Alan dijebloskan ke dalam penjara karena tuduhan kasus narkoba. Dia difitnah, dunia kriminal Brazil memang kejam. Sudah dianiaya, barang-barangnya dirampok, dijebloskan dalam penjara pula. Sementara penjara di Brazil begitu panas, padat dan mengerikan. Penjara itu bernama Carandiru Prison. Baru saja dia masuk, semua penghuni penjara berteriak bersahut-sahutan sambil memukul-mukul besi pintu sel penjara. Alan dilanda ketakutan luar biasa. Dia terus berjalan menyusuri lorong-lorong sel penjara. Dilihatnya para narapidana di Brazil posturnya besar-besar, kekar, dan berotot. Di sekujur tubuh mereka hampir dihiasi dengan tato-tato yang menyeramkan.

 

“Hey, pendatang baru, kemarilah. Kita bersenang-senang, hahaha.” Salah seorang berteriak mengolok-olok Alan.

“Orang mana kamu, kok beda dengan kami. Nikmatilah hidupmu di penjara Brazil. Hahaha.”

 

Semua penghuni penjara tertawa. Sepertinya mereka akan mendapatkan ‘santapan’ baru. Alan namanya. Dia mungkin akan menjadi bulan-bulanan bagi mereka. Alan tak habis pikir jalan hidupnya bisa tersesat di penjara Brazil. Di mana Leo, dialah biang kerok semua ini. Dia yang membuatnya menderita seperti ini. Kalau saja nanti bertemu, pasti Alan akan menghabisi Leo.

 

Alan ditempatkan di komplek sel khusus terdakwa narkoba. Kebetulan dia berada satu sel bersama bandar-bandar kakap narkoba. Ada Sergio, dia sangat menguasai bisnis ganja di Brazil, Antonio, sang pemilik pabrik ekstasi di Sao Paulo, dan Ricardo, bandar jaringan narkotika di Rio de Janeiro. Begitu Alan masuk, ketiga orang tersebut diam sambil memandang aneh sosok Alan.  Mungkin mereka baru pertama kali melihat wajah yang asing seperti Alan, selain itu postur tubuhnya juga terbilang kecil jika dibandingkan dengan orang-orang Brazil. Alan pun terdiam cemas sambil melayangkan senyum kecut kepada mereka.

 

“Hey, kamu siapa,” Tanya Antonio.

“Sa.. ya… Aaa.. lan.” Jawab Alan gugup.

“Dari mana asal kamu?”

“Hmm, saya dari Indonesia.”

“Apa kasus kamu, jauh-jauh dari Indonesia ke Brazil?” Kini giliran Sergio bertanya.

“Saya dituduh menjual ekstasi, padahal tidak.”

Mereka bertiga serentak tertawa mendengar kepolosan Alan.

“Hahaha, Brazil memang kejam bung, siapa saja bisa jadi korban.” Sahut Ricardo.

“Masuklah! kamu teman kami sekarang.” Ucap Sergio.

 

Alan pun merasa lega.

 

***

 

Suatu ketika Alan sedang mengantri untuk mengambil jatah makan siang. Sebagai penghuni baru, dia juga harus mengambilkan jatah makan untuk ketiga rekan satu selnya. Dia membawa tiga piring dalam dua tangan. Saat Alan sedang berjalan, tiba-tiba ada seorang narapidana yang usil terhadapnya. Dia pura-pura menabrak Alan sehingga piring-piring yang berisi makanan itu jatuh berantakan.

 

“Hey, kamu menumpahkan makanan saya!” Alan seketika marah.

Orang tersebut malah mendekati Alan, mencekik lehernya lalu mengancam.

“Kamu orang Asia jangan banyak tingkah di sini, bisa tamat riwayatmu. Kamu ingin mati, hah!”

 

Alan hanya bisa terdiam. Dia sebenarnya mau melawan, namun dia pikir percuma saja, dia bisa mati konyol nanti. Dia pun kembali ke kamar selnya dengan tangan hampa. Ricardo menanyakan dimana jatah makan siangnya. Lalu Alan pun menceritakan kronologis sebenarnya. Lalu dia bersama dua temannya segera mendatangi sang pelaku yang menabrak Alan itu. Ricardo yang mempelopori menghajar orang tersebut. Lalu diikuti oleh Antonio dan Sergio. Sang pelaku akhirnya babak belur, menyerah dan minta maaf karena tidak mengetahui bahwa makanan yang dibawa orang Indonesia itu adalah milik mereka.

 

***

 

Malam itu Alan tak bisa tidur. Dia sangat terganggu dengan suara-suara ribut dari para penghuni sel yang lain. Sungguh hidup di penjara sangat menjemukan baginya. Tiga temannya yang lain telah tertidur. Alan mengambil air wudhu ke toilet lalu mendirikan shalat di dalam penjara. Tak sengaja Sergio terbangun sejenak lalu melihat Alan yang menurutnya sedang melakukan gerakan-gerakan aneh.

 

“Hey, apa yang kamu lakukan,” Tanya Sergio agak terkejut.

“Saya sedang sembahyang, Sergio.” Jawab Alan.

“Sembahyang macam apa itu, kau bersujud kepada tembok?”

“Saya bukan bersujud pada tembok, saya bersujud pada Tuhanku.” Terang Alan.

“Hmm, ritual yang aneh.” Gumam Sergio lalu kembali tidur.

 

Keadaan kembali sunyi, pikiran Alan melayang jauh ke tanah kelahirannya di Indonesia. Dia teringat dengan keluarganya, mungkin mereka sangat khawatir dengan kondisi dirinya sekarang yang tak jelas kabar beritanya. Namun Alan tak bisa banyak berbuat, sel-sel jeruji besi membuatnya tersandera di negeri yang dikenal dengan hutan amazonnya itu. Sebenarnya Alan adalah seorang petualang sejati. Sewaktu masih sekolah, dia bersama teman-temannya hobi berpetualang ke berbagai kota besar seperti Yogyakarta, Bali, Lombok, dan lainnya, tanpa bekal sedikit pun. Dia dan teman-temannya hanya berbekal nekat. Ketika tak ada uang, dia punya cara jitu, yaitu mengamen di jalanan.

 

Jika berpetualang, biasanya Alan menggunakan mobil omprengan, seperti truk dan kontainer. Dia juga suka naik kereta api, tapi lagi-lagi dia tidak mau membayar untuk membeli tiket. Suatu ketika, Alan pernah ketahuan tak memiliki tiket. Dia pun langsung diusir dari kereta itu lalu disidang oleh petugas keamanan di stasiun. Dia kena denda dengan membayar dua kali lipat harga tiket. Tapi Alan dan teman-temannya tidak mau membayar. Bukan apa-apa, mereka memang tidak punya uang sepeser pun. Akhirnya para petugas stasiun pun terpaksa membebaskan anak-anak ingusan itu. Mereka nampak kesal sekali dengan perilaku Alan dan kawan-kawannya. Tapi kini, Alan tak menyangka jika petualangannya kali ini berakhir di penjara Brazil, jelas ini mimpi buruk baginya.

 

Saat Alan sedang dalam lamunan, tiba-tiba terdengar suara alarm yang sangat keras. Keadaan penjara menjadi gaduh. Ini tandanya penjara dalam keadaan darurat. Ketiga rekannya pun terbangun. Menurut Sergio, biasanya dalam kondisi seperti ini ada sejumlah napi yang melarikan diri keluar dari penjara. Para penghuni penjara pun berteriak bersahutan. Tak lama kemudian pintu-pintu sel penjara terbuka secara otomatis, semua penghuninya pun keluar berhamburan. Alan diajak Antonio, Sergio dan Ricardo untuk segera kabur dari tempat jahanam ini.

 

“Ayo, kawan, kamu ikuti kami. Kita akan segera bebas dari neraka ini.” Ajak Antonio.

 

Mereka berempat melewati lorong-lorong bawah tanah yang gelap gulita bersama sejumlah narapidana lain. Alan hanya bisa mengikuti rekan-rekannya itu. Sampai akhirnya mereka bisa keluar dari lorong-lorong itu dan bisa menghirup alam bebas. Di sana ternyata sudah menunggu sebuah mobil truk besar untuk membawa para narapidana yang kabur. Saat hendak memasuki mobil, tiba-tiba terdengar tembakan senjata mesin dari arah atas.

 

“Dooor… Dooor!”

 

Semuanya lari merunduk dan menghindar. Tapi naas, Sergio terkena tembakan di bagian kaki kirinya.

 

“Aaaah!”.

 

Dia terjatuh dan berteriak histeris. Untungnya Antonio dan Ricardo sigap langsung memapah Sergio ke arah mobil. Sementara berondongan senapan mesin masih mengincar mereka. Mobil truk itu pun segera melaju kencang, semakin lama semakin jauh meninggalkan penjara laknat itu.

 

***

Bersambung..

 

Tags: , , , ,