[The Big “O”: Bukan XXX] #6 Pemanasan, Cumbu Rayu atau Foreplay

By Hazil Aulia in PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Pernah mencoba menggoreng sesuatu dalam wajan yang telah diisi minyak goreng namun apinya baru saja dinyalakan? Pertama, yang terlihat adalah tiadanya reaksi dari minyak goreng tersebut. Maklumlah, dia belum panas. Kedua, jelaslah menyalahi teori tentang aturan menggoreng.

 

Pada pria, konsep seperti ini relatif bisa dan mudah untuk dilakukan. Sebab kodratnya seorang pria itu jauh lebih cepat terstimulasi (apalagi secara visual) dibandingkan wanita, sehingga ibarat fast food, hidangan dengan cepat dapat terlayani dan tersajikan.

 

Berbeda dengan pria, wanita memerlukan proses yang jauh lebih lama dan sifatnya lebih gradual, artinya ada tahapan-tahapan penting yang harus dilalui untuk pencapaian orgasme yang sempurna.

 

Ada istilah/ slang dalam bahasa Jawa, “Jogja” yang maksudnya adalah “njujug saja” artinya langsung ke masalahnya. Dalam konteksnya dengan masalah yang kita bahas ini adalah situasi dimana dalam suatu hubungan seksual, si lelaki tanpa ba bi bu langsung ambil ancang-ancang dan goool… nah di sini, jogja tidak lagi menjadi istimewa, padahal sesungguhnya Jogja itu istimewa seistimewa orang-orangnya.

 

Begitulah, dalam suatu hubungan suami istri perlu disadari bahwa secara kodrati memang ada perbedaan tingkat persiapan untuk mencapai orgasme antara pria dan wanita. Sayangnya, sungguh banyak sekali kaum pria yang tidak menyadari masalah ini, dan menganggap bahwa kaum wanita itu persis sama dengan mereka sehingga siap untuk dilakukan penetrasi kapan saja.

 

Kanjeng Nabi Muhammad menurut sirah, belum pernah melakukan hubungan suami istri tanpa terlebih dahulu yakin akan kesiapan istri beliau untuk penetrasi itu. Nabi melakukannya dengan cara mencumbui bidadari beliau tersebut. Dengan kata lain, Nabi mengajarkan pada kita tentang pentingnya melihat “kesiapan” pasangan kita untuk masuk ke tahap penetrasi.

 

Kalau begitu bagaimana mempersiapkan pasangan untuk masuk ke kondisi yang siap dalam melakukan hubungan? Pemanasan. Ya, melakukan pemanasan, cumbu rayu atau sering diistilahkan dengan foreplay. Di sini tentu saja masing-masing pihak dapat dan harus berperan aktif agar tujuan awal dari suatu hubungan suami istri yakni orgasme bisa tercapai dengan sempurna.

 

Tahap pemanasan, cumbu rayu atau foreplay ini bisa dilakukan dengan saling melakukan pijatan yang sifatnya relaksasi, baik dengan maupun tanpa menggunakan minyak zaitun atau lainnya yang disukai. Bisa pula dengan usapan, belaian, rabaan, yang kategorinya “luar biasa”. Di samping itu, pada tahap ini stimulasi-stimulasi juga dilakukan pada seluruh titik-titik khusus, dengan menyisakan satu atau dua titik yang paling khusus bagi tiap pasangan untuk distimulasi paling akhir sebelum dilakukan penetrasi.

 

Wanita biasanya selalu memberitahukan akan kesiapannya untuk tahap penetrasi, sekalipun demikian, tetap harus dilihat apakah memang vagina sudah siap untuk penetrasi. Kesiapan ditandai dengan jumlah cairan dari vagina yang cukup, karena jumlah cairan yang cukup pada vagina akan membantu kenyamanan kedua pihak dalam melakukan hubungan.

 

Berapa lama waktu yang diperlukan dalam melakukan foreplay? Tidak ada jawaban yang pasti. Alam akan menuntun Anda dan pasangan untuk berjalan meniti jembatan kebirahian, menikmati alunan dan rintihan gairah, menangguk romansa menunggang libido untuk menyeberang hingga sampai pada kesempurnaan orgasme. Jadi tidak perlu mematok diri harus 10 menit, 20 menit 1 jam dan sebagainya, itu semua adalah deretan angka-angka yang menjerumuskan kita pada situasi yang tidak sehat.

 

Kesimpulannya, dalam keadaan normal, semakin sempurna pemanasan atau foreplay yang dilakukan, maka semakin sempurna pula orgasme yang akan diraih oleh pasangan tersebut. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengabaikan proses atau tahapan foreplay ini.

 

Pilihlah Jogja yang istimewa karena memang istimewa seistimewa orang-orangnya, bukan jogja yang membuat pasangan Anda (terutama wanita) kecewa dan pusing kepala.

[The Big “O”: Bukan XXX] #5 Mengenali Titik-titik Khusus Pada Pasangan

By Hazil Aulia in PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Catatan: Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk terkesan vulgar, namun harus dibaca dalam koridor pembelajaran.

Pada tulisan-tulisan sebelumnya, disebutkan bahwa ada peran stimulasi dalam pencapaian orgasme pada kedua belah pihak. Besar dan kecilnya stimulasi yang diberikan juga akan mempengaruhi “kualitas” serta “rasa” orgasme yang diraih oleh masing-masing pihak.

 

Masalahnya sekarang, bagaimana seseorang bisa melakukan stimulasi sedangkan ia tidak mengetahui bagian mana dari pasangannya yang perlu distimulasi atau membutuhkan stimulasi? Oleh karena itu, sangat penting artinya bagi kita untuk mengetahui titik-titik atau daerah khusus pada pasangan dan secara rahasia hanya diketahui oleh masing-masing pasangan yang fungsinya sebagai sumber pendorong gairah atau libido dan jalan untuk pencapaian orgasme yang sempurna tersebut. Namun, dari sisi keilmuan, memang ada titik-titik umum yang setelah melalui penelitian mendalam diketahui sebagai titik-titik atau daerah sensitif nan melekat pada setiap insan. Sekali lagi, titik-titik atau daerah sensitif bagi pria satu dengan lainnya bisa berbeda-beda, pun demikian halnya dengan wanita yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidak perlu merasa “berkelainan” manakala tidak merasakan titik yang satu, tetapi menyukai titik yang lain.

 

Sang Maha sangat mengetahui kebutuhan kita, sehingga sedari awal, tubuh kita sudah didesain sedemikian rupa agar kebutuhan itu betul-betul pas untuk kita. Hanya saja sayangnya, sering saling berkebutuhan ini diabaikan sehingga apa yang dimaksudkan oleh Sang Maha sedari awal tidak tercapai. Beberapa faktor pemicunya antara lain, ketidakpedulian, ketidaktahuan, ketidaksabaran dan sebagainya. Faktor pemicu ini tentu harus disikapi secara hati-hati karena satu di antara persoalan yang timbul dalam kerumahtanggaan bisa jadi dimulai dari sini.

 

Titik-titik umum bagi pria berbeda dengan titik-titik khusus pada wanita. Namun, kalau boleh disimpulkan, titik-titik khusus pada wanita jauh lebih banyak dari pria, dan jauh lebih banyak dari apa yang dipaparkan di sini. Mengapa? Karena Sang Maha memang telah mendesain struktur tubuh wanita dengan sempurna dan meletakkan titik-titik khusus pada hampir di seluruh tubuh mereka, yang apabila dilakukan stimulasi akan mendorong, memperkuat serta mempercepat pencapaian orgasme.

 

Titik-titik khusus pada pria secara umum adalah sebagai berikut:

1. Leher

Seperti wanita, pria juga senang disentuh, dicium dan sebagainya di area ini. Sensasi yang dirasakan pria sama hebatnya dengan yang dirasakan oleh wanita.

 

2. Rambut dan kepala

Yang dimaksud di sini adalah biarkan pasangan membelai, meremas atau sedikit menjambak rambut ketika bercinta.

 

3. Telinga

Umumnya kaum pria senang merasakan sensasi di seputar telinganya.

 

4. Perineum

Ada satu titik yang kadang terlupakan, yakni perineum. Posisinya yang agak tersembunyi, yakni antara skrotum dan anus, membuat titik ini jarang mendapat perhatian. Padahal area ini dapat memberi sensasi khusus untuk pria.

 

5. Puting

Pria juga senang jika pasangannya mengeksplorasi putingnya, walau tidak semua pria menyenanginya. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengetahui apakah pasangan suka atau tidak adalah dengan mencari tahu secara langsung, baik dengan cara licking mau pun sucking.

 

6. Jari

Umumnya pria senang jika pasangannya mengeksplorasi bagi ini, sebagai refleksi dari cara pasangan memperlakukannya ketika bercinta.

 

7. Punggung

Ketika membelai atau mencium punggung pasangan, perasaan nyaman dan damai mengaliri tubuh. Karena itu, jika sedang bercinta jangan lupa belailah punggung pasangan dengan lembut.

 

8. Penis

Penis menjadi titik utama pada pria, terutama pada bagian frenulum, daerah sensitif di bagian bawah penis, di pertemuan lipatan-lipatan organ tersebut. Bentuknya menyerupai daun bunga. Titik ini jika disentuh, dapat menghasilkan sensasi yang meningkatkan gairah pria. Tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya ujung-ujung syaraf dan juga sangat sensitif. Terutama ketika ia sangat terangsang dan bila organ tersebut tengah membesar.

 

Sedangkan titik-titik khusus pada wanita, secara umum sebagai berikut:

 

1. Pangkal lengan

Pangkal lengan merupakan bagian yang terdekat untuk melanjutkan sentuhan. Pada saat itu sentuhan di lengan ini akan terlihat bagaimana reaksinya. Pangkal lengan bagian dalam lebih sensitif di bandingkan bagian luar.

 

2. Ketiak

Pasangan Anda akan suka sekali jika disentuh di bagian ini. Setelah menyentuh pangkal lengannya, Anda bisa meneruskannya ke arah ketiak. Bagian ini cukup sensitif sehingga jangan sampai menggangu suasana, misalnya, membuatnya kegelian dan bukannya terangsang. Anda bisa mengarahkan sentuhan pada bagian depan ketiak, tepatnya di pangkal lengan.

 

3. Leher

Setelah menyusuri ketiak, teruskan ke bagian atas atau ke bawah. Jika ke atas, arahkan ke lehernya, bisa sisi kanan maupun kiri. Sentuhan yang lembut pada bagian ini akan membuat pasangan bergairah. Telusuri pula bagian leher dari depan hingga belakang, lakukan dengan perlahan dan lembut karena bagian belakang leher sangat sensitif.

 

4. Belakang telinga

Di sini, ringankan sentuhan Anda dan kurangi tekanan pada tangan. Lakukan dengan lembut. Coba lakukan sentuhan yang terasa antara ada dan tiada karena iramanya akan terasa sensasional.

 

5. Pipi dan bibir

Anda tidak harus terus bermain di belakang telinganya. Misalnya, saat jemari telunjuk Anda menyentuh belakang telinganya dan jari yang lain menyentuh pipi. Jari lainnya bisa menyentuh bibirnya. Ingat, dengan semakin lembut sentuhan Anda pada bagian-bagian tubuhnya, gairahnya akan semakin meningkat.

 

6. Payudara

Sentuh bagian ini dengan elusan lembut dan remasan mesra, maka pasangan Anda akan menyukainya, walaupun ada juga wanita yang terlalu sensitif sehingga sentuhan pada bagian payudara justru tidak disukainya. Hampir seluruh bagian payudara merupakan daerah yang sensitif. Anda bisa merangsangnya menggunakan tangan, mulut, lidah dan bahkan gigi.

 

7. Puting payudara

Ini bagian payudara yang paling sensitif, karena terdapat banyak sekali syaraf-syaraf di sana. Puting bila disentuh akan muncul tanda bintik-bintik dan mengeras sebagai pertanda telah terangsang.

 

8. Perut

Seluruh wilayah perut akan menimbulkan rangsangan hebat bila disentuh dengan lembut dan rabaan mesra.

 

9. Punggung

Meski ada di belakang tubuh, punggung tidak kalah sensitif bila diraba pada titik erotik. Mau tahu di mana titik itu? Tepat di tengah-tengah punggung. Rabalah dengan lembut menggunakan ujung jari.

 

10. Pinggul

Daerah ini termasuk daerah paling sensitif. Ada beberapa bagian yang sangat sensitif dan menimbulkan rangsangan bila disentuh. Antara lain pinggul bagian belakang.

 

11. Pangkal paha

Rangsangan lembut di bagian ini akan menimbulkan reaksi yang hebat.

 

12. Paha

Rabalah bagian paha ini dengan lembut. Bila muncul bintik-bintik, pertanda rangsangan telah timbul. Maka rabalah terus dengan mesra dan lembut.

 

13. Vagina

Inilah bagian inti yang akan menimbulkan puncak kenikmatan dalam berhubungan intim. Perlu diketahui bahwa pada vagina ada beberapa bagian titik rangsangan, di antaranya bibir vagina, daerah sekitar vagina dan puncaknya pada klitoris.

 

Titik khusus yang berkaitan dengan vagina akan dibahas pada tulisan tersendiri, mengingat perlu penjelasan yang lebih panjang.

 

Yang perlu dicatat adalah titik-titik di atas merupakan titik-titik yang umum. Eksplorasi lebih lanjut terhadap pasangan sangatlah diperlukan untuk menemukan titik khusus spesifik lainnya pada pasangan kita.

 

Nah, sudahkah kita saling mengetahui titik-titik khusus pada pasangan kita? Sudahkah kita dan pasangan kita saling menstimulasinya? Sudahkah kita dan pasangan kita saling mengeksplorasi untuk menemukan titik-titik khusus atau titik-titik favorit yang hanya kita dan pasangan kita saja yang mengetahuinya?

 

Kalau belum, saran saya adalah, lakukan, lanjutkan, lebih cepat lebih baik.

 

Yogyakarta, 24 April 2012

[The Big “O”: Bukan XXX] #4 Mengenali Anatomi Tubuh Secara Detil

By Hazil Aulia in PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Menjadi suatu hal yang ganjil, apabila ingin mendapatkan suatu orgasme namun tidak mengenal anatomi organ tubuh pemicu kehadiran orgasme secara detil. Dengan kata lain, patut diduga, orgasme (kalaupun mendapatkannya) yang selama ini diraih hanyalah sebagai suatu kebetulan, dan tanpa ada pertanyaan serta keinginan untuk mengeksplorasi lebih lanjut.

 

Untuk dapat mengatakan bahwa “saya memahami seluk beluk orgasme” tersebut, perlu didukung dengan pengetahuan tentang orgasme itu sendiri, serta organ-organ tubuh yang terlibat di dalamnya. Bagaimana bisa mengatakan memahami, sedangkan konsep, pengertian serta organ tubuh yang terlibat pada peristiwa orgasme tersebut tidak mengetahuinya dengan jelas?

 

Seperti kita ketahui, struktur organ genitalia pria dan wanita itu sangatlah berbeda. Sekalipun berbeda, dengan merenungi ciptaan ilahi tersebut maka tidak ada kata lain selain pujian, rasa syukur, dan rasa malu kepada Sang Maha karena selama ini sebagai manusia kita lebih banyak berperilaku sombong, angkuh dan tidak mempunyai rasa syukur.

 

Secara sederhana, coba perhatikan posisi, bentuk serta fungsi organ genitalia yang kita miliki saat ini. Sang Maha sudah mendesain serta memposisikannya sedemikian rupa sehingga organ tersebut multifungsi, sebagai piranti output urin serta piranti kopulasi, dan apabila kopulasi terjadi, maka kedua organ genitalia yang berbeda tersebut membentuk suatu kesatuan yang pas.

 

Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kita lebih sering hanya mengenal organ tubuh kita secara fisik saja, bahkan tak jarang pula nama organ tubuh disamarkan atau malah menjauh dari arti dan fungsi yang sesungguhnya. Kaitannya dengan pendidikan seks sejak dini adalah bahwa sejauh mungkin harus dihindari pemakaian istilah-istilah tertentu yang bukan berupa istilah sebenarnya dari suatu organ. Tidak ada masalah bila organ genitalia untuk pria disebut dengan penis saat mengenalkan organ genitalia pria pada anak, begitu pula dengan istilah vagina bagi organ genitalia wanita, payudara sebagai organ yang nantinya menghasilkan ASI untuk konsumsi bayi, serta puting payudara sebagai tempat keluarnya ASI, sebab itulah istilah yang seharusnya melekat pada organ tersebut, bukan istilah lain yang malah menjauhkan dari makna sebenarnya.

 

Pada organ genitalia pria atau yang disebut dengan penis, ada beberapa komponen di dalamnya, seperti terlihat pada gambar.

 

 

Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum (kantung zakar) dan testis (buah zakar). Struktur dalamnya terdiri dari vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis.

 

Sperma (pembawa gen pria) dibuat di testis dan disimpan di dalam vesikula seminalis. Saat hubungan seksual terjadi, sperma yang terdapat di dalam cairan yang disebut semen dikeluarkan melalui vas deferens dan penis yang mengalami ereksi.

 

Penis terdiri dari:

  • Akar (menempel pada didnding perut)
  • Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
  • Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).
  • Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung glans penis.
  • Dasar glans penis disebut korona.

Pada pria yang tidak disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona menutupi glans penis. Sirkumsisi hakekatnya untuk mengedepankan aspek kesehatan, karena bila tidak dilakukan sirkumsisi, besar kemungkinan terjadi penumpukan smegma yang nantinya akan mengundang penyakit, baik bagi pria maupun bagi wanita pasangannya.

 

 

Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:

  • 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan
  • Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra. Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).

 

Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh. Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehinga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).

 

Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan. Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria yang utama).

 

Epididimis terletak di atas testis dan merupakan saluran sepanjang 6 meter. Epididimis mengumpulkan sperma dari testis dan menyediakan ruang serta lingkungan untuk proses pematangan sperma. Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis. Saluran ini berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra dan membentuk duktus ejakulatorius. Struktur lainnya (misalnya pembuluh darah dan saraf) berjalan bersama-sama vas deferens dan membentuk korda spermatika.

 

Uretra memiliki 2 fungsi:

  • Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih
  • Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

 

Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul dan mengelilingi bagian tengah dari uretra. Biasanya ukurannya sebesar walnut dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia.

 

Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma. Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis.

 

Selama melakukan hubungan seksual, penis menjadi kaku dan tegak sehingga memungkinkan terjadinya penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina) Ereksi terjadi akibat interaksi yang rumit dari sistem syaraf pada pria, pembuluh darah, hormon dan psikis.

 

Rangsang yang menyenangkan menyebabkan suatu reaksi di otak, yang kemudian mengirimkan sinyalnya melalui korda spinalis ke penis. Arteri yang membawa darah ke korpus kavernosus dan korpus spongiosum memberikan respon, yaitu berdilatasi (melebar). Arteri yang melebar menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah erektil ini, sehingga daerah erektil terisi darah dan melebar. Otot-otot di sekitar vena yang dalam keadaan normal mengalirkan darah dari penis, akan memperlambat aliran darahnya. Tekanan darah yang meningkat di dalam penis menyebabkan panjang dan diameter penis bertambah.

 

Ejakulasi terjadi pada saat mencapai klimaks, yaitu ketika gesekan pada glans penis dan rangsangan lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan korda spinalis. Saraf merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis dan vas deferens, vesikula seminalis dan prostat. Kontraksi ini mendorong semen ke dalam uretra. Di sini terlihat peran pikiran (mind) yang bila dilatih, akan mampu melakukan pengendalian terhadap proses ejakulasi.

 

Selanjutnya kontraksi otot di sekeliling urretra akan mendorong semen keluar dari penis. Leher kandung kemih juga berkonstriksi agar semen tidak mengalir kembali ke dalam kandung kemih. Setelah terjadi ejakulasi (atau setelah rangsangan berhenti), arteri mengencang dan vena mengendur, sehingga akibatnya aliran darah yang masuk ke arteri berkurang dan aliran darah yang keluar dari vena bertambah, sehingga penis menjadi lunak.

 

 

Sedangkan organ genitalia pada wanita atau yang disebut dengan vagina, juga terdapat beberapa komponen di dalamnya seperti pada gambar berikut.

 

 

Reproduksi wanita dirancang untuk sejumlah fungsi:

  • Memproduksi sel telur yang diperlukan dalam proses reproduksi
  • Sebagai sarana transportasi sel telur menuju tempat fertilisasi.
  • Tempat terjadinya fertilisasi di tuba falopii.
  • Tempat implantasi hasil fertilisasi di uterus sebagai awal proses kehamilan. Ovarium menghasilkan hormon seksual wanita yang perlu bagi keberlangsungan fungsi reproduksi.
  • Bila tidak terjadi fertilisasi dan atau implantasi maka sistem reproduksi akan mengalami proses menstruasi (pelepasan mukosa uterus setiap bulan)

 

Selama menopause produksi hormon seksual dari sistem reproduksi wanita yang penting bagi berlangsungnya siklus reproduksi secara bertahap akan berkurang. Bila seorang wanita sudah berhenti menghasilkan hormon seksual maka wanita tersebut sudah mengalami menopause.

 

Struktur anatomi organ reproduksi wanita.

 

Anatomi reproduksi wanita terdiri dari struktur eksternal dan struktur internal.

Peran struktur eksternal:

  • Jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita
  • Melindungi organ genitalia internal dari infeksi mikro organisme

 

Struktur Eksternal Sistem Reproduksi Wanita:

  • Labia mayora: Labia mayora menutup dan melindungi sejumlah struktur eksternal. Struktur ini homolog dengan skrotum pada pria. Labia mayora memiliki kelenjar lemak dan kelenjar keringat. Setelah pubertas labia mayora akan ditutupi dengan rambut pubis.
  • Labia minora: Labia minora panjangnya kira kira 5 sentimeter dan terletak di dalam labia mayora mengitari orifisium vaginae dan meatus urethrae eksternus.
  • Kelenjar Bartholin: Kelenjar ini terletak di samping orifisium vaginae dan memproduksi cairan encer (mukus).
  • Klitoris: Labia minora kiri dan kanan bertemu pada bagian anterior di daerah klitoris , susatu tonjolan kecil sebesar kacang tanah yang homolog dengan penis pada pria. Pada kasus-kasus tertentu, bisa terjadi seorang wanita memiliki struktur klitoris yang melebihi ukuran normal, tentu saja hal ini tidak perlu dirisaukan. Klitoris tersebut terutup lipatan kulit yang disebut preputium yang juga terdapat pada pria. Seperti halnya penis, klitoris adalah struktur erektil yang peka terhadap rangsangan.
  • Vagina: Vagina adalah saluran yang menghubungkan serviks (bagian terbawah uterus) dengan bagian luar tubuh dan dikenal pula sebagai jalan lahir.
  • Uterus: Uterus adalah organ berbentuk seperti buah pir, memiliki rongga untuk tempat pertumbuhan dan perkembangan janin. Uterus terbagi menjadi dua bagian yakni serviks uteri dan corpus uteri yang akan menampung janin selama kehamilan. Serviks memiliki saluran di dalamnya yang disebut sebagai kanalis servikalis yang berperan sebagai saluran masuk sperma dan saluran keluar darah haid/ menstruasi.
  • Ovarium: Ovarium adalah dua buah kelenjar berbentuk bulat lonjong dan pipih yang terdapat di samping uterus. Ovarium menghasilkan sel telur dan hormon seksual wanita.
  • Tuba Falopii: Saluran yang berada di bagian atas uterus kiri dan kanan yang berperan sebagai saluran ovarium untuk perjalanan sel telur dari ovarium ke uterus.

 

Mengenal akan komponen serta fungsi dari organ genitalia akan sangat membantu dalam mencapai orgasme pada situasi normal, sebab tiap pasangan akan mengetahui kapan dan bagaimana seharusnya suatu komponen distimulasi sehingga pencapaian orgasme berlangsung sempurna.

 

Yogyakarta, 15 April 2012

Beberapa bagian dari tulisan ini diambil dari internet

[The Big “O”: Bukan XXX] #3 The Big “O” Pada Pria dan Wanita

By Hazil Aulia in PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Dalam keadaan normal, setiap pria dan wanita bisa mendapatkan dan meraih  atau menggapai orgasme itu. Sekali lagi, dalam keadaan normal. Normal di sini artinya, tidak ada kelainan-kelainan pada organ genitalia (internal maupun eksternal) pun tidak ada hambatan psikis yang membuat ketakorgasmean itu muncul.

 

Dengan struktur internal maupun eksternal yang berbeda, maka memang terdapat perbedaan tipe orgasme antara wanita dan pria. Allah SWT menganugrahi wanita dengan tipe orgasme yang paling banyak, begitu juga dengan kemampuan multiple orgasmicnya, sedangkan pria lebih sedikit tipenya. Mungkin ini dikaitkan dengan posisi pria sebagai pemimpin bagi wanita dalam ajaran agama, sehingga dengan tipe orgasme yang tidak sebanyak wanita diharapkan ia lebih fokus dalam melaksanakan kepemimpinannya terhadap wanita, fisik maupun psikis. Sebaliknya, pada wanita karena “tugas” kerumahtanggaan yang banyak dan juga menjadi ladang pahala baginya, termasuk mengasuh anak, mengelola rumah tangga dan sebagainya, ia diberi “bonus” berbagai tipe orgasme yang bisa diraih sebagian maupun seluruhnya pada saat berhubungan suami istri.

 

Pada wanita, setidaknya terdapat 3 tipe orgasme, yakni vaginal, servikal dan klitoral. Lalu apa perbedaan orgasme vaginal, servikal dan klitoral?

 

Seperti namanya, orgasme vaginal terjadi bila stimulasi fokus dilakukan pada vagina, orgasme servikal terjadi bila stimulasi fokus dilakukan pada area serviks dan orgasme klitoral terjadi bila stimulasi fokus dilakukan pada area klitoris wanita.

 

Apakah stimulasi pada payudara atau puting mempengaruhi orgasme? Bisa ya bisa pula tidak. Dalam beberapa kasus, ada wanita yang tidak merasa nyaman saat pasangannya melakukan stimulasi pada puting ataupun payudaranya. Namun, umumnya hampir semua wanita bisa merasakan dan menikmati sensasi stimulasi pada payudara serta putingnya. Hal yang sama juga terjadi pada kaum pria. Sedangkan besar kecilnya sensasi stimulasi yang dirasakan antara payudara atau puting sebelah kiri dan kanan bisa sama, bisa pula berbeda pada tiap wanita maupun pria.

 

Apakah Latihan Kegel Bisa Memperkuat Orgasme Pada Wanita? Seorang ginekolog di tahun 1940, Arnold Kegel, menemukan suatu teknik bagi wanita yang berfungsi untuk memperkuat otot PC (pubococcygeus). Teknik ini beberapa dekade berikutnya juga diketahui membantu pria untuk bisa mendapatkan orgasme berulang. Otot PC ini pada manusia menghubungkan tulang kemaluan ke tulang ekor. Ia merupakan tempat penyangga bagi organ genitalia internal, saluran kemih, kandung kemih serta rectum sehingga organ-organ tersebut tidak turun atau lemah.

 

 

Kegel juga menemukan alat yang bisa mengukur seberapa kuat otot PC seorang wanita. Alat ini disebut Kegel Perineometer, yang di samping berfungsi untuk mengukur kekuatan otot PC, ia juga bisa digunakan untuk melatih otot PC.

 

Tetapi sebenarnya tanpa alat itu pun ktia bisa melatih otot PC. Tekniknya sangat sederhana, dan bisa dilakukan setiap waktu, kapan saja, di mana saja. Pernahkah Anda merasa sangat ingin (kebelet) buang air kecil? Pada saat belum menemukan tempat peturasan, yang kita lakukan adalah menahannya bukan? Ketika kita menahan agar urin tersebut tidak keluar, otot yang bekerja adalah otot PC. Dengan melakukan latihan (seolah) menahan dan melepaskan urin (sekalipun waktu itu tidak ingin buang air kecil) secara rutin, dan berupaya meningkatkan “kekuatan” daya tahan dari waktu ke waktu, maka kekuatan otot PC akan semakin tinggi. Penelitian juga menemukan bahwa ada korelasi yang tinggi antara otot PC yang kuat dengan respon orgasme.

 

Sebelum dan selama orgasme, pada wanita secara alamiah akan menghasilkan 2 bentuk umum cairan dari vagina. Pertama pelumas vaginal, berupa cairan bening namun bukan dikeluarkan dari kelenjar (namun ada kelenjar yang berperan untuk itu), tetapi berasal dari pembuluh darah yang mengalir perlahan dan akhirnya membasahi bagian dalam vagina. Di sini kita juga perlu mensyukuri dan melihat betapa Mahanya Sang Maha. Coba bayangkan seandainya kedua tangan disilangkan, kemudian digosokkan satu dengan lainnya secara cepat dan kuat, apa yang dirasakan? Panas dan sakit bukan? Betapa tersiksanya seorang wanita merasakan sakit, bila hubungan seksual dilakukan manakala vaginanya belum cukup tercairi. Cairan yang kedua adalah yang disebut dengan cairan ejakulasi wanita. Cairan ini keluar dari saluran kemih, namun bukan berupa kemih. Dahulu ejakulasi pada wanita masih merupakan hal yang kontroversial. Tentang hal ini akan dibahas dalam tulisan tersendiri.

 

Posisi tubuh saat melakukan hubungan seksual juga mempengaruhi orgasme, sebab pada wanita posisi tubuh yang kurang sesuai tidak akan mampu untuk menstimulasi sebagian atau seluruh tipe orgasme di atas yakni klitoral, vaginal dan servikal.

 

Kadang sering juga kita membaca tentang orang yang memasalahkan ukuran besar dan panjang alat vital. Apakah ukuran besar dan panjang alat vital (dalam hal ini penis) mempengaruhi orgasme pada wanita? Sebenarnya tidak, sekalipun ada penelitian yang menemukan bahwa wanita menginginkan ukuran (diameter) yang besar. Dengan ukuran yang “umum” 10 – 15 cm saat ereksi, sebetulnya sudah mencukupi, di samping itu, suatu vagina didesain untuk lentur bukan? Tampaknya besar dan panjangnya penis merupakan suatu bunga fantasi seperti juga bagi sebagian pria yang “menerjemahkan” besar kecilnya payudara seorang wanita.

 

Apakah pria bisa ejakulasi tanpa orgasme atau orgasme tanpa ejakulasi? Jawabannya bisa. Di sisi lain, ada kondisi di mana pria tidak bisa orgasme dan juga tidak bisa ejakulasi. Misalnya pada posisi setelah dilakukan operasi kelenjar prostat, kasus-kasus psikologis dan sebagainya. Contoh lain, ejakulasi dini/ ejakulasi prematur, dimana belum cukup terjadi stimulasi penis secara fisik. Sebaliknya, bisa pula terjadi penundaan ejakulasi, namun mendapatkan orgasme berulang, serta “melepas” ejakulasi pada saat ia merasa siap untuk itu. Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan, misalnya melakukan apa yang disebut dengan tantric sex. Tantric sex ini antara lain melatih kemampuan seksualitas dengan teknik pernafasan, melatih aliran “chi” dalam tubuh dan sebagainya.

 

Cairan apa yang keluar dari penis sebelum ejakulasi? Cairan ini dalam agama sering disebut dengan mazi. Cairan ini secara alamiah akan keluar apabila seorang pria terstimulasi. Cairan ini terpicu oleh kelenjar Cowper dan tidak mengandung sperma. Cairan ini berfungsi juga untuk membantu pelumasan penis saat hubungan seksual terjadi.

 

Yogyakarta, 3 April 2012

[The Big “O”: Bukan XXX] #2 Berbicara Seputar The Big “O”

By Hazil Aulia in PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Pada tulisan sebelumnya, telah disinggung selintas mengenai pengertian orgasme, bahwa orgasme itu adalah suatu bentuk dari sensasi tubuh yang menyenangkan dan kepuasan menuju ke intensitas puncak yang pada akhirnya bisa melepaskan ketegangan serta menciptakan perasaan puas dan relaksasi.

 

Di sini terlihat bahwa seharusnyalah orgasme itu dalam konteks hubungan suami istri menghasilkan perasaan puas dan relaksasi pada kedua belah pihak. Terkait dengan hal ini, maka ada beberapa pertanyaan yang mungkin sering muncul di pikiran. Dengan mengetahui konsep-konsep dasar sebagai penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, diharapkan muncul gambaran utuh mengenai hal-hal terkait dengan orgasme itu.

 

Apakah pria dan wanita mengalami sensasi yang sama saat orgasme?

Tidak ada jawaban yang pasti mengenai pertanyaan ini. Tiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda-beda dalam mendeskripsikannya. Tetapi satu hal yang pasti adalah bahwa dalam orgasme, ada dua organ tubuh yang terkait yakni penis dan klitoris (penjelasan lebih lanjut tentang organ tubuh ini dibahas dalam tulisan berikutnya). Mengapa? Karena keduanya berasal dari jaringan yang sama saat embrio berkembang. Dan hebatnya lagi, selama kita hidup, syaraf tulang belakang (spinal cord) dan otak itu terhubung pada penis dan klitoris melalui rute syaraf yang sama (syaraf pudendal). Oleh karena itu, untuk jawaban pertanyaan ini, para peneliti mengatakan patut diduga, secara umum baik pria maupun wanita memiliki perasaan yang serupa.

 

Mengapa tidak semua orgasme mempunyai “rasa” yang sama?

Pada wanita (pertanyaan ini sering muncul pada wanita), menurut penelitian, organ intimnya dihubungkan ke beberapa pasang syaraf yang melayani pasangan syaraf yang berbeda (lihat gambar). Oleh sebab itu, “rasa” suatu orgasme akan bergantung pada pasangan syaraf mana yang saat itu distimulasi. Untuk wanita, kualitas sensorik suatu orgasme tergantung dari organ mana yang terstimulasi, apakah klitoris, vagina atau serviks.

 

 

Gambar menunjukkan, tiap organ yang berhubungan dengan syaraf pudendal yang mana, sehingga bisa dilihat suatu orgasme terjadi pada bagian apa. Sekalipun menstimulasi tiap bagian bisa menghasilkan orgasme, tidak tertutup pula kemungkinan adanya kombinasi stimulasi pada beberapa bagian yang lain, sehingga menghasilkan tingkat orgasme yang lebih hebat.

 

Pada pria, syaraf pudendal membawa rangsangan dari syaraf pada jaringan kulit penis dan skrotum. Selain itu, syaraf hipogastrik membawa rangsangan dari testis dan kelenjar prostat. Sama seperti wanita, stimulasi pada masing-masing bagian ini akan menimbulkan “rasa” yang berbeda.

 

Apa yang disebut dengan Multiple Orgasm?

Bila suatu orgasme terjadi berulang dalam periode yang sangat dekat mulai dari interval beberapa detik hingga beberapa menit, kejadian ini disebut dengan multiple orgasm atau orgasme berulangan. Umumnya, bila berbicara tentang orgasme berulangan, maka pihak yang sering dikaitkan dalam hal ini adalah wanita, sekalipun orgasme berulangan (meski jarang) bisa terjadi juga pada pria. Ada teknik dan pelatihan tertentu agar pria juga bisa mengalami orgasme berulangan.

 

Apa itu anorgasmia?

Anorgasmia merupakan situasi kurangnya atau menurunnya kemampuan orgasme. Pada pria sering disebut disfungsi orgasme yang disebabkan karena faktor fisik maupun psikologis. Dengan kata lain, terdapat gangguan kemampuan orgasmik entah itu orgasme yang tertunda, ketidakmampuan untuk ejakulasi hingga penurunan fungsi ejakulasi. Sedangkan pada wanita, dikatakan sebagai kurangnya kemampuan orgasmik yang ditandai dengan menurunnya intensitas sensasi orgasme, atau lamanya waktu pencapaian orgasme sekalipun telah dilakukan berbagai cara stimulasi.

 

Apakah Kemampuan Orgasme Menurun di Usia Tertentu?

Boleh jadi. Tetapi, dengan melakukan olah raga teratur serta mengonsumsi makanan dengan gizi yang cukup sebenarnya keadaan ini bisa ditunda. Pada pria biasanya gangguan kemampuan orgasme terjadi karena disfungsi ereksi, apalagi bila pada pria tersebut ditemukan gejala penyakit diabetes mellitus, karena kadar gula yang tinggi pada darah akan mengganggu pasokan darah ke organ reproduksi.

 

Pada wanita, kecendrungan penurunan terjadi saat memasuki masa menopause, dimana tidak lagi mengalami menstruasi, dan beberapa hormon seperti tidak lagi bekerja seperti seharusnya. Keadaan ini membuat vagina menjadi kering. Dengan stimulasi tertentu, sebetulnya kelenjar Bartholin masih mampu bekerja dan memasok pelumas untuk vagina.

 

Berapa Lama Waktu Untuk Bisa Mencapai Orgasme?

Tidak ada ukuran angka yang pasti, karena tiap pasangan berbeda-beda. Pada pria bisa tercapai mulai dari satu menit hingga 10 menit sejak melakukan penetrasi.  Pada wanita, pencapaian orgasme jauh lebih lama dibandingkan pria. Di sinilah letak pentingnya memahami hak dan kewajiban tiap pasangan, sehingga masing-masing merasa kewajibannya terlaksana tetapi juga mendapatkan haknya secara adil.

 

Sekalipun demikian, banyak teknik yang bisa dilakukan agar bisa menunda terjadinya orgasme, terutama bila pasangan tersebut menikmati sensasi rasa ke pencapaian orgasme tersebut, namun bukan karena faktor disfungsi orgasme.

 

Yogyakarta, 21 Maret 2012