tangis

tangis

Sebelum pulang, semua anak mengantri untuk menyalami Ustadz Haris, tapi tidak dengan Afika, Afika memilih tetap tidak beranjak dari tempat duduknya, wajahnya disembunyikan dibalik buku catatannya yang tampak terbuka. Merasa antrian salaman dari anak-anak dah habis, sang Ustadz pun mendekati Afika, bukan bermaksud menawarkan Oreo tentunya.

 

“Nanda Afika, kenapa kau tak segera pulang?” Ustadz Haris bertanya. Yang ditanya tak bergeming. Sang ustadz pun heran lalu melangkahkan kakinya untuk dapat lebih dekat. Diintipnya wajah Afika yang terhalang buku catatan. Ada tampak air mata mengalir membasahi pipinya. Sang ustadz pun kembali bertanya pada Afika, dengan intonasi yang jauh lebih lembut.

 

“Afika sayang, kenapa kau menangis? Ceritakanlah pada Bapak!”

 

“Pak Ustadz, bolehkah Afika tinggal di rumah Pak Ustadz?” Afika bertanya.

 

“Lho kenapa. Setahu Bapak, ayah dan ibumu sanagat sayang dan memanjakanmu. Kenapa kau malah ingin tinggal di rumah kumuh milik bapak?” Ustadz Haris keheranan.

 

“Tidak Pak Ustadz, ayah dan ibu tidak sayang sama Afika. Buktinya ayah telah tega memberi makan dan menghidupi Afika dari uang haram.”

 

“Lho dari mana Afika bisa menyimpulkan hal itu? Jangan berburuk sangka, apalagi pada orang tua sendiri!” Ustadz Haris mencoba mengingatkan anak kelas empat SD tersebut.

 

“Kemarin Afika tak sengaja membaca slip gaji ayah sebagai PNS, Jumlahnya hanya Rp. 3.200.000,- tapi kenapa selalu tampak banyak uang dan ibu selalu saja belanja barang-barang mewah. Untuk apel saja ibu lebih suka apel Washington, padahal ibu adalah orang Malang.” Afika menjelaskan dengan cukup serius, untuk anak seusianya, Afika memang terbilang cerdas dan kritis.

 

“Bisa jadi ayah Afika punya usaha sampingan.” Ustadz Haris menenangkan.

 

“Setahu Afika tidak ada. Selain sebagai PNS, ayah tidak punya pekerjaan lain. Pak Ustadz, Afika sedih karena punya ayah yang tidak sayang pada Afika, membiarkan daging & darah Afika berasal dari uang haram.” Lalu Afika pun kembali terisak.

 

Ustadz Haris kali ini tidak mampu berkata apa-apa lagi. Jantungnya berdebar, tubuhnya gemetar. Afika telah membuat ustadz Haris tertampar, karena selama ini Pak Ustadz telah melakukan hal serupa, mengambil uang tabungan siswa karena butuh untuk biaya mengobati anaknya yang sakit.

 

******************

Gambar dari sini

 

Tags: , , , , ,