[The Big “O”: Bukan XXX] #6 Pemanasan, Cumbu Rayu atau Foreplay

Pernah mencoba menggoreng sesuatu dalam wajan yang telah diisi minyak goreng namun apinya baru saja dinyalakan? Pertama, yang terlihat adalah tiadanya reaksi dari minyak goreng tersebut. Maklumlah, dia belum panas. Kedua, jelaslah menyalahi teori tentang aturan menggoreng.

 

Pada pria, konsep seperti ini relatif bisa dan mudah untuk dilakukan. Sebab kodratnya seorang pria itu jauh lebih cepat terstimulasi (apalagi secara visual) dibandingkan wanita, sehingga ibarat fast food, hidangan dengan cepat dapat terlayani dan tersajikan.

 

Berbeda dengan pria, wanita memerlukan proses yang jauh lebih lama dan sifatnya lebih gradual, artinya ada tahapan-tahapan penting yang harus dilalui untuk pencapaian orgasme yang sempurna.

 

Ada istilah/ slang dalam bahasa Jawa, “Jogja” yang maksudnya adalah “njujug saja” artinya langsung ke masalahnya. Dalam konteksnya dengan masalah yang kita bahas ini adalah situasi dimana dalam suatu hubungan seksual, si lelaki tanpa ba bi bu langsung ambil ancang-ancang dan goool… nah di sini, jogja tidak lagi menjadi istimewa, padahal sesungguhnya Jogja itu istimewa seistimewa orang-orangnya.

 

Begitulah, dalam suatu hubungan suami istri perlu disadari bahwa secara kodrati memang ada perbedaan tingkat persiapan untuk mencapai orgasme antara pria dan wanita. Sayangnya, sungguh banyak sekali kaum pria yang tidak menyadari masalah ini, dan menganggap bahwa kaum wanita itu persis sama dengan mereka sehingga siap untuk dilakukan penetrasi kapan saja.

 

Kanjeng Nabi Muhammad menurut sirah, belum pernah melakukan hubungan suami istri tanpa terlebih dahulu yakin akan kesiapan istri beliau untuk penetrasi itu. Nabi melakukannya dengan cara mencumbui bidadari beliau tersebut. Dengan kata lain, Nabi mengajarkan pada kita tentang pentingnya melihat “kesiapan” pasangan kita untuk masuk ke tahap penetrasi.

 

Kalau begitu bagaimana mempersiapkan pasangan untuk masuk ke kondisi yang siap dalam melakukan hubungan? Pemanasan. Ya, melakukan pemanasan, cumbu rayu atau sering diistilahkan dengan foreplay. Di sini tentu saja masing-masing pihak dapat dan harus berperan aktif agar tujuan awal dari suatu hubungan suami istri yakni orgasme bisa tercapai dengan sempurna.

 

Tahap pemanasan, cumbu rayu atau foreplay ini bisa dilakukan dengan saling melakukan pijatan yang sifatnya relaksasi, baik dengan maupun tanpa menggunakan minyak zaitun atau lainnya yang disukai. Bisa pula dengan usapan, belaian, rabaan, yang kategorinya “luar biasa”. Di samping itu, pada tahap ini stimulasi-stimulasi juga dilakukan pada seluruh titik-titik khusus, dengan menyisakan satu atau dua titik yang paling khusus bagi tiap pasangan untuk distimulasi paling akhir sebelum dilakukan penetrasi.

 

Wanita biasanya selalu memberitahukan akan kesiapannya untuk tahap penetrasi, sekalipun demikian, tetap harus dilihat apakah memang vagina sudah siap untuk penetrasi. Kesiapan ditandai dengan jumlah cairan dari vagina yang cukup, karena jumlah cairan yang cukup pada vagina akan membantu kenyamanan kedua pihak dalam melakukan hubungan.

 

Berapa lama waktu yang diperlukan dalam melakukan foreplay? Tidak ada jawaban yang pasti. Alam akan menuntun Anda dan pasangan untuk berjalan meniti jembatan kebirahian, menikmati alunan dan rintihan gairah, menangguk romansa menunggang libido untuk menyeberang hingga sampai pada kesempurnaan orgasme. Jadi tidak perlu mematok diri harus 10 menit, 20 menit 1 jam dan sebagainya, itu semua adalah deretan angka-angka yang menjerumuskan kita pada situasi yang tidak sehat.

 

Kesimpulannya, dalam keadaan normal, semakin sempurna pemanasan atau foreplay yang dilakukan, maka semakin sempurna pula orgasme yang akan diraih oleh pasangan tersebut. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengabaikan proses atau tahapan foreplay ini.

 

Pilihlah Jogja yang istimewa karena memang istimewa seistimewa orang-orangnya, bukan jogja yang membuat pasangan Anda (terutama wanita) kecewa dan pusing kepala.

[Puisi] MENDAYUNGKAN CINTA DI ATAS SENJA

 

Rinai gemericik mendendangkan tahmid.

Seperti dedaunan bergerak-gerak melantunkan takbir.

Lembayung mempesonakan indra mengucap kidung kesyukuran.

Mata ini sembab, sesembab tebing-tebing di singgahi embun

Ada lantunan Dzikir di setiap hela hembusan nafas

Berucap tiada henti memanjatkan pinta

 

Satu doa untuk cinta.

Kudayungkan asa di senja-Mu yang megah.

Bilakah Engkau titipkan tulang rusuk yang Engkau kasihi?

 

Seperti Engkau mengasihi seisi alam di senja ini

Mengasihi sepasang merpati mengalunkan kepakan menuju bias cahaya

Apakah ujiannya ini belum selesai?

Apakah masih banyak senja yang mesti kulalui dengan lantunan-lantunan panjatku pda-Mu

 

Duhai,

Siapakah gerangan dia?

Aksara-aksara tak mempan mengukirnya.

Atau aku harus seperti Saad sahabat baginda?

Yang Engkau temukan cintanya di Surga?

 

Tidak,

jangan jadikan aku seperti itu.

Aku ingin seperti Lembayung, burung-burun

Dan dedaunan yang bergerak-gerak.

 

Memuji-Mu, mengagungkan nama-Mu

Bersamanya, bersama cinta, seperti sepasang Merpati

yang mengepak berdua di senja-Mu yang megah.

 

Kuching, Sarawak Malaysia. 25 April 2012

[Sinopsis Film] : Sinopsis Banyu Biru

 

By Edris Ernawan in PNBB – Proyek Nulis Buku Bareng

Film Banyu Biru  berkisah tentang seorang pemuda yang mencoba mencari jawab atas berbagai persoalan hidup yang ia alami.

 

Cerita diawali dengan menampilkan keluarga Oskar (ayah Banyu). Pada awal cerita dikisahkan saat istri Oskar sedang menemani putrinya, Biru, berenang di kolam renang belakang rumahnya. Tetapi suaminya memanggil dan menanyakan tentang lembar-lembar kerja yang tak ditemukannya. Akhirnya Biru ditinggalkan sendirian di kolam renang. Sebuah tragedi terjadi. Entah berapa ibu Biru meninggalkan Biru di kolam sendirian hingga kemudian didapati oleh Banyu, kakak Biru, Biru telah terapung dipermukaan kolam. Ia meninggal karena tenggelam. Banyu menjerit hsiteris kemudian teringatlah saat-saat indah dan menyenangkan bersama adiknya, saat-saat mereka bermain bersama.

 

Ibu Banyu, istri Oskar, tidak tahan dengan itu semua. Dia shok dan akhirnya ia juga meninggal dunia. Banyu merasakan bahwa tidak ada siapa-siapa lagi dalam hidupnya. Adiknya meninggal. Ibunya juga meninggal sedangkan ayahnya terlalu asik dengan pekerjaaannya dan tidak mau peduli dengan dirinya. Akhirnya ia meninggalkan rumah dan pergi ke kota.

 

Di kota ia bekerja di supermarket. Berbagai permasalahan selalu bermuara pada dirinya. Hidupnya dipenuhi dengan masalah. Ia tidak bisa menikmati kehidupan. Suatu saat ia diminta menggantikan temannya hadir dalam seminar tentang pelayanan terhadap konsumen. Padahal saat itu ia sangat capek, sedang tidak enak badan dan dalam dirinya penuh masalah maka ia pergi ke psikiater untuk menyelesaikan masalahnya. Psikiater menyarankan agar ia kembali kepada keluarganya, kepada ayahnya. Karena menurutnya, saat itu waktu yang tepat. Sudah saatnya ia kembali pada keluarga dan menyelesaikan masalah keluarga, masalah dengan ayahnya. Sebelumnya ia telah mendapat telpon dari pamannya agar hadir dalam pesta perkawinannya yang kelima.

 

Dengan rasa caapek dan pusing ia paksakan hadir dalam seminar itu, mewakili temannya. Tetapi ia tidak dapat berkonsentrasi. Pikirannya penuh masalah dan pusing di kepalanya menyebabkan ia harus minum obat sampai akhirnya ia tertidur. Dalam tidurnya inilah mengalir cerita dalam mimpinya.

 

Dalam mimpinya ia kembali ke rumah. Tetapi ia tidak bertemu dengan ayahnya bahkan rumahnya telah kosong dan dipenuhi debu. Dari Sulah, ia memperoleh informasi bahwa ayahnya telah pindah tetapi ke mana pindahnya, Sulah juga tidak tahu. Di sinilah terjalin cinta pertama Banyu dengan Sulah. Banyu sangat merasakan cinta itu hingga ketika dalam perjalanan ia tersenyum sendiri, senyum karena senang.

 

Karena ayahya telah pindah, akhirnya ia pergi ke rumah pamannya yang waktu itu sedang mengadakan pesta pernikahannya yang kelima. Dari pamannya inilah Banyu  mengetahui bahwa ayahnya telah pindah ke Pangkal Pinang. Pamannya mengatakan bahwa ayahnya sebenarnya tidak seperti yang dibayangkan Banyu. Cintanya pada anak dan istri tak pernah habis. Karenanya sang paman menyarankan Banyu untuk menemui ayahnyadan menyelesaikan persoalannya.

Benar, Banyu akhirnya pergi ke pulau Pangkal Pinang. Dalam perjalanannya mencari rumah ayahnya di Pangkal Pinang, ia bertemu dengan Arif, teman SD-nya yang dulu sering ia ejek sebagai seorang yang banci. Pertemuan itu tidak disengaja karena Banyu hanya mau bertanya tentang mobil yang bisa mengantarkannya ke pelabuhan. Tetapi dari Arif, Banyu mendapatkan banyak hikmah. Arif yang dulu dikatakan banci ternyata mampu memberi manfaat pada desanya.

Ketika Banyu sampai di pulau Pangkal Pinang ia langsung menuju ke sebuah rumah dekat pantai dan di situlah ayahnya tinggal. Banyu tetap menyalahkan ayahnya, ia katakan bahwa ayahnya egois, tidak mencintai ibunya dan hanya mementingkan pekerjaanya. Oskar, ayah Banyu marah dan berusaha memberika pengertian kepada Banyu bahwa apa yang dikatakan Banyu tentang dirinya semuanya tidak benar. Ia sangat mencintai ibu Banyu. Ia mencintai Banyu, anaknya. Sebagai buktinya ia berikan cincin perkawinannya yang ia gantungkan sebagai bandul kalung kepada Banyu. Ia berharap suatu saat nanti Banyu mengerti akan ayahnya. Akan hatinya.

Akhirnya Banyu ingin kembali lagi dan meninggalkan ayahnya. Di tengah perjalanan lautnya ia pusing dan terlempar di laut. Ia terbangun dari mimpi dan bertekad untuk menyelesaikan masalahnya dengan kenyataan,  bukan dalam impian. (607 kata)

 

+++++++++++++

+++++++++++++

 

Postingan berikutnya Insya Alloh berupa Apresiasi Film Banyu Biru

Minta dukungannya ya agar bisa segera memposting apresiasi film tersebut secara bersambung….

[The Big “O”: Bukan XXX] #5 Mengenali Titik-titik Khusus Pada Pasangan

Catatan: Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk terkesan vulgar, namun harus dibaca dalam koridor pembelajaran.

Pada tulisan-tulisan sebelumnya, disebutkan bahwa ada peran stimulasi dalam pencapaian orgasme pada kedua belah pihak. Besar dan kecilnya stimulasi yang diberikan juga akan mempengaruhi “kualitas” serta “rasa” orgasme yang diraih oleh masing-masing pihak.

 

Masalahnya sekarang, bagaimana seseorang bisa melakukan stimulasi sedangkan ia tidak mengetahui bagian mana dari pasangannya yang perlu distimulasi atau membutuhkan stimulasi? Oleh karena itu, sangat penting artinya bagi kita untuk mengetahui titik-titik atau daerah khusus pada pasangan dan secara rahasia hanya diketahui oleh masing-masing pasangan yang fungsinya sebagai sumber pendorong gairah atau libido dan jalan untuk pencapaian orgasme yang sempurna tersebut. Namun, dari sisi keilmuan, memang ada titik-titik umum yang setelah melalui penelitian mendalam diketahui sebagai titik-titik atau daerah sensitif nan melekat pada setiap insan. Sekali lagi, titik-titik atau daerah sensitif bagi pria satu dengan lainnya bisa berbeda-beda, pun demikian halnya dengan wanita yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidak perlu merasa “berkelainan” manakala tidak merasakan titik yang satu, tetapi menyukai titik yang lain.

 

Sang Maha sangat mengetahui kebutuhan kita, sehingga sedari awal, tubuh kita sudah didesain sedemikian rupa agar kebutuhan itu betul-betul pas untuk kita. Hanya saja sayangnya, sering saling berkebutuhan ini diabaikan sehingga apa yang dimaksudkan oleh Sang Maha sedari awal tidak tercapai. Beberapa faktor pemicunya antara lain, ketidakpedulian, ketidaktahuan, ketidaksabaran dan sebagainya. Faktor pemicu ini tentu harus disikapi secara hati-hati karena satu di antara persoalan yang timbul dalam kerumahtanggaan bisa jadi dimulai dari sini.

 

Titik-titik umum bagi pria berbeda dengan titik-titik khusus pada wanita. Namun, kalau boleh disimpulkan, titik-titik khusus pada wanita jauh lebih banyak dari pria, dan jauh lebih banyak dari apa yang dipaparkan di sini. Mengapa? Karena Sang Maha memang telah mendesain struktur tubuh wanita dengan sempurna dan meletakkan titik-titik khusus pada hampir di seluruh tubuh mereka, yang apabila dilakukan stimulasi akan mendorong, memperkuat serta mempercepat pencapaian orgasme.

 

Titik-titik khusus pada pria secara umum adalah sebagai berikut:

1. Leher

Seperti wanita, pria juga senang disentuh, dicium dan sebagainya di area ini. Sensasi yang dirasakan pria sama hebatnya dengan yang dirasakan oleh wanita.

 

2. Rambut dan kepala

Yang dimaksud di sini adalah biarkan pasangan membelai, meremas atau sedikit menjambak rambut ketika bercinta.

 

3. Telinga

Umumnya kaum pria senang merasakan sensasi di seputar telinganya.

 

4. Perineum

Ada satu titik yang kadang terlupakan, yakni perineum. Posisinya yang agak tersembunyi, yakni antara skrotum dan anus, membuat titik ini jarang mendapat perhatian. Padahal area ini dapat memberi sensasi khusus untuk pria.

 

5. Puting

Pria juga senang jika pasangannya mengeksplorasi putingnya, walau tidak semua pria menyenanginya. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengetahui apakah pasangan suka atau tidak adalah dengan mencari tahu secara langsung, baik dengan cara licking mau pun sucking.

 

6. Jari

Umumnya pria senang jika pasangannya mengeksplorasi bagi ini, sebagai refleksi dari cara pasangan memperlakukannya ketika bercinta.

 

7. Punggung

Ketika membelai atau mencium punggung pasangan, perasaan nyaman dan damai mengaliri tubuh. Karena itu, jika sedang bercinta jangan lupa belailah punggung pasangan dengan lembut.

 

8. Penis

Penis menjadi titik utama pada pria, terutama pada bagian frenulum, daerah sensitif di bagian bawah penis, di pertemuan lipatan-lipatan organ tersebut. Bentuknya menyerupai daun bunga. Titik ini jika disentuh, dapat menghasilkan sensasi yang meningkatkan gairah pria. Tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya ujung-ujung syaraf dan juga sangat sensitif. Terutama ketika ia sangat terangsang dan bila organ tersebut tengah membesar.

 

Sedangkan titik-titik khusus pada wanita, secara umum sebagai berikut:

 

1. Pangkal lengan

Pangkal lengan merupakan bagian yang terdekat untuk melanjutkan sentuhan. Pada saat itu sentuhan di lengan ini akan terlihat bagaimana reaksinya. Pangkal lengan bagian dalam lebih sensitif di bandingkan bagian luar.

 

2. Ketiak

Pasangan Anda akan suka sekali jika disentuh di bagian ini. Setelah menyentuh pangkal lengannya, Anda bisa meneruskannya ke arah ketiak. Bagian ini cukup sensitif sehingga jangan sampai menggangu suasana, misalnya, membuatnya kegelian dan bukannya terangsang. Anda bisa mengarahkan sentuhan pada bagian depan ketiak, tepatnya di pangkal lengan.

 

3. Leher

Setelah menyusuri ketiak, teruskan ke bagian atas atau ke bawah. Jika ke atas, arahkan ke lehernya, bisa sisi kanan maupun kiri. Sentuhan yang lembut pada bagian ini akan membuat pasangan bergairah. Telusuri pula bagian leher dari depan hingga belakang, lakukan dengan perlahan dan lembut karena bagian belakang leher sangat sensitif.

 

4. Belakang telinga

Di sini, ringankan sentuhan Anda dan kurangi tekanan pada tangan. Lakukan dengan lembut. Coba lakukan sentuhan yang terasa antara ada dan tiada karena iramanya akan terasa sensasional.

 

5. Pipi dan bibir

Anda tidak harus terus bermain di belakang telinganya. Misalnya, saat jemari telunjuk Anda menyentuh belakang telinganya dan jari yang lain menyentuh pipi. Jari lainnya bisa menyentuh bibirnya. Ingat, dengan semakin lembut sentuhan Anda pada bagian-bagian tubuhnya, gairahnya akan semakin meningkat.

 

6. Payudara

Sentuh bagian ini dengan elusan lembut dan remasan mesra, maka pasangan Anda akan menyukainya, walaupun ada juga wanita yang terlalu sensitif sehingga sentuhan pada bagian payudara justru tidak disukainya. Hampir seluruh bagian payudara merupakan daerah yang sensitif. Anda bisa merangsangnya menggunakan tangan, mulut, lidah dan bahkan gigi.

 

7. Puting payudara

Ini bagian payudara yang paling sensitif, karena terdapat banyak sekali syaraf-syaraf di sana. Puting bila disentuh akan muncul tanda bintik-bintik dan mengeras sebagai pertanda telah terangsang.

 

8. Perut

Seluruh wilayah perut akan menimbulkan rangsangan hebat bila disentuh dengan lembut dan rabaan mesra.

 

9. Punggung

Meski ada di belakang tubuh, punggung tidak kalah sensitif bila diraba pada titik erotik. Mau tahu di mana titik itu? Tepat di tengah-tengah punggung. Rabalah dengan lembut menggunakan ujung jari.

 

10. Pinggul

Daerah ini termasuk daerah paling sensitif. Ada beberapa bagian yang sangat sensitif dan menimbulkan rangsangan bila disentuh. Antara lain pinggul bagian belakang.

 

11. Pangkal paha

Rangsangan lembut di bagian ini akan menimbulkan reaksi yang hebat.

 

12. Paha

Rabalah bagian paha ini dengan lembut. Bila muncul bintik-bintik, pertanda rangsangan telah timbul. Maka rabalah terus dengan mesra dan lembut.

 

13. Vagina

Inilah bagian inti yang akan menimbulkan puncak kenikmatan dalam berhubungan intim. Perlu diketahui bahwa pada vagina ada beberapa bagian titik rangsangan, di antaranya bibir vagina, daerah sekitar vagina dan puncaknya pada klitoris.

 

Titik khusus yang berkaitan dengan vagina akan dibahas pada tulisan tersendiri, mengingat perlu penjelasan yang lebih panjang.

 

Yang perlu dicatat adalah titik-titik di atas merupakan titik-titik yang umum. Eksplorasi lebih lanjut terhadap pasangan sangatlah diperlukan untuk menemukan titik khusus spesifik lainnya pada pasangan kita.

 

Nah, sudahkah kita saling mengetahui titik-titik khusus pada pasangan kita? Sudahkah kita dan pasangan kita saling menstimulasinya? Sudahkah kita dan pasangan kita saling mengeksplorasi untuk menemukan titik-titik khusus atau titik-titik favorit yang hanya kita dan pasangan kita saja yang mengetahuinya?

 

Kalau belum, saran saya adalah, lakukan, lanjutkan, lebih cepat lebih baik.

 

Yogyakarta, 24 April 2012

[The Big “O”: Bukan XXX] #1 Menghidupi Kehidupan, Suatu Pengantar

By Hazil Aulia

Maha Suci Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk dengan sempurna. Sudah sewajarnya bila Sang Maha selalu mengingatkan kita tentang bagaimana bersyukur, bagaimana harus membaca tanda-tanda alam, bagaimana memahami anugrah yang telah diberikan melampaui anugrahNya untuk makhluk lain.

 

Sebagai manusia, selain kita diberi akal untuk berpikir serta hati nurani yang menuntun kita pada jalan yang benar, kita juga dilengkapi dengan hawa nafsu. Satu yang membedakan kita dengan makhluk lain adalah kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu itu.

 

Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tujuannya tidak lain adalah agar saling mengenal satu dengan yang lainnya. Pada konteks saling mengenal ini, sangat banyak terjadi hubungan yang terbangun antara seorang lelaki dengan seorang wanita, dan tidak sedikit hubungan yang terjadi itu berlanjut ke tahap berikutnya, yakni keinginan untuk membina rumah tangga yang dinaungi dalam ikatan resmi sebagai suami istri.

 

Dalam kehidupan berumah tangga, umumnya pula, pasangan suami istri menghendaki kehadiran anak keturunan sebagai pelanjut generasi mereka. Di sinilah kita juga patut bersyukur, bahwa Allah SWT menciptakan rasa dan nafsu yang melekat pada manusia secara instinktif, yang karena rasa dan nafsu tersebut, memunculkan keinginan untuk menyalurkannya dalam bentuk hubungan seksual.

 

Apakah hubungan seksual itu diharamkan? Tidak. Hubungan seksual sama sekali tidak diharamkan. Yang menjadikan haram adalah kriteria yang melekat pada subjek yang melakukan hubungan tersebut. Dalam konteks negara, maka hubungan tersebut baru bisa dilakukan bila pasangan tersebut terdaftar di Kantor Urusan Agama bagi yang Islam, atau di Kantor Catatan Sipil bagi masyarakat lain yang memilih untuk itu. Namun dalam konteks norma dan agama, kriteria bisa bertambah, misalnya hubungan dengan ibu, ayah, saudara sekandung dan sebagainya.

 

Mengapa hubungan seksual tersebut seolah dikerangkengi? Jawabannya adalah karena kita sebagai manusia yang sempurna, diberi akal dan pikiran serta hati nurani, dan sangat-sangat berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya seperti binatang misalnya. Binatang, juga diberi nafsu seksual instinktif dan bisa menyalurkannya setiap saat dengan pasangannya atau pasangan yang dikehendakinya. Secara “keilahian”, Tuhan sudah memberikan sinyal bahwa kita sebagai manusia itu diberi kedudukan yang jauh lebih terhormat dibandingkan dengan makhluk lainnya. Oleh karena itu manusia diharapkan (pilihan) bisa menangkap dan memaknai sinyal tersebut dan memilih jalan yang seharusnya.

 

Hubungan seksual selain berfungsi sebagai suatu proses awal pembentukan makhluk lain untuk keturunan, sejatinya adalah juga untuk membersamai (!) pencapaian rasa kepuasan bagi kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Inilah yang sering tidak disadari oleh pasangan suami istri, karena walaupun tidak tertulis, namun dalam hubungan seksual tersebut timbul hak dan kewajiban bagi masing-masing, yaitu hak untuk dipuasi serta kewajiban untuk memuasi pasangannya. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, seringkali justru istri yang tidak terpenuhi haknya oleh suami.

 

Rasa kepuasan tersebut terkait dengan istilah orgasme (dalam beberapa literatur sering juga disebut dengan The Big “O”). Lalu, apa sebetulnya pengertian orgasme tersebut? Secara etimologi, orgasme berasal dari kata Bahasa Yunani “orgasmos” yang dalam kamus Oxford English Dictionary diartikan sebagai “to swell as with moisture, be excited or eager”. Bila merujuk ke Kinsey Reports, orgasme didefiniskan sebagai “The expulsive discharge of neuromuscular tensions at the peak of sexual response.” Deskripsi yang lebih teknis ditulis oleh Masters and Johnson, konsultan dan seksolog, bahwa orgasme adalah “A brief episode of physical release from the vasocongestion and myotonic increment developed in response to sexual stimuli.”

 

John Money, dan kawan-kawan, mendefinisikan orgasme sebagai: “The zenith of sexuoerotic experience that men and women characterize subjectively as voluptuous rapture or ecstasy. It occurs simultaneously in the brain/mind and the pelvic genitalia. Irrespective of its locus of onset, the occurrence of orgasm is contingent upon reciprocal intercommunication between neural networks in the brain, above, and the pelvic genitalia, below, and it does not survive their disconnection by the severance of the spinal cord. However, it is able to survive even extensive trauma at either end.

 

Bila disimpulkan, maka orgasme itu adalah suatu bentuk dari sensasi tubuh yang menyenangkan dan kepuasan menuju ke intensitas puncak yang pada akhirnya bisa melepaskan ketegangan serta menciptakan perasaan puas dan relaksasi.

 

Lalu, apa alasan menuliskan masalah The Big “O” dan membagikannya pada pembaca?

 

  1. The big “O” merupakan satu dari beberapa faktor pendukung dalam hubungan pasutri baik fisik maupun psikis.
  2. 80% wanita tidak mengetahui apapun tentang hal ini, dan hanya 10%-25% saja yang mengalaminya. Dengan kata lain, dari 10 orang wanita, 8 orang tidak tahu sama sekali, dari 10 orang wanita, hanya 2-3 orang saja yang mengalaminya.
  3. Tidak semua laki-laki pula paham dan mau berperanserta menyukseskan hak dan kewajiban dua belah pihak.

 

Menurut majalah “Men’s Health”, berdasarkan survei, ditemukan kondisi bahwa:

  1. 94.7% pria tidak bisa memuaskan wanita di ranjang
  2. 91.7% wanita memanipulasi orgasme.
  3. 74.6% wanita hanya berpura-pura karena sebenarnya mereka tidak puas secara seksual.

 

Begitu pentingnya masalah ini, menjadi titik awal mengapa saya merasa perlu untuk menuliskan dalam tulisan berseri.

 

Dunia telah berubah, banyak hal yang dahulu dianggap tabu untuk dibicarakan, namun sekarang demi kemashlahatan dan kesamaan hak dan kewajiban malah perlu dibicarakan dan didiskusikan. Termasuk di sini yang berkaitan dengan The Big “O”. The Big “O” merupakan bagian dari kehidupan suatu rumah tangga, bagian dari kehidupan pasangan suami istri. Nah, kalau ia merupakan kehidupan maka adalah tugas masing-masing kita untuk menghidupinya bukan?

 

Tidak ada keinginan untuk menuliskan masalah ini dalam rangka pornografi ditinjau dalam bentuk apapun juga. Tulisan ini hanya sebagai upaya untuk lebih menyadarkan kaum wanita bahwa mereka memiliki hak (dan tentu juga kewajiban) untuk mendapatkan The Big “O” dalam kehidupan mereka, begitu juga sebaliknya, kaum pria juga perlu menyadari bahwa pasangannya berhak untuk mendapatkan The Big “O” tersebut sebagaimana ia juga berhak mendapatkannya. Ya, pria dan wanita dalam konteks rumah tangga perlu menghidupi kehidupan itu.

 

Direncanakan tulisan berseri ini dalam urutan sebagai berikut (bisa bertambah pun bisa berkurang sesuai kebutuhan):

[The Big “O”: Bukan XXX] #2 Berbicara Seputar The Big “O”

[The Big “O”: Bukan XXX] #3 The Big “O” Pada Pria dan Wanita

[The Big “O”: Bukan XXX] #4 Mengenali Anatomi Tubuh Secara Detil

[The Big “O”: Bukan XXX] #5 Mengenali Titik-titik Khusus Pada Pasangan

[The Big “O”: Bukan XXX] #6 Pemanasan, Cumbu Rayu atau Foreplay

[The Big “O”: Bukan XXX] #7 The Big “O”, Seberapa Besar O-nya?

[The Big “O”: Bukan XXX] #8 Faktor Pendukung Terciptanya The Big “O”

[The Big “O”: Bukan XXX] #9 Ekspresif Membuat Eksplosif

[The Big “O”: Bukan XXX] #10 Pentingnya Variasi

[The Big “O”: Bukan XXX] #11 The Big “O”, Antara Hak dan Kewajiban

[The Big “O”: Bukan XXX] #12 Kamu Ndak Punya Pulsa?

[The Big “O”: Bukan XXX] #13 Ejakulasi Pada Wanita, Mitos atau Realitas?

[The Big “O”: Bukan XXX] #14 Membugarseksualkan Diri

 

Tak tertutup pula saran atau masukan dari teman-teman, demi tercapainya “menghidupi kehidupan” dalam rumah tangga kita masing-masing.