richardo

richardo


Iringan mobil polisi Rio masih membuntuti di belakang. Suara tembakan masih terdengar bersahut-sahutan. Sampai akhirnya Alan mulai memasuki wilayah De Neiro. Anak buah Ricardo sudah bersiap-siap. Mereka meletakkan beberapa bom di jalan tertentu di sekitar wilayah ini. Bentuknya didesain berwarna hitam sehingga tidak begitu terlihat, apalagi di malam hari. Bom-bom tersebut terhubung dengan sebuah remote control yang sewaktu-waktu bisa diledakkan kapan saja. Remote control itu berada di tangan Ricardo yang duduk santai di mobil Chevroletnya.

 

Ketika itu, sejumlah mobil polisi pun mulai memasuki wilayah De Neiro untuk mengejar Alan. Komplotan Ricardo masih belum melancarkan aksinya, mereka bersembunyi di balik gedung-gedung. Mereka memperhatikan laju kendaraan pasukan polisi itu. Tatkala iring-iringan mobil polisi itu tepat pada posisi bom tersebut, Ricardo menekan tombol remote controlnya. Dan………….

 

“Duuuuaaarrrr… Duuuuuaaaarrr!”

 

Terdengar ledakan bom yang menggelegar. Sejumlah mobil polisi itu melayang, terbalik dan hancur berantakan. Apinya membakar segerombolan mobil bersama pengendaranya. Asap tebalnya membumbung tinggi berwarna hitam pekat. Sementara itu, dari arah belakang terjadi tabrakan beruntun sesama mobil polisi. Suara ledakan masih terdengar berkali-kali. Hampir semua mobil terbalik, terbakar, dan hancur.

 

“Tempo de vingançaaaaaa.[1] Teriak Ricardo senang.

 

Ada beberapa yang selamat, namun komplotan Ricardo segera memberondong mereka habis-habisan. Aksi ini adalah pelampiasan balas dendam atas ulah polisi yang memhabisi rekan bisnisnya di Sao Paulo yang memiliki omset sangat besar. Pembantaian ini juga sebagai pertanda kebangkitan kembali gangster narkoba di kota Rio de Janeiro.

 

Alan hanya menjadi umpan bagi Ricardo. Ricardo sengaja menelpon polisi bahwa ada transaksi narkoba di wilayah Santo Costa. Lalu polisi datang mengejar Alan kemudian menggiring mereka ke wilayah De Neiro. Di wilayah ini telah disiapkan sejumlah bom untuk membunuh pasukan polisi itu.

 

Sementara Alan sendiri tak menyangka jika misi yang dia lakukan adalah sebuah rangkaian pembunuhan terhadap polisi Rio. Mengerikan, kejam dan brutal. Inilah dunia kriminal di Brazil.

 

“Ya Tuhan, maafkan hamba.” Lirihnya berdiri mematung di tengah derasnya guyuran hujan.

 

Malam semakin larut. Pembantaian ini pun berakhir. Gangster Ricardo berangsur meninggalkan wilayah De Neiro.

 

***

 

Komplotan Ricardo tiba di markas. Mereka merayakan keberhasilan malam ini dengan minum bersama. Di meja-meja itu banyak sekali berserakan botol-botol minuman keras. Mereka berpesta atas tewasnya puluhan polisi Rio de Janeiro. Ketika yang lain berbahagia, tapi tidak dengan Alan. Dia memilih banyak diam. Ricardo menangkap gelagat aneh padanya.

“Hey, Alan, kenapa kau hanya diam. Apakah kau tidak senang dengan keberhasilan geng kita?” Tanya Ricardo.

“Mr. Ricardo, kenapa kau tidak bilang di awal bahwa aksi itu adalah skenario pembunuhan?” Protes Alan.

“Hahaha.” Ricardo tertawa lalu meminum satu tegukan.

“Apakah kau hanya ingin menjadikanku sebagai umpan seperti ikan?” Ujar Alan dengan mimik serius.

“Hey, saya tahu kamu adalah driver handal. Maka saya berani pastikan kamu akan berhasil.”

“Saya hanya manusia, Ricardo. Mungkin saja bisa gagal. Saya hampir saja mati saat itu.” Kata Alan melawan.

“Hahaha.”

Tiba-tiba Ricardo mendekati Alan lalu menodongkan pistol ke arah kepalanya. Dia pun mengancam…

“Kamu telah saya selamatkan dari penjara! Kamu juga sudah mendapat fasilitas hidup mewah di sini. So, kamu harus ikut semua aturan di sini. Kamu adalah anak buah saya!” Bentak Ricardo dengan menempelkan pistol di kening Alan.

Alan terdiam tegang. Pistol itu bisa diledakkan kapan saja. Nyawanya sudah diujung tanduk.

“Apakah kamu mau mati, haah!” Ancam Ricardo.

Alan pun pasrah tidak bisa melawan. Dia tak ingin mati malam ini. Lalu perlahan Ricardo melepaskan pistolnya dari kepala Alan.

“Camkan itu, Alan! Jangan coba-coba kabur dari tempat ini. Nyawamu taruhannya!” Bentak Ricardo.

Sementara yang lain hanya diam menyaksikan insiden itu.

***

Bersambung…