Topan adalah seorang anak laki-laki kelas 2 SMP yang sekolah di sebuah sekolah favorit bertaraf internasional di kota tempat tinggalnya. Ia lahir dari sebuah keluarga kaya raya. Bapaknya adalah seorang pengusaha yang memiliki 4 perusahaan besar. Dan bahkan tempat di mana Topan bersekolah adalah milik bapaknya sendiri. Sedangkan ibunya adalah pemilik sebuah butik besar yang pelanggannya adalah ibu-ibu pejabat di kota tersebut.

 

Mungkin karena kurang perhatian dari orang tuanya yang super sibuk, Topan tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan arogan. Terutama saat di sekolahnya, Topan merasa menjadi penguasa terhadap teman-teman dan gurunya. Ia sering berlaku semena-mena dan menang sendiri. Ini terjadi karena tak ada satupun guru yang berani menegur atau mengingatkanya, sebab jika hal tersebut dilakukan para guru tersebut takut Topan akan melaporkan kepada bapaknya sebagai pemilik sekolah tersebut.

 

Seperti terjadi pada jam istirahat di kantin sekolah, Topan memamerkan kekuasannya kepada teman sekelasnya. Saat itu Arul sedang menikmati semangkuk soto, tempat duduk di sekitarnya telah penuh terisi oleh teman-teman lainnya yang juga sedang menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba datanglah Topan mendekati Arul.

 

“Arul, minggir, saya mau duduk di tempatmu !” Bentak Topan.

 

Dengan nada setengah ketakutan Arul menjawab, “Maaf Topan, sebentar saya selesaikan makan soto ini, tinggal sedikit kok”

 

“Tidak bisa ! Aku sudah lapar dan mau duduk di tempatmu” Jawab Topan dengan nada yang lebih tinggi.

 

Tanpa menjawab lagi, Arul segera bangun dari tempat duduknya dan meninggalkan soto yang masih tinggal separo. Tentu saja sikap Topan ini membuat jengkel dan marah Arul dan teman-teman yang ada di kantin tersebut, tetapi kemarahan tersebut tidak pernah terungkap, karena takut. Arul hanya berdoa dalam hati, “Ya Tuhan berikanlah peringatan kepada Topan atas kesombongan dan kesemena-menaannya”

 

Rupanya doa Topan dikabulkan Tuhan, suatu hari Topan di culik oleh orang yang tidak suka dengan bapaknya karena urusan bisnis. Penculik tersebut menyembunyikan Topan di sebuah daerah kumuh di kota lain yang bersebelahan dengan kota tempat tinggal Topan dan orang tuanya. Penculik tersebut meminta tebusan sebesar Rp 10 milyar untuk ditukar dengan Topan, dan bapak Topan hanya diberi waktu 1 minggu untuk memberikan tebusan tersebut. Jika tidak diberikan, maka Topan akan dibunuh.

 

Dalam ruangan penyekapan penculik tersebut, Topan merasa sangat-sangat ketakutan. Ia dikurung di sebuah ruangan sempit berukuran 3m x 3m. Tidak ada jendela, hanya ada 2 lubang angin dan sebuah pintu yang dikunci dari luar. Lampu penerangan pun hanya sebuah bola lampu redup 10 watt. Penculik masuk ke ruangan tersebut saat memberikan makan siang dan makan malam saja. Makanannya pun hanya berupa nasi bungkus dan sayur saja tanpa ada lauk lain.

 

Topan menangis sejadi-jadinya. Tetapi suara tangisan tersebut bukan membuat penculik iba tetapi justru marah besar. Topan diancam akan di ikat dan diplester mulutnya jika tetap menangis.

 

Saat malam tiba Topan tak bisa tidur. Bagaiman mau tidur, di ruangan tersebut tidak ada spring bed seperti di rumahnya, hanya ada sebuah tikar lusuh di atas lantai kotor. Nyamuk pun berdenging dan menggigit tubuh Topan. Boro-boro AC, kipas anginpun tidak ada dalam ruang penyekapan tersebut. Topan benar-benar merasa tersiksa, dengan keadaan tersebut.

 

Di malam ke tiga penculikan dirinya, seperti keadaan malam-malam sebelumnya, Topan tetap tidak bisa tidur. Ia mulai merenungi dirinya, mengapa hal ini terjadi pada dirinya. Topan mulai mengingat-ingat sikapnya selama ini terhadap teman-teman sekolahnya. Kesombongan, arogan, mau menang sendiri, merupakan sikap keseharian Topan sebelum penculikan. Topan meneteskan air matanya. Ia mulai menyadari kesalahannya selama ini.

 

“Tuhan telah memberikan peringatan keras kepadaku. Tuhan…ampuni kesalahanku, aku sekarang sadar atas semua sikap jahatku. Ampuni aku Tuhan”

 

Sambil bersujud, Topan terisak-isak sambil terus memohon ampun kepada Tuhan. Dalam doanya ia berjanji kepada Tuhan bahwa Ia tidak akan mengulangi sikap-sikap jahatnya. Ia berjanji akan meminta maaf kepada teman-temannya yang pernah ia perlakukan tidak baik. Dan ia juga berdoa agar Tuhan segera mengakhiri penderitaan penculikannya.

 

Ternyata kesungguhan Topan dalam meminta ampun dan berdoa dikabulkan Tuhan. Hari ke empat penculikan, datang sepasukan polisi lengkap dengan senjata laras panjang menyerbu ke tempat di mana ia diculik. Polisi menangkap semua penculik dan membawa Topan kepada ke dua orang tuanya.

 

Setelah kejadian penculikan tersebut, Topan seperti terlahir menjadi anak baru. Sikapnya berubah drastis. Tidak ada lagi kesombongan, arogansi dan mau menang sendiri lagi. Ia meminta maaf terhadap guru dan teman-teman di sekolahnya atas semua sikap dan kelakuan tidak baiknya. Topan sekarang menjadi anak yang murah senyum, suka bercanda dan sering mentraktir teman temannya.

 

******

Gambar diambil di sini

 

Tags: , , , , ,