renang

renang

 Oleh Hirmaningsih Rivai

 

Beberapa hari setelah peristiwa bom Bali aku berangkat ke Lombok. Sungguh aku lupa peristiwa itu kapan. Seingatku di penghujung tahun 2002.   Penugasan itu sebenarnya sudah beberapa minggu sebelumnya. Kantor tempat ku bekerja di Yogyakarta diminta mengisi training untuk guru-guru di pedesaaan  di sebuah desa di Lombok Timur.  Sebenarnya ini adalah rangkaian kerjasama di sebuah lembaga yang ada di beberapa kota di Indonesia, salah satunya ada di Lombok Timur. Ketika kami memberikan training untuk guru-guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di pedesaan, maka para staf dari lembaga itu juga belajar dan mendapatkan data apa yang dibutuhkan masyarakat di sana. Pada saat itu lembaga itu baru walaupun di kota-kota lain sudah ada.

 

Kami, aku dan temanku dijemput di bandara oleh staf lembaga tersebut. Mereka menuliskan nama kami di sebuah karton dan mengangkatnya tinggi. Serasa artis saja. Apalagi kami berdua merupakan dua  gadis manis, tentu banyak yang memperhatikan kami ha ah aha. Kami langsung dibawa  ke kantor lembaga tersebut yang berada di pinggiran kota. Kami hanya melihat kota dari dalam mobil. Sesampai di sana, kami  berkenalan, makan siang dan membicarakan kegiatan kami. Setelah itu langsung berangkat ke sebuah desa, maaf peristiwa ini sudah lama, sehingga aku pun lupa namanya.  Semua nama tempat aku tidak bisa mengingat namanya.  Aku hanya bisa mengingat persitiwanya saja.  Aku bukan pengingat nama orang atau nama tempat.  Ha ha ha ha,  ini alasan agar tak dibilang tua atau pikun.

 

Kami di tempatkan  di penginapan sederhana, karena hanya terdiri dari 5 kamar di belakang sebuah rumah yang lumayan besar. Menurut mereka, kami akan aman di sana karena pemiliknya cukup disegani. Ternyata bapak pemilik rumah adalah seorang yang sangat sederhana tapi sangat bersahaja. Ke tempat kegiatan butuh waktu sekitar 15 menit naik mobil lagi. Jadi selama kegiatan kami bolak-balik. Di jemput pagi pukul 7.15 pagi dan di kembalikan lagi ke penginapan ketika senja tiba.  Begitu setiap harinya. Kegiatan baru dimulai pukul 8.00 pagi. Kami membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk persiapan setiap harinya.

 

Selesai kegiatannya kami memiliki sedikit waktu untuk wisata. Walaupun waktu sangat singkat tapi  Bapak Sopir yang selama ini mendampingi kami mengatur jadwal dengan efektif. Setelah makan siang pada hari terakhir, kami mengelilingi desa-desa yang ada di sekitar desa tempat kami berkegiatan. Peserta sebenarnya berasal dari beberapa desa yang dikumpulkan di suatu tempat. Setelah Ashar menjelang senja kami sampai di sebuah desa yang katanya tempat pemandian raja-raja. Sungguh, akupun lupa nama desanya dan nama tempatnya. Desa ini sangat berbeda dari desa-desa sebelumnya.  Perjalanannya sangat menyenangkan, banyak pemandangan hijau yang kami lewati. Tempat itu ada di perbukitan sehingga perjalanan semakin lama semakin naik. Tiba di suatu tempat mobil berhenti, kami harus berjalan kaki. Jalan yang kami lalui dengan berjalan kaki sebenarnya bisa dilewati mobil. Tapi pada saat itu hujan baru saja berhenti sehingga licin. Jalannya belum di aspal, baru merupakan batu sungai yang dipadatkan ke tanah. Di kiri kanan jalanan juga rapi tertata batu-batu sungai sebagai pembatas jalan. Menurut  Pak Sopir , penduduk di sana memang menyumbangkan batu-batu sungai untuk keindahan dan kerapian desa.

 

Setelah tiba di tempat pemandiaan itu, kami melihat pemandangan begitu indah. Ada beberapa kolam renang di sana yang berasal dari air terjun kecil. Ku lebih tertarik melihat air terjun. Kami berjalan lagi agak sedikit naik. Air terjunnya benar-benar kecil atau lebih tepatnya aliran air dari gunung yang sangat alami alias melewati lembah atau dinding perbukitan tersebut. Di bawah air terjun itu ada kolam yang sangat kecil, yang sengaja dibiarkan alami yang kelilingi batu-batu saja. Menurut Pak Sopir, inilah sebenarnya pemandiaan raja, bukan kolam renang yang ada di bawah itu. Kolam renang itu baru bebarapa tahun yang lalu dibangun.  Walaupun airnya berasal dari sumber yang sama.

 

Tiba-tiba Pak Sopir mengatakan kepada kami agar kami segera terjun ke kolam itu untuk mandi. Hah…! Tentu saja kami kaget. Kami kan dari tempat acara, tidak ada persiapan apapun jua. Memang pada saat itu tidak ada pengunjung lain. Sudah sangat sore, seusai hujan lagi. Jadi benar-benar sepi, hanya ada kami dan petugasnya. Mungkin juga karena saat itu bukan musim liburan. Pak Sopir mengatakan bahwa tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Dia akan mencari handuk untuk kami. Kami masuk saja ke kolam itu, mandi sepuas-puasnya dengan berpakaian lengkap. Ia mengatakn kami tak  perlu ganti pakaian, nanti langsung masuk ke mobil dan mobil akan dicarikan alasnya agar tidak basah. Kami menolak karena  urusannya menjadi ribet. Pak Sopir tetap membujuk. Katanya ini adalah tempat pemandian raja-raja yang membuat raja dan keluarganya sehat bugar, rupawan dan selalu awet muda. Cling.. cling…. Mendengar itu kami mengiyakan. Kapan lagi mandi di tempat mandi raja yang bisa awet muda dan tetap mempesona sepanjang masa.

Kami berdua langsung loncat dan mandi sepuas-puasnya dengan pakaian lengkap. Sangat lengkap karena tetap memakai jilbab. Ha ha ha aha. Merasakan air terjuan kecil itu membasahi tubuh kami. Kami benar-benar gembira memikirkan bahwa kami akan awet muda. Ha aha ha. Kami juga gembira karena menjadi penguasa tunggal di kolam kecil itu. Serasa menjadi putri raja yang sedang mandi. Hampir senja ketika Pak Sopir itu datang lagi. Ternyata ia berusaha menaikkan  mobil sampai batas perhentian mobil. Dengan mengeringkan badan ala kadarnya kami masuk ke mobil yang telah di alasi plastik. Kami pulang dengan basah kuyup dan agak kedinginan di dalam mobil. Demi sebuah bujukan agar awet muda.

 

Entahlah,… aku tidak tahu apa itu benar atau tidak. Yang jelas jika aku berjalan dengan adik bungsuku. Banyak orang mengira akulah sang adik. Jika aku mendampingi remaja, mereka memanggilku kakak. Walaupun orangtuanya memanggilku ibu. Beberapa waktu yang lalu ada seseorang ibu di sebuah sekolah di Medan menebak umurku, tebakannya adalah 10 tahun lebih muda dari umurku yang sebenarnya.  Entahlah…. Mungkin benar…  bahwa khasiat dan mukjizat pemandian raja-raja di sebuah desa di Lombok Timur itu memang benar.  Benar-benar membuatku tampak muda.  Benar.., Kayaknya Benar dech.

 

****

Gambar dari sini

 

 

Tags: , , , , ,