KopDar Malboro (Bagian Keempat)

“Nasi timbel ayam komplit”. Manstab. Meski aku belum tahu wujud nasi timbel, menu itu yang aku pilih. Nasi timbel, hih kayak apa ya. Ada-ada saja jenis menu di sini. Setahuku timbel itu logam yang warnanya agak ke abu-abuan. Sejenis logam yang diolah dari biji galena melalui proses penggilingan dengan menggunakan Crusher atau Roll Crusher, kemudian diteruskan dengan penggilingan halus dengan Hummer Mill atau Pullverizer, dilanjutkan dengan proses pencucian dengan bahan kimia dan peleburan dengan Tungku Reduksi, terakhir pemurnian dengan tungku Refinery. Sehingga didapatkan timbel dengan kemurnian 99,9 %.

Di candi Prambanan logam timbel ini banyak kita dapatkan di dinding candi untuk menandai dan membedakan antara batu asli dan bantu pugaran. Setahuku timbel itu ya itu, logam. Aaaaaa, ada makna lain dari timbel yang aku kenal, dengan syarat vokal e pada kata timbel dibaca seperti ketika membaca vokal i pada kata ambil, hehehe tahu juga makna timbel tersebut. Nah, di Malboro ini kok ada nasi timbel ya……hi…..jangan-jangan nanti nasinya sekeras logam timbel. Wah ndak bagus banget buat gigi saya, yang sudah mulai kropos ini.

“Njenengan dah sampai mana? Lama buanget…..”, jari tanganku kembali memenjet huruf-huruf Crossku langsung terkirim ke Qurrota Ayun.

“Njenengan dah lama di PNBB?”, tanyaku pada seorang wanita yang berada tepat di depanku. Heh….duduk dalam posisi di depan wanita kayak gini bikin aku bete. Ndak ngerti mau ngapain gitu.

“Ndak, saya tidak jadi anggota PNBB. Takut, masih belajar untuk nulis”, suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Dari logat bicaranya dan kelembutan suaranya, aku yakin si Mbak ini asli Jogja, sebuah kota yang terkenal dengan kealusan dan kelembutan budi bahasanya. Maka berbahagialah wahai para wanita yang berasal dari Jogja.

“O, njenengan asli Jogja ya?”, tanyaku memastikan.

“Iya, daerah Godean”. Nah bener kan dugaanku si Mbak ini asli dari Jogja. Makanya suaranya juga lembut dan halus. Eh, sebentar dia juga dari Godean lho. Sebuah kota di barat Tugu JOgja yang terkenal dengan masakan khasnya belut goreng.

“Wah bisa lebih sering ketemu nih…..” Si Mbak di depanku ini hanya tersenyum dengan gigi yang terpagari oleh behel.

“Eeeeeeee….. itu dia”, suasana tenang tiba-tiba berubah riuh saat seorang wanita berjilbab ungu terong dengan baju kotak-kotak warna ungu terong juga mengejutkan kami. Aku hanya membatin paling ini Qurrota Ayun. Yang suka dengan jus terongnya Pakdhe Heri Cahyo. Jujur. Sama sekali aku belum pernah melihat wajah Qurrota Ayun, walau hanya dalam gambar. Tetapi begitu Si Embak ini melihat saya, langsung sambung deh. Ya, karena poto propilku yang terupdate sehingga semua yang Kopdar langsung sambung melihat wajahku. (#Nah, keuntungan pasang PP dengan photo asli kan?)

Si mbak ini ternyata berdua dengan kekasihnya, bang Nashir, yang jurkam itu. Maksudte juru kamera. Lho, kok tahu! Nebak aja. Soale si lelaki yang hampir sama gemuknya dengan sang idaman hatinya ini membawa seperangkat alat sholat….eh kliru, maksudnya seperangkat kamera yang menurut saya terlalu lengkap dan benar aja, acara berikutnya adalah jeprat jepret.

Sungguh, aku sangat tidak biasa photo dengan banyak wajah kayak gini. Lihat saja, photoku selalu terkesan tidak natural. Senyumnya, gaya rambutnya dan juga gaya tubuhnya. Apalagi dengan mbak-mbak ini, jadi agak kikuk aku. Jangan-jangan gara-gara aku di samping mereka photonya ndak jadi atau malah jelek hasilnya.

BACA SELANJUTNYA <<<<< SEBELUMNYA

KopDar Malboro (Bagian Ketiga)

Ih, keren juga ya, anggota PNBB…… muslimah banget. Seruku dalam hati, ketika wanita berjilbab lebar itu mengembangkan senyumnya. Jilbab warna coklat muda (#eh warna coklat muda atau krem ya….ah ternyata baru ngerasa begitu sulitnya aku membedakan warna. Biar agak tepat dibayangin aja deh warna baju pramuka, saat ikut jambore pramuka di Cibubur# eh, emang pernah ikut jambore? Siapa bilang, kataku dibayangin aja.#) yang jelas jilbab dan warnanya sangat pas banget dengan warna kulit pemakainya yang tidak terlalu putih kayak sapi atau terlalu hitam kayak warna papan tulis…..terus warnanya apa..oh iya orang sering menyebut warna kulit itu dengan sebutan sawo matang….hemm….. manisnya. (# maksudku yang manis sawo matangnya#).  Si mbak ini jadi nampak kalem dengan warna kayak gitu. Mungkin ia sengaja pakai baju dengan warna yang ada unsur coklatnya. Soalnya warna coklat kan merupakan warna tanah atau bumi, kata orang sih warna itu memiliki karakter yang mampu memunculkan kesan nyaman, stabil, hangat, akrab. Warna ini juga dapat memberi sentuhan yang menenangkan serta elegan saat diaplikasikan pada sebuah ruangan.

“Eeeeehhhhhhh uda Hazil….”, begitu tatapan mata kami bertemu. Sebenarnya aku ngiri juga, kenapa yang disebut nama Uda Hazil. Mbokya …..eeeeeee PNBB, kan aku jadi kesebut juga. Kalau hanya uda Hazil, terus aku dimana waktu itu. Tidak kah saat itu aku terlihat juga? Atau memang tidak terlihat saat itu? Sesaat kemudian muncul beberapa wanita lain yang kemudian aku kenal mereka adalah Teh Pipit Senja, Eva dan ……ada satu lagi seorang wanita yang aku lupa namanya. Beberapa saat keakraban pun terjadi.

“Sudah aku add kan FB nya”, suara wanita berjilbab coklat pramuka. Hehehehe….. akhirnya disapa juga diriku. Dan ternyata benar dugaanku, si wanita yang kemudian aku tahu dia bernama Elly Lubis, bisa membuat kebekuan ku (#eh, emang air kok pakai beku segala, begitu kali), yang jelas kebekuan menjadi agak cair dengan sapaan itu. Jadi benarlah dugaanku kalau warna jilbab yang dia pakai disesuaikan dengan kepribadiannya yang hangat, tenang dan stabil. (# terus terang ini tak cocok-cocokan, kalau salah ya ndak papa ta? kan membuat senang itu sedekah.)

“Iya, sudah dikonfirmasi juga”, padahal aku belum tahu wajah si Elly Lubis sebelumnya. Soalnya sebelumnya ndak ada pemberitahuan siapa yang akan hadir di Kopdar Malboro. Jadi ya, ndak lihat poto propilnya. Coba kalau dibeitahukan siapa yang akan hadir, pasti semua propil yang mau ikut Kopdar Malboro akan saya buka satu satu. Tapi tidak semudah itu juga, soalnya banyak diantara anggota PNBB yang tidak menggunakan poto aslinya sebagai poto propil. Mungkin sudah menjadi kebiasaan di dunia online malu atau takut menampakkan wajah aslinya. Nggak tahu ya apa alasannya. Yang jelas banyak, anggota PNBB tidak mau menggunakan photo diri sebagai photo propilnya. Lihat saja mas Mahfud dengnan wayangnya, pak dhe Heri Cahyo dengan cover bukunya, Qurrota Ayun dengan daun yang tersinar samar dengan terang matahari, Eva dengan cover bukunya juga…. sehingga jangan salahkan aku jika pas ketemu gini ndak tahu siapa dirimu, yang sebenarnya. Dengan alasan itulah aku langsung mengganti poho propilku dengan poto asliku yang paling update,   begitu ada rencana mau Kopdar.  Tujuannya, ya biar begitu ketemu langsung nyambung. Dan terbukti kan, ketika pertama kali aku ketemu dengan uda Hazil langsung bisa nyambung. Aku tidak bisa bayangkan jika di propilnya uda Hazil menggunakan gambar selain dirinya, misal gambar ular kobra….wah bisa repot sekali kalau mau ketemu. Harus tanya ciri-cirinya gimana? Pakai baju apa dan sebagainya. Tapi ketika sudah jelas orangnya kan, tinggal tanya, posisi dimana? Begitu pandangan mata saling ketemu langsung sambung. Makanya, saya sarankan bagi anggota PNBB untuk menggunakan poto propilnya dengan poto aslinya. (# lho, kok jadi bicara poto propil…..nyampuri banget urusan orang….#). Pokoknya si Elly Lubis itu sesuatu banget, waktu itu…… bisa mencairkan yang beku dan bisa membekukan yang cair (#lho :()

“Ayo, silakan pesan. Pesan aja……”, suara si pencair suasana. Wuaduh….

“Wah, kalau sore nanti mungkin saya ndak jadi ikut Uda, soalnya kalau nanti mereka minum jus terong aku kan cuma bengong…..” Sms ku tertuju pada uda Hazil saat SMS yang menanyakan kepastianku ikut kopdar atau tidak, dari beliau aku terima.

“Tapi uda nanti juga tidak bisa lama mas, soalnya ada keperluan keluarga, Uda juga puasa”.

“Ya, aku berangkat sekarang”

Aku melirik Uda Hazil. Tidak ada masalah dia. Langsung pesan. Aku lihat Bunda Pipit dan yang lainnya. Semua sudah pesan juga. Melihat mereka sudah pesan, aku langsung meraih buku daftar menu.

Jujur, aku bingung mau pesan apa. Semua menu asing bagiku.

******
BACA SELANJUTNYA <<<<< SEBELUMNYA

KopDar Malboro (Bagian Kedua)

Sesak. Itu yang aku rasakan. Bukan, karena jalannya yang padat. Tapi lebih pada pikiran apa yang nanti akan diomongkan. Terus terang aku tuh orangnya pendiam (kalau pas diam). Dan jujur aku jarang ngikutin talk show. Jadi merasa kikuk dan tak tahu apa yang akan diomongkan nanti kalau ketemu,sama orang-orang keren di PNBB. Ah, cuek aja. Ngikuti aja apa yang akan diomongkan.

“Udah ketemu Uda Hazil belum? Beliau di pintu masuk”, SMS mbak ayun, mengagetkan lamunanku. (Lho, ngelamun to?). Eh, aku melamun? Enggak lah, aku ini baru jalan sama anak Alfi, nyari-nyari dimana perusuh PNBB ini pada ngumpul. Nah, dari pada bengong, pikiran ini aku ajak saja ke dunia lain, dunia lamunan. Ternyata uenak lho ngelamun itu, kita bisa loncat dari satu tempat ke tempat yang lain. Bisa juga mendatangkan semua teman kita, baik yang nyebelin, bikin bete atau yang cinta dan penuh kasih sayang. Ingat, kan cerita Lek Karman, saat mimpi. Berbagai kejadian, pertemuan dan pembicaraan ada di sana. Emang sih terkesan ngalor-ngidul dan penuh kemustahilan. Tapi ternyata itu bisa terjadi lho dalam impian, dalam lamunan juga bisa. Hanya perbedaannya pada apa yang hadir dalam mimpi tidak bisa kendalikan, tetapi apa-apa yang kita lamunkan masih bisa kita kendalikan.

Dalam lamunan kita bisa mendatangkan hal-hal yang menyenangkan sehingga pikiran kita bisa presh dan rileks bahkan bisa menjadi jendela (# jendela? Emang rumah#), ember gak tahulah pokoknya melamun itu bisa untuk mengenal diri dan bergerak maju. Dan asiknya nih, melamun itu bisa memecahkan masalah tanpa resiko. Seperti saat saya nyari PNBB nih, lamunan itu mengantarkan saya pada apa yang nanti akan saya lakukan, saat ketemu sama teman-teman PBB, eh sori PNBB maksudnya.

“Belum, ok makasih, akan aku cari”, jariku mengetik beberapa huruf dalam Crossku dan mengirimnya ke mbak Ayun.

“Fie, temane Abah di pintu masuk,lho. Mana pintu masuknya?”

“Lewat sini aja, Bah.”

“Jawab Alfi sambil terus berjalan”

“Lho ora mbalik ke sana ta?”

“Gak usah kita nyebrang jalan aja biar ndak ketubruk orang”. Emperan Malboro waktu itu memang sudah hampir dipadati orang. Di samping hujan rintik-rintik, waktu memang sudah merambat petang hingga banyak pejalan kaki yang lebih memilih berjalan di bawah atap toko dan terangya lampu toko.

Pandangan kuarahkan ke pintu masuk Malboro. Tapi sosok yang kucari belum juga bisa kutemukan.

“Uda dimana? Aku dah sampai Mall lho.” Sms kukirim ke uda Hazil sambil terus berjalan.

“Aku disamping Mac D”, langsung aja kuarahkan kaki menuju ke Mac Donald.

Begitu kaki menginjak anak tangga pertama. Aku melihat sesosok manusia berdiri di dekat pintu masuk. Di sampingnya seorang anak seusia anak saya. Saya yakin itu anaknya. Ketika tiba-tiba mata kami beradu…..

“Eeeee…….,” suara kami hampir bersamaan. Sejurus kemudian kami bersalaman, mengenalkan anak kami masing-masing.

Eh, ternyata Uda Hazil, tidak serem ya. Ya, ini harus aku sampaikan. Sebenarnya, ketika mendengar atau menyebut nama Uda Hazil,  dalam pikiranku terbayang sosok laki-laki yang kereng dengan sorotan mata tajam dan sangar. Ya, karena aku hanya mengenal dan melihat profesor PNBB ini dalam poto profilnya yang super minni. Dari gambarnya aku menangkap, Uda Hazil itu orang yang serem dan pendiam, meski di PNBB suaranya selalu bikin ketawa. Apalagi kalau sudah nyinggung-nyinggung masalah sensitif. Bakalan lari kemana-mana. Ingat kan saat ada yang berbisik pada yu Parti munggah sithik. Lha uda Hazil langsung nyeblung ke sana.

“Ayo kita ke sana”, ajaknya sambil meraih bahuku. Aku segera mengikuti langkahnya.

“Udah tahu tempatnya, Uda?”

“Katanya di samping…….”,Beliau menyebut nama yang aku kurang jelas mendengarnya. Ah, ngikut aja pokoknya. Beberapa saat kemudian, sorot mataku menatap seorang wanita berjilbab keluar dari sebuah ruangan.

BACA SELANJUTNYA <<<<< SEBELUMNYA

KopDar Malboro (Bagian kesatu)

“Wah ini saya baru sampai bethesda, dimulai aja dulu acaranya, ntar saya nyusul”,jariku segera menari di atas keypad ku saat kulihat waktu sudah pukul 16.00. Aku kuatir kalau teman-teman PNBB yang mau kopdar di Mall Malioboro harus menunda acaranya gara-gara aku belum hadir (cie emang siapa lo, kayak orang penting aja). Lho bener lho, aku was-was saat itu. Apalagi jalanan rame. Dugaanku bakalan terlambat nyampai di Malboro (Mall Malioboro). Aku biasa tidak enak kalau acara tertunda atau terhambat gara-gara aku terlambat. (yah, diulang lagi……). Karenanya, aku biasa tepat waktu. Soalnya aku merasa menyiksa dan merugikan yang datang duluan jika harus nunggu aku. Piye to iki kok diulang-ulang terus. Udah-udah sampeyan ki mau ngomong apa?).

Waktu bagiku tidak hanya sekedar uang, tapi ia juga pedang yang siap menyikat dan menebas siapa pun yang tidak bisa menggunakannya dengan baik. Saking berharganya waktu, sampai-sampai Allah bersumpah dengan waktu……. (eiiiiiihhhh kayak ustadz ya, malu nih sama pak Erryk Kusbandono)

“Emang ada cerimonila # Eh keliru, cerimonial maksudnya). saya aja baru sampai Tamansiswa”, es em es nongol di Cross saya, dari Qurrota Ayun. He…. melihat dan  mengeja nama Qurrota Ayun, pikiranku melayang. Wah nanti, bakalan ketemu dengan Qurrota Ayun. Seorang anggota PNBB berwajah unyu-unyu, dengan jilbab yang mengembang dan pasti mahasiswi dari Perguruan Tinggi yang cantik (eh sori kalimat terakhir ini terus terang saya bumbui. Anganku melambung. Aku bayangkan Kopdar nanti bakalan gayeng. Apalagi ada pemilik The Big O, yang hemmmm….. aku gak bisa mendeskripsikan orang yang bikin heboh di seantero PNBB sekaligus pengangkat tema Jarik Yu Parti.

Walaahhhhh, ternyata mereka belum pada ngumpul ya. Tapi ini justru baik menurutku. Setidaknya aku tidak terlambat dan memang aku tidak terbiasa terlambat dalam suatu acara, kecuali saat-saat tertentu saja (# hehh, podho ae kang)

“Selter Malioboro satu, silakan yang mau turun di Malioboro satu…..bla-bla-bla”, kaget dan segera aku berdiri menuju pintu TransJogja. Gerimis mengiringi jalanku. Segera kuraih Cross, dan jari ini langsung aja mengitik SMS…..terkirim ke uda Hazil Aulia. Sampai kami (oh iya, aku waktu itu berdua sama anak saya, Alfi. Pingin ngenalkan anak sama anggota PNBB. Lumayan kan, bisa njalin hubungan lebih dekat dan lebih gayeng lagi, tidak hanya di dunia maya tapi di dunia alam nyata dan alam sana…….hihhhhhhhh ada dunia alam sana ya). Ya jelas adalah. Malah alam sana itu yang sebenarnya dituju oleh semua manusia, ya termasuk semua anggota PNBB, tapi kebanyakan manusia tidak nyadar. Nyadarnya kalau sudah berada di alam sana. (Eh, masak di alam sana bisa nyadar). Iya bener bisa nyadar. Sampai-sampai kita meratap dan meminta kepada pemilik alam sana agar kita dikembalikan. Nggak percaya, jangan deh percaya aja. Daripada nanti nyesalnya nggak ketulungan.

“Ini pintu masuknya mana to fi,” tanyaku pada Alfie, anakku yang lebih hapal jalannya daripada aku.

“Sini aja, Bah.”

Langsung langkah kaki kami menuju pintu masuk mall. Jawaban sms uda Hazil belum juga ku terima. Sementara tiga lantai sudah kunaiki.

“Dimana Bah, teman Abah itu.” Alfie mulai resah. Capek kali ya. Soalnya sebelum ngetransjogja kami harus nyepeda dengan kenceng. Takut kalau terlambat.

“Ya, udah kita keluar lagi aja. Paling di pintu masuk.”

“Langkahku sambil menggandengnya keluar……

****

Baca sambungannya