“Wah ini saya baru sampai bethesda, dimulai aja dulu acaranya, ntar saya nyusul”,jariku segera menari di atas keypad ku saat kulihat waktu sudah pukul 16.00. Aku kuatir kalau teman-teman PNBB yang mau kopdar di Mall Malioboro harus menunda acaranya gara-gara aku belum hadir (cie emang siapa lo, kayak orang penting aja). Lho bener lho, aku was-was saat itu. Apalagi jalanan rame. Dugaanku bakalan terlambat nyampai di Malboro (Mall Malioboro). Aku biasa tidak enak kalau acara tertunda atau terhambat gara-gara aku terlambat. (yah, diulang lagi……). Karenanya, aku biasa tepat waktu. Soalnya aku merasa menyiksa dan merugikan yang datang duluan jika harus nunggu aku. Piye to iki kok diulang-ulang terus. Udah-udah sampeyan ki mau ngomong apa?).

Waktu bagiku tidak hanya sekedar uang, tapi ia juga pedang yang siap menyikat dan menebas siapa pun yang tidak bisa menggunakannya dengan baik. Saking berharganya waktu, sampai-sampai Allah bersumpah dengan waktu……. (eiiiiiihhhh kayak ustadz ya, malu nih sama pak Erryk Kusbandono)

“Emang ada cerimonila # Eh keliru, cerimonial maksudnya). saya aja baru sampai Tamansiswa”, es em es nongol di Cross saya, dari Qurrota Ayun. He…. melihat danĀ  mengeja nama Qurrota Ayun, pikiranku melayang. Wah nanti, bakalan ketemu dengan Qurrota Ayun. Seorang anggota PNBB berwajah unyu-unyu, dengan jilbab yang mengembang dan pasti mahasiswi dari Perguruan Tinggi yang cantik (eh sori kalimat terakhir ini terus terang saya bumbui. Anganku melambung. Aku bayangkan Kopdar nanti bakalan gayeng. Apalagi ada pemilik The Big O, yang hemmmm….. aku gak bisa mendeskripsikan orang yang bikin heboh di seantero PNBB sekaligus pengangkat tema Jarik Yu Parti.

Walaahhhhh, ternyata mereka belum pada ngumpul ya. Tapi ini justru baik menurutku. Setidaknya aku tidak terlambat dan memang aku tidak terbiasa terlambat dalam suatu acara, kecuali saat-saat tertentu saja (# hehh, podho ae kang)

“Selter Malioboro satu, silakan yang mau turun di Malioboro satu…..bla-bla-bla”, kaget dan segera aku berdiri menuju pintu TransJogja. Gerimis mengiringi jalanku. Segera kuraih Cross, dan jari ini langsung aja mengitik SMS…..terkirim ke uda Hazil Aulia. Sampai kami (oh iya, aku waktu itu berdua sama anak saya, Alfi. Pingin ngenalkan anak sama anggota PNBB. Lumayan kan, bisa njalin hubungan lebih dekat dan lebih gayeng lagi, tidak hanya di dunia maya tapi di dunia alam nyata dan alam sana…….hihhhhhhhh ada dunia alam sana ya). Ya jelas adalah. Malah alam sana itu yang sebenarnya dituju oleh semua manusia, ya termasuk semua anggota PNBB, tapi kebanyakan manusia tidak nyadar. Nyadarnya kalau sudah berada di alam sana. (Eh, masak di alam sana bisa nyadar). Iya bener bisa nyadar. Sampai-sampai kita meratap dan meminta kepada pemilik alam sana agar kita dikembalikan. Nggak percaya, jangan deh percaya aja. Daripada nanti nyesalnya nggak ketulungan.

“Ini pintu masuknya mana to fi,” tanyaku pada Alfie, anakku yang lebih hapal jalannya daripada aku.

“Sini aja, Bah.”

Langsung langkah kaki kami menuju pintu masuk mall. Jawaban sms uda Hazil belum juga ku terima. Sementara tiga lantai sudah kunaiki.

“Dimana Bah, teman Abah itu.” Alfie mulai resah. Capek kali ya. Soalnya sebelum ngetransjogja kami harus nyepeda dengan kenceng. Takut kalau terlambat.

“Ya, udah kita keluar lagi aja. Paling di pintu masuk.”

“Langkahku sambil menggandengnya keluar……

****

Baca sambungannya