Malam sudah larut, sebuah bus baru saja tiba di terminal bus Rio de Janiero. Hujan turun sangat deras saat itu. Kilatan cahaya halilintar diiringi gelegar suara gemuruh membuat malam itu semakin mencekam. Para penumpang satu persatu turun lalu segera meninggalkan terminal karena dijemput oleh kerabatnya. Sementara Alan, seorang pemuda Indonesia, masih berteduh di sebuah bangku kosong seorang diri. Dia menggendong sebuah tas ransel besar. Di dalamnya terdapat, notebook, handphone, dan uang lima ratus dolar. Di sampingnya ada beberapa orang sedang bermain kartu. Mereka sesekali melirik ke arah Alan. Perasaannya semakin tak nyaman saja, jangan-jangan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Alan menghubungi temannya bernama Leo yang sudah berjanji untuk menjemputnya di terminal Rio De Janiero, namun ternyata ponselnya tak aktif.

 

“Duh, kenapa HPnya gak aktif,” gerutunya.

 

Leo mengiming-iming pekerjaan kepada Alan. Entah pekerjaan apa masih belum terlalu jelas. Leo bercerita padanya  tentang kesuksesan dirinya di Brazil. Akhirnya Alan pun memberanikan diri pergi ke negeri samba ini.

 

“Duaaarrrrr”. Suara halilintar itu kembali menggelegar. Alan pun terkaget lalu menyebut asma Ilahi. Dia tak menyangka jadi begini urusannya. Apalagi Brazil terkenal dengan kriminalitasnya yang sangat tinggi. Warga Brazil tidak begitu menaati aturan-aturan negaranya karena memang tingkat kemakmuran rakyatnya masih rendah. Alan mencoba kembali menghubungi temannya namun kembali gagal. Dia kebingungan, ke mana harus pergi. Padahal baru pertama kali dia pergi ke negara ini. Ada beberapa orang bertubuh besar melewatinya. Mereka memandangnya sinis. Mungkin karena wajah Alan agak asing bagi warga Brazil. Terlihat dari kejauhan mereka membawa kayu-kayu balok, batu-batu besar dan ada pula yang membawa senjata tajam. Alan pun semakin gelisah.

 

Setelah mereka berlalu, tiba-tiba terdengar suara keributan di ujung jalan. Ada hentakan batu dan teriakan orang terdengar begitu keras. Ternyata gerombolan tadi terlibat aksi baku hantam dengan gerombolan yang lain. Di tengah guyuran hujan, Alan berdiri menyaksikan mereka saling pukul dan mengejar satu sama lain. Namun tiba-tiba ada satu orang lari ke arahnya. Di belakangnya ada sejumlah orang yang mengejar penuh beringas. Orang itu terluka, sambil berlari dia memegang kepalanya yang mengeluarkan darah segar. Namun tiba-tiba orang tersebut menghampiri Alan lalu memberinya satu bungkus plastik hitam. Lalu pandangan mereka berbalik tertuju pada Alan. Mereka bergegas memburu Alan. Kontan Alan pun segera menghindar lalu berlari tak tentu arah.

 

“Hey, saya gak ikut-ikutan.” Teriak Alan.

 

Mereka tak menghiraukan teriakan Alan. Mereka mengira Alan masih satu komplotan dengan orang-orang itu. Ada dua orang yang berusaha mengejarnya. Dilihatnya ada yang membawa sebilah pisau besar. Alan berlari sekuat tenaga dan sekencang-kencangnya. Dia berbelok masuk dalam satu gang sempit, lalu menengok ke belakang ternyata hanya satu orang yang masih memburunya. Alan pun berhenti berlari. Kemudian berbalik arah lalu memutuskan untuk menghadapi orang tersebut.

 

“Kalau kamu mau plastik hitam ini, ambillah.” kata Alan dengan nafas tersengal-sengal.

 

Orang itu semakin mendekati Alan. Dia berniat menghajar orang itu jika berbuat macam-macam dengannya. “Praaakkkk”, tiba-tiba dari arah belakang ada yang memukul Alan dengan botol. Dia pun jatuh tersungkur, tergeletak lalu tak sadarkan diri. Dua penjahat tadi lalu mengambil plastik hitam tersebut yang ternyata berisi pil ekstasi. Mereka lalu menaruh sedikit ekstasi tersebut ke dalam tas milik Alan. Setelah mengambil semua barang-barang berharga milik Alan lalu dua orang tadi berlalu meninggalkannya.

 

Esok paginya, Alan pun sadar kembali. Dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Dilihatnya ada tiga orang personil polisi yang menjaganya.

 

“Anda kami tangkap karena terlibat kasus jual-beli ekstasi.” Ujar seorang polisi dengan tegas.

“Loh saya ini korban, pak.” Jawab Alan dengan suara lemah.

“Semuanya ada buktinya, di dalam tas anda ada puluhan gram pil ekstasi. Anda pasti pengedar. Apalagi anda warga Negara asing, pasti ada kaitannya dengan jaringan narkoba internasional.”

 

Tubuh Alan pun melemah lalu kembali tak sandarkan diri.

 

***

Bersambung…

 

Tags: , ,