[Cerita Anak SMP] Santriwati Puber

Selepas MTsN, aku berniat untuk melanjutkan ke sebuah Pondok Pesantren di bilangan kota Jember, tepatnya di Balung. Awalnya aku tidak tertarik dengan dunia Pondok Pesantren, namun gara-gara adik laki-lakiku yang pertama, masih kelas satu MTs mengirim surat pada Papa dan Mama dan padaku berbahasa Arab. Wuih…serta merta aku benar-benar jealous tingkat tinggi dan iri juga, pasalnya di MTsN aku benar-benar makan hati untuk belajar Bahasa Arab. Bahasa Arab itu sulit gurunya menyeramkan pula dan aku selalu pulang belakangan berhadiah cubitan lagi, karena urusan mencari mubtada’ khobar yang ndak kelar-kelar. Walhasil, masuk pondok pesantren adalah salah satu niatanku untuk dapat berbahasa Arab, baik lisan maupun tulisan.

Hari pertama di Pondok Pesantren aku lewati dengan setengah hati, karena Papa dan Mama telah pulang ke rumah, dan aku sendiri, walaupun banyak teman, tapi hatiku sepi juga. Lambat-laun akupun terbiasa dengan kehidupan di Pondok Pesantren. Kegiatan seabrek, mengalahkan rasa kangenku pada keluarga. Bayangin saja, jam 04.00 harus sudah stand by di masjid, jamaah shalat subuh, selanjutnya mempersiapkan diri untuk masuk kelas, mandi dan makan pagi, selepas shalat dhuhur berjamaah makan siang dan jam 14.00-15.00 ada pelajaran idhof (tambahan). Setelah itu istirahat sejenak sambil antri kamar mandi dan bersih-bersih kamar atau ma’had (pondok) bagi yang piket. Setelah itu jam 17.00 masuk masjid mengaji dan sholat maghrib berjamaah. Setelah makan malam dan sholat isya’ berjamaah. Jam 20.00 waktunya belajar, makan-makan, ngobrol juga dengan teman-teman bahkan tidur juga he..he..he.. pasalnya, karena kecapean ketika tiba jam belajar, memang benar-benar membawa buku, namun selang setengah jam, yang namanya mata masya Allah, ndak mau kompromi. Akhirnya masjid, depan mabna (kamar), penuh dengan santriwati yang belajar plus tidur juga.

Hubungan antar lawan jenis sangat dijaga di dalam pondok. Berbagai aturan dan ketat menjaga kami 24 jam untuk tidak bertemu muka apalagi menjalin sebuah hubungan. Jadi para pengajar pun hanya ustadz-ustadz yang sudah sepuh (tua) saja yang boleh mengajar di lingkungan pondok pesantren putri.

Bagiku tidak bertemu kaum Adam di pondok pesantren tidak ada masalah, sebab di MTsN dulu aku sudah bertemu banyak kawan laki-laki. Memanage hati memang tidaklah mudah. Ada kisah lucu terjadi padaku. Kebetulan di dekat sekolah ada kamar kecil yang ditempati cleaning service laki-laki. Sebab dulu Madrasah Aliyah berlokasi di dalam pondok putri, dan siswanya berasal dari luar pondok. Sedangkan santriwati punya sekolah sendiri. Nah sebut saja Joko, kami memanggilnya Lek Jojo seorang cleaning service ini sehabis bekerja terkadang kongkow sebentar bercanda dengan santriwati. Lek Joko ini mengenal baik aku dan adikku yang tinggal di Pondok putra. Ia pun menyampaikan salam seorang ustadz jebolan Pondok pesantren terkenal di Jatim padaku. Sebenarnya ustadz itu juga sangat mengenal baik adikku, karena memang ustadznya. Wah…Lek Joko ini menggambarkan ustadz tersebut dengan begitu jelas, bersemangat dan menginginkan aku membalas salamnya. Akupun benar-benar kaget bercampur takut, takut ketahuan bagian keamanan, kalau ketahuan…waduh…tamat riwayatku. Image yang kubangun jatuh deh. Imagenya, aku dikenal sebagai pribadi yang tak banyak bicara dan rajin. Apalah kata dunia kalau aku berhubungan dengan laki-laki di pondok??? Gawat.

Berangkat dari itu semua, aku tak mengindahkan kata-kata Lek Joko, kata-katanya kuanggap angin lalu. Hampir tiap hari dia lewat depan kelasku hanya untuk berucap: “Lel, dapet salam dari ustadz”. Aku menanggapinya dengan senyam senyum, walau lama-lama penasaran juga sama tuh ustadz, tahu namanya ya dari Lek Joko aja untuk urusan tampang, ndak berani.

Selang beberapa bulan, ketika menunggu adzan Maghrib, seorang kakak di bagian keamanan memanggilku. Dia memanggilku dengan senyuman. Aku menghampirinya seraya berpikir, tumben si kakak bagian keamanan senyam-senyum padaku. Lalu si kakak itu menanyakan aktifitasku dan kesehatanku, hingga ia menanyakan ada hubungan apa antara aku dengan salah satu ustadz jebolan Pondok Pesantren terkenal di Jatim itu. “Ya Allah…masya Allah….??? Aku benar-benar dibuat surprise. Kutanyakan darimana si kakak tahu kabar burung tersebut, sengaja kubilang kabar burung, lha…diriku tak merasa?? Ternyata kabar ada hubungan antara aku dan si ustadz itu berasal dari ustadz-ustadz alumni pondok putra yang di Probolinggo, waduh….sampai juga kabar burung kemana-mana. Walhasil aku pun menceritakan bahwa aku tidak mengenal si ustadz tadi, dan Alhamdulillah pernyataannku membawa hasil.

Sejak saat itu, aku mulai ekstra berhati-hati menerima kiriman-kiriman salam, yang entah benar atau tidak. Lebih menjaga diri untuk membuat progress pada diriku ke arah yang lebih baik, mandiri dan santun juga.

Malang, 17 Januari 2013

[Cerita Anak SMA] Kenangan Indah Bersama Vodka

Oleh Chilmi Muhammad S

Saat itu, masih teringat olehku betapa bahagia bercampur dengan rasa tak kuasa ketika setiap pagi aku bisa pergi ke sekolah dengan tidak mengenakan celana pendek lagi, yang seolah mencerminkan kedekilan bocah ketika akan bermain. Mimpi yang sedari kecil ku tancapkan jauh dalam relung jiwaku kini telah tergapai. Dulu ketika aku masih menjadi bocah ingusan, sering ku tatap sebuah sekolah yang begitu indah, yang setiap hari kulihat banyak siswanya keluar masuk dengan kendaraan produk mewah. Mereka terlihat bangga walaupun aku mengerti bahwa sesungguhnya itu semua hanya pemberian orang tua mereka yang tak sanggup menahan rasa congkaknya.

Kini tahukah kalian, aku pun menjadi bagian dari mereka itu. Kulangkahkan kakiku dengan lagak anak gedongan. Tanpa tengok kanan kiri lagi, segera akupun ingin tahu dan berkenalan dengan para siswa yang beruntung lainnya sepertiku. Kabarnya SMA ini merupakan sekolahnya anak-anak penikmat dunia. Begitulah setidaknya obrolan para tukang becak di luar sana.

“Tuhan, apakah memang aku pantas bisa masuk sekolah semegah ini” gumamku sendiri dalam hati.

Sekalipun saat itu aku bisa mengerti mengapa Tuhan menakdirkanku bisa masuk dalam sekolah itu. sebuah prestisius tersendiri bagi orang tua yang memiliki anak bisa mengenyam pendidikan di sekolah itu

“Ah mungkin ini hadiah Tuhan untuk orang tuaku yang selama ini berdo’a dalam malam-malamnya” pertanyaankupun ku jawab sendiri

Kembali kulanjutkan perjalananku menyusuri sudut demi sudut guna menemukan sebuah ruangan kelasku. Belum lama melangkah, kakiku terjerembak oleh ketakjuban pada sebuah bangunan yang mereka katakan itu sebagai sebuah musholah. Cukup menggelikan menurutku, di dalam sebuah lahan yang begitu luas, yang tentunya aku yakin pasti jumlah siswa di situ lebih banyak dari segerombolan manusia purba di zaman dulu hanya memiliki bangunan tempat beribadah sebesar kandang kuda milik tetanggaku. Jika kubandingkan dengan lahan parkir dan lapangan olahraganya yang seluas stadion Gelora Bung Karno (GBK).

“Namun biarlah, mungkin begini cara orang kota menghargai bagaimana nikmatnya pemberian Tuhan mereka”

Setelah itu aku pun melanjutkan perjalananku. Akhirnya kutemukan juga sebuah raungan berukuran bangunan gudang di sekolahku yang lama. Tampak dari luar ku lihat sebuah papan kayu bertuliskan angka favorite para pemain sepak bola. Dimana angka itu sering melekat di bagian punggung kaos para pemain terkenal . Kembali aku pun dibuat takjub oleh pemugaran dari system baru pemerintah. Dari angka satu menjadi sepuluh

“Memang sekarang sudah zaman ya angka-angka pada ditambahi, maka tak usah heran kalau banyak korupsi dimana-mana” aku lagi-lagi kembali bergumam

***

Hari pertama masuk sekolah, aku langsung bertemu dengan wajah-wajah baru yang terasa asing bagiku. Mereka terlihat sekali sangat nasionalis, bukan karena mereka semua taat dan patuh pada peraturan sekolah atau cinta dengan upacara pelantikan siswa baru, tetapi bagiku ukuran nasionalis di negara ini terlihat dari bagaimana berbagai suku dan budaya bisa bersatu. Bersatu sama-sama bisa menghargai dan mencintai pendidikan di negara tempat bapak ibunya dilahirkan.

Beberapa menitpun berlalu, kenasionalisanku pun semakin terasa ketika saat itu aku berjumpa dengan seorang teman baru yang berasal dari sebuah etnis yang berbeda dengan warga pribumi. Sepintas sosok baru dihadapanku ini terlihat begitu berpesona dan menawan untuk ukuran laki-laki labil. Dengan aksesoris kacamata putih dia selalu berlagak seolah adalah anak pemilik sekolah. Kesana kemari selalu diikuti oleh beberapa teman yang mungkin sepaham dengan ideologinya.

Tak terasa beberapa hariku pun terlewati dengan biasa saja bersama seorang laki-laki tadi di sebelahku. Sampai pada suatu waktu tak kusangka di laci bangkuku ku temukan sebotol yang saat itu kesebut dengan istilah “Vodka” karena aku tahunya minuman beralkohol cuma hanya satu jenis yakni jenis spesies tersebut. Dengan nada sayu, laki-laki berkacamata putih itu berkata

“Tolong aku titip barang itu ya, nanti waktu istirahat aku ambil” begitu lah bisikan merdunya terhembuskan di telingaku.

Entah karena jiwaku memang pengecut atau memang karena kebaikannya selama ini dalam meng back up diriku saat ada masalah, aku pun dengan polosnya menjawab

“Baiklah” serayaa kuanggukkan kepalaku

Tidak berapa lama jam istirahatpun datang menyapa, terlihat beberapa gerombolan laki-laki berkacamata putih tadi datang berkelompok seperti srigala yang mendekati bangkai babi hutan. Mereka menunggu barang yang di awal tadi sempat kuasumsikan dengan kata “Vodka”.

Belum sempat ku ambil sebotol minuman itu dari laci mejaku, terlihat salah seorang dari grombolan itu tengah bersiap membuka minuman cola yang berkarbonnasi tinggi. Akupun bertanya layaknya bocah tolol

“Buat apa minuman itu?, bukankah sebotol minuman di dalam laci ini sudah cukup bila dibagikan untuk beberapa anak disini?”

Seorang pemegang minuman cola itupun menjawab “minuman ini akan aku campurkan dengan minuman dalam laci mejamu. Sudah cepat keluarkan botol minuman itu !! terlihat jiwa anak ini mulai bergereget dengan nafsunya

Akupun menurutinya, setelah kukeluarkan kuserahkanlah botol minuman itu dengan pasrah, mulailah mereka mencampur adukkan kedua minuman tadi. Jika kalian tahu apa yang sedang terlintas dalam benakku saat itu, ya cuma tiga kata, yakni

“Pesta miras oplosan”

Perlahan namun pasti, akupun mulai menjauh dari tempat itu, karena begini-begini di dalam jiwaku masih tersisah cipratan ludah barokah dari guru ngajiku saat kecil dulu. Bak seorang pencuri akupun segera kabur. Usaha belum berbuah hasil, langkah kakikupun dihentikan oleh pemuda berkulit hitam dan berbibir tebal. Dia ingin aku untuk di tempat itu dan merasakan seteguk minuman surga dunia tersebut.

Dengan raut muka memelas, aku pun memohon agar tidak diperbolehkan ikut mencoba, tetapi mereka dengan berdali kebersamaan terus memaksaku. Hingga akhirnya teman sebangkuku tadi yang ku juluki dalam cerita ini dengan istilah laki-laki berkacamata putih datang dan membiarkanku pergi tanpa harus mencoba rasa dari minuman racikan teman-temannya tadi

Sebelum aku pergi jauh dari tempat itu, laki-laki berkacamata putih tadi berpesan

“Tolong jangan kamu bilang siapapun apa yang kita lakukan sekarang jika kamu memang ingin kami tetap menjadi temanmu”

Akupun hanya mengiyakan saja tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

setelah kejadian tersebut, mereka semua semakin menggila dalam berpesta, bukan lagi menunggu saat jam istirahat, malah di saat ada guru di depan kelaspun tak mereka hiraukan, selama situasi dan kondisi aman mereka pun sudah bisa bermabuk ria di belakang.

Di bagian akhir cerpen ini saya hanya bisa berkata
“Sungguh beginikah potret kehidupan dunia pendidikan Indonesia saat ini? Entah siapa yang patut dipersalahkan, yang terpenting marilah kita berlomba-lomba untuk bisa menjadi siapa yang akan menyelamatkannya”.

Mimpi Lek Karman, Jaga Lek Karman # 4

Mimpi Lek Karman, Jaga Lek Karman # 4

Cerita yang lalu bisa dibaca di sini

*********

mimpimu
mimpimu

“Ieu ua maneh, bet ngamuk teu pararuguh jang.” Ucap Mas Karman yang mendadak bisa bahasa sunda saking tak kuatnya menahan rasa sakit akibat cengkraman kuat tangan yu parti. Jeck dan Paijo pun bengong, mulut mereka menganga dan baru saadr setelah satu kompi lalat hinggap di mulut mereka. (Kang Achoey)

“hax hax hax haxxxxxxxxxxx…….Uda Hazil, ketua RT yang sedang melintas di halaman rumah Lek Karman tertawa demi melihat ada kucing yang melahap Mie Janda dan keselak gara2 diuber2 sama Lek Karman…*eh kucing bisa keselek gak ya… (Sitie Zumaroh)

Selang beberapa lama kini warga telah berkerumun di pelataran kediaman Mas Karman, diantara mereka ada Ustadz yang lebih ganteng dari ustadz Solmed, lalu beliau woro-woro. “Tenang semua, tenang. Dari pada ribut-ribut mending pada damai saja. Yu Parti dan Mas Karman sudah pada sama-sama dewasa, semestinya jangan memperbesar masalah. Mas Karman itu tak berniat poligami, Mie Janda itu bukan nama seorang janda melainkan kedai mie yang dah 10 kali tayang di TV, masa kalian belum tau sih. Ndeso. Yuk kita pulang ke rumah masing-masing. Kita pantengin www.romantisan.com biar pada adem ayem rumah tangganya.” 😀 (Kang Achoey)

Pak RT yang juga bertindak selaku densus ngedumel dalam hati “nih ustadz promosi kagak bilang-bilang sama gw nih, pan die belon ngasih jatah upeti sama gw” (Mahfud)

Tiba-tiba turunlah hujan (Irawati Syahriah)

Hujannya deras sekali…(Abrar Rifai)

Ketua RT yang melintas dan mendengar teriakan Jeck “woooooeeeyyyyy ada paan lagi nie coooyyy…..ciyuuuus bikin penapsaran saja ulah kalian ini”… diselingi suara hujan yang mencurah dahsyat dari langit, serta merta berhenti dan bertanya pada Jeck..

“Heh… anak muda…. ada apa engkau berteriak-teriak begini? hujan deras itu berkah… terus kenapa juga pakai ciyus ciyus begitu hah?! Jeck tersentak kaget…. eeeh… pak RT… coly ngacengaja….”

“Sompret..!!! pak RT mukanya merah padam… Kamu bilang apah?!! kulang ajal yah kamu?…”

“Sory… ndak sengaja… itu yang saya maksud pak RT…”, kata Jeck mengkeret… dalam hati ia pengen laporan ke Yu Sitie Zumaroh yang tadi mencontohkan pakai ciyus ciyus begitu… maksudnya biar gaul… tapi malah didamprat sama pak RT… (Hazil Aulia)

Sitie Zumaroh..tertawa geli melihat tingkah Jeck yang baru saja mempraktekkan ucapan alay yg di buat-buatnya. tampak raut kekesalan di wajah jeck yang tersadar bahwa dirinya sedang di permainkan oleh @sitie Zumaroh. Pak RT dengan wajah merah padam bersiap melempar sandal yang sudah sedari tadi melekat di tangannya. (Ajeng Imajinatta Chocholate)

111 kali Uker Erryk Kusbandhono memberi arahan kepada Jeck agar segera ‘menembak’ si Gadis Desa Sitie Zumaroh itu, namun gak berani-berani terus… Hufffttt….(Erryk Kusbandhono)

“Hmmm….. awaaaasss yah.. Sitie Zumaroh…. mentang-mentang sekarang jadi juragan pancing, ciyus mo bikin akyu kecel…”, kata Jeck dalam hati..

“Tunggu ajaaaaah…!! nanti gantian akyu yang bikin kesel dia…”, katanya dalam hati lagi….

“E e e eeee…. coly eh sorrry pak RT… kannggak sengajaaaa… plis deh ah… cepet tua nanti pak RT… ganteng-ganteng begono, masih muda pula nanti cepet kriput tuh… Mending ke salonnya Ajeng Imajinatta Chocholate ajah pak RT… ada tuh karyawannya si Opik yang pinter perawatan muka… meni pedi… apalagi tuh… ndak apal akyu…” kata jeck lagi.. (Hazil Aulia)

” Kucoba coba melempar manggis,
Manggis kulempar mangga kudapat
Kucoba coba melamar gadis,
Gadis kulamar janda kudapat

Iki piye iki piye iki piye,
Wong tuo rabi perawan
Prawane yen mbengi nagis wae,
Amargo wedi karo manuke

Manuke manuke cucak rowo,
Cucak rowo dowo buntute
Buntute sing akeh wulune,
Nek digoyang ser-ser aduh enake, ” dendang Paijo, kang mase Yu Parti menyindir Jeck ! (Rose Mawar Berduri )

Entah mengapa, malam itu sekalipun Paijo sebetulnya ingin menyindir namun dendangan Cucak Rowo itu mengingatkan ia akan sahabatnya Rose Mawar Berduri. Dulu Roselah yang meminjamkannya CD yang berisi lagu-lagu campursari yang memang kalau didengarkan sangat mak kemrenyes di hati.. Sekarang menurut informasi temannya, Rose sudah betah di negara teluk sana… aaah… pikirannya melayang ke masa-masa SMA dulu… seeeeerrrrrr  (Hazil Aulia)

“meoong… meoooongg…” mendengar campur sarian si pus mengeong lagi ikut menikmati (Mahfud)

“busyeet dahhh..jeck yang alay kenapa semua malah misuh2 ke sitie zumaroh, gadis manis yang terkenal ramah, suka menolong, juga baik hati ini..stoop hentikan kekacauan ini..lekas pergi semua dari rumahkuu..sekarang juga..sekarang saya lagi mau berdua2an sama kang karman” teriak yu parti ke semua tamu tak diundang di rumahnya (Sitie Zumaroh)

“Sebagai Janda yang suka MARTABAK, nggak rela aku dikotak-kotakkan…Karena menjanda bukan pilihanku!” kataku sambil mencomot beberapa potong martabak telor dan kuahnya yang masih hangat.Hujan diluar semakin deras, diiringin petir yang menggelegar, memekak telinga. Kilatan elektronnya membuat mata ini enggan menatap lama-lama MARTABAK yang belum habis dilumat. Bersembunyi dibawah selimut, menutup mata rapat-rapat. ((Rose Mawar Berduri)

“Gleger……dueeeerrrrrrr (eh suara petir tu kayak gini gak ya)”, suara petir malam itu begitu kerasnya. Sampai-sampai martabak yang sudah mau masuk mulut terlempar dari tangan Yu Parti. Bersamaan dengan lemparan martabak Yu Parti, tubuh wanita itu meloncat mendekap kang Karman. Karman sempat terkejut. Tapi sejurus kemudian pandangan mata mereka beradu….”Gleger-ger-ger-ger…..duerrrrrrrr” kembali petir menyambar-nyambar. Tangan Yu Parti tak kuat lagi menahan keinginan. Akhirnya ia dekap kang Karman yang dan……

“Meong…….”, tiba-tiba si pus nya Mahfud meloncat di atas kepala mereka berdua. Hampir saja cakarnya mengenai wajah Yu Parti, kalau tidak segera diselamatkan oleh Kang Karman. (Edris Ernawan)

dan tanpa disangka-sangka, ternyata si pus yang sedari tadi cuma mengeong bisa juga berbicara, seperti manusia, hanya saja bahasanya ikutan alay, “meooong… coly, ngacengaja” (Mahfud)

Lek Karman yang sudah hapal tabiat dan hapal dengan bahasa kucing garong, tahu betul makna eooooongan kucing dengangayaalay tadi. Matanya langsung menatap tajam pada kucing yang juga tajam menatapnya……”Emang masalah buat loe?”, bentaknya.

Yu Parti terkejut dengan ucapan suaminya, ” ciusss mi yapah…..mas?”, sahutnya (Edris Ernawan)

“Terus gue harus bilang wow githu?” (Irawati Syahriah)

Meong bermata GIOK itu menelanjangi kamar Yu Parti….yang kebasahan kebocoran air hujan. (Rose Mawar Berduri)

“sekalian aja basah-basahan, belom mandi ini” batin Yu Parti dalam hati. Pus bermata giok melotot menatap Yu Parti, wong edan mandi di kamar tidur (kata si pus: juga dalam hati). si pus ngedumel lagi begitu ngeliat sprei Yu Pasti udah pada basah. mungkin nanti Yu Parti mau belanja sprei baru lagi di Onieshopline. lah, gimana gak beramtem mulu sama Lek Karman yang selalu menggerutu ditagih duit dapur melulu tiap minggu sama Yu Parti. Coba Lek Karman tanya sama aku, si pus makin ngedumel… (Onieshopline)

****
Bersambung lagi – entah kapan 😀

***
Gambar di ambil dari sini

Mimpi Lek Karman, Jaga Lek Karman # 3

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini

********

mimpi lagi
mimpi lagi

Merasa ada yang melongok, Ema Ied Fitriyah penjual tampon anti bocor semangat menjajakan dagangannya, tampon anti bocor mas Akung Krisna, bisa buat plester bekas bacok, dijamin isis monggo… Mas Akung Krisna mengo mingkem (Ema Ied Fitriyah)

“uwes iki? bubar????…..” (Qurrota Ayun)

“meoooong… meoooooongg…” tiba-tiba kucing manis nan imut mengeong mencari terong (Mahfud)

Kang Karman segera berbalik arah. Golok yang masih dipegangnya kuat-kuat kini diarahkan kepada kucinng yang suaranya meong-meong. Mata mereka beradu. Di wajah Karman kucing itu laksana harimau yang akan menerkamnya. Maka segera ia melompak hendak membabat kucing itu dengan goloknya…..malah goloknya terlepas dan mengenai mukanya. Dan terjungkal ia saat hendak menghindar dari goloknya. (Edris Ernawan)

“sial,,, banged neh orang,, gw kangak jadi ambil sambel terong” gerutu si kucing 😉 (Heri Cahyo)

Ia mengerang kesakitan sambil tangannya meraba-raba mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengusap darah yang mengalir deras. Hingga akhirnya terasa ada yang menampar tangan yang mulai mendapatkan sesuatu yang empuk, “Heh mas ngopo ta sampeyan? Pringisan, njerit-njerit barang…gek karo meraba-raba”, terdengar suara dari sampingnya.”Keri aku nek koyok gini”. Karman mencoba mencari tahu pemilik suara itu. Matanya mulai membuka. Berapa saat ia baru sdar bhw dia baru saja mimpi. (Edris Ernawan)

Karman clinguk an di Kamar. Mencari-cari si Uda Hazil Aulia, Sitie Zumaroh, Mahfud, Qurrota Ayun yang tadi berseliwern di dalam kamarnya. Tapi sia-sia. Tak ada siapun di kamarnya kecuali istrinya yang kini malah pindah entah kemana. Alhamdulillah, ternyata aku hanya mimpi. Desahnya lega. (Edris Ernawan)

*byurr* om Edris Ernawan dicemplungin ke kolam.. cerita berakhir bahagia *tamat* (Inu Kerta Pramudya)

“Ho oh mas Inu Kerta Pramudya, lega aku ……. wah aku kemarin merasa bertanggung jawab je …. soale anggota PNBB do uedan kabeh….. tidak terkendali…….Kuatir nek kebablasan… mendingan si karman tak anggep ngimpi aja….Sudah tenang lagi suasananya. Anggota PBB eh PNBB wisnormal kabeh bicarane saiki………ora ono sing njaluk jarik e Yu Parti di cincingke munggah meneh….kemarin uda Hazil Aulia sing ngotot njaluk di unggahke….termakan provokasi Qurrota Ayun. Lha sing paling seneng Akung Krisna, Mahfud karo Abrar Rifai, hemmmmmmmmm uedan tenan kok. (Edris Ernawan)

PNBBers emang edaaaaan 😛 😀 (Mahfud)

Wisagak lerem mas Mahfud (Edris Ernawan)

Mas Karman tiba-tiba terbangun… ia segera sadar bahwa yang ia alami hanyalah mimpi… alhamdulillah..Tapi ia merasa ada yang aneh…. dingin… ternyata terlihat celananya basah…. “Addduuuhh… ada apa ini.. kenapa ini?” tanyanya dalam hati..(Hazil Aulia)

“Oo ternyata semalam hujan besar, dan ada atap yang bocor…jadi basah deh celanaku”, kata Mas Karman 😀 (Isparmo Seo)

“Mambu pesing tenanan iki !!!” Gerutu Parti (Rose Mawar Berduri)

“we alaaaaah…. uwis uwis…..” (Edris Ernawan)

Yu PArti jadi repot, ketimbang kesel njur mengko mbengi ra isoh nyunah kumbaane tak gowo nang Omah Londre-ne diajeng sing ayu dewe Qurrota Ayun…;) (Qurrota Ayun)

“he he he… kenapa bisa ajaib seperti ini yaa?? 🙂 :)” (Tri Ratna Rachmawati)

“Sa ajaib-pe KITAB BIG “O” !” sesumbar lek Karman (Rose Mawar Berduri)

“kalau terus-terusan koyo ngene ngobrolnya kapan masaknya” Yu Parti menggerutu”…”wes to dek, mending hari ini gak usah masak, pesen juragan mie janda Kang Achoey pa minta suruh dianterin masakan sama Uni Onie Daulat…dijamin lezatttt maknyus dech” sahut Kang Karman (Sitie Zumaroh)

“Mbulet ra karuan 😀 “(Isparmo Seo)

“Eh… ono sing kurang, es juz terong-e dipesenke nyang mbak Elly Lubis :)” (Heri Cahyo)

Kiriman Mie Janda pun datang. Kemarahan Yu parti kembali tersulut, “Jadi dengan janda ini kamu niat poligami.” (Kang Achoey)

“Meoong… meooooongg…” mendengar ada mie janda, si pus mengeong lagi. Yu Parti yg sedang emosi kembali mengangkat golok yang diselipkan di BH-nya (maaf), “dasar sama2 kucing garong loe.” Si kucing pun kabur, tapi Mas Karman tetap tenang, di pegangnya terong besar sebagai pertanda keinginan damai dan gencatan senjata. (Mahfud)

Tapi Yu Parti malah mendekati suaminya kang Karman. Serta merta ia rebut terong ijo besar yang dipegang suaminya.”Eh, mas jangan pegang-pegang terong. Apalagi hari gini. Tahu ndak sampeyan ki. Kalo terong itu marahi keju”.

Karman masih kaget, tertegun. Ia tidak percaya kalau terong marahi keju. Sebab ia pernah dapat wejangan dari gurunya, Pak Heri Cahyo kalau terong sangat manstap untuk kegiatan nyunah. (Edris Ernawan)

Saat Yu Parti dan Lek Karman berebut terong, tanpa mereka sadari si pus menyelinap masuk dalam rumah dan menghabiskan seporsi mie janda (Mahfud)

Yu Parti segera tertawa lebar, saat ada si meong merasakan mie (milik) janda.”Kuapok, ra mie Jandanya, habis dilalap si meong. Mendingan terong ini juga kita lempar ke si pus….. biar tidak ada lagi yang ngganggu hubungan kita, tidak keju lagi dan tak ada mie Janda lagi”. Begitu guneman Yu Parti, sambil terus berusaha merenggut terong ijo dari genggaman Karman. (Edris Ernawan)

“Awwwwww”. Mas Karman menjerit kesakitan. Yu Parti kaget dan baru ngeh ternyata konstrasinya tadi terpecah. Yang direnggut ternyata salah, bukan terong tapi ….(Kang Achoey) Orang ganteng yang tak mengikutu keributan yang terjadi, terpaksa kembali, dengan harapan kisah ini melampaui seratus komentar… 😀 (Abrar Rifai)

Yu Parti dan Kang Karman pun terperangah, karena ternyata juragan mie janda juga memiliki terong.. (Abrar Rifai)

Tapi baru saja balik badan dan mencoba melangkah, Mas Karman berteriak, “ugan, tanggung jawab donk. Ini semua gara-gara novel Laila yang ada bumbu poligaminya.” (Kang Achoey)

dan Jeck, anak muda yang trendy, wangi, suka mengaji, dan gemar menabung yang tadinya sudah pergi dari rumah Lek Karman demi mendengar keributan yang sedang terjadi akhirnya kembali lagi ke rumah itu…”woooooeeeyyyyy ada paan lagi nie coooyyy…..ciyuuuus bikin penapsaran saja ulah kalian ini” teriak Jeck (Sitie Zumaroh)

Lek Paijo, yang sempat kecewa karena tidak mendapatkan pertamax tertawa geli melihat Yu Parti dan Lek Karman masih berebut terong dan mie janda mereka dihabiskan si pus. “hahaha… rasain loh!” katanya (Mahfud)

***
Bersambung di sini

****
Gambar di ambil dari sini

********