bisa menjadi “besar” tanpa restu Pak Harto. Maka orang-orang berbondong-bondong mendekatinya. Bahkan kalau perlu, maaf, dengan menjilat pantatnya.

 

Kalau yang jadi ukuran adalah dirinya dan keluarganya serta kroni-kroninya, maka Pak Harto boleh dibilang sukses besar. Bayangkan, 32 tahun berkuasa, bahkan hamper-hampir sendirian memegang kendali atas negeri ini; militernya, para pejabatnya, rakyatnya, bahkan hokum dan catatan sejarahnya. Keluarga Pak Harto; mulai dari anak, menantu, cucu, sampai saudara tiri dan adik ipar menjadi salah satu keluarga terkaya di dunia. Sungguh prestasi spektakuler; siapa yang mampu menandinginya? Bahkan, dalam 1000 tahun perjalanan bangsa kita ke depan, belum tentu ada pemimpim yang menyamai “kesuksesan” Pak Harto tersebut.

 

Akan tetapi kalau ukurannya adalah negeri ini, maka Pak Harto boleh dibilang gagal total. Faktanya, 32 tahun kepemimpinannya, negeri ini kini terpuruk sedemikian dalam; krisis ekonomi berkepanjangan, korupsi kian merajalela, system pendidikan kita tidak bisa diandalkan dan lain-lain.

 

Namun, setelah era reformasi 98, kini semuanya berubah. Pak Harto ibarat pesakitan. Ia dicaci dimana-mana. Termasuk oleh mereka yang pernah dibesarkannya, orang yang dulu membungkuk-bungkuk dihadapannya,. Bahkan ia juga dianggap sebagai sumber segala petaka yang terjadi di negeri ini. Barangkali hanya satu kata yang tepat untuk menggambarkan seluruh perjalanan hidup Pak Harta: TRAGIS!.

 

Terlepas dari apa dan bagaimana gaya kepemimpinan Pak Harto selama ini, saya tidak hendak ikut-ikutan menghujat atau memujanya. Satu hal yang pasti, Pak Harto tidak mempersiapkan pengganti. Pak Harto turun dari jabatannya bukan karena suatu proses regenerasi yang terencana, tetapi dipaksa oleh keadaan. Salah satu ukuran keberhasilan pemimpin adalah kalau komunitas yang dipimpinnya tetap berjalan normal, pun bila Sang Pemimpin lengser keprabon mandek pandito. Andai saja Pak Harto mau belajar dari Mr. Lee Kuan Yew, mantan PM Singapura, ceritanya pasti akan lain. Paling tidak, ia tidak akan menjadi pesakitan.

 

Ada beberapa hal kenapa Pak Harto lengser. Pertama, Pak Harto kebablasan. Saking lamanya dan enaknya jadi Presiden, ia lupa bahwa manusia tetaplah makhluk yang terbatas. Tidak ada kekuasaan manusia yang langgeng. Kedua, selama 32 tahun memimpin negeri ini, orientasi Pak Harto memang bukan pada kesejahteraan dan kemakmuran rakyat banyak, tetapi pada kesejahteraan dan kemakmuran keluarga dan kroni-kroninya. Karenanya ia lantas berpikir, kalau bisa selama mungkin berkuasa, kenapa tidak.

 

SBY-ku…

Kisah Pak Harto adalah kisah tragedy seorang anak manusia yang terjebak oleh jabatan dan kekuasaan sendiri. Semoga Bapak SBY bisa belajar dari padanya. Jabatan dan kekuasaan bukan segala-galanya; karena itu jangan mempertaruhkan segala-galanya demi merebut dan mempertahankannya. Jabatan dan kekuasaan adalah sarana, bukan tujuan; ia kan berguna selama ia menjadi PELAYAN, dan berbahaya kalau menjadi TUAN.

 

Presidenku, kepemimpinan Bapak masih tersisa 2 tahun lagi sebelum pemilu 2014. mudah-mudahan, Bapak bisa belajar dari kepemimpinan Pak Harto, sehingga tidak mengulangi kesalahan dalam sejarah. Sebab, kekuasaan batapapun tetaplah titipan yang harus dipertanggung-jawabkan, bukan warisan yang digunakan seenaknya dan semaunya.

 

 

 

—————-

NB: [CUS] atau Curhat Untuk SBY ini adalah Proyek Nulis Buku Bareng yang diprakarsai oleh Pak Abrar Rifai. Untuk informasi selengkapnya, bisa klik: https://www.facebook.com/notes/abrar-rifai/buku-antologi-curhat-untuk-sby/10150384111250622

September 23, 2011 at 1:55pm

Catatan Seorang Pejalan

Catatan Seorang Pejalan
Catatan Seorang Pejalan

Judul: Catatan Seorang Pejalan
Penulis: Ratu Marfuah
Penerbit Digital: Pustaka Hanan
Tebal: 119 Halaman
Size: 2,23 MB (PDF)
E-Book ini adalah kerjasama Perpustakaan Online dengan komunitas menulis PNBB (Proyek Nulis Buku Bareng)

Menikmati karya “Sepenggal Catatan Seorang Pejalan”, kita seperti menjadi saksi sebuah rejuvenasi suatu karakter penulisan. Bagaimana tidak, kisah-kisah yang ada di dalamnya tentunya adalah hasil kontemplasi pemikiran dan pendalaman makna dari tokoh-tokoh yang ditampilkan. Ini adalah hal yang tidak mudah dan sederhana. Sebuah kisah perjalanan yang membawa sosok pribadi Ratu Marfuah larut dalam hikmah yang bisa diambil oleh siapa pun yang membacanya.

Kalau kita mengikuti karya dari Ratu Marfuah sebelumnya, kekhasan gaya bahasa dan alur penulisannya pun semakin menarik dan berkembang begitu memesona. Kekuatan isi cerita dalam tuturan catatan harian yang berhasil membawa saya seakan mengenal penulis sebagai seorang Jawa yang njawani. Ini bisa kita baca dalam kisah ”Bintang dan Masa Lalu”, “Siap Menjadi Pengantin”, “Dari Sebuah Wayang” yang sarat akan petuah kehidupan dalam filosofi Jawa yang dalam. Di sinilah letak luar biasanya karya ini. Rangkaian antara hikmah, spiritual, dan dakwah yang dikemas apik sembari ikut menemani kisah seorang pejalan yang tengah memunguti ceceran mozaik ilmu kehidupan. (Haris A. Djauhari)

Ebook Catatan Seorang Pejalan ini merupakan karya kelima dari buku elektronik yang sudah dipublikasikan oleh penulis. Seperti yang dikatakan Haris A. Djauhari dalam pengantarnya, ebook ini akan menyuguhkan sesuatu yang dinamis bagi pembaca. Mengutip kata-kata penulis di lembar pengantarnya, semoga siapa saja bisa mengambil hikmah dari catatan seorang pejalan ini.

“Kisah-kisah dalam ebook ini adalah kisah-kisah yang teralami setelah saya tersadar, mau menerima, dan berusaha memahami. Hasil yang terdapat setelah saya menerapkan jejak perjalanan dengan menggunakan mantra bahagia dan dibersamai sekotak cokelat. Kisah yang ternyata beranalogi dengan makrokosmos. Saya menuliskannya karena menyadari daya ingat tak selalu baik. Maka ketika nanti daya ingat sudah tak lagi diberikan daya, saya bisa kembali menapaktilasi perjalanan yang pernah tertempuh. Tulisan ini pun menjadi bukti, bahwa saya pernah ada dan menjadi salah seorang pejalan di dunia.”