[The Big “O”: Bukan XXX] #3 The Big “O” Pada Pria dan Wanita

By Hazil Aulia in PNBB - Proyek Nulis Buku Bareng

Dalam keadaan normal, setiap pria dan wanita bisa mendapatkan dan meraih  atau menggapai orgasme itu. Sekali lagi, dalam keadaan normal. Normal di sini artinya, tidak ada kelainan-kelainan pada organ genitalia (internal maupun eksternal) pun tidak ada hambatan psikis yang membuat ketakorgasmean itu muncul.

 

Dengan struktur internal maupun eksternal yang berbeda, maka memang terdapat perbedaan tipe orgasme antara wanita dan pria. Allah SWT menganugrahi wanita dengan tipe orgasme yang paling banyak, begitu juga dengan kemampuan multiple orgasmicnya, sedangkan pria lebih sedikit tipenya. Mungkin ini dikaitkan dengan posisi pria sebagai pemimpin bagi wanita dalam ajaran agama, sehingga dengan tipe orgasme yang tidak sebanyak wanita diharapkan ia lebih fokus dalam melaksanakan kepemimpinannya terhadap wanita, fisik maupun psikis. Sebaliknya, pada wanita karena “tugas” kerumahtanggaan yang banyak dan juga menjadi ladang pahala baginya, termasuk mengasuh anak, mengelola rumah tangga dan sebagainya, ia diberi “bonus” berbagai tipe orgasme yang bisa diraih sebagian maupun seluruhnya pada saat berhubungan suami istri.

 

Pada wanita, setidaknya terdapat 3 tipe orgasme, yakni vaginal, servikal dan klitoral. Lalu apa perbedaan orgasme vaginal, servikal dan klitoral?

 

Seperti namanya, orgasme vaginal terjadi bila stimulasi fokus dilakukan pada vagina, orgasme servikal terjadi bila stimulasi fokus dilakukan pada area serviks dan orgasme klitoral terjadi bila stimulasi fokus dilakukan pada area klitoris wanita.

 

Apakah stimulasi pada payudara atau puting mempengaruhi orgasme? Bisa ya bisa pula tidak. Dalam beberapa kasus, ada wanita yang tidak merasa nyaman saat pasangannya melakukan stimulasi pada puting ataupun payudaranya. Namun, umumnya hampir semua wanita bisa merasakan dan menikmati sensasi stimulasi pada payudara serta putingnya. Hal yang sama juga terjadi pada kaum pria. Sedangkan besar kecilnya sensasi stimulasi yang dirasakan antara payudara atau puting sebelah kiri dan kanan bisa sama, bisa pula berbeda pada tiap wanita maupun pria.

 

Apakah Latihan Kegel Bisa Memperkuat Orgasme Pada Wanita? Seorang ginekolog di tahun 1940, Arnold Kegel, menemukan suatu teknik bagi wanita yang berfungsi untuk memperkuat otot PC (pubococcygeus). Teknik ini beberapa dekade berikutnya juga diketahui membantu pria untuk bisa mendapatkan orgasme berulang. Otot PC ini pada manusia menghubungkan tulang kemaluan ke tulang ekor. Ia merupakan tempat penyangga bagi organ genitalia internal, saluran kemih, kandung kemih serta rectum sehingga organ-organ tersebut tidak turun atau lemah.

 

 

Kegel juga menemukan alat yang bisa mengukur seberapa kuat otot PC seorang wanita. Alat ini disebut Kegel Perineometer, yang di samping berfungsi untuk mengukur kekuatan otot PC, ia juga bisa digunakan untuk melatih otot PC.

 

Tetapi sebenarnya tanpa alat itu pun ktia bisa melatih otot PC. Tekniknya sangat sederhana, dan bisa dilakukan setiap waktu, kapan saja, di mana saja. Pernahkah Anda merasa sangat ingin (kebelet) buang air kecil? Pada saat belum menemukan tempat peturasan, yang kita lakukan adalah menahannya bukan? Ketika kita menahan agar urin tersebut tidak keluar, otot yang bekerja adalah otot PC. Dengan melakukan latihan (seolah) menahan dan melepaskan urin (sekalipun waktu itu tidak ingin buang air kecil) secara rutin, dan berupaya meningkatkan “kekuatan” daya tahan dari waktu ke waktu, maka kekuatan otot PC akan semakin tinggi. Penelitian juga menemukan bahwa ada korelasi yang tinggi antara otot PC yang kuat dengan respon orgasme.

 

Sebelum dan selama orgasme, pada wanita secara alamiah akan menghasilkan 2 bentuk umum cairan dari vagina. Pertama pelumas vaginal, berupa cairan bening namun bukan dikeluarkan dari kelenjar (namun ada kelenjar yang berperan untuk itu), tetapi berasal dari pembuluh darah yang mengalir perlahan dan akhirnya membasahi bagian dalam vagina. Di sini kita juga perlu mensyukuri dan melihat betapa Mahanya Sang Maha. Coba bayangkan seandainya kedua tangan disilangkan, kemudian digosokkan satu dengan lainnya secara cepat dan kuat, apa yang dirasakan? Panas dan sakit bukan? Betapa tersiksanya seorang wanita merasakan sakit, bila hubungan seksual dilakukan manakala vaginanya belum cukup tercairi. Cairan yang kedua adalah yang disebut dengan cairan ejakulasi wanita. Cairan ini keluar dari saluran kemih, namun bukan berupa kemih. Dahulu ejakulasi pada wanita masih merupakan hal yang kontroversial. Tentang hal ini akan dibahas dalam tulisan tersendiri.

 

Posisi tubuh saat melakukan hubungan seksual juga mempengaruhi orgasme, sebab pada wanita posisi tubuh yang kurang sesuai tidak akan mampu untuk menstimulasi sebagian atau seluruh tipe orgasme di atas yakni klitoral, vaginal dan servikal.

 

Kadang sering juga kita membaca tentang orang yang memasalahkan ukuran besar dan panjang alat vital. Apakah ukuran besar dan panjang alat vital (dalam hal ini penis) mempengaruhi orgasme pada wanita? Sebenarnya tidak, sekalipun ada penelitian yang menemukan bahwa wanita menginginkan ukuran (diameter) yang besar. Dengan ukuran yang “umum” 10 – 15 cm saat ereksi, sebetulnya sudah mencukupi, di samping itu, suatu vagina didesain untuk lentur bukan? Tampaknya besar dan panjangnya penis merupakan suatu bunga fantasi seperti juga bagi sebagian pria yang “menerjemahkan” besar kecilnya payudara seorang wanita.

 

Apakah pria bisa ejakulasi tanpa orgasme atau orgasme tanpa ejakulasi? Jawabannya bisa. Di sisi lain, ada kondisi di mana pria tidak bisa orgasme dan juga tidak bisa ejakulasi. Misalnya pada posisi setelah dilakukan operasi kelenjar prostat, kasus-kasus psikologis dan sebagainya. Contoh lain, ejakulasi dini/ ejakulasi prematur, dimana belum cukup terjadi stimulasi penis secara fisik. Sebaliknya, bisa pula terjadi penundaan ejakulasi, namun mendapatkan orgasme berulang, serta “melepas” ejakulasi pada saat ia merasa siap untuk itu. Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan, misalnya melakukan apa yang disebut dengan tantric sex. Tantric sex ini antara lain melatih kemampuan seksualitas dengan teknik pernafasan, melatih aliran “chi” dalam tubuh dan sebagainya.

 

Cairan apa yang keluar dari penis sebelum ejakulasi? Cairan ini dalam agama sering disebut dengan mazi. Cairan ini secara alamiah akan keluar apabila seorang pria terstimulasi. Cairan ini terpicu oleh kelenjar Cowper dan tidak mengandung sperma. Cairan ini berfungsi juga untuk membantu pelumasan penis saat hubungan seksual terjadi.

 

Yogyakarta, 3 April 2012

[The Big “O”: Bukan XXX] #1 Menghidupi Kehidupan, Suatu Pengantar

By Hazil Aulia

Maha Suci Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk dengan sempurna. Sudah sewajarnya bila Sang Maha selalu mengingatkan kita tentang bagaimana bersyukur, bagaimana harus membaca tanda-tanda alam, bagaimana memahami anugrah yang telah diberikan melampaui anugrahNya untuk makhluk lain.

 

Sebagai manusia, selain kita diberi akal untuk berpikir serta hati nurani yang menuntun kita pada jalan yang benar, kita juga dilengkapi dengan hawa nafsu. Satu yang membedakan kita dengan makhluk lain adalah kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu itu.

 

Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tujuannya tidak lain adalah agar saling mengenal satu dengan yang lainnya. Pada konteks saling mengenal ini, sangat banyak terjadi hubungan yang terbangun antara seorang lelaki dengan seorang wanita, dan tidak sedikit hubungan yang terjadi itu berlanjut ke tahap berikutnya, yakni keinginan untuk membina rumah tangga yang dinaungi dalam ikatan resmi sebagai suami istri.

 

Dalam kehidupan berumah tangga, umumnya pula, pasangan suami istri menghendaki kehadiran anak keturunan sebagai pelanjut generasi mereka. Di sinilah kita juga patut bersyukur, bahwa Allah SWT menciptakan rasa dan nafsu yang melekat pada manusia secara instinktif, yang karena rasa dan nafsu tersebut, memunculkan keinginan untuk menyalurkannya dalam bentuk hubungan seksual.

 

Apakah hubungan seksual itu diharamkan? Tidak. Hubungan seksual sama sekali tidak diharamkan. Yang menjadikan haram adalah kriteria yang melekat pada subjek yang melakukan hubungan tersebut. Dalam konteks negara, maka hubungan tersebut baru bisa dilakukan bila pasangan tersebut terdaftar di Kantor Urusan Agama bagi yang Islam, atau di Kantor Catatan Sipil bagi masyarakat lain yang memilih untuk itu. Namun dalam konteks norma dan agama, kriteria bisa bertambah, misalnya hubungan dengan ibu, ayah, saudara sekandung dan sebagainya.

 

Mengapa hubungan seksual tersebut seolah dikerangkengi? Jawabannya adalah karena kita sebagai manusia yang sempurna, diberi akal dan pikiran serta hati nurani, dan sangat-sangat berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya seperti binatang misalnya. Binatang, juga diberi nafsu seksual instinktif dan bisa menyalurkannya setiap saat dengan pasangannya atau pasangan yang dikehendakinya. Secara “keilahian”, Tuhan sudah memberikan sinyal bahwa kita sebagai manusia itu diberi kedudukan yang jauh lebih terhormat dibandingkan dengan makhluk lainnya. Oleh karena itu manusia diharapkan (pilihan) bisa menangkap dan memaknai sinyal tersebut dan memilih jalan yang seharusnya.

 

Hubungan seksual selain berfungsi sebagai suatu proses awal pembentukan makhluk lain untuk keturunan, sejatinya adalah juga untuk membersamai (!) pencapaian rasa kepuasan bagi kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Inilah yang sering tidak disadari oleh pasangan suami istri, karena walaupun tidak tertulis, namun dalam hubungan seksual tersebut timbul hak dan kewajiban bagi masing-masing, yaitu hak untuk dipuasi serta kewajiban untuk memuasi pasangannya. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, seringkali justru istri yang tidak terpenuhi haknya oleh suami.

 

Rasa kepuasan tersebut terkait dengan istilah orgasme (dalam beberapa literatur sering juga disebut dengan The Big “O”). Lalu, apa sebetulnya pengertian orgasme tersebut? Secara etimologi, orgasme berasal dari kata Bahasa Yunani “orgasmos” yang dalam kamus Oxford English Dictionary diartikan sebagai “to swell as with moisture, be excited or eager”. Bila merujuk ke Kinsey Reports, orgasme didefiniskan sebagai “The expulsive discharge of neuromuscular tensions at the peak of sexual response.” Deskripsi yang lebih teknis ditulis oleh Masters and Johnson, konsultan dan seksolog, bahwa orgasme adalah “A brief episode of physical release from the vasocongestion and myotonic increment developed in response to sexual stimuli.”

 

John Money, dan kawan-kawan, mendefinisikan orgasme sebagai: “The zenith of sexuoerotic experience that men and women characterize subjectively as voluptuous rapture or ecstasy. It occurs simultaneously in the brain/mind and the pelvic genitalia. Irrespective of its locus of onset, the occurrence of orgasm is contingent upon reciprocal intercommunication between neural networks in the brain, above, and the pelvic genitalia, below, and it does not survive their disconnection by the severance of the spinal cord. However, it is able to survive even extensive trauma at either end.

 

Bila disimpulkan, maka orgasme itu adalah suatu bentuk dari sensasi tubuh yang menyenangkan dan kepuasan menuju ke intensitas puncak yang pada akhirnya bisa melepaskan ketegangan serta menciptakan perasaan puas dan relaksasi.

 

Lalu, apa alasan menuliskan masalah The Big “O” dan membagikannya pada pembaca?

 

  1. The big "O" merupakan satu dari beberapa faktor pendukung dalam hubungan pasutri baik fisik maupun psikis.
  2. 80% wanita tidak mengetahui apapun tentang hal ini, dan hanya 10%-25% saja yang mengalaminya. Dengan kata lain, dari 10 orang wanita, 8 orang tidak tahu sama sekali, dari 10 orang wanita, hanya 2-3 orang saja yang mengalaminya.
  3. Tidak semua laki-laki pula paham dan mau berperanserta menyukseskan hak dan kewajiban dua belah pihak.

 

Menurut majalah “Men’s Health”, berdasarkan survei, ditemukan kondisi bahwa:

  1. 94.7% pria tidak bisa memuaskan wanita di ranjang
  2. 91.7% wanita memanipulasi orgasme.
  3. 74.6% wanita hanya berpura-pura karena sebenarnya mereka tidak puas secara seksual.

 

Begitu pentingnya masalah ini, menjadi titik awal mengapa saya merasa perlu untuk menuliskan dalam tulisan berseri.

 

Dunia telah berubah, banyak hal yang dahulu dianggap tabu untuk dibicarakan, namun sekarang demi kemashlahatan dan kesamaan hak dan kewajiban malah perlu dibicarakan dan didiskusikan. Termasuk di sini yang berkaitan dengan The Big “O”. The Big “O” merupakan bagian dari kehidupan suatu rumah tangga, bagian dari kehidupan pasangan suami istri. Nah, kalau ia merupakan kehidupan maka adalah tugas masing-masing kita untuk menghidupinya bukan?

 

Tidak ada keinginan untuk menuliskan masalah ini dalam rangka pornografi ditinjau dalam bentuk apapun juga. Tulisan ini hanya sebagai upaya untuk lebih menyadarkan kaum wanita bahwa mereka memiliki hak (dan tentu juga kewajiban) untuk mendapatkan The Big “O” dalam kehidupan mereka, begitu juga sebaliknya, kaum pria juga perlu menyadari bahwa pasangannya berhak untuk mendapatkan The Big “O” tersebut sebagaimana ia juga berhak mendapatkannya. Ya, pria dan wanita dalam konteks rumah tangga perlu menghidupi kehidupan itu.

 

Direncanakan tulisan berseri ini dalam urutan sebagai berikut (bisa bertambah pun bisa berkurang sesuai kebutuhan):

[The Big “O”: Bukan XXX] #2 Berbicara Seputar The Big “O”

[The Big “O”: Bukan XXX] #3 The Big “O” Pada Pria dan Wanita

[The Big “O”: Bukan XXX] #4 Mengenali Anatomi Tubuh Secara Detil

[The Big “O”: Bukan XXX] #5 Mengenali Titik-titik Khusus Pada Pasangan

[The Big “O”: Bukan XXX] #6 Pemanasan, Cumbu Rayu atau Foreplay

[The Big “O”: Bukan XXX] #7 The Big “O”, Seberapa Besar O-nya?

[The Big “O”: Bukan XXX] #8 Faktor Pendukung Terciptanya The Big “O”

[The Big “O”: Bukan XXX] #9 Ekspresif Membuat Eksplosif

[The Big “O”: Bukan XXX] #10 Pentingnya Variasi

[The Big “O”: Bukan XXX] #11 The Big “O”, Antara Hak dan Kewajiban

[The Big “O”: Bukan XXX] #12 Kamu Ndak Punya Pulsa?

[The Big “O”: Bukan XXX] #13 Ejakulasi Pada Wanita, Mitos atau Realitas?

[The Big “O”: Bukan XXX] #14 Membugarseksualkan Diri

 

Tak tertutup pula saran atau masukan dari teman-teman, demi tercapainya “menghidupi kehidupan” dalam rumah tangga kita masing-masing.

 

PNBB Asyik Gila...!

pertamax

pertamax

 Oleh Ibeth Beth-i

 Tahukah kamu??? Aku termasuk orang yang gaptek. (Wakakakak, gaptek saja bangga!) Eits, tapi jangan apriori begitu dong! Dibalik itu aku senang belajar. Belajar apa saja, sepanjang itu ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang bermanfaat.

Akun fb pertamaku, sahabatku yang mendaftarkan atas inisiatif dia sendiri, tanpa aku minta! Lalu akun itu menjadi korban hacker berbarengan dengan akun fb Jajang C. Noor dihack. Saat itu agak waswas juga. Masalahnya, saat akun Jajang C. Noor dihack, Bagong Kusudiardjo menjadi korban penyalahgunaannya sebesar satujuta rupiah. Lho, apa hubungannya dengan akun fb-ku? Secara tidak langsung, aku takut akun fb-ku disalahgunakan juga.

(more…)

[Komunitas Menulis] RISE AND UNITE

 Oleh Moenir Al-Banny

Teringat kembali slogan SEA GAMES 2011 ke-26 yang diselenggarakan  di Indonesia. Rise and Unite artinya tanya guru bahasa inggrismu?(hahaha). artinya (maaf lo pak kalau salah) Bangkit dan Bersatu.

Dalam komunitas khususnya komunitas menulis, perlulah sesuatu atau seseorang yang bisa mengompori (baca:membangkitkan/rise) semangat kita. nah di grup menulis macam PNBB inilah kita bisa menemukan tukang masak alias tukang kompor menulis, baik yang sudah senior maupun yang masih junior pun saling mengompori sampai-sampai kadang dibutuhkan pemadam kebakaran untuk mengurangi api dari kompor yang terlalu panas(hehehe).

(more…)

[Komunitas Menulis] Sarang Yang Nyaman!

Oleh: Rahma Damayanty Rivai

 Kau memerlukan sarang yang membuatmu merasa nyaman.  Kau ingin senantiasa dipeluk dan disapa dengan mesra.  Kau mengulurkan tangan dan menyediakan bahu pada yang membutuhkan pertolongan.  Kau motivasi sesiapa yang sedang gundah.

Sebelumnya, kau tidak mengenal siapa saudara-saudaramu di dalam sarang ini.  Kau masuk dengan hati bersih.  Mereka pun menerimamu dengan jabat erat dan pelukan hangat.  Kau merasa lapar, mereka menyodorimu secangkir kopi dan sepiring pisang goreng.  Kau bilang, kau ingin teh manis hangat. Mereka tersenyum manis dan mengganti kopimu dengan segelas teh manis hangat itu.

(more…)