Oleh: Lovalyka Maudy Chyntia

 

Di depan meja kasir, aku merogoh dompet warna merahku. Memberikan beberapa lembar lima puluhan ribu untuk pembayaran buku-buku yang baru saja kubeli. Setelah menerima uang kembalian dan mengucapkan terima kasih, aku bergegas keluar dari toko buku itu.
Di luar ternyata hujan deras. Biasanya kalau sedang pergi belanja begini, aku selalu ditemani Thomas, pacarku. Tapi kali ini, Thomas sedang ada acara di gereja. Sehingga aku pergi tanpa dia. Lagipula ini hari Sabtu, jadwalku untuk pulang ke rumah ibu. maklum, anak kost.
Samsung galaxy-ku bergetar. Di layarnya tertera tulisan “sayangku”, tanda panggilan.
“Halo…”sapaku.
“Beb, kamu masih di toko buku?”suara tegas Thomas terdengar dari seberang. “di sana hujan ga?” lanjutnya.
“masih. Sudah mau pulang nih. Iya, hujan deras banget. Kamu di mana?” suaraku agak keras untuk mengimbangi suara hujan dan kendaraan yang lalu lalang di depan toko. Saat itu posisiku di teras toko.
“oke, sebentar lagi aku jemput kamu. Tunggu ya.”
“ga usah. Kamu lanjutin aja acara di gereja. Aku bisa naik mikrolet.”
“enggak, enggak. Aku ga mau tuan putriku naik mikrolet hujan-hujan begini..”ujar Thomas merayu.
“hmm, kamu bisa aja. Emang kenapa naik mikrolet juga udah biasa kok.”
“pokoknya kamu tunggu aja 15 menit aku sampai. Oke.”
Aku tersenyum simpul sambil memasukkan ponselku ke dalam saku tas. Thomas selalu begitu. Perhatian dan selalu berusaha membuatku merasa nyaman. Selama dua tahun kebersamaanku dengan dia, sosoknya membuatku merasa memiliki pelindung dan tempat berbagi. apalagi setelah ayahku meninggal. aku nyaris tidak pernah merasa kesepian. Karena dia selalu ada setiap aku butuh. Dia adalah pacar multifungsi. Suatu waktu bisa menjadi seperti bapak yang menanyakan tentang kondisi keuanganku, menjadi sahabat tempat curhatku, dan menjadi supir pribadi. Ups, yang terakhir ini aku tidak pernah meminta. kalau urusan antar-jemput, hanya bila dalam keadaan mendesak saja aku memintanya. Juga urusan membeli-beli barang, kebanyakan perempuan suka meminta pacarnya membeli barang untuknya. Tapi aku masih segan. Mungkin karena terkondisikan oleh kebiasaan ibuku yang jarang meminta jatah belanja pada ayah. Berapa pun yang ayah beri pada ibu, selalu dikelolanya secukupnya. Selain itu, ibu juga punya usaha sampingan. Sehingga finansial ibu terbilang mandiri.

Aku ingin cinta yang tulus. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang berpacaran karena agar ada yang mendukung finansialnya, atau agar punya supir pribadi yang bisa mengantarnya kemanapun dia mau. Bagiku, kasih sayang yang ditunjukkan Thomas sudah lebih dari cukup. Maka aku tidak mau menuntut lebih. Lagipula Thomas juga masih sama-sama kuliahnya denganku. Segala fasilitas yang dipakainya itu juga pemberian orang tuanya. Termasuk swift merah yang saat ini sudah berada tepat di hadapanku.

Thomas memberikan isyarat padaku agar aku masuk ke dalam mobil. Saat itu jam 4.30.
“Maaf ya Beb, telat 10 menit. Agak macet tadi hujan derasnya merata..” ujarnya sambil menyetir mobil membawaku meninggalkan pelataran toko buku.
“Gapapa sayang. Gimana acaranya di gereja. Kok ditinggal sih?”
Sebenarnya sore ini, jadwal Thomas untuk berlatih musik bersama teman jemaatnya.
“sudah ada Nancy. Dia bisa gantikan aku main gitar…”
Selanjutnya di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, kami terlibat perbincangan ringan seputar hubungan kami, kuliah kami, dan aktivitas kami yang diselingi dengan candaan dan humor. Sesekali kami tertawa bersama jika ada hal-hal lucu yang kami ceritakan. Tak jarang pula aku melayangkan cubitan ke lengan Thomas jika dia melontarkan pernyataan yang membuatku geram. Misalkan,”bener nih kamu mau menemui ibuku?”

“iya donk. Kan aku mau minta kamu jadi istriku. Penghasilan aku sebagai guru les musik sudah lumayan Beb. Rencananya aku juga mau melamar di lembaga bimbel. Siapa tau dapet. Bisa nambah tabungan buat modal kita..”
“kita ya sayang?”tanyaku menggoda.
“ya iyalah “kita”, aku sama kamu. Masa aku doank. Mau kawin sama angin? Enakan kawin ama orang kali,”jawabnya diselingi tawa.
Aku tersenyum meliriknya. Dia balas melirikku. nyaman sekali kalau begini. Di sebelahku, pangeran sekaligus superheroku menunjukkan keseriusannya padaku. Aku kagum pada usaha dan ketekunannya. Betapa dia adalah sosok yang sempurna sebagai seorang pemuda. Bertanggungjawab, visioner, tekun, dan pandai membagi waktu antara kuliah, kerja, dan pacaran denganku. Karenanya, aku selalu berusaha untuk mendukung segala aktivitasnya, tidak menuntutnya, menemaninya ketika dia letih, dan membiarkan dia nyaman dengan menjadi dirinya sendiri.
Hanya saja, satu hal yang amat kusayangkan. Perbedaan yang ada di antara kami terlalu mustahil untuk disatukan. Ya, dia seorang katolik yang taat. Sedangkan aku muslim. Ibuku terbilang seseorang yang dekat dengan tokoh ulama di daerahku. Pun kakak laki-lakiku pernah menjadi santri dan sosoknya sangat religius. Itulah kenapa aku tidak pernah mengenalkan Thomas pada keluargaku. selama ini kami pacaran sembunyi-sembunyi. Apalagi aku tinggal di kost yang jauh dari rumah. Jadi tidak khawatir akan ketahuan. Meskipun ibu sempat mendengar dari Niar, tetanggaku yang juga teman satu kampusku. Sempat aku ditegur soal ini, tapi toh aku tetap jalan.
“Hmm.. sayang, andai ibuku tidak merestui bagaimana?”tanyaku.
Thomas terdiam beberapa saat. Wajahnya serius nampak memikirkan sesuatu.
“kita kawin lari saja…”ujarnya spontan sambil menjentikkan jari.
“enak saja…!” cubitanku mendarat di lengannya. Membuatnya meringis kesakitan lalu tertawa nakal.
“aku ga mau kawin lari… kawin kok sambil lari..”
Tawa kami pun pecah seiring roda swift yang semakin mendekati daerah rumahku. Hujan juga lumayan reda. Satu jam perjalanan sudah kami tempuh.

Thomas memberhentikan mobilnya di depan gang yang menuju rumahku. Seperti biasa, setiap dia mengantarku pulang, tidak pernah sampai depan rumah. Untuk menjaga perasaan ibu dan kakakku. Dan kami berdua sepakat akan hal itu. hingga tiba saatnya kami benar-benar siap untuk menghadap kepada orangtua, meminta restu atas jalinan cinta yang telah terajut selama dua tahun lebih. Agar berlanjut ke jenjang yang lebih serius, dan pada akhirnya seperti yang diidam-idamkan setiap pasangan yang saling mencintai. Yakni bermuaranya cinta mereka pada ikatan pernikahan.

Aku memandang wajah Thomas. Wajah itu tenang. Mungkinkah kami akan bersatu? Benarkah dia jodohku? Ah, andai saja tidak ada perbedaan itu. betapa kebahagiaanku akan bernilai sempurna. Aku tahu, seorang wanita muslim tidak diizinkan menikah dengan laki-laki yang berbeda agama. Meskipun kualitas imanku tidak semilitan para aktivis dakwah di kampus, hati kecilku berkata bahwa aku harus tetap berpegang teguh pada norma agama yang kuanut.

“sayang… kapan kamu kembali ke malang?”tanya Thomas sebelum aku turun dari mobil.
“hari selasa. Hari senin aku tidak ada kelas. Kamu jaga diri baik-baik ya.”
“oke..”jawabnya sambil memberiku seulas senyuman. ”ya udah gih, ibu kamu pasti sudah nunggu.”
“maafin aku ya sayang. Kamu pasti capek banget. Andai ibuku merestui hubungan kita. Pasti kamu bisa istirahat sebentar di rumahku.”
“udah… gapapa. yang sabar aja. Sambil berdoa semoga diberi solusi. Oke.”

Sesampainya di depan rumah, aku bertanya-tanya dalam hati. Mobil siapa yang parkir di depan pagar rumahku. Kulihat di ruang tamu, ibu dan kakak laki-lakiku sedang bersama dua orang laki-laki. Aku mencium tangan ibu, dan menyalami dua orang tamu yang ternyata adalah Pak Dibyo. Pemilik toko besar di kampungku. Satu lagi aku tidak kenal. Mungkin teman Pak Dibyo. Usianya sekitar 30 tahun lebih. dengan mengenakan baju kemeja rapi. Rambut cepak dan kulit coklat. Di atas bibirnya melintang kumis tipis. Nampak kebapakan dan berwibawa.
“Mas Subkhi, ini anak bungsu saya Laras…”ujar ibuku memperkenalkan aku pada tamu itu.
“Laras, ini Mas Subkhi. Dia ini temannya Pak Dibyo dari masih di pesantren dulu. Rumahnya di Wlingi. Sengaja datang ke sini untuk berkenalan dengan kamu. Iya kan Mas Subkhi?” gaya ibuku semangat memperkenalkan sosok laki-laki tak kukenal itu.
“iya, betul…”jawab pria itu terkesan agak malu-malu.
“oh yayaya.. sudah lama di sini Mas?” basa-basiku mengakrabi kedua tamu itu.
“ndak juga..”
“kalau begitu silakan dilanjut dulu ngobrolnya. Saya permisi ke belakang dulu.”
Aku masuk ke dalam kamarku diikuti oleh ibu.
“Ada apa mereka datang ke sini Bu?”
“ya mau kenalan sama kamu. Sebenarnya sudah sebulan yang lalu mereka mau datang ke sini. Tapi kamunya ndak pulang-pulang, yo wes ibu suruh datang hari ini saja. Ibu sengaja ndak kasih tahu kamu dulu, nduk. Soalnya ibu takut kamu malah ndak mau pulang..”
“trus maksudnya kalau mereka sudah kenal sama saya kenapa?”
“begini ya Laras… ibu ini kan sudah tua, bapakmu sudah meninggal. Ibu dan mas-mu merasa sebagai orangtua sudah saatnya mencarikan kamu seorang jodoh. Jangan kaget dulu, Nak… ibu hanya ingin kamu mendapat yang terbaik. Ibu takut kamu kena pengaruh macem2 dari pergaulan anak jaman sekarang…”
“Apa?! Ibu…”aku terpekik. Kata-kata ibu barusan bagai petir di siang bolong. Agaknya ibu memang melakukan langkah antisipasi agar hubunganku dengan Thomas putus. “kenapa Ibu ga bilang dulu sama saya? saya nggak usah dijodohkan, Bu… lagian juga saya masih muda. Kuliah belum selesai kenapa Ibu suruh saya nikah?”
“Laras, jangan emosi dulu, Nak. Tolong kamu mengerti Ibu,”ujar Ibu memelas.” Yo wes sekarang kamu istirahat dulu. Ibu mau ke depan…”
“Bu, saya ga mau….”kataku tak dihiraukan oleh ibu.
Aku bagai pesakitan malam itu. dipaksa mendengarkan celotehan mas-ku dan ibu yang memaksaku menikah dengan Pak Subkhi. Di depanku, ibu membeberkan kelebihan-kelebihan laki-laki pilihannya. Duda tanpa anak, istrinya meninggal bersama jabang bayi yang dikandungnya selama 8 bulan. Lima tahun hidup tanpa pasangan dengan mencoba melupakan bayang-bayang istri yang amat dicintainya. Kini, saatnya dia membuka lembaran baru. Mencari seorang istri yang mau menemani dan merawatnya sebagai suami.

Sebelumnya dia meminta Pak Dibyo mencarikan calon untuknya. Lalu pak Dibyo diam-diam bernegosiasi dengan ibuku.

“Laras, kalau kamu menikah dengan Mas Subkhi, kamu masih bisa kuliah. Dia tidak melarang kamu menuntut ilmu. Dia hanya ingin kamu menjadi istrinya. Soal rumah tangga, itu bisa kalian atur bersama. Pekerjaannya juga sudah mapan, sebagai pemilik toko bangunan dengan 8 karyawan. Nah, kurang apalagi?”

Aku hanya tertunduk sedih mendengar ibuku berkoar-koar tentang mas Subkhi. Ditambah lagi dari mas-ku, “kalau kamu ingin selamat dunia akhirat menikahlah dengan lelaki yang soleh. Yang seagama. Nurut apa kata Allah dan kata ibu.”

“tapi aku ga cinta sama dia…!!!”berontakku. hatiku sudah galau. Terbayang wajah arjunaku yang selama ini setia berbagi suka duka bersamaku. Bisakah aku tanpa dia. Padahal selama ini, kami selalu berdua. Merancang masa depan bersama. Bukan suatu hal yang mudah membangun menara cinta di atas jurang perbedaan yang menganga. Dan kami, telah berhasil membangun pondasi cinta kami selama dua tahun. Betapapun aku tahu agamaku melarangku bersatu dengannya. Tapi sungguh, aku hanya mengikuti kata hati. Di mana Maha Penggerak Hati dan cintaku memilihkan sosok Thomas sebagai arjunaku selama ini. tak peduli teman-teman banyak yang mencibir dan memvonis bahwa cinta kami hanya berdasarkan nafsu. Nyatanya sampai tahun kedua usia pacaran kami, Thomas yang taat beragama tidak pernah menyentuhku sama sekali. Kecuali, ketika dia bermaksud menenangkan aku dengan memegang tangan dan pundakku. “karena yang aku tahu dalam agama itu hanya orang baik dan buruk, Laras. Agamaku juga mengajarkan bahwa perzinahan itu dilarang, sebagaimana agamamu. Maka jika kita percaya Tuhan, mencintai Tuhan, ikutilah Dia…”ujar Thomas ketika kami berdiskusi soal agama.

@@@

“Ibu dan Bapakmu dulu juga ndak ada cinta. Tapi nyatanya? Tetep langgeng sampai maut memisahkan. Tidak ada sejarahnya bapak atau ibumu ini selingkuh. Cinta itu bisa ditumbuhkan. Tresno jalaran soko kulino. Nanti kalau sudah tahu rasanya kelon, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya….”

“Kita ini sudah susah. Saatnya kamu membalas jasa orangtuamu. Ibu Cuma minta kamu nikah. Wong nikah itu enak. Apa susahnya? Apalagi mas Subkhi itu pria baik-baik. Beruntung kamu dipilih dia. hidup kamu akan jadi enak. Wes to, manut opo jare Ibu. daripada pacaran ga jelas sama wong bedo agomo. Naudzubillah min dzalik… nggawe susah wong tuwo.”

Aku menangis mendengar kata-kata ibu. ingin melontarkan kalimat pembelaan diri, aku tak sanggup. Memang aku sudah bersalah membiarkan benih-benih cintaku bersemi pada Thomas. Namun, memaksakan pernikahan juga tidak bisa mutlak dibenarkan. Karena yang akan menikah dan merasakan bahagia atau tidaknya nanti, adalah aku. Meskipun begitu, patuh dan bakti pada orangtua adalah wasiat Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat.

Maka aku tersudut dalam ketidakberdayaan. Melihat ibu, aku kasihan. Benar jika ibu bilang ini saatnya bagiku membalas jasa orangtua. Dengan aku menikah, beban ibu akan berkurang. Otomatis biaya kuliahku akan ditanggung oleh suamiku, seperti yang dijanjikan oleh mas Subkhi. Ah, lelaki itu. menyebut namanya pun aku tak sanggup. Bagaimana mungkin aku akan menikah dengannya.

Membayangkan lebih jauh lagi, tubuhku akan dijamah oleh orang yang hatiku tidak cenderung padanya. Pasti akan terasa hambar. Rumah tangga tanpa cinta. Apa artinya? Jika aku menolak, maka label istri durhaka serta merta akan kusandang. Duhai, sebagai wanita aku merasa tidak punya pilihan. Hidupku nestapa, terasa tidak lagi berarti. Perjuanganku memperbaiki hidup dengan meraih prestasi di kampus, menjadi sia-sia jika pada titik ini aku justru dipaksa dan tidak diizinkan untuk memilih.

Maka, jadilah malam itu sebagai malam yang lara untukku. Aku terisak sendiri. Bayangan wajah Thomas liar menari-nari. Kutelungkupkan wajahku pada bantal yang telah basah oleh air mata. Ini berat. aku tak sanggup membayangkan apa jadinya aku jika menikah dengan duda berusia 35 tahun, yang sama sekali tidak pernah aku kenal.

Mungkin Ibuku benar. cinta bisa ditumbuhkan. Cinta antara aku dan Thomas juga tumbuh karena kami sering bersama. Bermula dari perpustakaan kampus. Ketika aku nampak keberatan membawa setumpuk buku, tiba-tiba dia muncul dan menawarkan bantuannya untuk membawakan sebagian buku-buku yang kupinjam. Kemudian berlanjut di sebuah toko alat musik. Tanpa sengaja aku bertemu dia sedang membeli sebuah gitar. Sama denganku.

“Kamu, Laras… bisa maen gitar?”tanyanya.
“Baru mau belajar,”jawabku agak malu.
“Ohya? Belajar sama aku aja. Kamu bisa nyanyi kan?”
“Hmm.. lumayan.. tapi aku mau belajar gitar. Bukan belajar nyanyi.”
“Iyah, kamu liatin aku main gitar. Dan aku dengerin kamu nyanyi,”jawab Thomas ng-asal.
“Eh, bisa aja kamu…..”
“hehehe….”

Semenjak saat itu, kami sering menghabiskan waktu bersama. Menyanyikan lagu-lagu yang kami suka bersama. Makan bersama dan kemana-kemana selalu bersama. Hingga percikan-percikan cinta di hati kami semakin hari semakin menggelora.

“kamu tahu ga sayang,”ujarnya suatu pagi di tempat kostku, ketika dia kubuatkan nasi goreng untuk sarapan. ”aku bahagia lho ada kamu.”
“masa sih?”tanyaku.
“Bener. Kamu nih ya ga banyak nuntut. Penyabar, perhatian, manis lagi.. ga kayak cewek-cewek lain yang ujung-ujungnya selalu minta duit… sumpah!”
“Ohya? Pinter deh ngerayunya…”
“Lhoh, harus pinter ngerayu donk.. biar besok aku dibuatkan sarapan lagi.. qeqeqeq..”
“huh, dasar…”
Cekit. Satu cubitan kecilku mendarat di lengannya. Dia meringis kesakitan.
@@@
Keesokan harinya, aku kaget ketika sebuah mobil pick up berhenti di depan rumahku. Seseorang menurunkan barang-barang berupa bumbu rempah-rempah, beras, tepung, gula, telur, kentang, dan bahan-bahan masakan lain. Membawanya ke dapur dibantu oleh kakakku.

“Ibu mau syukuran apa? Peringatan meninggalnya bapak kan masih lama lagi?”tanyaku pada ibu yang sedang memasak sayur di dapur.
“Ya, itu untuk persiapan lamaran kamu, Laras. Minggu depan, keluarga mas Syubkhi akan datang untuk melamar kamu…”
“Apa?!”aku terperanjat. Aku mati rasa. Perlahan mataku kembali berkaca-kaca. “Bu, kenapa Ibu paksa saya?”ujarku memelas. “saya tidak mengenal laki-laki itu, apalagi mencintainya… tidak bisakah Laras memilih, b.. Bu..”kali ini aku terisak.
“Belajarlah dari Ibu Laras. Ibu dulu juga dijodohkan. Dulu ibu setengah mati emoh sama bapakmu. Tapi seiring berjalannya waktu, kami bisa saling mencintai dan menghargai satu sama lain.”
“Tapi gak begini caranya, Bu….”
Sia-sia aku meyakinkan ibu. Ibu tetap keukeuh dengan perjodohan ini. dan aku hanya bisa menangis dan menangis. Tanpa bisa berbuat apa-apa.

Hari selasa, aku berangkat ke Malang dengan hati yang tidak gembira. Biasanya aku selalu semangat setiap habis pulang dari rumah. Tapi kali ini, beban hati yang sangat berat melambatkan langkah kakiku. Menundukkan kepalaku, dan memucatkan rona wajahku. Oh Tuhan, aku tidak ingin durhaka padaMu dan ibuku. Tapi Engkau jua yang menitipkan cinta ini pada Thomas. Dengan syariatMu, jelas Engkau melarangku bersatu dengannya. Aku tidak berdaya. Beri aku jalan keluar. Mudahkan jalanku bersatu dengan laki-laki yang aku cintai. Beri cahaya pada Thomasku ya Rabbi.. bukankah perbedaan ini yang menjadi jurang utama bagi kami.

Terlintas wajah Thomas yang nanti akan menjemputku di terminal Arjosari. Hatiku seperti diiris-iris. Bagaimana aku menjelaskan padanya tentang hal ini.

@@@

Aku meletakkan segelas fresh orange kesukaan Thomas di meja. Kami duduk di teras tempat kost-ku. Dari tadi dia sudah menanyakan perihal wajahku yang sembab. kali ini dia menatapku, ingin mendengar aku bercerita tentang apa yang sedang aku hadapi.
“Beb, percaya sama aku. Tuhan kirimkan masalah, juga turunkan solusinya. Ada apa sayang? Kalau kamu percaya sama aku, ceritakan dan kita cari solusinya sama-sama.”
Aku terdiam. Menatap bola matanya. Mencari kesungguhan dan kejujuran di sana. Ternyata ada. Aku menemukannya. Bening bola matanya mencerminkan hatinya. Lalu kutarik napas panjang.
“Aku dijodohkan… Ming… Minggu depan a.. aku dilamar..” Air mataku jatuh.
“dijodohkan?!” seperti yang kukira. Thomas terkejut.” Trus, kamu mau?”
“Entah.”
“Apa maksud kamu Beb?”
“Ibuku sudah menerimanya, Thomas…. Aku tidak punya pilihan.”
Kami terdiam. Kulihat arjunaku gelisah. Matanya sebentar-sebentar terpejam, lalu melihat ke arahku. Di usapnya kepalaku. Aku sibuk dengan lipatan tisu.
“Aku ga tahu harus gimana, Thomas. Maafkan aku, andai kita …..” aku tak sanggup melanjutkan kalimatku.
Thomas menyentuhkan jari telunjuknya ke bibirku. Isyarat agar aku diam. “Kamu tenang dulu. Aku akan coba yakinkan ibumu..”
“Gak mungkin, sayang… Ibuku sangat keras… apalagi kakakku. Kita tidak mungkin bisa bersatu selama kepercayaan kita berbeda.”
Thomas menelungkupkan kedua tangannya ke wajah.
@@@
Sejak sore itu, aku hanya pasrah pada nasib. Tidak selera makan. Pergi kuliah serasa tanpa nyawa. Juga dengan make-up yang tak sesegar biasanya. Thomas masih tetap perhatian. Genggaman tangannya terasa lebih erat dari biasanya. Duh, Gusti… cinta inikah yang akan Engkau ambil dariku? Jeritku dalam hati.
@@@
Ibu memintaku untuk pulang pada hari Sabtu. Segala urusan dan perlengkapan lamaran, ibuku dibantu para tante yang menyiapkan. Aku tinggal tau jadi. Dan hari itu hari Jumat jam 3 sore. Thomas sudah menungguku di depan kelas. Dia langsung menggamit lenganku dan membawaku ke dalam mobilnya.

Tak kusangka, matanya berkaca-kaca.
“Sayang.. kamu kenapa?”tanyaku lirih.
“Aku takut kehilangan kamu, Beb.. maukah kamu ikut aku?”
“Maksud kamu?”
“Aku sudah bicara pada Papaku dan keluarga di Manado. Mereka tidak keberatan menerima kamu. Kita akan ke Manado… kita menikah di sana…”
“Lalu ibuku? Aku tinggalkan begitu saja?”
“Beb, apa kamu mencintai laki-laki itu? apa laki-laki itu juga mencintai kamu? Ibumu memaksamu menikah dengan laki-laki yang tidak kamu kenal. Apa kamu rasa itu adil? Kita saling mencintai dan keluargamu tidak bisa menerima aku karena aku katolik… apakah jika aku katolik itu berarti aku tidak baik? Tidak bertanggung jawab padamu dan tidak sanggup membahagiakan kamu?”
Thomas menggenggam tanganku.
“Beb, I love you… aku tidak bisa tanpa kamu.. kamu mau kan?”
Terbayang wajah ibuku di rumah. Betapapun kerasnya ibu mendidikku selama ini, dia tetap ibuku. Tapi sungguh bagiku ini sebuah dilema. Cinta kami telah mendarah daging. Maka aku pun memutuskan untuk mengikuti Thomas.
Menurut rencana Thomas, kami tidak langsung bertolak ke Manado. Tapi sementara aku dititipkan di tempat kost sepupu perempuan Thomas, Pamela. Hanya saja, aku tidak mengikuti kegiatan perkuliahan selama persembunyian itu. sebelum pergi, aku sempat mengemasi beberapa bajuku. Dan berpesan kepada ibu kost bahwa aku pergi berlibur ke luar pulau selama beberapa waktu. Pada Laili teman sekamarku, kutitipkan selembar surat yang kutulis untuk Ibu, jika ada yang mencariku nanti.

Hari sabtu, aku tidak pulang. Akun facebook aku nonaktifkan. Nomor ponsel kuganti. Aku masih berada di tempat kost Pamela. Hatiku gelisah. Teringat wajah Ibu yang menungguku. Aku menangis. Bukan karena nasib malang yang menimpa kisah cintaku. Tapi karena ternyata aku lebih sanggup memilih Thomas daripada ibuku sendiri. Apa alasan paling dasar yang bisa membuatku berlaku seperti itu? aku sendiri pun tidak tahu. Di hatiku, Thomaslah yang bertahta. Segala-galanya hanya Thomas. Kesempurnaan dan kebahagiaan hanya terbayang ada pada Thomas. Sebaliknya aku justru ngeri jika membayangkan laki-laki bernama Muhamad Subkhi melingkarkan cincin lamaran di jari manisku.

Pamela berusaha menenangkan aku. dan kalimat yang sanggup aku ucapkan hanyalah permintaan maaf pada Tuhan dan Ibu.

@@@
Minggu pagi, kakakku mencariku ke tempat kost. Dia tidak percaya mendengar keterangan dari ibu kost bahwa aku sedang pergi berlibur ke luar pulau. Akhirnya ibu kost mencari keterangan dari teman sekamarku Laili. Laili menyerahkan sepucuk surat yang aku titipkan padanya sebelum aku pergi.

@@@

Rupanya rombongan keluarga mas syubkhi masih menunggu kedatanganku hingga sore hari. Melihat mas Tomi pulang tanpa aku, semua wajah bertanya-tanya. muka ibuku merah padam. Ketika mas Tomi menyerahkan surat beramplop putih pada ibu, tangannya bergetar. Dibukanya isi surat itu.

Ibu yang kukasihi,
Aku sungguh mencintaimu
tapi aku tidak mencintai laki-laki pilihan ibu
maafkan aku, Bu…
izinkan cintaku pada laki-laki pilihanku
menjadi pondasi untuk kebahagiaanku di masa mendatang
cadas mana yang mampu menjadi penghalang jika cinta telah bersabda
hidup tanpa cinta, seperti menghirup udara beracun.
Bu, izinkan aku bahagia dengan pilihanku
Sungguh, aku tak kuasa menolak ketika kuasa sang Maha Cinta
Memanahkan hatiku pada sosok laki-laki yang kupuja.

Maafkan jika cinta ini, tak sanggup menghadirkan baktiku
padamu Ibu.

Laras.

Ibuku pingsan. Rombongan keluarga mas subkhi kecewa. Para bibi, paman, dan saudara-saudaraku shock.

@@@

Di dalam swift merah, aku menangis sesenggukan. Thomas terdiam. Membiarkan aku menangis sepuasnya. Hingga bahuku berguncang hebat, pemilik wajah teduh dan dada bidang itu memelukku.
“Maafkan aku, sayang…. “ lirih bisiknya di telingaku. “aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu. Kita akan menghadap ibumu jika keadaan sudah tenang nanti. Baru kita akan pergi ke Manado.

@@@

Tepat sepuluh hari persembunyianku, aku bermimpi melihat wajah Ibu hanya terdiam menatapku. Nampak lebih muda dan cerah dengan gaun putih panjang. Tidak satu kata pun yang terucap. Hanya memandangku dengan tatapan yang entah apa artinya. Sampai lamat-lamat bayangan itu menghilang.

Mimpi itu membuatku terjaga. Kulihat jam di ponselku 04.06 pagi.
Bayangan ibu seakan nyata di mimpiku tadi. lalu, kuputuskan untuk membuka akun facebook yang sudah ku-nonaktifkan melalui ponsel. Mengklik halaman info profilku lalu meluncur ke halaman akun familiku, mas Tomi.
Jantungku berhenti berdegup beberapa saat ketika membaca status mas Tomi.
Berat hati melepasnya pergi
Apa daya diri ini tak memiliki
Selamat jalan Ibunda
Semoga Allah mendamaikan alam barzahmu dengan
Cinta dan cahaya.
10 jam yang lalu. Artinya status itu ditulisnya jam 6 sore kemarin petang. Pun di bawahnya kulihat komen-komen dari sepupu dan familiku yang lain menyatakan doa dan bela sungkawa.

Batinku menjerit. Nafasku sesak. Air mataku membuncah. Rasa hatiku berkecamuk. Tak percaya pada apa yang baru kulihat.
Aku tak sanggup berkata-kata. Menangis hingga tubuhku berguncang-guncang. Pamela yang tidur di sebelahku merasakan guncangan itu, terbangun. Lalu memelukku.

Thomas menjemputku pukul 5. Setelah kutelepon tadi, dia bergegas bangun dan bersiap untuk mengantarku ke rumah. Kali ini, siap tidak siap dia akan mengantarku ke rumah. Tubuhku lemas tak berdaya. Aku duduk di belakang sambil dipeluk oleh Pamela. Sedangkan Thomas menyetir.

@@@

Sesampainya di depan rumah, hatiku semakin tidak karuan. Emosiku tak terkendali. Apalagi kulihat wajah-wajah familiku yang selama ini tinggal di luar kota, sekarang ada di rumahku. Ketika mas Tomi menyambutku, wajahnya datar. Kuberanikan untuk bertanya.
“Ibu mana, Mas?”
“Ayo, aku antar ke tempat ibu..”

Dengan mobil Thomas, kami menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Mas Tomi. Aku tahu, tempat yang dituju itu adalah area pemakaman di kampungku.

Tersungkur aku di batu nisan bertuliskan nama ibu, tanggal lahir dan tanggal meninggalnya. Kuciumi batu nisan itu. tangisku pecah. Namun kutahan karena ini makam. Dan kulihat Thomas menangis. Pamela tertunduk.

“Ibu terkena serangan jantung di hari lamaranmu,”ujar mas Tomi. “Langsung kami bawa ke rumah sakit. Kondisinya koma hingga menghembuskan nafas terakhirnya. Menurut perawat yang menjaga ibu, ibu sempat sekali sadarkan diri dan meminta pen padanya. Ini…aku menemukan ini di genggaman tangan ibu.” Mas tomi mengulurkan selembar kertas putih. Ternyata itu suratku yang kutulis untuk ibu beberapa waktu lalu. Namun di bawah tulisanku, ada tulisan ibu:
Tidak. Duhai Laras anakku.
Aku halalkan air susuku yang kamu hisap kendati kamu
berpaling dariku
tapi Allah tidak akan ridha jika
kamu berpaling dari Dia.
jangan menikah kecuali dengan seagama.

Tanganku bergetar. Surat yang kupegang terjatuh di samping nisan. Samar kulihat wajah mas Tomi, wajah Thomas, wajah Pamela. Semua menatapku. tiba-tiba kurasa dunia gelap.

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,