Cerita Anak: Uang Saku Habib

“Mi, minta uang …” kata Habib merajuk ibunya

“Lha, tadi kan sudah toh pas berangkat sekolah…” tukas ibunya sambil cemberut.

 

“Ya, sudah habis. Tadi khan buat sangu sekolah, sekarang aku pengen beli ers krim..” Habib bergeming, apalagi suara sirine dari sepeda penjual  es krim di depan rumah seolah-olah menghipnotis melalui telinganya.

 

“Tuku-o, tuku-o, tuku-o….”  itu adalah suara sirine penjual es krim yang diplesetkan yang artinya, “Beli-lah, beli-lah.

 

“Ayo tah, Mi… keburu pergi loh orangnya..” Habib semakin memelas dan matanya sudah mulai basah.

 

“Ih… anak ini, masih kecil sudah suka njanjan…” gerutu ibunya.

 

“Pokoknya nek, nggak dikasih aku nggak ngaji,! Habib mulai mengancam.

 

“Ih, anak ini….!”  Ibunya sebal.

 

“Assalamualaikum…..” terdengar suara wanita dari balik pintu.

 

“Tuh, Bib bukakan pintunya dulu, Umi mau matikan kompornya…!”

 

“Tapi aku minta uangnya loh kalo habis bukakan pintu….” Habib masih berdiri di tempatnya.

 

“Assalamualaikum….” Sekali lagi suara dari luar pintu terdengar.

 

“Walaikum salam….” Ibunya menjawab sambil mengeraskan suaranya.

 

“Bib, bukakan pintu sana… ini gosong nanti…!”

 

“Pokoknya aku dikasih uangnya loh…”

 

“Ya…ya.. sana… suru masuk…!”

 

Habib segera bergegas membuka pintu.

 

“Umminya ada Mas?”  tanya seorang wanita setengah baya

 

“Ada di dapur, masuk dulu ….!” kata Habib mempersilahkan tamunya,

 

“Mi… Bu Karno….!” Seru habib sambil berlari ke dapur.

 

Segera ibunya bergegas ke ruang tamu, “Oh, Bu Karno, monggo pinarak Bu…” begitu ibunya Habib mempersilahkan tamunya untuk duduk.

 

Sejenak kemudian mereka berbincang-bincang tentang acara pengajian yang akan di gelar ibu-ibu RT di komplek perumahan.

 

“Mi, uang…!” begitu Habib mendekat ibunya.

 

Ibunya melotot jengkel, karena tidak ingin berdebat dengan anaknya yang masih kelas dua SD  itu di depan tamu, maka dia memberikan uang dua ribu dari saku bajunya.

 

************************

 

“Kiri-kiri.. ya, mundur dikit… pelan..pelan.. yak.. masuk..!” begitu teriak seorang anak kecil member aba-aba ke pada seorang pengemudi mobil yang hendak keluar dari parkiran. Begitu mobilnya sudah siap meneruskan perjalanan sang sopir mengulurkan sebuah lembaran dua ribuan kepada anak tadi. Kemudian bocah tadi kembali ke duduk di bangku kayu di ujung tempat parkir.

 

“Ayo Bib, kamu turun, kita parkir di sini saja..!”

 

Sang bocah menghampiri ibunya Habib, “Jangan di kunci setir ya bu, ini karcisnya..” kata bocah tadi.

 

“Lho Faisol..” seru Habib kepada anak yang ada di depannya.

 

“Eh Habib, mau belanja Bib?” Tanya Faisol

 

“Iya, ini ikut Ummi, beli susu..!”

 

“Faisol temen Habib?” Tanya ibunya

 

“Iya, Bu..!”

 

“Emang kamu jaga di sini?” Tanya Habib.

 

“Iya, tiap pulang sekolah bantu Bapak jaga di sini, tadi Bapak masih, sholat..”

 

“Ooo….”

 

“Yuk, Bib, kita belanja dulu… Faisol, kami belanja dulu ya..”

 

“Ya, Bu…”

 

Setelah hamper satu jam, Habib dan Ibunya berkeliling pasar untuk belanja, mereke kembali ke tempat parker motor.  Meski sudah sore, udara masih terasa panas sekali. Mereka menuju motor matic merah yang joknya ditutup kardus bekas minuman air mineral.  Begitu melihat Habib dan Ibunya, Faisol yang sedang makan nasi bungkus segera berlari menuju motor yang di parkir, dengan cekatan dia mengambil kardus penutup jok.

 

“Sudah selesai Bib?”

 

“He-eh, kamu baru makan ya.. tuh ada nasinya di pipimu, hehhe..” kata Habib sambil menunjuk pipi Faisol.

 

“Iya… tadi belum sempat makan.. nunggu Bapak… !” kata Faisol sambil mengusap pipinya.

 

“Ini, uang parkirnya…” kata Ibunya Habib menyerahkan selembar uang sepuluh ribuaan.

 

“Nggak ada uang kecil Bu? Cuman seribu kok..” kata Faisol

 

“Kembaliannya untuk Faisol  saja ya…!”

 

Sejenak Faisol melongo, sementara Habib sudah naik dibelakang di atas jok dibelakang ibunya..

 

“Iya..iya.. terimakasih Bu,…”

 

“Kami pulang dulu ya Sol, Assalamualaikum…!” kata Ibunya Habib sambil menyalakan mesin dan menjalankan motornya meninggalkan tempat parkir.

 

“Walaikum salam…. Hati-hati ya Bu…!”  seru Faisol.

 

 

 

Sesampainya di rumah.

 

“Faisol temen sekelasmu Bib?”

 

“Iya, Mi, anaknya pandai… dan baik..!”

 

“Gimana, kalo Habib jadi Faisol?”

 

Sejenak Habib kebingungan mendapatkan pertanyaan ibunya.

 

“Aku disuruh jadi tukang parkir? Gitu tah Mi?”

 

Ibunya mengangguk.

 

“Emmmm…  mmmmm…mm…”

 

“Habib, coba lihat Faisol, untuk makan siang saja, dia masih saja harus jaga parkir dulu, gantian sama Bapaknya. Kira-kira kuat nggak, kamu seperti itu?”

 

Habib cuma menggeleng.

 

“Faisol di sekolah suka jajan nggak? Berapa sangunya?”

 

Habib memandangi wajah ibunya.

 

“Faisol suka jajan? Uang sakunya banyak?” ibunya mengulangi

 

Habib cuman menggeleng.

 

“Kira-kira, kalo pas jaga parkir, Faisol minta uang jajan buat beli es krim atau makanan lain dikasih nggak sama Bapaknya?”

 

Habib Cuma melongo.

 

“Nah, mulai sekarang Habib harus belajar untuk tidak banyak jajan. Lebih baik uangnya ditabung.. begitu?”

 

Habib Cuma mengangguk.

 

 

********************

 

Lawang, 11 Maret 2012

 

Gambar di ambil dari sini

Cerita Anak : ANAK KUPU-KUPU

Hari Senin itu adalah minggu kedua Frans sebagai murid baru kelas lima di sekolah. Kepindahannya ke sekolah itu karena mengikuti orang tuanya bertugas sebagai Polisi di ibukota kecamatan.

Penampilan Frans memang sedikit berbeda dari anak-anak di desa tersebut, maklum ia berasal dari sekolah di kota. Sepatu bersih dan terlihat bagus, tas tampaknya mahal dari bahan berkualitas.

Sudah beberapa teman dikenalnya, tapi tidak semua teman di kelas lima tersebut menyukai Frans, karena penampilan, sikap dan gaya Frans.

~o~

Jam istirahat hari itu, Frans tidak keluar, tapi ia bercerita dengan teman-teman barunya di kelas. Frans banyak bahan cerita tentang sekolahnya di kota. Ia sangat bangga terhadap sekolahnya itu.

“Apakah ada Perpustakaan, di sini?” tanya Frans kepada Anwar.

“Ada! Di ruang guru.” jawab Anwar.

“Di sekolahku dulu juga ada, tapi tidak jadi satu dengan ruang guru.” kata Frans.

“Ya! Itu di kota, di sini kan desa.” sahut Anwar.

“Ada Labolaturium gak?” tanya Frans lagi.

“Belum ada.” sahut Yono.

“Di sekolahku dulu ada.” kata Frans.

Emang apa yang dikerjakan di labolaturium?” tanya Hasan.

“Ya, banyak yang dikerjakan di sana.” sahut Frans.

“Seperti apa contohnya?” tanya Anwar.

“Kita bisa meneliti tumbuh-tumbuhan, atau hewan.” jawab Frans.

“Oh, seperti di TV itu.” sahut Yono.

“Ya, seperti di TV itu!” sahut Frans.

“Emang kamu pernah neliti apa?” tanya Hasan.

Frans terdiam sejenak, seolah ia mengingat-ingat kembali apa yang telah ditelitinya di labolaturium sekolah waktu di kota.

Iya,  aku ingat, waktu itu kami meneliti kupu-kupu.” kata Frans, meyakinkan teman-temannya.

Hasan, Yono dan Anwar mendengarkan cerita Frans, sementara Hadi, sejak semula duduk di kursi belakang, hanya diam mendengarkan cerita teman-temannya.

Frans mulai serius menceritakan penelitian kupu-kupu yang pernah dilakukannya di labolaturium sekolah.

“Waktu itu kami menangkap kupu-kupu dewasa dengan jaring, satu ekor betina dan satu ekor jantan. Setelah ditangkap kemudian dimasukan ke kandang kawat, agar kupu-kupu tersebut saling mengenal.” cerita Frans serius.

“Terus!” kata Anwar.

“Dua hari kemudian, kupu-kupu itu kami masukan ke sebuah tabung kaca besar, yang steril dan hampa udara.” lanjut Frans.

Semua temannya serius dan bersemangat sekali mendengarkan cerita Frans, karena Frans bercerita sambil berdiri dan memperagakan dengan gerak tangannya.

“Setiap hari kami mencatat perkembangan kupu-kupu tersebut.” cerita Frans, semakin bersemangat.

“Terus apa yang terjadi?” tanya Anwar.

“Setelah seminggu, kami mencatat terus gerak-gerik kupu-kupu tersebut. Pada hari kesepuluh tampaknya kupu-kupu betina sudah semakin besar.” Frans semakin serius menceritakan pengalamannya.

“Kemudian apa yang terjadi dengan kupu-kupu itu?” tanya Yono.

“Pada hari kelima belas, kupu-kupu betina telah melahirkan banyak sekali anak kupu-kupu kecil berterbangan di dalam tabung kaca di labolaturium.” cerita Frans.

Teman-temannya sangat tertarik sekali mendengarkan cerita Frans.

“Terus diapakan anak kupu-kupu itu?” tanya Yono.

“Kemudian kami melepasnya di kebun belakang sekolah, agar kupu-kupu tersebut hidup di alam bebas.” lanjut Frans

~o~

Hadi yang dari tadi sangat serius mendengarkan cerita Frans dan tidak mengeluarkan satu kata pun, kini berdiri dan menghampiri Frans.

“Maaf Frans, bukan tidak percaya ceritamu, tapi rasanya cerita itu gak cocok.” Hadi berbicara lembut dan sopan.

“Maksud kamu apa!” tanya Frans.

Memang Hadi di kenal anak yang pendiam dan tidak banyak bicara,  bahkan sering diolok teman-temannya sebagai kutu buku, karena sering kali pada jam istirahat ia duduk membaca buku di perpustakaan atau meminjam buku perpustakaan yang ada di ruang guru tersebut.

“Tidak! Tidak ada maksud apa-apa, cuma penjelasan kamu itu kurang sedikit.” sahut Hadi.

“Kurang bagaimana maksudnya?” tanya Frans kembali.

“Begini, seperti kita tahu, kita perlu bernapas, jika kupu-kupu itu dimasukan ke tabung kaca hampa udara, pasti mati, iya kan?” kata Hadi, pelan setengah berbisik.

“Ya, benar sekali.” sahut Arman.

“Terus, kupu-kupu itu tidak beranak seperti ceritamu, kupu-kupu itu bertelur, telur kupu-kupu kemudian menjadi ulat dan ulat menjadi kepompong baru menjadi kupu-kupu.” Hadi sambil tersenyum mengakhiri ceritanya.

Teman-teman lain juga turut mendengarkan cerita Hadi, sambil manggut-mangut tanda mengerti.

“Oh, jadi kamu bohong ya?” kata Yono, tampak kesal.

“Sudah, sudah lain kali cerita yang benar aja.” sahut Arman.

Sebenarnya Frans sangat malu terhadap teman-teman barunya, karena bualannya terbongkar oleh Hadi. Sejak saat itu, ia tidak lagi membanggakan sekolahnya di kota dahulu, mereka menjadi teman-teman yang akrab.

 

[Haidi : 11.03.2012]

 

************

Gambar diambil dari sini

Cerita Anak: Isak Tangis Afika

tangis
tangis

Sebelum pulang, semua anak mengantri untuk menyalami Ustadz Haris, tapi tidak dengan Afika, Afika memilih tetap tidak beranjak dari tempat duduknya, wajahnya disembunyikan dibalik buku catatannya yang tampak terbuka. Merasa antrian salaman dari anak-anak dah habis, sang Ustadz pun mendekati Afika, bukan bermaksud menawarkan Oreo tentunya.

 

“Nanda Afika, kenapa kau tak segera pulang?” Ustadz Haris bertanya. Yang ditanya tak bergeming. Sang ustadz pun heran lalu melangkahkan kakinya untuk dapat lebih dekat. Diintipnya wajah Afika yang terhalang buku catatan. Ada tampak air mata mengalir membasahi pipinya. Sang ustadz pun kembali bertanya pada Afika, dengan intonasi yang jauh lebih lembut.

 

“Afika sayang, kenapa kau menangis? Ceritakanlah pada Bapak!”

 

“Pak Ustadz, bolehkah Afika tinggal di rumah Pak Ustadz?” Afika bertanya.

 

“Lho kenapa. Setahu Bapak, ayah dan ibumu sanagat sayang dan memanjakanmu. Kenapa kau malah ingin tinggal di rumah kumuh milik bapak?” Ustadz Haris keheranan.

 

“Tidak Pak Ustadz, ayah dan ibu tidak sayang sama Afika. Buktinya ayah telah tega memberi makan dan menghidupi Afika dari uang haram.”

 

“Lho dari mana Afika bisa menyimpulkan hal itu? Jangan berburuk sangka, apalagi pada orang tua sendiri!” Ustadz Haris mencoba mengingatkan anak kelas empat SD tersebut.

 

“Kemarin Afika tak sengaja membaca slip gaji ayah sebagai PNS, Jumlahnya hanya Rp. 3.200.000,- tapi kenapa selalu tampak banyak uang dan ibu selalu saja belanja barang-barang mewah. Untuk apel saja ibu lebih suka apel Washington, padahal ibu adalah orang Malang.” Afika menjelaskan dengan cukup serius, untuk anak seusianya, Afika memang terbilang cerdas dan kritis.

 

“Bisa jadi ayah Afika punya usaha sampingan.” Ustadz Haris menenangkan.

 

“Setahu Afika tidak ada. Selain sebagai PNS, ayah tidak punya pekerjaan lain. Pak Ustadz, Afika sedih karena punya ayah yang tidak sayang pada Afika, membiarkan daging & darah Afika berasal dari uang haram.” Lalu Afika pun kembali terisak.

 

Ustadz Haris kali ini tidak mampu berkata apa-apa lagi. Jantungnya berdebar, tubuhnya gemetar. Afika telah membuat ustadz Haris tertampar, karena selama ini Pak Ustadz telah melakukan hal serupa, mengambil uang tabungan siswa karena butuh untuk biaya mengobati anaknya yang sakit.

 

******************

Gambar dari sini

Cerita Anak: Kesadaran Topan

 

Topan adalah seorang anak laki-laki kelas 2 SMP yang sekolah di sebuah sekolah favorit bertaraf internasional di kota tempat tinggalnya. Ia lahir dari sebuah keluarga kaya raya. Bapaknya adalah seorang pengusaha yang memiliki 4 perusahaan besar. Dan bahkan tempat di mana Topan bersekolah adalah milik bapaknya sendiri. Sedangkan ibunya adalah pemilik sebuah butik besar yang pelanggannya adalah ibu-ibu pejabat di kota tersebut.

 

Mungkin karena kurang perhatian dari orang tuanya yang super sibuk, Topan tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan arogan. Terutama saat di sekolahnya, Topan merasa menjadi penguasa terhadap teman-teman dan gurunya. Ia sering berlaku semena-mena dan menang sendiri. Ini terjadi karena tak ada satupun guru yang berani menegur atau mengingatkanya, sebab jika hal tersebut dilakukan para guru tersebut takut Topan akan melaporkan kepada bapaknya sebagai pemilik sekolah tersebut.

 

Seperti terjadi pada jam istirahat di kantin sekolah, Topan memamerkan kekuasannya kepada teman sekelasnya. Saat itu Arul sedang menikmati semangkuk soto, tempat duduk di sekitarnya telah penuh terisi oleh teman-teman lainnya yang juga sedang menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba datanglah Topan mendekati Arul.

 

“Arul, minggir, saya mau duduk di tempatmu !” Bentak Topan.

 

Dengan nada setengah ketakutan Arul menjawab, “Maaf Topan, sebentar saya selesaikan makan soto ini, tinggal sedikit kok”

 

“Tidak bisa ! Aku sudah lapar dan mau duduk di tempatmu” Jawab Topan dengan nada yang lebih tinggi.

 

Tanpa menjawab lagi, Arul segera bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan soto yang masih tinggal separo. Tentu saja sikap Topan ini membuat jengkel dan marah Arul dan teman-teman yang ada di kantin tersebut, tetapi kemarahan tersebut tidak pernah terungkap, karena takut. Arul hanya berdoa dalam hati, “Ya Tuhan berikanlah peringatan kepada Topan atas kesombongan dan kesemena-menaannya”

 

Rupanya doa Topan dikabulkan Tuhan, suatu hari Topan di culik oleh orang yang tidak suka dengan bapaknya karena urusan bisnis. Penculik tersebut menyembunyikan Topan di sebuah daerah kumuh di kota lain yang bersebelahan dengan kota tempat tinggal Topan dan orang tuanya. Penculik tersebut meminta tebusan sebesar Rp 10 milyar untuk ditukar dengan Topan, dan bapak Topan hanya diberi waktu 1 minggu untuk memberikan tebusan tersebut. Jika tidak diberikan, maka Topan akan dibunuh.

 

Dalam ruangan penyekapan penculik tersebut, Topan merasa sangat-sangat ketakutan. Ia dikurung di sebuah ruangan sempit berukuran 3m x 3m. Tidak ada jendela, hanya ada 2 lubang angin dan sebuah pintu yang dikunci dari luar. Lampu penerangan pun hanya sebuah bola lampu redup 10 watt. Penculik masuk ke ruangan tersebut saat memberikan makan siang dan makan malam saja. Makanannya pun hanya berupa nasi bungkus dan sayur saja tanpa ada lauk lain.

 

Topan menangis sejadi-jadinya. Tetapi suara tangisan tersebut bukan membuat penculik iba tetapi justru marah besar. Topan diancam akan di ikat dan diplester mulutnya jika tetap menangis.

 

Saat malam tiba Topan tak bisa tidur. Bagaiman mau tidur, di ruangan tersebut tidak ada spring bed seperti di rumahnya, hanya ada sebuah tikar lusuh di atas lantai kotor. Nyamuk pun berdenging dan menggigit tubuh Topan. Boro-boro AC, kipas anginpun tidak ada dalam ruang penyekapan tersebut. Topan benar-benar merasa tersiksa, dengan keadaan tersebut.

 

Di malam ke tiga penculikan dirinya, seperti keadaan malam-malam sebelumnya, Topan tetap tidak bisa tidur. Ia mulai merenungi dirinya, mengapa hal ini terjadi pada dirinya. Topan mulai mengingat-ingat sikapnya selama ini terhadap teman-teman sekolahnya. Kesombongan, arogan, mau menang sendiri, merupakan sikap keseharian Topan sebelum penculikan. Topan meneteskan air matanya. Ia mulai menyadari kesalahannya selama ini.

 

“Tuhan telah memberikan peringatan keras kepadaku. Tuhan…ampuni kesalahanku, aku sekarang sadar atas semua sikap jahatku. Ampuni aku Tuhan”

 

Sambil bersujud, Topan terisak-isak sambil terus memohon ampun kepada Tuhan. Dalam doanya ia berjanji kepada Tuhan bahwa Ia tidak akan mengulangi sikap-sikap jahatnya. Ia berjanji akan meminta maaf kepada teman-temannya yang pernah ia perlakukan tidak baik. Dan ia juga berdoa agar Tuhan segera mengakhiri penderitaan penculikannya.

 

Ternyata kesungguhan Topan dalam meminta ampun dan berdoa dikabulkan Tuhan. Hari ke empat penculikan, datang sepasukan polisi lengkap dengan senjata laras panjang menyerbu ke tempat di mana ia diculik. Polisi menangkap semua penculik dan membawa Topan kepada ke dua orang tuanya.

 

Setelah kejadian penculikan tersebut, Topan seperti terlahir menjadi anak baru. Sikapnya berubah drastis. Tidak ada lagi kesombongan, arogansi dan mau menang sendiri lagi. Ia meminta maaf terhadap guru dan teman-teman di sekolahnya atas semua sikap dan kelakuan tidak baiknya. Topan sekarang menjadi anak yang murah senyum, suka bercanda dan sering mentraktir teman temannya.

 

******

Gambar diambil di sini

Cerita Anak: ALIEN AKAN DATANG

alien

Suara hujan terdengar begitu deras diluar sana, Deka bersembunyi kedinginan didalam selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya, sementara itu Didi siadik bungsuyang terbaring disamping Deka, yang berjarak tiga tahun dari Deka, masih mencercau menerbangkan pesawat mainannya dengan jari tangannya.

 

“Nyiauuuuuuuuuuuuuuu…. nyiauuuuuuuuuuuu…”Suara Didi mengimajinasikan pesawatnya seakan-akan terbang diatas dadanya, Deka sikakak yang berumur sepuluh tahun semakin gelisah tak bisa tidur mendengar suara Didi.

 

“Tidur de… ini sudah jam berapa? tiap malam selalu aja ganggu kakak tidur…” Teriak Deka sambil menyembulkan wajahnya dari dalam selimut, Didi tak memperdulikannya.

 

“Nyiauuuuuuuuuuuuuuuu… itu pesawat tempur musuh! tembaaak… det det det det det…”

 

“Adeeeeeeeeeeeek…” Deka bangkit dari tidurnya sambil melotot kearah Didi.

 

“Apa sih kak, Didi nggak bisa tidur, makanya Didi main pesawat-pesawatan…” Ucap Didi balik marah.

 

“Berisik… justru dengan adek main pesawat kakak jadi nggak bisa tidur, udah… tidur gih, besok sekolah…” Teriak Deka.

 

“Kalau mau tidur-tidur aja, Didi akan berenti main pesawat kalo Didi udah ngantuk…” Celetuk Didi melawan.

 

Deka terdiam sambil memikirkan cara agar Didi mau tidur.

 

“Adek… dengerin kakak, sekarang udah pukul sebelas malam, kenapa kakak suruh adek tidur cepat, karena…” Deka mulai mengecilkan suaranya seakan-akan berbisik.” Karena… Kalau adek suka tidur kemaleman Alien akan datang ngebawa adek kelangit dan adek nggak akan bisa kembali kebumi, nggak bisa ketemu papa dan mama lagi… mau?” Ancam Deka.

 

Didi bangkit dari berbaringnya dan meletakkan mainan pesawatnya disampingnya, wajahnya sedikit takut namun masih percaya dan tidak percaya.

 

“Alieeeeeen? dari mana kakak tahu kalau ada Alien yang akan ngebawa anak-anak yang nggak suka tidur?” Tanya Didi.

 

“Dari pak guru disekolah, terserah adek… mau percaya ato nggak, jangan salahin kakak kalo besok adek udah berada di langit dibawa Alien…” Deka langsung berbaring dan menyelimuti seluruh tubuhnya, sesaat kemudian sebuah kilat menyambar diluar sana, suaranya terdengar keras.

Didi sedikit takut dan turut membaringkan tubuhnya disamping kakaknya Deka.

 

“Kakak…” Bisik Didi pada Deka.

 

“Iya…” Jawab Didi didalam selimutnya.

 

“Pakai apa Alien turun ke bumi menculik anak-anak yang nggak suka tidur malem?” Tanya Didi sambil berbisik.

 

“Pakai pesawat UFO, bila dia datang suaranya mirip kilat barusan…” Jawab Deka, Didi mulai takut. tiba-tiba kilat berbunyi lagi, lebih keras dari kilat sebelumnya.

 

“Cepat tidur… kakak masih curiga apa itu kilat atau pesawat UFO…” Bisik Deka.

 

Didi mulai ketakutan, ia selimuti seluruh tubuhnya lalu mulai memejamkan mata.

 

****

 

Esok malamnya, Deka melihat Didi bersembunyi dibalik selimutnya, kini ia tidur awal. Deka sedikit tersenyum telah berhasil mencari cara agar Didi mau tidur awal.

 

“Adek… sudah tidur?” Bisik Deka.

 

“Belum… jangan berisik, nanti Alien datang lagi, semalem Didi didatangi Alien dalam mimpi… sudah kakak tidur gih… Alien itu seram, Didi nggak mau ketemu dia lagi.” Bisik Didi serius.

 

Deka tersenyum-senyum. “Baiklah… selamat tidur adek… moga mimpi ketemu Alien lagi ya?” Ledek Deka.

 

Tak ada suara yang keluar dari mulut Didi, kecuali suara nafasnya yang sepertinya sudah terlelap, lalu Deka berbisik ditelinga Didi yang sudah tertidur.

 

“Tentang Alien itu kakak cuma bohong Dek, kakak cuma pengen adek tidur lebih cepat dibanding malam lain seperti dulu, biar besok adek bisa seger dan nggak ngantuk disekolah… kakak sayang adek…”

 

Didi mulai berdoa sebelum tidur, lalu memejamkan matanya.

 

(Kuching, Sarawak Malaysia)