Oleh: Azzurit Hijau 125

Rahman. Dia lelaki yang kukenal tiga bulan yang lalu lewat situs jejaring sosial facebook. Dia aktif sekali mengomentari status dan noteku, tak ada satu status dan satu noteku pun yang lewat dari komentarnya. Komentarnya bukan hanya sekedar komentar biasa, tapi dia juga menyisipkan ayat-ayat Al-Qur’an, motifasi, tausiyah, hadis dan kalimat-kalimat inspiratif. Komentarnya berhasil membakar semangatku, aku menjadi lebih baik dan lebih tegar dibuatnya. Aku pun selalu menantikan setiap komentarnya di facebookku.

Dia akhirnya meminta nomor handphoneku, dia bilang dia ingin bersahabat denganku dan ingin mengenalku lebih jauh. Tanpa pikir panjang, aku memberikannya saja karena aku memang membutuhkan seorang sahabat seperti dia. Sahabat yang dewasa, yang bisa menyetabilkan jiwaku yang kadang labil, dan sahabat yang selalu menyemangatiku.

Tak terasa dua bulan berlalu, aku kian dekat saja dengannya. Setiap hari smsnya selalu menghiasi handphoneku, suaranya pun kadang ber-resonansi merdu di telingaku. Ada rasa lain yang tiba-tiba muncul tanpa di duga. Rasa cinta. Ya, rasa itu mulai tumbuh bersemi di hatiku. Aku mulai mencintainya walaupun aku belum pernah bertemu dengannya. Kami tinggal di kota yang berbeda walau masih satu provinsi.

Aku tersadar dari lamunanku ketika handphoneku berbunyi. Aku melihat layarnya dan menjadi sangat bahagia saat kulihat nama Rahman yang muncul. Tanpa menunggu lama lagi, aku langsung menjawab panggilannya.

“Assalamu’alaikum”

“Waalaikum salam. Lagi apa sayang?”

“Sayang?”

“Salah ya aku panggil begitu? Aku pengen bicara penting”

“Ya bicara aja, Mas. Tak ada yang melarang ko”

“Dik. Maukah kamu menjadi istriku?”

Aku tak percaya mendengar ucapannya. Itulah ucapan yang selama ini ingin kudengar darinya

“Istri, mas?”

“Iya, Dik. Istri keduaku”

Aku tak percaya dengan apa yang kudengar. Istri kedua? Aneh kenapa selama ini dia tak pernah bilang kalau dia sudah punya istri dan dua anak. Aku kecewa, selama ini aku merasa dibohongi. Aku selalu jujur tentang siapa aku sebenarnya, tapi kenapa dia menyembunyikan rahasia besar ini.

Dia bilang istrinya setuju dengan poligami, bahkan istrinya pernah melamar seorang wanita untuk menjadi istri keduanya. Dia lalu menceritakan tentang istrinya, Dina. Dina, yang ternyata sahabat baikku sewaktu SMA dulu. Ternyata dunia ini sempit ya.

Aku akhirnya menolak lamarannya, karena aku tak mau menjadi madu, apalagi madu untuk sahabatku sendiri. Aku tak mau mendapat cap sebagai perusak rumah tangga orang, karena di masyarakat, istri kedua selalu saja di pandang sebelah mata. Terlebih, orang tuaku pasti tak akan setuju. Rahman sangat kecewa dengan keputusanku, tapi akhirnya dia dapat berlapang dada dan menerimanya. Rahman…kini kulepas kau, dari hatiku.

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,