Oleh: Haidi Yan

 

Kaltim dalam Novel

Kaltim Dalam Cerpen

Seminar Kaltim dalam Cerpen & Novel Indonesia, begitu yang tertulis dalam spanduk di belakang para Narasumber atau yang ada dihadapan peserta. Pada kesempatan tersebut, sangat disayangkan bapak Gubernur Kalimantan Timur tidak sempat hadir, acara yang sekaligus dirangkai dengan peluncuran buku “Kalimantan Timur dalam Fragmen Novel Indonesia” dan “Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia.” Khusus untuk Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia, merupakan Antologi Cerpen, yang ditulis oleh 46 Penulis, dengan editor bapak Korrie Layun Rampan.

Narasumber sangat menguasai materi masing, sesungguhnya waktu yang disediakan terlalu singkat, sehingga justru terasa membuat “haus” peserta seminar.

Beberapa hal yang mendapat perhatian dalam kesempatan tersebut, terutama disampaikan oleh Sastrawan Korrie Layun Rampan, sesungguhnya jumlah cerpenis dan novelis sangat banyak, terutama yang ada di Kalimantan Timur, yang terpantau lebih dari 300 orang cerpenis. Permasalahan yang utama sebenarnya (menurut Korrie Layun Rampan) terletak pada “Penerbitan” sehingga karya-karya cerpenis tidak diketahui oleh publik.

Menyinggung permasalahan lain, yang kurang mendapat perhatian dari para penulis adalah “penulisan” yang benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, kebanyakan Penulis kurang memperhatikan hal tersebut, sehingga sangat membebani Editor (jujur saja, Haidi sangat lalai dalam hal ini).

Sangat menarik, ketika Beliau menyampaikan tentang bagaimana menulis sebuah cerpen. Kunci utamanya, bagaimana seorang Penulis mengembara dalam suatu pemikiran yang belum tersentuh oleh orang lain. Tentang bagaimana Penulis menuangkan dalam bentuk tulisan, itu tergantung dari kemampuan masing-masing, karena banyak sekali aliran-aliran menulis dan boleh mengikuti aliran manapun. [Haidi : 07.12.2011]