Sesak. Itu yang aku rasakan. Bukan, karena jalannya yang padat. Tapi lebih pada pikiran apa yang nanti akan diomongkan. Terus terang aku tuh orangnya pendiam (kalau pas diam). Dan jujur aku jarang ngikutin talk show. Jadi merasa kikuk dan tak tahu apa yang akan diomongkan nanti kalau ketemu,sama orang-orang keren di PNBB. Ah, cuek aja. Ngikuti aja apa yang akan diomongkan.

“Udah ketemu Uda Hazil belum? Beliau di pintu masuk”, SMS mbak ayun, mengagetkan lamunanku. (Lho, ngelamun to?). Eh, aku melamun? Enggak lah, aku ini baru jalan sama anak Alfi, nyari-nyari dimana perusuh PNBB ini pada ngumpul. Nah, dari pada bengong, pikiran ini aku ajak saja ke dunia lain, dunia lamunan. Ternyata uenak lho ngelamun itu, kita bisa loncat dari satu tempat ke tempat yang lain. Bisa juga mendatangkan semua teman kita, baik yang nyebelin, bikin bete atau yang cinta dan penuh kasih sayang. Ingat, kan cerita Lek Karman, saat mimpi. Berbagai kejadian, pertemuan dan pembicaraan ada di sana. Emang sih terkesan ngalor-ngidul dan penuh kemustahilan. Tapi ternyata itu bisa terjadi lho dalam impian, dalam lamunan juga bisa. Hanya perbedaannya pada apa yang hadir dalam mimpi tidak bisa kendalikan, tetapi apa-apa yang kita lamunkan masih bisa kita kendalikan.

Dalam lamunan kita bisa mendatangkan hal-hal yang menyenangkan sehingga pikiran kita bisa presh dan rileks bahkan bisa menjadi jendela (# jendela? Emang rumah#), ember gak tahulah pokoknya melamun itu bisa untuk mengenal diri dan bergerak maju. Dan asiknya nih, melamun itu bisa memecahkan masalah tanpa resiko. Seperti saat saya nyari PNBB nih, lamunan itu mengantarkan saya pada apa yang nanti akan saya lakukan, saat ketemu sama teman-teman PBB, eh sori PNBB maksudnya.

“Belum, ok makasih, akan aku cari”, jariku mengetik beberapa huruf dalam Crossku dan mengirimnya ke mbak Ayun.

“Fie, temane Abah di pintu masuk,lho. Mana pintu masuknya?”

“Lewat sini aja, Bah.”

“Jawab Alfi sambil terus berjalan”

“Lho ora mbalik ke sana ta?”

“Gak usah kita nyebrang jalan aja biar ndak ketubruk orang”. Emperan Malboro waktu itu memang sudah hampir dipadati orang. Di samping hujan rintik-rintik, waktu memang sudah merambat petang hingga banyak pejalan kaki yang lebih memilih berjalan di bawah atap toko dan terangya lampu toko.

Pandangan kuarahkan ke pintu masuk Malboro. Tapi sosok yang kucari belum juga bisa kutemukan.

“Uda dimana? Aku dah sampai Mall lho.” Sms kukirim ke uda Hazil sambil terus berjalan.

“Aku disamping Mac D”, langsung aja kuarahkan kaki menuju ke Mac Donald.

Begitu kaki menginjak anak tangga pertama. Aku melihat sesosok manusia berdiri di dekat pintu masuk. Di sampingnya seorang anak seusia anak saya. Saya yakin itu anaknya. Ketika tiba-tiba mata kami beradu…..

“Eeeee…….,” suara kami hampir bersamaan. Sejurus kemudian kami bersalaman, mengenalkan anak kami masing-masing.

Eh, ternyata Uda Hazil, tidak serem ya. Ya, ini harus aku sampaikan. Sebenarnya, ketika mendengar atau menyebut nama Uda Hazil,  dalam pikiranku terbayang sosok laki-laki yang kereng dengan sorotan mata tajam dan sangar. Ya, karena aku hanya mengenal dan melihat profesor PNBB ini dalam poto profilnya yang super minni. Dari gambarnya aku menangkap, Uda Hazil itu orang yang serem dan pendiam, meski di PNBB suaranya selalu bikin ketawa. Apalagi kalau sudah nyinggung-nyinggung masalah sensitif. Bakalan lari kemana-mana. Ingat kan saat ada yang berbisik pada yu Parti munggah sithik. Lha uda Hazil langsung nyeblung ke sana.

“Ayo kita ke sana”, ajaknya sambil meraih bahuku. Aku segera mengikuti langkahnya.

“Udah tahu tempatnya, Uda?”

“Katanya di samping…….”,Beliau menyebut nama yang aku kurang jelas mendengarnya. Ah, ngikut aja pokoknya. Beberapa saat kemudian, sorot mataku menatap seorang wanita berjilbab keluar dari sebuah ruangan.

BACA SELANJUTNYA <<<<< SEBELUMNYA