Oleh: Osya Wafir

Siang itu, sekitar pukul dua siang. Bus yang mengantarkanku dari Arjosari-Malang tiba di terminal Osowilangun-Gresik. Setelah menyerahkan tiket masuk pada petugas kupercepat langkahku agak terburu melewati beberapa kondektur yang sibuk teriak-teriak menuju bus yang akan membawaku sampai rumah.

Dug! Ada yang menyenggol pundakku.

“Maaf Mbak!” Seorang lelaki berjaket kuning yang warnanya sudah memudar dengan tas ransel di punggung dan kotak kardus di tangan kanan.

Aku hanya mengangguk mengisyaratkan ekspresi “Ya, tidak apa-apa!”
Lelaki itu lalu melewatiku dan mengambil duduk di kursi tunggu, mengaitkan kembali tali sepatunya yang lepas. Kuteruskan langkah menuju bus mini warna hijau yang bernama Armada Sakti.

Kuedarkan pandang. Syukurlah masih ada satu bangku kosong di belakang kemudi sopir. Kuhempaskan tubuhku dengan sukses.

“Semoga teman dudukku di sebelah ini bukan cowo,” doaku dalam hati memandangi bangku di sampingku yang masih kosong.

“Ayo Sembayat. . . Bungah. . . Sidayu. . . Ayo. . . Ayo. . . Kosong. . . Kosong. .” Suara si kondektur membahana.

Agaknya bus ini masih menunggu penumpang. Daripada bengong, kurogoh ranselku mengambil novel untuk kubaca.

“Mbak, kosong gak?” Kualihkan pandangku dari buku. Suara lelaki berjaket kuning yang tadi menyenggol pundakku. Aku mengeryitkan dahi.

“Permisi, bangkunya kosong gak Mbak?” dia mengulang pertanyaannya.

“Ya. .. “ Aku tak acuh dan kembali meneruskan bacaanku. Kugeser dudukku mendekati jendela bus. Dalam hati aku sedikit menggerutu, “Kenapa harus sebangku dengan cowo sih?!”

Tak lama kemudian bus mulai berjalan. Kuhentikan bacaanku, sebab membaca dalam kendaran yang sedang berjalan hanya akan memperparah silinder mataku. Kubuang pandang ke luar jendela. Menyaksikan deretan rumah, pohon, dan tanah lapang yang seakan berjalan melewatiku. Tiba-tiba ekor mataku menangkap gerakan lelaki di sampingku akan menyalakan sebatang rokok dan siap menyulutnya dengan pemantik.

“Mas, tolong jangan nyalakan rokok itu.” Inilah alasanku kenapa tidak pernah suka duduk sebangku di kendaraan dengan lelaki. Lebih tepatnya, aku tidak suka duduk sebangku dengan lelaki perokok. Mereka, para perokok itu menurutku, para manusia yang tidak sensitive, tidak perduli dengan orang-orang di sekitarnya yang keracunan asap. Yang mereka tahu hanya “merokok itu hak asasi”, tapi mereka masa bodoh bahwa “menghirup udara segar adalah juga hak asasi”. Mereka yang kerap kusebut manusia cerobong.

‘Gak suka rokok ya, Mbak?’ Lelaki itu memasukkan kembali rokoknya.
Kalau suka mah gak bakal komplain kali! Pake nanya?! Aku membatin dengan sinis.

“Kuliah ya, Mbak?” Agaknya lelaki ini ingin menciptakan obrolan denganku.

“Hmm. . .iya!”

“Ambil jurusan apa?” tanyanya lagi.

“Sastra Inggris.” Aku sebenarnya enggan menanggapi orang asing, antara menjawab pertanyaan lelaki ini atau tidak.

“Wah, kebetulan sekali Mbak. Saya juga sedang belajar Bahasa Inggris,” katanya. Lalu melanjutkan, “Saya belajar di sebuah pesantren” dan dia menyebut salah satu kota di Jawa Timur.

“Oh. . .” Aku hanya menanggapinya singkat.

“Iya, ini juga saya baru pulang dari sana.”

“Liburan?” kali ini saya berinisiatif tanya.

“Engga. Jadi memang hanya butuh datang ke sana sekali. Tapi hanya dalam tiga bulan saja bisa langsung menguasai bahasa asing lho, Mbak.”

Pernyataannya barusan membuat saya penasaran. Keren sekali kedengarannya. Yang kuliah empat tahun di Sastra Inggris saja belum tentu dapat menguasai Bahasa Inggris secara sempurna.
“Bagaimana proses belajarnya kok bisa secepat itu?” Aku tidak bisa tahan untuk tidak bertanya.

“Jadi hanya cukup sekali datang. Lalu kemudian harus menjalani ritual-ritual khusus yang tujuannya untuk membuka mata batin.”

“Ritual seperti apa?”

“Pertama ada Ustadz yang merapalkan doa tertentu, kemudian setelah itu diberi selembar kertas berisi doa yang harus kita baca berulang-ulang. Baru setelah itu proses transfer bahasa dimulai dengan mendengarkan sang ustadz mengucapkan bahasa asing yang hendak kita pelajari dan kemudian menirukannya. Proses transfer bahasa lalu ditutup dengan ritual mandi doa.”

Jujur, aku semakin terkaget-kaget dibuatnya.

“Memangnya doa apa yang dilafalkan?” Tanyaku lagi dan lagi.
“Doa khusus, Mbak. Itu rahasia. Dan lihat ini. . .” dia lalu menunjukkan lengan kirinya. Ada rangkaian huruf Arab yang ditulis dengan tinta hitam. Huruf Arab yang aku rasa seperti huruf pegon, huruf Arab Jawa. Entah apa bunyinya.

“Tulisan ini untuk apa?”

“Ini juga bagian dari ritual tadi, Mbak.” Lalu melanjutkan, “Ini disebut ilmu laduni, Mbak.”

Ilmu laduni. Aku pernah mendengar istilah itu.

“Ilmu laduni. . .” belum sempat kuselesaikan kalimatku, lelaki itu memotong.

“Kyai pemilik pesantren itu pernah bercerita mendapat ilmu laduni langsung dari Nabi Khidlir A.S. saat bertapa selama beberapa hari.
Otakku berpikir keras. Ada yang tidak bisa kuterima dari penjelasannya. Jika Kyai tersebut memang benar memperoleh ilmu tersebut dari Nabi Khidlir A.S. bukankah akan lebih bijak jika dia tidak memberitahukannya kepada orang-orang? Ingin rasanya aku mendebat lelaki di sampingku, tapi kupikir tidak bijak juga jika harus debat kusir dengan orang asing di bus.

“Apa dipungut biaya, Mas?”

“Iya, Mbak. Dari sekitar tiga ratusan ribu hingga sejutaan.”

Tidakkah ini salah? Yang aku tahu, ilmu laduni hanya diberikan oleh Allah kepada orang-orang sholeh seperti para sufi. Tapi jika harus dikomersilkan, tidakkah nilai kesucian ilmu itu ternodai?
Jika memang mengaku mendapat ilmu laduni langsung dari Nabi Khidlir A.S., tidakkah itu sama halnya dia mengaku mendapat wahyu dari langit sebab sejatinya yang didapat Nabi Khidlir A.S. adalah wahyu? Jika untuk mendapat ilmu laduni harus melalui pertapaan selama beberapa hari, lalu kita patut bertanya; adakah Rasul kita pernah menyabdakan agar melakukan itu untuk mendapatkan suatu ilmu? Bukankan Rasul sendiri mengatakan bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan tidak bisa instan akan tetapi harus melalui proses belajar secara istiqomah disertai dengan doa kepada-Nya?
Jangankan kita yang hanya orang awam, para sahabat saja menuntut ilmu dengan cara belajar kepada Rasulullah. Kalaupun ilmu laduni itu dapat dipelajari orang awam, maka tidakkah para sahabat itu yang paling berhak mendapatkannya sebab merekalah yang memiliki kualitas ke-sholeh-an sempurna?

Aku menyadari pengetahuanku tentangnya memang masih dangkal. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu seakan berjejalan di otakku. Hingga aku tak menyadari lelaki di sampingku ini terus saja mengoceh.

“Mbak punya nomer HP gak? Barangkali saya nanti minta di-tes ngomong Bahasa Inggris lewat telepon.”

“Engga!” Aku berbohong.

Lima menit kemudian. Lagu Maher Zain mengalun dari saku rok. Ooohh!! Kebohonganku terbongkar di hadapan lelaki asing yang mengaku belajar ilmu laduni. Sepertinya wajahku memerah. Tapi, “ah, bodo amat!” pikirku. Kurogoh saku rok, mengambil HP ku yang bersemayam di dalamnya. Telepon dari Abah.

“Sudah sampe mana, Nak?” suara Abah di seberang sana.

“Hmm, ini. . . ini udah sampe Sembayat.” Jawabku setelah kulihat ada banner sekolah terpampang lengkap dengan alamatnya.

“Katanya gak punya HP, Mbak?” pertanyaannya semakin membuatku merasa bersalah telah membohonginya.

“Maaf, saya tidak bermaksud begitu. Tapi kita kan baru kenal dan saya tidak mau sembarangan membagi informasi tentang diri saya termasuk nomor HP kepada orang asing.” Ku harap dia tidak tersinggung dengan jawabanku yang terus terang itu.

“Oh, oke Mbak. Gak apa-apa. Saya ngerti kok.”

Saya hanya tersenyum menanggapinya. Mungkin lebih menyerupai seringai.

“Mbak turun mana?” tanyanya.

“Ujungpangkah.”

“Saya bentar lagi turun di Bungah.”

Itu perkataan terakhirnya sebelum akhirnya dia turun lebih dulu. Dan entah mengapa penyataan-pernyataan lelaki tersebut masih terus kupikirkan sepanjang perjalanan hingga aku tiba di rumah. Tentang ilmu bahasa yang dipelajarinya dengan ilmu laduni. Tentang tulisan Arab –yang entah apa bunyinya- yang terlukis di lengan kirinya. Lalu, kata-kata Abahku barusan setelah aku bercerita kepada beliau masih terngiang-ngiang, “hati-hati dengan ilmu-ilmu semacam itu yang tidak dituntunkan oleh Rasul kita. Sebab bisa jadi seseorang memandangnya dengan mata batin yang tidak bersih, bisa jadi juga itu hanyalah tipu muslihat jin dan setan yang memang bertujuan untuk menjerumuskan manusia.”

Tiba-tiba HP-ku memekik. Ada SMS masuk. Nomor baru. Kubaca isinya,
“Asslm. Sdh smp rmh kn, Mb? Mf sy lancang mngirim SMS ini. Boleh kn sy swktu2 tlp Mb? –sy yg td duduk sbangku di bus-”

HAH??!!

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,