Oleh: Rahma Damayanty Rivai

(Didongengkan dan dituliskan mama era pada Iqbal “cosmos” tanggal 6 januari 2011)

Kimci adalah seekor gajah yang lahir di bulan januari, dua tahun yang lalu. Ketika ia lahir, Kimci sangat lucu dan berbadan gemuk. Matanya bulat indah dengan tatapannya yang menggemaskan. Karena badannya gemuk, Kimci sangat kesulitan untuk berdiri dan menyusui pada ibunya yang bernama Kimura. Dengan lembut, Ibu Kimura membujuk dan memberi semangat pada Kimci untuk terus belajar berdiri dan segera menyusui.

Ayah Kimci, yang bernama Kimko juga sangat sayang kepada kimci. Ditolongnya kaki-kaki lemah kimci untuk berdiri dengan belalainya. Berkat kesabaran ibu dan ayahnya, Kimci, tak lama kemudian dapat berdiri dan menyusui dengan lahapnya.

Ibu Kimura sangat memperhatikan Kimci. Dimakannya daun-daunan yang bergizi agar air susu yang diminum kimci bergizi dan membuatnya tumbuh sehat dan kuat. Ayah Kimci, juga suka menolong ibu Kimura mencari daun-daunan yang rasanya lezat dan menyegarkan.

Kimci tumbuh sehat dan berbahagia, lagipula ibunya sangat pintar bercerita. Ibu Kimci mendongeng setiap malam, sebelum Kimci tidur. Kadang-kadang sebelum tidur siang ibunya juga dengan senang hati mengkisahkan sebuah dongeng. Dongeng apa saja. Dari kisah peri hutan yang menjaga sebuah danau, atau tentang bagaimana terciptanya sebuah rimba di masa yang lalu. Tapi yang paling sering kisah matahari, rembulan dan para bintang.

Kimci, Ayah Kimko dan ibu Kimura hidup dalam kelompok keluarga besar. Mereka selalu bersama para sepupu-sepupu Kimci yang masih kecil serta paman dan bibi Kimci. Mereka selalu berjalan melintasi hutan dan rimba. Kawanan gajah adalah kelompok hewan yang berpindah-pindah.

Ada berbagai alasan yang menyebabkan mereka berpindah-pindah. Satu, kawanan gajah itu mencari sumber air baru untuk minum dan mandi. Dua, mereka pindah karena habitatnya tidak lagi aman karena diganggu manusia. Tiga, mereka melakukan perjalanan karena menghindari binatang lain yang mengganggu. Walau gajah adalah binatang yang kuat, gajah cenderung menghindar dari kelompok hewan lain yang mengganggu ketenangan dan kenyamanan hidup, seperti kawanan anjing hutan yang suka berisik dengan lolongannya. Dan keempat, kawanan gajah itu, senantiasa bergerak mencari habitat baru yang lebih subur dengan dedaunan yang lezat.

Mereka berjalan dalam kelompok yang besar. Kimci menghitung ada 20 ekor gajah. Ada 14 gajah dewasa, dan ada 6 ekor gajah mungil seperti dirinya. Setelah berbulan-bulan berjalan dan berpindah tempat, sampailah mereka di suatu tempat. Tempat itu adalah sebuah hutan yang cukup rindang. Namun hutan itu tampaknya pernah didatangi kawanan gajah lainnya, sehingga dedaunannya tidak cukup banyak dan sumber airnya sudah keruh. Ibu kimci yang bernama Kimura, berpikir bahwa mereka akan tinggal sementara saja di sana. Namun Ayah kimci berpikir sebaliknya, bahwa mereka akan menetap di sana. Ayah kimci telah merasa lelah untuk terus berjalan dan memutuskan menetap di sana. Setelah beberapa minggu di sana. Ibu kimci, Kimura mengajak rombongan untuk meneruskan perjalanan. Ia yakin akan menemukan suatu tempat di mana mereka akan hidup lebih baik dan lebih nyaman bagi kimci dan gajah-gajah mungil lainnya bertumbuh dan membesar. Sayang ayah kimci, Kimko sama sekali tak setuju.

Perbedaan pendapat itu akhirnya diselesaikan dengan bermusyawawah. Enam ekor gajah kecil hanya bermain-main saja, menunggu 14 ekor gajah dewasa bermusyawarah di pinggir sungai kecil itu. Hasil musyawarah memutuskan bahwa ada yang memutuskan terus dan ada yang memutuskan meneruskan perjalanan.

Ibu kimci memutuskan meneruskan perjalanan, sedang ayah kimko memutuskan menetap. Sedangkan Kimci ditanyakan pendapatnya. Karena Kimci berpikir bahwa ia adalah gajah kecil yang kuat berjalan, maka ia memutuskan ikut ibunya kimura. Lagipula kimci tak dapat tidur tanpa dongeng-donegng indah pengantar tidurnya. Walau begitu kimci sedih meninggalkan ayahnya. Namun ayah kimci berkata, bahwa kimci harus rajin menjenguknya.

Demikianlah, ada 10 ekor gajah meneruskan perjalan termasuk kimci dan ibunya kimura. Dan ada 10 ekor gajah memutuskan menetap di hutan kecil itu, termasuk ayah kimci, yang bernama kimko.

Ternyata perjalanan menuju tempat lebih baik itu tidak mudah, jalanan licin dan penuh hambatan. Pohon-pohon besar yang merintangi jalan, dan badai yang mengamuk di siang hari. Kimci sering mengeluh pada ibunya, namun diteguhkan hati gajah mungil itu.

Suatu siang ketika mereka beristirahat, tamapak dari kejauhan seekor gajah berjalan gontai mendekati kelompok kimci. Semua gajah dewasa siap-siap melakukan pertahanan diri. Gajah-gajah mungil segera dibentengi tubuh gajah dewasa.

Oh, ternyata seekor gajah jantan dewasa yang terluka. Kakinya terluka dan matanya meneteskan air mata.

“Wahai keluarga gajah, aku tak hendak menyerang kalian, justru aku ingin bergabung dengan kelompok kalian!” katanya.

“Mengapa kau ingin bergabung?”, ibu kimci bertanya.

Ia menjawab, “Karena saya ingin menjadi bagian dari kalian dan dengan itu kita dapat saling menjaga!”

Tapi mereka tetap curiga dan memandang dengan waspada. Gajah asing itu pun berkata, “Aku mengenal hampir seluruh wilayah ini dengan baik, karena aku gajah pengembara. Aku dapat membantu kalian menemukan jalan yang baik dan aman hingga ke tujuan kalian. Sedangkan aku mengharapkan kalian mau membantuku merawat luka-lukaku. Menjagaku, dan menyembuhkan derita di diriku.

Walau tak sepenuhnya percaya, kelompok kimci memutuskan menerima gajah itu, yang ternyata bernama Pak Kimbali. Pak Kimbali sungguh tidak merepotkan. Bahkan sangat membantu, Walau terluka ternyata ia mampu menyingkirkan halangan-halangan di jalanan yang merintangi seperti pohon tumbang atau batu besar melintang jalan.

Pak Kimbali juga dengan mudah memutuskan jalan mana yang harus ditempuh jika mereka tiba di persimpangan. Pak Kimbali dapat membedakan dedauan yang beracun dan tak beracun. Dan yang paling Kimci senangi adalah pak Kimbali ternyata pendongeng yang lebih ahli daripada ibunya.

Pak Kimbali ternyata fasih bercerita tentang gajah afrika, Orang Utan di Sematera, atau kejadian meletusnya Gunung Krakatau yang menyebabkan tsunami hebat ke segala penjuru negeri. Itu adalah kisah-kisah hebat yang tak mungkin diketahui oleh ibunya kimura yang terlalu sering mengulang cerita soal matahari, bintang dan rembulan. Bukannya dongeng ibunya tak menarik sih. Tapi jika kau berbicara soal matahari terus-menerus, kau akan bosan, khan?

Walau pak Kimbali mahir berkisah. Terkadang kimci tetap sedih teringat ayahnya kimko. Pak kimbali menasehatinya agar ia mengirimkan banyak doa di setiap malam sebelum tidur kepada ayahnya Kimko. “Kirimkanlah doamu pada angin yang berhembus lembut. Dan itulah yang dilakukan Kimci setiap malammya. Mengirimkan doa kepada ayahnya lewat angin yang berhembus lembut. Ia merasa damai dalam doanya. Ia harap ayahnya, juga.

Losari, dikisahkan pukul 20.05 Malam.

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,