“Nasi timbel ayam komplit”. Manstab. Meski aku belum tahu wujud nasi timbel, menu itu yang aku pilih. Nasi timbel, hih kayak apa ya. Ada-ada saja jenis menu di sini. Setahuku timbel itu logam yang warnanya agak ke abu-abuan. Sejenis logam yang diolah dari biji galena melalui proses penggilingan dengan menggunakan Crusher atau Roll Crusher, kemudian diteruskan dengan penggilingan halus dengan Hummer Mill atau Pullverizer, dilanjutkan dengan proses pencucian dengan bahan kimia dan peleburan dengan Tungku Reduksi, terakhir pemurnian dengan tungku Refinery. Sehingga didapatkan timbel dengan kemurnian 99,9 %.

Di candi Prambanan logam timbel ini banyak kita dapatkan di dinding candi untuk menandai dan membedakan antara batu asli dan bantu pugaran. Setahuku timbel itu ya itu, logam. Aaaaaa, ada makna lain dari timbel yang aku kenal, dengan syarat vokal e pada kata timbel dibaca seperti ketika membaca vokal i pada kata ambil, hehehe tahu juga makna timbel tersebut. Nah, di Malboro ini kok ada nasi timbel ya……hi…..jangan-jangan nanti nasinya sekeras logam timbel. Wah ndak bagus banget buat gigi saya, yang sudah mulai kropos ini.

“Njenengan dah sampai mana? Lama buanget…..”, jari tanganku kembali memenjet huruf-huruf Crossku langsung terkirim ke Qurrota Ayun.

“Njenengan dah lama di PNBB?”, tanyaku pada seorang wanita yang berada tepat di depanku. Heh….duduk dalam posisi di depan wanita kayak gini bikin aku bete. Ndak ngerti mau ngapain gitu.

“Ndak, saya tidak jadi anggota PNBB. Takut, masih belajar untuk nulis”, suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Dari logat bicaranya dan kelembutan suaranya, aku yakin si Mbak ini asli Jogja, sebuah kota yang terkenal dengan kealusan dan kelembutan budi bahasanya. Maka berbahagialah wahai para wanita yang berasal dari Jogja.

“O, njenengan asli Jogja ya?”, tanyaku memastikan.

“Iya, daerah Godean”. Nah bener kan dugaanku si Mbak ini asli dari Jogja. Makanya suaranya juga lembut dan halus. Eh, sebentar dia juga dari Godean lho. Sebuah kota di barat Tugu JOgja yang terkenal dengan masakan khasnya belut goreng.

“Wah bisa lebih sering ketemu nih…..” Si Mbak di depanku ini hanya tersenyum dengan gigi yang terpagari oleh behel.

“Eeeeeeee….. itu dia”, suasana tenang tiba-tiba berubah riuh saat seorang wanita berjilbab ungu terong dengan baju kotak-kotak warna ungu terong juga mengejutkan kami. Aku hanya membatin paling ini Qurrota Ayun. Yang suka dengan jus terongnya Pakdhe Heri Cahyo. Jujur. Sama sekali aku belum pernah melihat wajah Qurrota Ayun, walau hanya dalam gambar. Tetapi begitu Si Embak ini melihat saya, langsung sambung deh. Ya, karena poto propilku yang terupdate sehingga semua yang Kopdar langsung sambung melihat wajahku. (#Nah, keuntungan pasang PP dengan photo asli kan?)

Si mbak ini ternyata berdua dengan kekasihnya, bang Nashir, yang jurkam itu. Maksudte juru kamera. Lho, kok tahu! Nebak aja. Soale si lelaki yang hampir sama gemuknya dengan sang idaman hatinya ini membawa seperangkat alat sholat….eh kliru, maksudnya seperangkat kamera yang menurut saya terlalu lengkap dan benar aja, acara berikutnya adalah jeprat jepret.

Sungguh, aku sangat tidak biasa photo dengan banyak wajah kayak gini. Lihat saja, photoku selalu terkesan tidak natural. Senyumnya, gaya rambutnya dan juga gaya tubuhnya. Apalagi dengan mbak-mbak ini, jadi agak kikuk aku. Jangan-jangan gara-gara aku di samping mereka photonya ndak jadi atau malah jelek hasilnya.

BACA SELANJUTNYA <<<<< SEBELUMNYA