[PR Parenting] Kenalkan Anak Dengan Berbagai Macam Profesi Sedini Mungkin

Oleh: Nur Muhammadian

Saat saya kecil dulu, bila ditanya cita-cita, saya menjawab jadi dokter. Teman-teman saya ada yang ingin jadi guru, jadi tentara, jadi insinyur, jadi bidan dan lain-lain profesi. Tapi tidak ada satupun yang punya cita-cita jadi penulis, editor, pelatih bola, dan pengusaha. Mungkin karena saat itu kami tidak mengenal profesi-profesi yang saya sebutkan terakhir.

Dari mana seorang anak bisa mengenal macam-macam profesi? Tentu saja dari lingkungannya. Saya dulu bercita-cita jadi dokter karena ibu saya seorang bidan. Saat ikut bapak menjemput ibu saya sering melihat dokter menggunakan jas putih berkalung stetoskop, alangkah gagahnya.  Sampai saya lulus SD saya masih ingin menjadi seorang dokter. Begitu menemui pelajaran Biologi yang harus menghapalkan nama-nama spesies, saya berubah pikiran. Saya memutuskan untuk menjadi apapun asal tidak jadi dokter. Mulai saat itulah saya mengamati betapa banyak sekali guru-guru saya yang melakukan proses mengajar dengan cara yang tidak bagus. “Wah aku bisa mengajar lebih bagus dari Guru ini” itulah yang terlintas di benak saya. Namun saat saya sampaikan keinginan saya ke Ibu, beliau tidak menyetujui seratus persen. “Ibu akan mendukung apapun cita-citamu, tapi jadi guru itu berat nak…gajinya kecil. Kamu seorang laki-laki harus membiayai keluargamu”. Maka sayapun batal berusaha jadi guru. Saya akhirnya memilih jadi insinyur, padahal itu bukan profesi. Lulus kuliah saya bisa mencapai apa yang saya inginkan, namun panggilan hati saya menjadi guru semakin besar dan menggelora.

Bagaimana dengan masa kini? Sekarang banyak sekali pilihan profesi, yang sebenarnya sejak dulu sudah ada namun belum dikenal. Anak-anak kecil, sedini mungkin, harus dikenalkan dengan bermacam-macam profesi yang ada. Seharusnya mereka mendapatkan referensi tentang profesi yang bebas mereka pilih. Sedini mungkin mereka harus diajarkan untuk memiliki cita-cita. Masih sering saya temui jawaban “menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan agama”. Jawaban seorang anak yang tidak memiliki cita-cita, tidak memiliki tujuan yang jelas.

Sejak bisa berbicara, saya sudah senang mengajak anak saya ngobrol tentang profesi. Profesi apapun saya sampaikan ke dia. Saya tidak khawatir bila dia sering berganti cita-cita, karena itu adalah proses pertumbuhan berpikir baginya. Namun saya selalu mendesak dia untuk menyebutkan cita-citanya secara detil dan jelas, apapun itu. Saat awal reformasi Indonesia, anak sulung saya sedang sekolah Taman Kanak-kanak, dia bercita-cita jadi Presiden. Karena sudah terbiasa sejak kecil, dia segera mencari informasi tentang presiden, proses pemilihannya, tugasnya, dan lain-lain. Jadilah anak saya seorang pengamat politik termuda saat itu, mungkin. Bila ada yang bertanya dia bisa menjelaskan kompetensi, peluang dari para kandidat presiden. Saya lihat waktu itu, ketertarikan dia pada politik seperti anak-anak lain tertarik pada permainan. Mungkin baginya politik asyik bagaikan permainan strategi di computer. Sesuai perkembangan usianya, anak saya semakin banyak memiliki referensi profesi. Saat ini, sudah SMP, dia ingin memiliki perusahaan jasa angkutan dan perusahaan jasa konsultan komunikasi. Bagaimana dengan cita-cita jadi Presiden? “Presiden itu dipilih pak…Kalau aku sudah kaya nanti aku akan mencalonkan diri jadi Presiden. Karena sudah kaya, aku tidak akan ambil sepeserpun gaji dan fasilitasku sebagai presiden. Dan aku tidak khawatir tidak terpilih atau tidak terpilih lagi”.

Mengenalkan anak pada profesi sebanyak mungkin membuat mereka memiliki banyak pilihan. Biarkan mereka berproses memilih-milih impian. Sehingga pada saatnya mereka menetapkan impian yang tetap. Maka proses selanjutnya adalah menguatkan impian dan berjalan menuju arah yang pasti. Pendidikan formal itu penting, tetapi bila impian sudah jelas dan kuat, sang anak punya pilihan yang tepat tentang pendidikan formal yang akan dia lalui. Atau bahkan dia bisa memilih untuk tidak melalui jalur pendidikan formal. Sehingga perjalanan hidupnya menjadi lebih efektif. Sebagai orang tua kewajiban kita hanya mengarahkan dia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia maupun akhirat. Ingat! Kebahagiaan bagi dia, bukan kebahagiaan kita atau kebahagiaan versi kita! Bukankah orang tua bahagia bila anaknya bahagia?

Hidup efektif dan bahagia…Monggo….

[Parenting] Study Banding Anak TK

Oleh: Hesti Setiarini*

Aku tidak tahu tulisan ini mau dimasukkan ke rubrik apa. Jadi ya curhat sajalah. Begini. Beberapa waktu lalu saat mudik ke Jakarta, adik iparku yang mempunyai 2 orang anak balita mengeluh. Itu dikarenakan anak sulungnya Saskia yang berumur 5 tahun akhir-akhir ini sering merengek minta dibelikan rumah yang mempunyai kolam renang! Ya ampun..!

Ternyata ini akibat suatu ketika murid-murid TK diajak ‘berwisata’ ke rumah salah seorang murid yang yang ada kolam renang cukup luas dan berada di wilayah bergengsi. Entah dengan alih-alih ingin menghibur atau mengajak murid-murid yang berasal dari golongan masyarakat biasa itu untuk menikmati suasana lain, atau memang ingin memenuhi ambisi ‘pamer diri’ si empunya rumah karena merasa paling berada di antara mereka. Upaya studi banding, kah? Yang jelas anak-anak yang masih polos itu cuma bisa melongo, terheran-heran, dan ujung-ujungnya jadi ingin memiliki rumah seperti itu!

Aku jadi ingin berbagi saja tentang apa yang dijalankan oleh anak-anakku di sekolah sini. Seperti umumnya negara maju, di Jepang juga tidak ada perbedaan status sosial. Orang berada, setengah berada atau tidak berada, semua sama. Sejak TK sudah ditanamkan hal positif ini dan itu sangat bermanfaat bila mereka sudah menjadi bagian dari anggota masyarakat. Misalnya kedudukan di suatu perusahaan hanya berlaku pada saat jam kerja saja. Selepas itu tak ada boss tak ada bawahan. Bercanda bersenda gurau layaknya teman saja. Profesionalisme dan kinerja maksimal yang diutamakan.

Nah, kembali ke dunia pra sekolah, dunia Taman Kanak-kanak. Aku ambil contoh misalnya perayaan ulang tahun. Bagi masyarakat Jepang ulang tahun itu hari istimewa untuk pribadi saja. Artinya tak perlu sampai harus bersusah payah menghabiskan biaya besar, menggelar pesta mewah jor-joran mengundang banyak orang. Jadi peraturan TK disini melarang untuk merayakan ulang tahun secara pribadi di sekolah. Ini agar mencegah adanya kesenjangan sosial itu. Tapi bukan berarti hari istimewa itu tak dapat dinikmati bersama dengan teman-teman, lho.

Perayaan ulang tahun gabungan. Ya, menggabungkan murid-murid yang berulang tahun dan dirayakan setiap akhir bulan. Bagaimana dengan acara, konsumsi, hadiah? Semua ada dan dijamin tak mengurangi kemeriahan. Untuk acara biasanya para guru mengundang orang tua anak yang berulang tahun dan pasangan orang tua-anak itu dijadikan bintang istimewa. Anak-anak dipersilakan bertanya apa saja pada orang tua tentang teman yang berulang tahun itu. Misalnya bagaimana bunyi tangis waktu lahir, apa masakan ibu yang disuka, dan pertanyaan lucu lainnya.

Semua melibatkan murid-murid secara aktif. Ada acara kuis, acara permainan, menyanyikan lagu ulang tahun bersama. Hadiahpun dibuat sendiri oleh para murid dari bahan-bahan yang ada, dengan ide guru tentunya. Konsumsi? Ada kue atau makanan sederhana tapi istimewa yang dibuat oleh para guru dari bahan yang ada atau tidak memakan anggaran banyak seperti kue cake labu merah atau sponge cake yang dibuat kecil2 dan dihias sendiri oleh para murid.

Acara ulang tahun gabungan selama 2 jam itupun berlangsung sederhana, meriah dan penuh kesan bagi yang berulang tahun. Oya, sejak masuk Sekolah Dasar tidak ada lagi acara ulang tahun bersama. Para orang tua dipersilakan untuk merayakan hari istimewa putra putrinya sendiri.

***
(Kitakami, 26 November 2011)
Penulis Tinggal di Jepang

[Parenting] Membuat Anak Suka Sekolah

Oleh : Mamane Kirana

 

Anak-anak adalah makhluk yang polos, jujur, spontan, selalu ingin tahu, semangat dan energik.

Sejak ia mulai pandai bicara hampir semua yang dilihat, didengar, dirasakan ditanyakannya. Memang kesabaran orang tua teruji disini. Saya pernah berjanji menulis tentang bagaimana anak menyukai sekolah kepada Mb Qurota Ayyun, nah kini saya akan penuhi janji tsb tapi hanya sebatas pengetahuan dan pengalaman pribadi saya sendiri yang tak seberapa. Bisa jadi pengalaman kita sama atau mungkin berbeda sama sekali, tak mengapa ya. Kalau ada masukan dari teman-teman monggo ditambahkan.

Sejak usia belum sekolah, saya sering mengajak anak saya pergi, baik bertamu, belanja, ke Masjid, berenang kemana saja deh, pokoknya saya ajak. Maksud saya agar tak celingus dan pemalu.

Lalu Ketika usia hendak play grup sebelumnya saya sering bercerita bahwa di sekolah Play grup itu mengasyikkan, banyak teman, banyak dongeng, menyanyi, bikin gambar, mewarnai pokoknya disana banyak yang asyik-asyk deh. Ber ulang-ulang ngomongnya dengan ekpresi wajah yang gembira, Lalu sebelumnya saya ajak dia lihat-lihat sekolah yang bakal dia pilih dari beberapa tempat yang sudah saya seleksi lebih dahulu sebelumnya dan saya kenalkan dengan gurunya.

Hal tsb diatas saya lakukan berulang-ulang, sehingga anak seakan-akan memutuskan sendiri dimana ia bakal sekolah.

Kemudian saya sering menggosipkan anak dengan agak keras yang kira-kira anak dengar tentang hal-hal hebat yang ia lakukan. Misal ketika ia mau berbagi, suka berlatih mewarnai, mau mandi sendiri, menolong mama, dlsbgnya, langsung saya puji dan gosipkan dengan nada bersyukur dan gembira dengan jarak yang ia dengar dengan pura-pura tak tahu anak ada di situ.

Kadang untuk menggosip hal-hal baik saya kompakan atau kong kalikong dengan mas-masnya, pembantu, papanya, bahkan sama tukang kebun. Ketika saya memergoki kebaikannya langsung saya kasih reward, dengan kata-kata dan pelukan yang sedikit agak saya tekan dan membelai-belai punggungnya dengan nada bangga dan gembira.

Ketika seminggu sbelum masuk TK, saya sudah berkata berulang-ulang, bahwa Kirana adalah anak yang berani, wataknya persis mama(saya bilang demikian karena ia amat dekat dengan saya, dan dia bangga kalau bisa seperti saya), lalu saya katakan dia adalah anak yang santun, ramah, suka menolong, lembut hati , rajin belajar, selalu menyimak guru, focus disekolah, berulang-ulang, dan suka berlatih sendiri tanpa minta tolong (saya lihat hidungnya kembang kempis kesenangan). Saya juga mengatakan kepadanya Kirana anak yang cerdas, mudah mengingat dan tidak sombong, lalu gantian saya minta papa, mas-masnya, pembantu,teman, guru mengaji ngomong yang intinya persisi seperti yang saya katakan diatas,dengan beda versi. Kelihatan Kirana sangat bahagia dengan pengakuan tsb.

Intinya, saya perbanyak pelukan, sentuhan, tatapan, pujian ketika kita menangkap kebaikannya, di bombong (di naik-naikkan), gosip baik, tidak mengkritik, jika salah langsung kita beri tahu yang baiknya lalu tidak diungkit-ungkit salahnya, seakan tak pernah terjadi, mendongeng/bercerita sebelum tidur, Cerita sebelum tidur sangat efektif sekali. Menjawab semua pertanyaannya dengan sabar. Berduaan pun sungguh asyik, kadang-kadang kami jalan aneh bersama hahaha.Alhamdulillah sekarang Kirana sudah kelas I SD, populer di sekolah, banyak teman suka berbagi dan berhati lembut nilai ulangan harian dan rapornya di dominasi angka 10 dan betul-betul jadi gosip disekolah diantara para guru dan wali murid, padahal di rumah tak pernah belajar, baca komik doraemon atau buku-buku yang saya belikan khusus untuk anak. (yang sudah saya seleksi terlebih dahulu tentunya). Juga dalam menghafal surat-surat dalam al Qur’an saya tak lagi membantu.

Sharing diatas tidak ada maksud lain selain berbagi untuk para ortu yang masih punya balita, khusunya janji saya sudah tertunaikan kepada mbb Qurota Ayyun. Semoga bermanfaat. Mohon maaf bila tak berkenan.