Oleh : Hesti Setiarini

 Hari Minggu ini genap dua bulan sudah Chieko pergi. Sudah bulan Juni sekarang. Bulan yang sering diwarnai derai hujan, sebelum musim panas menjelang.Terkadang angin bertiup kencang tak bersahabat.

Masih jelas membekas dalam ingatan Hiroaki saat istri tercintanya itu meregang nyawa, tepat sehari sebelum hari pernikahan mereka yang ke duapuluhtujuh. Bunga sakura kala itu masih menguncup, hanya menunggu beberapa hari saja sebelum bersemi indah.

Ah…Chieko tak kan pernah melihat keindahan sakura lagi. Sakura terakhir yang mereka nikmati bersama, setahun yang lalu di seputaran taman istana Matsumoto. Ratusan batang pohon sakura yang berbunga itu memang sungguh sangat menawan. Sebuah keberuntungan saat itu karena mereka bisa menikmati indahnya sakura. Keindahan yang sesaat, persis seperti kehidupan di alam fana ini. Ya, bunga sakura hanya mampu bertahan paling lama dua minggu sebelum akhirnya kelopaknya gugur digantikan dengan dedaunan. Indah yang sesaat tapi membawa berjuta makna.

Hiroaki dengan penuh sabar dan penuh kasih mengajak Chieko berkeliling ke taman yang terkenal luas itu. Didorongnya kursi roda Chieko perlahan-lahan, sambil bersenda gurau dan menikmati pemandangan yang terhampar di sana. Setelah cukup lelah mereka mampir ke warung penjaja mochi bakar dengan saus aneka rasa. Udara yang sejuk memang sungguh nikmat menyantap mochi bakar. Mochi bakar dengan saus shoyu atau kecap asin adalah kegemaran Chieko. Ia memang tak terlalu suka makanan manis, berbeda dengan Hiroaki.

Chieko pergi untuk selamanya. Hanya seminggu saja setelah dirawat di rumah sakit terbaik di kota Matsumoto, ibukota propinsi Nagano itu. Sel kanker rahim stadium tinggi yang dideritanya sejak sepuluh tahun terakhir sudah tak teratasi lagi, menyebar ke organ-organ tubuh penting lainnya. Meski pengobatan sudah diupayakan semaksimal mungkin oleh dokter-dokter ahli. Tak terelakkan.

Walau badan Chieko semakin melemah dengan selang infus makanan yang terus melekat di pergelangan tangan, tapi tak ada rintih kesakitan yang meronai wajahnya. Yang ada hanya senyum teduh, senyum yang takkan pernah berubah sejak pertama kali Hiroaki jatuh cinta. Senyum teduh, penuh ketulusan.

 

Saat keduanya bersekolah di SMU yang sama. Hiroaki adalah kakak kelas Chieko. Mereka saling jatuh cinta. Cinta pertama. Setelah lulus kuliah Hiroaki berhasil mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa bekerja sebagai salaryman di sebuah perusahaan perakitan komputer. Merekapun menikah. Chieko berusia duapuluh tiga dan Hiroaki duapuluh empat. Usia yang relatif muda pada masa itu. Chieko kemudian membantu keuangan keluarga dengan mengajarkan ikebana, seni merangkai bunga pada sebuah perkumpulan penggemar bunga di kota Matsumoto. Mereka berdua hidup tak terlalu berkelebihan tapi bahagia.

 

Kimi ga dai suki ” ucap Hiroaki tercekat, sambil membelai kepala Chieko yang sudah tak berambut karena efek dari kemoterapi. Di mata Hiroaki, Chieko tetap sebagai gadis lembut bermata bulat yang pendiam dengan rambut hitam lebat terurai sampai ke bahu. Mata besar dan bulat tak seperti lazimnya mata orang Jepang. Ah indahnya bola mata itu. Rasanya Hiroaki ingin selalu tenggelam dalam kesejukannya.

 

Ah..hazukashiiAnatamo dai suki…” ucap Chieko dengan mata nanar walaupun masih tersisa binar indah yang selalu dikagumi Hiroaki. Kata orang usia memang mampu merubah bentuk tubuh, kulit dan wajah. Tapi tidak untuk cahaya di mata. Pendar cinta yang terpancar di sana tak pernah pupus dimakan masa. Takkan pernah…

 

“Besok ulang tahun pernikahan kita ya, Anata,” kata Chieko. Lebih tepatnya berbisik dengan suara yang semakin melemah. Untuk bisa mendengarkan, Hiroaki harus mendekatkan telinga ke mulut istrinya itu. Ia duduk di tepi ranjang dan menopang kepala istri tercintanya itu dengan lengan kirinya. Tak henti tangannya mengusap kepala Chieko dengan lembut dan hati-hati, seolah takut melukai kulit kepala istri tercintanya itu.

“Ya, besok genap duapuluhtujuh tahun kita bersama.” jawab Hiroaki

menahan sesak di dada. Dikecupnya dengan lembut punggung tangan Chieko yang semakin lemah dan keriput karena tubuh yang semakin hari semakin kurus.

“Andai kita punya anak, mungkin sekarang kita sudah punya beberapa cucu, ya,” Chieko berbisik pelan tersendat-sendat.

“Maafkan aku, Anata. Aku..aku.. tak bisa memberimu keturunan..aku…” belum selesai Chieko menyelesaikan kalimatnya, telunjuk Hiroaki menekan bibir pucatnya itu.

“Ssshh…Yamete. Stop. Aku kan berkali-kali bilang kalau aku tak mau mendengar kalimat itu lagi,” potong Hiroaki lembut.

“Aku sangat bahagia bisa memilikimu, menjadi suamimu. Totemo Shiawase ..,” ujarnya lagi dengan nada suara yang dibuat riang.

“Kita kan selalu bersama selamanya, Chi chan….” Panggilan sayang Hiroaki untuk Chieko. Hampir saja ia tak kuasa menahan jatuhnya air mata yang merebak. Hiroaki berusaha tegar. Ia tak ingin Chieko melihatnya berlinang airmata, terutama pada saat seperti ini. Sudah cukup bila semua kesedihan ditumpahkannya bila dirinya sedang sendirian saja.

Senyum pias mengembang di bibir kering Chieko. Sekuat tenaga ia berusaha mengangkat tangan kirinya yang tak terbelenggu oleh selang infus. Disentuhnya pipi Hiroaki dengan lemah.

“Aku juga bahagia, Anata. Terima kasih untuk semuanya…” nafas Chieko mulai tersengal. “Arigatou…” bibirnya bergetar menahan sakit yang teramat sangat. Keringat menetes dari kening, tapi di saat yang bersamaan Chieko juga terlihat menggigil kedinginan.

Daite…peluk aku,” pinta Chieko. “Baiklah…,” Hiroaki merengkuh Chieko hati-hati dan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan. Tubuh mungil seakin kurus itu terlihat lunglai.

Utatte, anata...” suara Chieko semakin lemah memohon. Bernyanyilah untukku. Ah, pasti Chieko ingin mendengar lagu “Sakurazaka” nya Masaharu Fukuyama itu.

Dalam pelukannya perlahan Hiroaki menyanyikan lagu tentang pasangan kekasih yang jatuh cinta di saat bunga sakura bersemi. Saling mengagumi dan janji untuk bahagia selamanya.

“Ito shi ki hi to..” sepenggal kata di bait lagu itu membuat senyum lemah seketika tersungging di wajah Chieko. Kekasih hati. Ya, Hiroaki adalah kekasih hatinya yang sejati. Selalu setia berada di sampingnya, menemani saat-saat sulit menghadapi penyakit kanker yang juga merenggut nyawa kedua orang tuanya di tahun yang bersamaan. Di negara Jepang kanker memang masih merupakan penyebab kematian terbanyak.

Dua orang perawat wanita yang berada di ruang perawatanpun tak kuasa menahan haru, tertunduk berusaha menghapus air mata. Mereka akhirnya beringsut diam-diam keluar ruangan, memberi kesempatan pada pasangan itu untuk menikmati saat-saat terakhir sebuah drama kehidupan seorang anak manusia.

Hiroaki bersimpuh, setengah terpekur. Kotak warna coklat muda persegi berukuran 30 X 30 cm tergeletak membisu di atas meja persembahyangan. Diangkat dan dikecupnya kotak itu dengan segenap cinta. Di dalamnya terbungkus rapi abu dan tulang belulang jasad Chieko setelah dikremasi.

Ia menghela nafas dan berucap dalam hati:

“Aku harus merelakanmu, Chi chan. Sudah cukup kau menemaniku di alam fana ini. Sudah cukup kau membahagiakanku. Kau tak seharusnya berada di sini terus walau aku tak ingin berpisah denganmu. Besok kan kuantar kau ke peristirahatanmu yang terakhir, tempat yang lebih nyaman untukmu. Aku berjanji untuk datang menemui setiap hari. Aku rasa kita bisa bersama menikmati lagi bunga sakura di tahun depan. Pasti akan lebih cantik, karena kita akan melihatnya di nirwana, Chi chan…”  Hiroaki memejamkan mata, dengan penuh keikhlasan hati yang memenuhi rongga dadanya kini. Di depan sana Chieko tersenyum lembut, lebih indah. Senyum terindah …

(Kitakami, 30 Juni 2011)

 

Berdasarkan kisah nyata.

(Kitakami, 30 Juni 2011)

Catatan:

– Mochi                   : penganan yang terbuat dari beras ketan,biasanya dibakar atau dicampur  dalam miso soup, dimakan saat musim dingin atau semi.

 Salaryman            : pegawai tetap perusahaan

– Kimi ga daisuki    : aku mencintaimu

– Hazukashii           : malu

– Anata mo daisuki : aku juga mencintaimu

– Anata                    : panggilan formal istri pada suami

– Totemo shiawase : sangat bahagia

– Daite                    : peluklah

– Ito shiki hito        : kekasih hati

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,