oleh : Galuh Cempaka

Tidak seperti biasanya Eva berangkat ke kampus lebih awal, meski tidak ada jadwal kuliah. Eva mahasiswa FKIP UNLAM semester 4, yang menerima Beasiswa Prestasi. Setiap bulan dia menerima beasiswa tersebut melalui BNI. Kemarin waktu di bank dia berkenalan dengan seorang nakhoda kapal asing dari Jepang, yang kebetulan berada di Banjarmasin, sedang menukarkan uang Yen dengan rupiah. Perkenalan itu sangat berkesan di hati Eva.

“Tommy” gumam Eva sambil senyum sendiri yang sejak dari tadi duduk diperpustakaan sambil membolak balik buku ditangannya tanpa dibaca. Untunglah kemarin saya sempat memberikan alamat kost kepadanya pikir Eva. Sepertinya Eva sangat berharap bertemu kembali denganTommy.

Keinginan Eva jadi kenyataan, Tommy datang menemui Eva di tempat kostnya. Komunikasi mereka cukup lancar meski Tommy tidak begitu memahami bahasa Indonesia, namun Eva cukup memadai dalm berbahasa Inggris, sementara Tommy menguasai bahasa Inggris dan Jepang.  Eva sangat gembira setelah mengetahui bahwa Tommy akan lama berada di banjarmasin untuk pekerjaannya.

“Eva.. saya harap perkenalan ini tidak hanya sampai di sini” kata Tommy sambil memandangi wajah Eva yang bersemu merah.

“Iyaa..” jawab Eva hampir tak terdengar.

Waktu berjalan tak terasa hampir satu bulan Tommy berada di Banjarmasin, dan cukup membuat hubungan mereka semakin dekat.

Hari-hari mereka lalui dengan penuh kebahagiaan,kata janji dan sepakat sudah mereka jalin bersama.
Tibalah saatnya Tommy harus kembali berlayar menuju Jakarta dan berlanjut kenegeri matahari terbit.

“Ev..percayalah saya akan selalu memberi kabar dimana saya berada” kata Tommy meyakinkan Eva, yang tertunduk dengan wajah sendu dan dua bulir air bening membasahi pipinya.

“Sa..saya akan selalu menunggu kabar dari Mas Tom” jawab Eva hampir tak terdengar.

Tommy meraih dan mencium tangan Eva..

“Sayonara” hampir tak terdengar suara Tommy, Eva hanya tertunduk tak sanggup lagi menahan airmatanya. Suasana hening sesaat. Perlahan Tommy menghapus airmata Eva dan berusaha menenangkannya.

Tibalah saatnya Tommy harus bertolak, dia melepaskan tangan Eva, sementara Eva tak bisa berkata apa-apa  kecuali airmata yang mengantarkan kepergian Tommy. Tommy menaiki tangga kapal nampak begitu gagah dengan seragam AL nya seraya melambaikan tangan kepada Eva, yang dibalas dengan deraian airmata.

Kapal bertolak dari pelabuhan Tri Sakti, semakin jauh namun Eva tidak beranjak dari tempatnya.

“Numpang lewat…numpang lewat” teriakan seorang kuli panggul menyadarkan Eva, dengan muka yang sembab dia pulang ketempat kostnya.

“Aku merasakan lembayung senja mulai menjauhi hidupku, aku benar2 beruntung bertemu mas Tom,” pikir Eva ketika selesai membaca surat dari Tommy.

Komunikasi mereka berjalan lancar dengan melalui surat, Eva selalu tenggelam dalam lamunan ketika lelaki yang menulis itu berada disampingnya dan membuat hatinya berbunga.

Jarak bukan penghalang bagi cinta mereka, saling mengasihi dan saling percaya.

Bahkan ketika musim semi tiba Tommy selalu mengirimkan foto-foto bunga Sakura yang sedang mekar dan sangat indah, Eva menyukainya.

Tommy berjanji akan selalu memberikan bunga Sakura setiap musim semi tiba, karena dia akan menikahi Eva dan memboyongnya segera kenegeri matahari terbit itu.

“Eva aku akan segera menikah jika aku telah menemukan orang yang tepat, dan orang itu adalah kamu. Kamu bersedia kan menikah denganku jika setelah menyelesaikan kuliah nanti ?” kata Tommy pada sepucuk surat yang ditulisnya untuk Eva

“Eva bersedia Mas Tom” gumamnya.

Ah, cinta selalu indah kala bahagia dan selalu saja tidak ada akhirnya untuk dibahas.

Tidak terasa satu tahun sudah hubungan Eva dengan Tommy,cinta mereka tidak dibatasi oleh dua benua.

Tommy berjanji saat liburan nanti dia akan datang kepada orangtua Eva untuk melamar Eva..
Dengan penuh kebahagiaan Eva pulang untuk memberi tahukan kepada ayahnya. Eva menceritakan tentang hubungannya dengan Tommy dan maksud kedatangannya nanti.

Ayah Eva seorang guru dan sangat terpandang karena memang perangai beliau yang ramah dan berwibawa.Beliau terkenal orang yang disiplin.

Suasana hening sejenak, dengan suara berat ayah Eva buka mulut.

“Eva..ayah bukan tidak setuju dengan pilihan kamu nak, selama ini abah tidak pernah cerita tentang perjodohan kamu, karena abah khawatir dengan kuliahmu nak”Ayah Eva menarik nafas sembari menatap Eva.

Ayah Eva melanjuntukan pembicaraannya.
“Dia masih kerabat kita nak dan bahkan sekarang sudah bekerja dan ini sudah disepakati oleh kedua belah pihak”.

Seperti mendengar petir di siang bolong Eva terkejut mendengar penuturan ayahnya.

Dia tertunduk tidak berani menatap ayahnya, orang sangat dihormatinya, orang yang selama ini memberinya kasih sayang yang tulus, tidak mungkin dia akan mengecewakannya, tidak mungkin dia akan menyakiti hati ayahnya.

“Tapi bagaimana dengan hati ini, cinta ini, bagaimana dengan mas Tom yang ingin membina mahligai rumah tangga bersama ku, dan bagaimana dengan musim semi disaat bunga sakura bermekaran, Tokyo, Jepang ?”

Semua itu berkecamuk dalam pikiran Eva, akhir Eva angkat bicara
“…tapi yah..bagaimana dengan mas Tom” ?

” Nak..ayah hanya ingin yang terbaik untukmu, ayah ingin melihat kamu bahagia” ucap ayah Eva menegaskn lagi.

Sambil mendekati Eva ayahnya membujuk
“Nak kamu bisa berikan alasan yang baik dan beri pengertian kepada Tommy,ayah sudah tua nak” kata ayah Eva dengan suara yang lebih lembut.

Eva tertunduk sambil mengusap airmatanya.

” Iya yah..” sahut Eva hampir tak terdengar.

Eva tak dapat menahan tangisnya lagi, ia senggugukan di pangkuan ibunya yang dari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan, dielusnya kepala Eva.

***

Senja di langit pelabuhan Tri Sakti terlihat sangat mempesona, warna merah keemasan akan segera menghilang dan berganti gelapnya malam. Eva melangkah pelan menyusuri jalan menuju dermaga, untuk menunggu seseorang yang sethn tidak berjumpa.

Setahun yang lalu Eva masih ingat bagaimana perawakan sosok itu di hari terakhir bertemu. Hari yang benar-benar menyedihkan saat Eva akan memutuskan hubungan dengan Tommy, karena Eva sudah dijodohkan oleh ayahnya. Karena Eva tidak ingin mengecewakan ayahnya, maka ia memilih menekan perasaannya sendiri.

Memang sangat berat tapi Eva berusaha untuk tegar dihadapan ayahnya..

Dari kejauhan perlahan sosok kekar itupun tampak. Eva berdiri sambil menatap indahnya lautan. Semakin dekat perasaan Eva semakin tak menentu. Jantungnya berdegup kencang saat sosok itu tersenyum dan melambaikan tangannya menyambut kedatangan kekasihnya, Eva.
“Apa kabar sayang?”sapa Tommy sambil tersenyum melihat Eva yang tertunduk malu.

Eva tak berani menatap Tommy yang sangat dicintainya.

“Ba…baik mas..” jawab Eva masih tertunduk malu.

“Masih seperti seperti dulu, tetap cantik dan pemalu…”kata Tommy menggoda Eva.

Tommy membimbing tangan Eva keluar dari dermaga. Malam itu tidak banyak yang mereka bicarakan, hanya rasa rindu yang mendalam yang mendera perasaan mereka masing-masing. Udara sangat dingin pagi ini, karena habis diguyur hujan deras, seiring derasnya airmata Eva malam itu. Pintu dibuka perlahan ketika Tommy mengetuknya berkali kali, dia tersenyum menatap Eva karena berharap

Eva akan mengajaknya menemui orangtua Eva untuk melamarnya, sesuai dengan rencana mereka tempo hari. Sementara Eva dengan mata yang masjh sembab mempersilakan Tommy masuk..
Suasana hening sesaat..

“Cantik… ada apa? apa yang terjadi, ceritalah.. ” tanyaTommy dengan hati-hati

Eva masih tertunduk, tiba-tiba dia menangis.

“Ev..sayang..tolong ceritakan apa terjadi?” tanya Tommy tak sabar.

Eva menatap Tommy dengan sendu

“Ma..mas Tom..ter…ternyata..Ev…Eva sudah dijodohkan” kata Eva terbata bata sesekali menghapus airmatanya..dan tak sanggup lagi meneruskan kata katanya..

“Ev..Eva..sayang…ini tidak benar kan, iya sayang…?” tanya Tommy.

Eva hanya bisa mengangguk dan menangis sejadi jadinya.. Tommy terhenyak, dua bulir air bening membasahi pipi Tommy..

Suasana hening..

” Cantik..” Tommy memecahkan kesunyian

“Bukankah saya pernah kata kan, saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Jadi saya hanya ingin menikah dengan wanita yang benar-benar saya cintai..Dan wanita itu adalah kamu Ev..kamu sayang” kata Tommy dengan suara berat..

” Ta..tapi mas..Eva tidak berani menentang kehendak orangtua,” Sahut Eva sambil terus menangis
Tommy pun tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menerima keputusan dan berusaha menenangkan Eva.

“Sayang…walaupun kita tidak bersama dan Eva sudah berkeluarga, bila suatu saat saya ke Banjarmasin bolehkan saya menemui Eva?” suara Tommy dengan putus asa.

“Iya mas,silakan” ucap Eva hampir tak terdengar.

Tommy beranjak mau pamit pulang.

Diraihnya tangan Eva dengan tatapan hampa dan hati yang galau Tommy akan pulang ke negaranya.

“Sayonara…” gumam Tommy hampir tak terdengar. Untuk yang kedua kalinya Eva mendengar kata itu dan ini Tommy benar-benar tidak akan kembali lagi..

“Ma..mas..kita punya rencana tapi Allah punya ketentuan” suara Eva lirih sambil menghapus airmatanya.

“Cantik..aku akan selalu mengenangmu” kata Tommy sembari mencium tangan Eva kemudian melepaskannya.

Dengann langkah gontai, Tommy pun meninggalkan tempat kost Eva.

“Selamat jalan kasihku” desah Eva tidak begitu jelas.

Beberapa bulan kemudian pernikahan Eva dilangsungkan, walaupun Eva belum selesai kuliahnya. Sebenarnya Eva tidak begitu mengenal suaminya,walaupun masih kerabat Namun untuk tadik mengecewakan orangtuanya Eva rela menikah dengannya. Eva berusaha menjadi isteri yang baik. Suaminya seorang pengusaha batubara, yang penghasinya cukup lumayan.  Eva bersyukur dengan semua ini.

Dua tahun kemudian tentunya setelah menyelesaikan kuliahnya Eva mengandung dan melahirkan seorang putera yang sehat dan sempurna. Semua keluarga sangat bahagia .

Namun kebahagiaan tidak berlangsung lama, karena suami Eva jarang pulang dengan alasan ada proyek diluar daerah. Semua Eva jalan dengan sabar dan untuk mengurangi beban bathin dia hadapi dia bekerja sebagai  pendidik pada sebuah sekolah menengah.

Ketjka puteranya berusia 4 tahun Eva pun bercerai dengan suaminya, melihat keadaan ini ayah Eva seperti ada rasa penyesalan.

“Maafkan ayah nak..” suara ayah Eva memecahkan kesunyian disaat dia sedang asyjk memperhatikan cucu pertamanya itu.

“Jika saja dulu ayah tidak memaksakan kehendak,tentunya ini tidak akan terjadi”

Eva tertegun menatap ayahnya.

“Sudahlah Yah tidak usah dipikirkan,yang lalu jangan diingat lagi” sahut Eva sambil berusaha menutupi kesedihannya.

Ayah Eva sangat menyayangi cucunya,setiap hari dia selalu bersama,kemanapun ayah Eva selalu mengajak cucunya. Karena itu ayah Eva sangat sedih ketika mulai sakit-sakitan dan tidak bisa mengajak bermain lagi.

*****

Tanah itu masih memerah, bunga-bunga kamboja satu persatu jatuh bertebaran diatas makam ayah Eva..

Eva tertegun.. masih berdiri menatap makam ayahnya ,seakan tidak percaya kalau ayahnya sudah tiada..  Dengan mata yang masih memerah dan wajah sembab Eva menggandeng tangan mamanya. Mengajak pulang.

“Selamat jalan ayah..”suara Eva lirih..

Kini Eva kembali ke rumah mamanya dan tinggal bersamanya lagi..

Eva membersihkan kamarnya yang sudah beberapa tidak pernah ditempati sejak dia menikah,Eva menemukan sebundel amplop di lemari meja belajarnya.. Perlahan dibukanya amplop yang sudah berubah warna kekuningan.

Subhanallah..

” Ini..ini..semua surat2 mas Tommy, foto mas Tommy yang lengkap dengan seragamnya,dan foto ini yang sangat aku sukai bunga Sakura saat musim semi” gumam Eva lirih..

Eva membaca kembali surat-surat Tommy yang mulai usang.. Tiba tiba airmatanya mulai membasahi pipinya..”

“Maafkan Eva mas Tom, andai saja mas tahu bagaimana perasaan Eva …dari dulu sampai saat ini tidak pernah berubah. Eva selalu dan tetap mencinta mas Tommy. dan Eva yakin suatu hari nanti kita akan bertemu,sebelum akhir perjalanan hidup kita”

Eva pun berharap suatu saat dia akan bertemu dengan Tommy, Eva akan selalu berharap dan tetap menunggu dan menunggu..

Karena dia yakin bunga sakura berbunga dan mekar lagi disaat musim semi tiba..

************

Banjarbaru, 16-11-2011

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,