Tingginya sekitar 170cm dengan wajah merona merah dan tebal dengan make up super menor, bibirnya yang tipis di balut melebihi garis pinggir bibir dengan gincu berwarna merah menyala tapi bagiku ga begitu seksi karena yang menggunakannya nenek-nenek, bahkan ga mengurangi kriput di wajahnya yang sudah berkepala enam itu, rambut nya?

Aku ga pernah tau rambut aslinya karena ia selalu menggunakan wig super besar dan menjulang tinggi satulima centi, seakan akan menyerupai sarang burung gagak berwarna blonde, kadang coklat atau bias merah, tubuh nya tambun sehingga ia harus duduk di kursi khusus untuk menaruh bokong yang super besar itu, ah khas sekali seperti nenek-nenek Rusia pada umumnya. Yang  tergambarkan seperti boneka matrioska.

Boneka kayu khas Rusia, kata matrioska itu sendiri diambil dari kata мать yang artinya Mamah/ ibu, makanya boneka yang terbuat dari kayu itu selalu beranak-anak yang berjumlah paling sedikit tiga dan paling banyak bahkan bisa berisi 25 buah dengan bentuk dan ukuran yang bias sebesar kuku  jari.

Itulah gambaran dekan fakultas mezdunarodni kata mezdunarodni itu sendiri diartikan sebagai kata international dalam bahasa Rusia.

Hari itu sudah hampir tiga bulan Aku di kota Rostov-on-Don, meski sudah bulan februari Rostov-on-Don masih saja kering-kerontang dan dingin karena angin benar-benar ga seperti kota Moskva yang kabertanya sudah di selimuti oleh salju putih. Bagiku yang masih terbilang baru disini, udara minus 10 derajat membuatku tersiksa, dingin buanget! Hingga membuatku malas untuk keluar dari kamar yang pengap namun hangat! Namun tetap saja hari itu Aku harus menghadap dekan untuk melengkapi dokumen yang tersisa dan terselip Hhh.. keluar kamar adalah hal yang sangat menjemukan. Apalagi harus menghadap ke ruang dekan dan bertemu muka dengan nenek sihir itu.

Aku di antar oleh Teguh untuk pengurusan kelengkapan dokumen seperti pembayaran perpanjangan visa setahun di bank milik pemerintahan Rusia itu loch yang tempo waktu ga jadi karena ditinggal pererif/ istirahat! Untuk informasi saja jika bank Rusia tidak selalu bisa bahasa Inggris! Yah yah yah.. ga beda jauh dengan Indonesia ko, sama saja disini ga semua orang menggunakan bahasa Inggris semua sama rata sama rasa dan lagi mereka sangat bangga dengan bahasa mereka Rusia! Beda kali yah? Jika di Indonesia banyak di antaranya bisa menggunakan bahasa Inggris jika sudah masuk keperkantoran ga seperti di sini. Itulah mengapa beasiswa pun mewajibkan untuk belajar bahasa Rusia selama setahun. Bahkan kuliahpun murni menggunakan bahasa Rusia, sedikit merasa salah tempat sich awalnya tapi semua itu kutepis jauh-jauh karena sekarang Aku mulai bangga dengan Rusia! Hidup Rusia! Наша Россия!  Aku akan membuat malu orang tua ku jika Aku kembali tanpa isi otak! Hmm.. kali ini otakku lagi berpikir waras!

Tiba-tiba dekan berbicara dengan suara lantang, seakan-akan membentak Teguh, Aku Hanya bisa bengong karena sama sekali Aku ga mengerti apapun yang mereka bicarakan. Kecuali sesekali dari bibir penuh gincu merah itu terucap “understand?” yang diucapkan dengan wajah berseri-seri seramah mungkin. Ah aneh! Nadanya kenapa harus tinggi sih? Bikin pekak telinga saja! Sejatinya semua perangkat dalam fakultas ini adalah orang yang ramah tapi mungkin ini yang disebut ramah yang khas Rusia. Masih rada-rada kaku. Ga ada sapaan senyum kecuali yang terlihat dari Madam Alisia dan Lilia, semua dosen terkesan angkuh dan susah senyum, Aku jadi teringat pada salah seorang guru sim(sekolah Indonesia Moskva) yang pernah tinggal tiga tahun di Rusia, ia menceritakan tentang kesan-kesannya selama tinggal di Rusia “orang Rusia itu ga bisa senyum, kalo ada orang Rusia senyum-senyum ke kamu tandanya ia gila! Kalo engga ia lagi mabok” dulu sih aku sempat ga percaya, tapi sekarang ?? Hahahah ternyata perkataannya terbukti!

Nenek sihir bergincu merah itu adalah dekan bagian administrasi, juga dekan yang mempunyai kuasa untuk memberikan uang “stipendia” /beasiswa setiap bulannya kepada seluruh mahasiswa-mahasiswi asing,  beasiswa yang kami dapat disini memang tidak penuh, kami dibebaskan biaya pendidikan dan diberi fasilitas tempat tinggal yang berupa asrama yang harganya bisa miring berkali-kali lipat dibandingkan dengan yang nonbeasiswa, selain itu kami mahasiswa-mahasiswi beasiswa masih diberi tambahan uang saku dari pemerintah federasi Rusia sebesar 1100 roubel atau sekitar 30$ USA perbulan, memang tidak cukup sih tapi lumayanlah untuk beli roti keras dan air bergas, hehe

Kembali lagi ke nenek sihir bergincui merah ia sepertinya cocok dengan jabatannya karena ia merasa berkuasa melakukan “sunat” pada stipendia kami. Meskipun kecil namun rutin dan bisa dikalikan keseluruh mahasiswa-mahasiswi asing di fakultas! Wow! Cerdas! Mungkin ia lakukan itu karena terpaksa atau mungkin untuk membeli persediaan gincunya? Who knows?  Tapi bagiku Rusia sudah cukup baik, kuliah disini kan susah dan mahal dikasih gratisan ko malah ngeluh? Iya ga?

Aku ga mau lebih banyak lagi berbicara tentang nenek sihir itu, gara-gara ia juga Aku dan ke dua temanku, Rino dan Andres. di kejar-kejar untuk menari! Ia mengancam “jika kalian tidak mengisi acara untuk konser winter kali ini Aku tidak akan meluluskan kalian!” bah! Ancaman model apa itu? Dasar picik! Coba kalo si nenek sihir bukan siapa-siapa ia tidak bisa nganeh-nganeh sama kita! Tapi benar juga yang namanya sekolah bahasa pasti ada saja event dimana kita mahasiswa asing yang notabenenya datang dari manca Negara diwajibkan untuk sekedar memberi pertunjukan khas dari Negara dan wilayah masing-masing. Mau tidak mau bisa tidak bisa, pasti semua mahasiswa asing pernah mengalami hal serupa. Yaitu dikejar-kejar dosen atau bahkan dekan dan di tagih untuk memberikan “performance”. Sebetulnya bagus juga sih, karena kita disini adalah duta dari masing-masing bangsa. Dan aku?? Adalah duta bangsa Indonesia. Keren!

Dengan keluguan kami bertiga dan ancaman terkutuk itu akhirnya kami pun hanya bisa mengangguk tanda setuju lalu cepat cepat keluar dari ruangannya!

Setelah cari wangsit dan memaksa otak untuk berpikir keras akhirnya Aku, Andres dan Rino  mendapatkan sebuah ide gila. Dengan ilmu seni yang sangat minim kami memutuskan untuk “menari saman”, hah? Saman?

“nari saman bertiga? Gelo!! ” tanggapan Rino yang masih berat hati menyetujuinya.

“iyah No, abis kita ga bisa nari apa-apa lagi! mau nyanyi juga suara kita sumbang kasih banget!” jawab ku seraya menunduk lemas, Aku ga membayangkan bagaimana tololnya kami nanti di konser menari saman hanya bertiga. Huh!

Andres ga angkat suara ia selalu berada dibelakang Rino, ia setuju saja.

Seminggu batas kami latihan menari dan itu benar bahkan kami hanya di beri waktu sekitar tiga menit untuk mentas di panggung, aturan apa lagi ini? Seenaknya saja orang-orang itu. Tapi hanya tiga menit dan tiga orang untuk sebuah tarian saman! Membayangkan saja sudah terlihat konyol. Hahahaha

Hari H,

Kami bertiga ga sama sekali memiliki kostum untuk tari saman, tentu tidak dong meskipun kami membawa baju daerah kami ga akan ada pernah pikiran untuk membawa baju khas aceh itu, karena kami bertiga adalah orang jawa. Dan juga bukan ahli menari tari saman.

Bisa di banyangkan dengan dandanan sangat minimalis dan Aku yang hanya menggunakan sewek lengkap dengan kebaya. Bersiap menari saman. Sungguh Aku ga bisa berkomentar lagi mengenai hal ini. Apakah  sebuah kreativitas anak bangsa yang sedang terancam jiwanya dengan ancaman tidak di luluskan dari fakultas bahasa, ataukah perusakan budaya bangsa? Andres dan Rino menggunakan kostum apa adanya Hanya sarung dan kopiah. Hmmm

Sedikit minder tapi kami tetap pada keputusan kami yang tetap terus melangkah ke depan panggung!

Di panggung dengan ukuran super besar, Aku bisa merasakan betapa demam panggung itu membuat kami bertiga tersiksa. Andres sedari tadi kehilangan cara untuk tersenyum mungkin karena tegangnya otot bibir, juga dilengkapi dengan bibir yang berubah warna menjadi putih. Hm. Kelihatan sekali hampir semaput. Beda Andres beda pula Rino, adik kandung Ibunda Andres yang berarti Andres adalah keponakan dari Rino yang senenek dan se-kakek ini malah sedari tadi asik mondar mandir membawa kamera poket milikku, meminta foto bersama ke artis-artis dadakan belakang panggung. Yap Artis-artis kampus yang seksi, Bule  dan aduhai! Benar Rino ini kesempatan emas!

“ I.. mii budem smotret tanets studenti iz indonezii”(dan sekarang kami akan menyaksikan tarian dari pelajar Indonesia) suara dari MC dari depan panggung terdengar jelas hingga suara gemuruh penonton yang bertepuk tangan, si nenek sihir yang juga ikut mengawasi di belakang panggung menyeringai tajam ia tiba-tiba mendorong kami bertiga untuk keluar dari balik tirai panggung.uh.. sebal! Brak.. Andres hampir saja terjatuh tapi kami bisa langsung menguasai perasaan kami masing-masing.

“jeprat jepret flash ” suara jepretan kamera dan gemuruh para sahabat mahasiswa-mahasiswi dari timurtengah dan Rusia terdengar sangat keras. Membuat syaraf kami semakin menegang, silaunya lampu blits kamera membuat mata kami berkunang-kunang hingga terasa kaki kami mulai melemas. Demam panggung yang payah.

Tentu karena tarian yang kami bawakan adalah saman maka kami pun langsung duduk di atas lantai bawah, kulihat beberapa penonton dari tribun pertama sempat berdiri karena ga terlihat oleh mereka.

UPS!” suara aba—aba Rino untuk memulai tarian sacral itu.

Aku mulai pasang konsentrasi dan

“la ilaha illallah la illa ha illah la illah ha illalah”

Tarian pembuka dimulai, benar saja semua penonton mendadak terdiam, kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa-mahasiswi dari Negara Arab dan Rusia selatan yang beragama islam. Mendengar kami membuka dengan kalimat ke-Esaan Tuhan. Maka mereka pun mengikuti. Tetapi bagaikan tersengat listrik! Seirama dan terus semakin kencang! Sesuai irama tarian saman yang semakin cepat temponya. Membuat sebagian penonton terdiam dengan wajah melongo, seakan ga percaya dengan kehebatan dan kecepatan penari saman gadungan ini.

“kak bistra!”(cepet sekali) teriak mereka!

kruta!!”(keren!)

Masuk gerakan ke dua kami benar benar sangat merasa aneh, karena ga lagi mendengar suara penonton, hanya suara cempreng ku di telingaku kencang berteriak!

Tiga menit yang teramat panjang akhir nya selesei juga, para penonton terpukau dengan persembahan mahasiswa-mahasiswi Indonesia, kamipun tersenyum puas dan langsung bergerak cepat berjalan menuju belakang panggung dengan sisa sisa kekuatan kaki kami yang masih terasa bergetar-begar. Belakang panggung ternyata sudah ada si nenek sihir berdiri dengan tangan di rentangkan .oww Mau ga mau kami berlari menghambur kepadanya daaaaaan “cup cup cup” ciuman maha dasyat dari bibir bergincu merah tebal itu ga terhindarkan menempel di pipi kami bertiga ia juga merangkul kami bertiga sangat kencang sampai kami bertiga terasa sesak! Nenek sihir sambil berteriak kencang di telinga kami

maladiets!!!!”(pintar!) serunya menyeringai. Pentas berakhir tanpa hambatan, tetapi tetap Aku sebal dengan ancaman dan ciuman dasyatnya. Huh!