Sibuk ?? Menulis Yuuk..!!

Oleh Afiani Intan Rejeki Gobel

Kalau kita mau ngaku sibuk. Semua orang bisa aja ngaku sibuk. Pengangguran pun berhak bilang, kalau dia sedang sibuk. “Sibuk tidur, sibuk nongkrong, sibuk ngobrol”. Toh sibuk juga namanya. Hehee..

 

Satu-satunya yang membuat saya bisa tidak menulis, ya ‘si sibuk’ itu. Kalau saya bos, paling juga sibuk mikirin gaji, toh masih bisa menemukan laptop atau ada saja sempatnya untuk menulis. Kalau saya seorang pedagang atau pengusaha, mungkin saja saya akan punya banyak sekali kesempatan untuk menulis. Kenyataannya, saya memang bukan keduanya. Saya seorang guru. Yang katanya jam kerja seorang guru adalah 24 jam. Seperti hal-nya seorang ibu yang tiada lelah dengan semua agenda padatnya.

 

Pagi saya mesti mengajar, hingga jam 12. Yang saya lakukan ya MENULIS. Menulis perkembangan anak didik saya selama sedang bermain, makan, berbicara dengan teman-temannya yang lain. Banyak sekali yang bisa saya tulis.

 

Berakhir jam 12. Saya kembali MENULIS. Saya coba menceritakan pengalaman setiap hari di kelas saya. Evaluasi, mencatat hal-hal penting yang mungkin saja tadinya terlewat untuk ditulis. Ini menjadi sebuah asset sejarah saya yang paling saya sukai. Di mana bisa menemukan momen-momen mengembangnya sayap-sayap kecerdasan teman-teman kecil saya di sekolah. Yang sebagian besar di antara tulisan-tulisan itu memang tidak di publikasikan, sebelum di akhir tahun nanti akan dipilah untuk menjadi bagian dari buku tahunan yang akan dibagikan kepada teman-teman kecil yang akan melanjutkan ke SD nantinya. Isi buku itu, ya tulisan-tulisan tentang ‘keistimewaan’ dan momen-momen indah  selama di sekolah, foto diri, foto kegiatan dan lain-lain.

 

Setelah usai dengan aktifitas ishoma, saya mesti memberikan les.  Sejak saya kuliah, buaaaanyyyaaaaakk hal yang perlu dibiayai. Pun sudah nambahin ‘kesibukan’ cari duit di sana-sini, masih juga mamak dan bapak sibuk nambalin yang kurang-kurang. Usai les itulah, saya akan kembali MENULIS. Menulis tugas-tugas kuliah. Sekarang sudah sampai ke tugas akhir. Menyusun BAB IV dan BAB V yang jelas-jelas masih berupa garis besarnya. Belum di teliti bener-bener, karena agenda-agenda di sekolah yang nambahin padatnya kesibukan.

 

Lalu, kuliahlah saya. Mencatat yang terdengar dan terlihat. Entah melihat dan mendengar dosen atau hanya ngobrol dengan teman dan menikmati jam-jam kosong. Pulang ke rumah, saya MENULIS-kan apa yang tadi saya alami di kampus.

 

Kalau saya lagi ga kuliah, seperti sebulan belakangan, saya langsung melanjutkan ke MENULIS yang berikutnya. MENULIS apa yang besok bisa saya lakukan di kelas. Hal baru apa yang dapat saya hadirkan ke dalam pembelajaran. Gimana caranya supaya belajar bisa jadi menyenangkan dan mengasikkan. Sesekali saya bisa MENULIS lagu ketika memasuki ‘tema pembelajaran’ tertentu. Alhamdulillaah, di waktu-waktu seperti ini, saya bisa mendapat banyak ‘ilham’ bagaimana menyajikan ‘belajar yang asik’ buat teman-teman kecil saya. Tulisan-tulisan ini sedang dicicil untuk diposting di web pribadi saya dengan label “Kelas Inspirasi”. Kenapa dicicil, bukannya dicopas langsung? *belum sempat diedit* 😀

 

Saat sang kantuk mulai menyerang.. Saya akan mulai MENULIS lagi. Puisi adalah produk kantuk yang paling banyak. ^____^ Kemudian sebagian lainnya adalah muhasabah.. menghitung diri.

 

Ditulis semua?? Ya iya laaah. 🙂

 

Di sela-sela aktifitas di atas. Sewaktu saya, benar-benar sibuk di dunia nyata. Saya akan MENULIS status. Hehe.  Jika saya sedikit luang di dunia nyata. Maka saya akan MENULIS komentar di status dan catatan teman-teman saya atau sesekali menyambangi GRUP-GRUP saya yang mulai ‘menyepi’. 🙂

 

Tapi, saya MENULIS toh..? 😀

 

Saya memang Ratunya alasan kok. Tapi, saya jelas ga bisa ninggalin MENULIS begitu saja. Hidup saya saat ini adalah MENULIS. Cita-cita saya saat ini adalah MENULIS. Tujuan saya saat ini adalah MENULIS. Dengan atau tanpa PR dari kepsek PNBB (Proyek Nulis Buku Bareng) pun, saya akan terus dan tetap menulis. Sepanjang apapun nantinya alasan yang saya akan ucapkan, saya tetap MENULIS.

 

Saya SIBUK, tapi saya MENULIS.

 

Ini tulisan saya.. mana tulisan kamu..? 😛

 

*Memanfaatkan libur sehari dengan menumpahkan isi hari* ^_______^

[Mengatasi Hambatan Menulis] Daripada Mati Penasaran, Lebih Baik Mati Penapsaran

Oleh Hazil Aulia di PNBB – Proyek Nulis Buku Bareng

 

 

Seperti juga gaya yang bisa mati sehingga dikatakan mati gaya, nafsu menulis pun kadang juga bisa menurun kalau tidak bisa dikatakan mati. Pada saat-saat seperti ini, jamaknya orang merasa bete stadium akut. Sebenarnya keinginan menulis itu masih ada, tetapi seolah ia terselinap diantara berbagai masalah yang muncul dan menggelayuti tangan, pikiran dan perasaan.

 

Kondisi semacam ini sungguh membahayakan bila “diternakkan”, apalagi bila sudah sempat beranak-pinak, wah.. karam dunia.. Namun demikian, kondisi ini sebenarnya sangat-sangat lazim ditemukan dan saya amat yakin sekali bahkan orang yang berprofesi sebagai penulis pun mengalaminya. Lalu apa bedanya dengan kita, mereka yang sangat fasih dalam menulis dengan kita yang masih pembelajar ini? Bedanya terletak pada cara memperlakukan nafsu atau libido menulis yang kendur ini. Kita yang tidak tahu cara memperlakukan si libido menulis yang kendur ini cenderung “mengabaikan” hak-hak si libido tadi, sedangkan mereka yang fasih menulis, tidak berkehendak untuk mengabaikannya, namun bahkan “mengelus-elusnya” agar si libido menulis tadi kembali memuncak.

 

Jadi menurut saya, bila kita merasa bahwa libido menulisnya kendur, coba perhatikan, coba rasakan apakah kita sudah memberikan hak-hak si libido agar ia tetap bisa “meraung-raung” untuk disalurkan dengan menulis atau belum. Kita sudah menyadari bahwa ide tulisan bisa diserok dari mana saja, kita pun mempunyai piranti yang bisa membantu untuk mengingat kejadian, kamera, telepon seluler, buku catatan bahkan sebenarnya menyimpan sementara “bakal” tulisan tersebut di otak untuk kemudian dituliskan kembali. Nah, ajaklah si libido bertualang sejenak, segarkan diri dengan membaca, mengunjungi perpustakaan atau tempat-tempat lain yang bisa menggelorakan kembali si libido menulis tersebut.

 

Saya pribadi, terkadang cukup dengan menjelajahi komentar teman-teman di beranda Facebook atau di grup PNBB ini saja sudah bisa meraungkan kembali si libido menulis agar menyalurkan hasratnya. Pada kesempatan lain, saya juga mengunjungi situs-situs di internet untuk mencari buku-buku elektronik dan menemukan yang bahkan baru akan terbit beberapa bulan ke depan. Atau misalnya meluangkan waktu untuk bercocok tanam sejenak, menyiangi kebun, memasak, mengajak anak bermain dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas tersebut rasanya sudah cukup mampu untuk menggetarkan kembali libido menulis agar ia meraung-raung minta segera disalurkan. Buatlah agar ia membuat kita mati penapsaran. Penapsaran? Ya, penapsaran adalah bahasa slang saya untuk mengibaratkan “saking penasarannya”, penapsaran untuk segera menulis kembali.

 

Lah, daripada kita mati penasaran meratapi libido yang kendur tadi, bukankah lebih baik kita mati penapsaran karena si libido menulis tak hentinya mengajak menggoyangkan jemari menyalurkan hasratnya?

 

Sekarang, ayo.. tunjuk jari, siapa yang libido menulisnya masih kendur?

 

Yogyakarta, 8 Desember 2011

[Tips Menulis] M.A.U.?

Oleh Moenir Al-Banny di PNBB – Proyek Nulis Buku Bareng

 

Apakah menulis memerlukan tips? Sebenarnya menulis itu sederhana kalau kita MAU melakukannya. ya cukup satu kuncinya MAU menulis.Saat kita menulis alam bawah sadar kita akan memutuskan sendiri mana kata-kata yang akan kita jadikankan kalimat untuk menyusun paragraph daripada tulisan kita (gaya bahasa tahun 80-an, hehe).

 

Mengenai alam bawah sadar ya biar di bahas nanti lah sama yang lebih ahli. yang saya coba bahas adalah MAU menulis. BAgaimana agar kita mau menulis?

Saat malam bengong gak ada yang ngajak sms-an atau telpon-telpon-an, daripada pikiran lari-lari kesana kemari, coba ambil pulpen dan kertas kosong. coretkan sesuatu di sana, mungkin kata-kata indah yang kelak akan kamu bagikan dengan pasangan hidupmu, atau ungkapan-ungkapan kemarahan pada atasan kerja (hehe gak menghasut lho ya?), atau juga hal menarik yang terjadi hari ini. Ya hal sederhana di atas bisa menjadi tulisan selama kita MAU untuk menulis.

 

Menulis…

MAU!

 

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada operator yang menggunakan kata-kata promosi di atas.

[Mengatasi Hambatan Menulis] SO….. GOOD BYE MOODY

Oleh: Diana Harjoto Putra

 

Wuihhh ini bakal jadi PR pertama yang ku kerjakan di PNBB. Heeee, maklum murid kuper alias kurang perduli  ^_^ ……..

 

Hmhh, aku menunggu kesempatan nulis ini dari jam 11.30 WIB tadi. Padahal sekarang udah jam dua siang, abisnya adaaaaaa aja yang mesti dikerjakan. Alhamdulillah akhirnya dapet juga kesempatan untuk anteng sejenak  di depan komputer.

 

Begini kawan, aku sedikit tertantang dengan PR yang satu ini, kebetulan masalah ini sering banget hinggap di hari-hariku. Sebenarnya suka banget membaca dan corat-coret sejak kecil, tepatnya sejak 22 tahun silam, banyak sekali manuskrip dan kerangka cerpen yang tertuang di buku diary (dulu belum punya computer) namun akhirnya ngangkrak karena sering aja tuh tiba-tiba hilang mood-nya, kadang juga karena waktu yang sempit disela aktifitas yang padet.

 

Trus setelah Allah memberikan rizki sebuah computer, penyakit itu ternyata masih berlanjut bahkan cerpen dan tulisan-tulisan magak (karena belum kelar) semakin banyak  memenuhi folderku. Karena sejujurnya aku juga sangat bermasalah dengan tata bahasa yang jauuhhhh bener dari EYD bahasa Indonesia yang baik dan benar.

 

Then  someday about 5 years ago, aku dapet tugas jadi pengurus perpustakaan dan majalah dinding di majelis ta’lim yang dibentuk oleh temen-temen sesama karyawan di sebuah perusahaan asing di Pulau Batam.

 

Aku agak pusing aja tiba-tiba harus memikirkan gimana caranya agar ada sesuatu yang tertempel di mading musholla perusahaan tersebut disetiap pekannya, sebenarnya bukan masalah besar sih….karena aku suka menulis. Hanya saja aku merasa belum pernah sekalipun menulis sesuatu yang menurutku menarik dan layak dibaca oleh banyak orang.

 

Hufffff….. tau nggak kawan, saat itu rasanya seperti memikul beras satu ton. Hmhhhhh…… beraaaaattttt.  akhirnya daripada pusing mikirin mading akupun datang ke sebuah masjid besar di sana, kebetulan sedang ada pengajian yang diisi oleh seorang ustadz muda dari papua yang sering nongol di TV karena ikut audisi da’i di sebuah TV swasta. Nama beliau ustadz Saiful Islam Al-Payage, mungkin kawan sudah tidak asing dengan nama itu.

 

Aku mengikuti acara beliau dengan seksama, sedikit mengurangi rasa stress karena tugas dadakan tadi. Sang ustadz  lebih banyak menceritakan tentang pengalamannya menuju hidayah Allah , sampai bagaimana cara dia menularkan hidayah itu kepada sanak-saudaranya di pedalaman papua sana.

 

Lalu insting imaginasiku bekerja, aku mencatat bebarapa hal di otakku yang kemudian setelah pulang aku menulisnya di komputerku. Aku tidak lagi memikirkan EYD dan segala macamnya, jemariku menari bebas di atas keyboard, tulisanku mengalir semauku, sesuai gaya bahasa dan imajinasiku sendiri, yang ada di benakku adalah “harus ada sesuatu yang bisa kutempel di mading esok hari”. Baru hari itu aku merasa benar-benar bebas menulis tentang perjuangan seorang Al-Payage, tak ada lagi kungkungan bahasa.

 

Alhamdulillah, setelah tulisan 4 lembar kertas A4 itu selesai, dengan sedikit tidak PeDe keesokan harinya aku menempelkannya di madding. Dan tau nggak kawand……..

 

Dua jam setelah aku menempel tulisan itu, beberapa orang teman di perusahaan itu menemuiku. Keringat dingin mengalir begitu saja. Karena gak main-main kawan, yang menemuiku seorang penting di perusahaan itu. Dan saat dia bilang mau ngomong soal tulisanku di mading. aku semakin gemetaran. Hrhrhrhhrhrhrh……

 

Eeeeeeehhhh… ternyata beliaunya bilang gini. “Dee, tulisannya asyik. Seperti mendengarkan orang bercerita, tolong dikopikan rangkap tiga ya, satu untukku dan yang dua lagi pesenan dari mbak Mina dan mbak Santi!”…..

 

Wow…. Amazing banget. Tulisanku dihargai kawan, duh betapa senang hatiku…. Burung-burung di hatiku serasa ikut bernyanyi dan berkicau…..

 

Dan sejak hari itu aku menyadari kekuranganku yang ternyata selama ini selalu merasa terpenjara oleh aturan bahasa yang belum kumengerti. Dan sekarang “mood” tidak lagi masuk daftar alasan untukku tidak menulis. Karena sumber penyakitnya telah kutemui.

 

SO….. GOOD BYE MOODY

[Tips Menulis] Memancing Ide

Oleh: M. Nawir

 

pancing
pancing

Ide

Sering kali kita mendengar kata itu disebut sebutkan , dimanapun , kapanpun , dan oleh siapapun . baik dari kalangan professional maupun yang masih pemula . dalam dunia tulis menulis ternyata ide itu sangat di cari cari . bahkan penulis berpengalaman pun akan kelabakan jika tidak mendapatkan ide itu . lalu , sebenarnya apa sih ide itu ? sampai sampai si ide ini merupakan salah satu problem utama dalam menulis . ide dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung arti rancangan yang tersusun di pikiran . jadi Selama kita masih berpikir , kita pasti dan bisa menemukan ide tersebut .

Ide merupakan peran vital dalam dunia menulis . dengan ide , penyair dapat membuat ribuan bait puisi . dengan ide , novelist mampu membuat ratusan halaman cerita . dan dengan ide pula cerpenist , artikelist , komentnist mampu menunjukkan karya karyanya . namun apa yang terjadi jika penulis tidak mendapatkan ide ??? maka penulis tersebut akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya . tidak tahu harus kemana ? tidak tahu harus makan apa ? dan akhirnya mati .

Namun ternyata , ide itu dapat dipancing sodara sodara . . hehe . seperti ikan saja ya di pancing segala . eits . . maksudnya bukan seperti itu .

Allah SWT memang pencipta yang agung . Dia menciptakan organ tubuh manusia dengan sempurna dan memiliki perannya masing masing . ini merupakan karunia tuhan yang harus kita syukuri . dan salah satu cara untuk mensyukurinya adalah dengan digunakan untuk memancing ide menulis .

Lho kok ??? caranya ?

Misalnya seperti ini , Allah menganugrahkan mata yang indah kepada kita , dan dengan mata tersebutlah kita dapat melihat apapun . apapun yang kita lihat , entah itu benda kecil maupun benda besar jadikanlah sebuah judul . contohnya pas lagi asyik asyik di dapur tiba tiba melihat entong . dikasih judul “ ENTONG “ , trus apa yang bisa kita critain dari entong tersebut ??  mau di kisahin yang lucu , sad mode , romantic , atau bahkan yang malu maluin . nah kan ? maka si ide akan muncul dengan sendirinya .

Trus ada lagi , saat jalan jalan si hidung ini tiba tiba mencium aroma yang enak , sebut saja sate padang . hehe .langsung deh di kasih judul “ SATE PADANG “ jadi deh kayak tulisanya kak diday tea  dan kak onie daulat .

Dan begitu juga dengan indra maupun organ organ  tubuh kita yang lainya .

Intinya , untuk menemukan ide menulis tuh kita jangan sampai menunggu ide itu datang sendiri . karena semakin kita tunggu semakin kita tidak menyadari bahwa si ide itu udah selalu standby di samping kita . pancinglah si ide dengan segala kelebihan yang tuhan berikan di tubuh kita .

 

Ayok rame rame kita tebarkan kail yang banyak  !!! . .  memancing ide ? siapa takut . . .

Kalimantan , 9 desember 2011