Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, mobil truk besar itu berhenti di pinggir Teluk Guanabara. Semua penumpang turun satu-persatu. Sementara Sergio berjalan terpincang-pincang. Dia cukup banyak kehilangan darah. Di sampingnya telah menunggu sebuah mobil Ferrari 250 GTO berwarna merah cerah. Ada seorang pria berjaket hitam tinggi besar menyambut ketiga bandar kakap narkoba itu.

 

“Semua berjalan sesuai rencana bos.”

“Bodoh kamu! Misimu tak sempurna, lihatlah satu kawanku tertembak.” Jawab Ricardo.

“Sorry bos, itu di luar dugaan. Kami tak tau kalau masih ada penjaga yang belum dilumpuhkan. Ok, nanti saya urus kawan bos itu.”

“Ah, sudah jangan banyak ngomong! Ayo kita pergi dari sini. Hey, Alan, ayo kamu juga ikut dengan kami.” Ajak Ricardo.

 

Bagi Ricardo, Alan adalah prospek yang besar bagi bisnis narkobanya ke depan. Dia bisa melebarkan kekuasaannya hingga ke Indonesia. Apalagi Indonesia termasuk dalam negara teratas dalam bisnis barang haram ini.

 

“Sorry, Ricardo, sepertinya sayaaa….” ucap Alan seperti hendak menolak.

Come on Arif, memang kamu mau pergi kemana. Mau jadi gelandangan di Brazil. Negeri ini keras kawan. Lebih baik kamu ikut kami.”

 

Alan terdiam sejenak berpikir. Dia melihat kondisi dirinya sekarang semakin tak jelas, dia sebenarnya mau mencari temannya, Leo, tapi dia tak tahu di mana temannya itu sekarang. Sedangkan saat ini dia tak memiliki apapun, semua barang dalam tasnya telah raib dirampok. Alan pun terpengaruh oleh bujuk rayu Ricardo. Akhirnya dia memutuskan untuk ikut bersama gerombolan pengedar itu.

 

“Baiklah Ricardo, saya ikut bersama kalian.”

 

Alam masih gelap. Mobil itu mulai melewati panjangnya jembatan Rio-Niteroi Bridge. Panoramanya cukup indah dengan titik-titik cahaya kecil terlihat dari kejauhan. Mobil itu menembus keramaian Kota Rio de Janeiro. Dunia malam kota ini begitu mengerikan. Sepanjang perjalanan Alan menyaksikan beberapa insiden peperangan yang terjadi di jalanan kota. Mereka perang bukan lagi menggunakan batu atau pun kayu, tapi mereka terlihat membawa senapan laras panjang dan pistol. Mereka adalah para gengster yang berperang dengan geng lainnya, atau pun antara gengster dengan polisi Rio de Janeiro. Ya, polisi di Brazil memang harus bekerja lebih keras, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Alan jadi berpikir, betapapun banyaknya kejahatan di Indonesia, tapi masih tidak terlalu parah seperti yang terjadi di Brazil.

 

Mereka akhirnya tiba di salah satu pemukiman kumuh di pinggiran Rio De janeiro. Para warga menyambut gembira begitu melihat kedatangan tiga gembong narkoba itu. Mereka mengelu-elukan Sergio, Antonio, dan Ricardo yang telah lama meninggalkan daerah ini.

 

“Estou de voltatempo de vingançaaaaaa!”[1] Ricardo berteriak menyambut pengikutnya.

“Yeaaaah! Waktunya pembalasan!” Semua orang pun berteriak, bergemuruh sambil mengacung-acungkan senjata mereka. Semua orang mendekati mereka bertiga untuk memberi selamat.

Hey, Ricardo, o que você está?”[2] Tanya seorang berkulit hitam berambut gondrong.

“Como eu estava fazendo o bem, hahaha.”[3]

“Hey, siapa di sampingmu itu?”

“Oh, dia orang Indonesia, Alan namanya. Dia kawan kita sekarang.”

“Hai buddy, kenalkan saya Robert.” Orang itu mengenalkan dirinya.

“Saya Alan, senang mengenalmu, Robert.” Ujar Alan dengan sedikit tersenyum.

 

Alan mengira pemukiman kumuh ini mungkin memang markas bagi para gengster narkoba. Semua warga satu suara menyambut senang datangnya begundal narkoba seperti Sergio, Antonio, dan Ricardo. Ini gila bagi Alan. Bagaimana mungkin semua orang dalam satu pemukiman menyetujui bisnis gelap ini. Tapi ini Brazil bung, semuanya bisa saja terjadi.

 

Di tengah pemukiman kumuh itu ada sebuah rumah besar yang cukup megah. Rumah itu dikelilingi oleh pagar besi yang kokoh. Alan diajak masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah itu memiliki tiga lantai. Di lantai satu terlihat seperti rumah biasa, hanya ada barang-barang property seperti kursi, TV, meja, dan semacamnya. Tapi ternyata rumah itu memiliki lantai bawah tanah. Alan melihat Ricardo dan komplotannya turun ke tangga bawah tanah. Alan tak ikut masuk ke dalam ruang rahasia itu. Sepertinya ruangan bawah tanah itu adalah gudang narkoba yang mereka miliki.

 

Saat Alan sedang duduk di kursi sofa depan, dia melihat seorang gadis cantik masuk ke dalam rumah tersebut. Namanya Jennifer. Dia memiliki wajah cantik khas Amerika Latin, putih dan tinggi semampai. Dia berlalu begitu saja melewati Alan. Namun karena Jennifer baru melihat sosok Alan, apalagi wajahnya tidak seperti orang Brazil pada umumnya. Dia pun berbalik menyapa Alan.

 

“Hey, kamu siapa?”

“Hmm, saya Alan, rekannya Mr. Ricardo.” Jawab Arif mencoba tenang.

“Oh ya, Dia ayahku.”

“Ok. Aku mau ke atas dulu. Bye…”

“Eh, siapa namamu?” Tanya Alan.

“Jennifer.” Jawabnya sambil berlalu.

 

***

 

Mentari mulai muncul di langit Brazil. Cahayanya yang menguning indah menembus masuk ke dalam kaca-kaca di rumah besar milik Ricardo.  Alan menikmati pemandangan indah itu dari balik jendela yang berada di lantai tiga. Dia sudah menunggu mentari itu dari semenjak subuh. Sentuhan hangatnya tak jauh beda dengan matahari yang ada di Indonesia. Maklum, keduanya sama-sama memiliki iklim tropis. Lalu Alan kembali merenung sejenak mengenai jalan hidupnya saat ini. Apakah dia sanggup mempertahankan idealismenya di negeri penuh dengan aksi kriminal ini. Dia sangat khawatir dirinya akan terseret masuk bersama komplotan Ricardo. Mungkinkah dirinya akan menjadi pecandu, bahkan pengedar? Ya, sangat mungkin. Kalau benar itu terjadi, itu adalah bencana besar dalam hidupnya.

 

Dia lalu teringat kembali dengan keluarganya di Indonesia, tepatnya di daerah Bandung. Bagaimana keadaan mereka sekarang. Siapakah yang membiayai adik-adiknya sekolah. Padahal dirinyalah seharusnya menjadi tumpuan harapan keluarga. Dialah anak laki-laki paling besar dalam keluarganya. Sementara ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

 

Dulu, Alan kerap kali tidak menuruti kemauan ayahnya. Dia pernah disuruh ayahnya untuk masuk ke pondok pesantren, namun Alan menolak. Dia tak begitu suka dengan dunia santri, dia menginginkan hidup bebas. Alan juga sering memakai mobil ayahnya tanpa izin. Parahnya, mobil ayahnya itu digunakan untuk adu balap atau trek-trekan bersama teman-temannya. Biasanya ajang balapan ini dilakukan di waktu tengah malam ketika jalanan sudah sepi dari kendaraan. Sering pula mobil ayahnya itu mengalami lecet gara-gara insiden kecil dalam balapan. Kalau sudah begitu, Alan akan diceramahi habis-habisan oleh sang ayah di rumah.

 

Namun kini, ayahnya telah tiada. Alan ingat betul ketika dia menyaksikan detik-detik menjelang ayahnya meninggal. Dia duduk di samping ayahnya sambil melantunkan do’a agar ayahnya cepat sembuh. Dalam keadaan seperti itu, ayahnya pernah berpesan kepadanya untuk menyempatkan diri masuk pondok pesantren, meski cuma sebentar. “Ini untuk kebaikanmu sendiri, Alan. Ayah sangat sayang padamu.” Ucap ayahnya pelan saat itu. Kali ini, Alan menuruti keinginan ayahnya itu. Dia berjanji akan masuk ke pondok pesantren. Tak berapa lama kemudian, ayahnya pun meninggal. Alan pun menepati janji kepada ayahnya itu. Dia menjadi seorang santri, walaupun hanya enam bulan lamanya.

 

Alan terhenyak dari lamunannya. Dia berjalan keluar untuk menghirup udara segar. Di samping kamar itu ada kolam renang yang cukup luas. Airnya terlihat jernih kebiru-biruan. Dia menyentuh air itu perlahan-lahan. Air itu masih cukup dingin. Lalu dari arah belakang tiba-tiba ada yang menyapanya.

 

“Hey, Alan, ayo kita berenang.” Jeniffer berjalan menghampiri Alan dengan hanya mengenakan pakaian renang yang minim.

 

Alan seketika terkejut melihat pemandangan itu. Dia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Jennifer pun bingung dengan tingkah Alan.

 

“Kenapa kamu? Apakah saya seperti hantu?”

“Oh, tidak, jelas kamu manusia Jenni, bahkan kamu manusia yang sangat cantik. Tapi orang Indonesia tidak terbiasa melihat pakaian seperti yang kamu pakai itu.”

“Oh ya? So, what’s wrong?” Tanya Jennifer penasaran.

“Wanita Indonesia terbiasa memakai pakaian yang rapi dan tertutup.” Kata Alan menjelaskan.

“Oh, kalau budaya di Brazil memang seperti ini. Ini sangat biasa dan tak ada yang aneh.”

“Baiklah, saya masuk kamar dulu, Jenni.” Alan menghindar pergi.

“Hmm, budaya yang aneh.” Gumam Jennifer dalam hati.

 

***

Bersambung…

 

Tags: ,