mimpi

mimpi

Salah satu mengembangkan kemampuan menulis, khususnya menulis cerita adalah cerita berangkai. Pada kegiatan ini seorang menulis awal pembuka cerita sedangkan yang lain melanjutkan. Sehingga akhirnya kalau dikumpulkan menjadi sebuah cerita.

Berikut ini adalah salah satu contoh cerita berangkai yang dikeroyok bareng oleh anggota PNBB, Proyek Nulis Buku Bareng, sebuah group facebook yang mencoba menyebarkan virus menulis di anggotanya. (Edris Ernawan)

Catatan: Nama yang ada dalam tanda kurung menunjukkan penyambung cerita

***

Pembuka awal ceritanya sebagai berikut:

 Karman masih terpaku. Ia tatap bingkai poto di dinding bambunya, dalam-dalam. Kesedihannya memuncak. Bulir bening tak sanggup lagi ditahannya. Deras. “Maafkan, aku anak ku”. Tangisnya membuncah.

***

“Maafkan ibu juga, nak. Kau harus tegar mondok di perantauan ini…”, sang ibu memeluk buah hati satu-satunya sambil merengkuh jemari suaminya. (Erryk Kusbandhono)

“Hmmm …. hehehe (Menning Alamsyah )

Dengan tangan gemetar sang ibu meraih bingkai photo itu. Meski hanya dalam bingkai photo, kesedihan yang menyelimuti sepasang suami istri itu menjadikan photo itu seolah-olah hidup. Hidup di tengah-tengah mereka. “Ibu tidak bermaksud membunuhmu.” Isak tangis sang ibu semakin menjadi. Sementara sang suami, mulai limbung. Ia berusaha menguatkan diri. Dipeluknya sang istri yang masih mendekap erat photo anaknya (Edris Ernawan )

“Sudahlah Bu, ikhlaskanlah,” ujar Suaminya (Menning Alamsyah )

“Tok, tok, tok… Assalaamu’alaikum…”, terdengar suara lelaki tua mengetuk pintu. (Erryk Kusbandhono )

“Iya pak, tapi akhir-akhir ini, anakku kita selalu hadir dalam mimpi-mimpiku”isak sang ibu tanpa bisa dibendung (Irawati Syahriah )

Suara salam itu mengejutkan mereka berdua. Karman yang masih mencoba menenangkan istrinya akhirnya harus menuju pintu mencoba melihat siapa yang datang. (Edris Ernawan )

“Maaf Lek karman, mengganggu malam-malam begini” kata Lek paijo, lelaki tetangganya yang barusan mengetuk pintu dan langsung menuju amben di ruang tamu (Sitie Zumaroh )

“hmmm… masih ada pertamax di sini, Lek Karman?” tanya Lek Paijo ragu-ragu. (Mahfud )

“Maaf Lek paijo, kami tidak pakai pertamaxx soalnya kemana-mana kami suka jalan kaki atau ngonthel” jawab Lek Karman (Sitie Zumaroh)

Tak lama kemudian, terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah, langkah-langkah ketergesaan mengikuti….

“Tok tok tok… assalamualaikuuuuuuum..”

Pintu dibuka…. “eh.. kamu Jeck… ada apa malam-malam begini… kok seperti tergesa-gesa…

“Iya Lek Paijo…. nuwun sewu…. saya itu dapat buku… katanya mbak Sitie Zumaroh sih bagus…. cuma saya kok durung ngerti je Lek… kalau-kalau Lek Paijo ngerti tentang isi bukunya…”

“Mana bukunya, tak lihatnya…”

“Ini Lek… “,sahut Jeck seraya menyodorkan buku yang dibawanya itu…

Lek Paijo membaca judul buku tersebut… “[Bukan XXX] The Big “O”, penulisnya Hazil Aulia… “hmmm… iki buku seng wes suwi tak goleki… “katanya dalam hati…. (Hazil Aulia )

“Oh kalau itu sih bukunya milik Ustadz yang mengaku ganteng se Lawang dan Babul Khairat…kalau gak salah namanya almukarrom Ustadz Abrar Rifai jeck…rencana buku itu juga akan diangkat menjadi film karena best seller, apa sampeyan tertarik menjadi bintang pilemnya?” (Sitie Zumaroh )

“Wah, sampean ini gimana? lha wong jelas2 di sini tertulis nama penulisnya Al-Mukarrom Romo Kyai Al-Ustadz Al-Hajj Hazil Aulia, kok sampean bilang Abrar Rifai…!” (Abrar Rifai )

“wah wah wah….osno opo to iki?” Yu Parti bojone Lek Karman akhirnya ikut nimbrung mendengar ada keributan di ruang tamunya…”sebetulnya kamu nemu buku di mana to Jeck? kok samake wes terkelupas gitu jadi gak jelas siapa pengarangnya…tapi nek lihat isinya kok kayak bukunya pakdhe Heri Cahyo seng buku puisi romantis banget kae….” (Sitie Zumaroh)

******************

Bersambung  di sini 

gambar diambil dari sini

mimpi[/caption]

 

Tags: ,