Alan duduk santai di kursi kamar lalu menyalakan televisi. Dia mencari chanel berita berbahasa Inggris. Setelah beberapa saat berpindah-pindah chanel, dia pun menemukan acara berita pagi berbahasa Inggris di stasiun CNN. Dalam berita itu ada informasi menarik mengenai penangkapan gembong narkoba di Sao Paulo yang memakan puluhan korban jiwa. Dalam penyergapan itu, petugas berhasil menangkap 30 orang, 5 di antaranya adalah polisi, dan 2 dari 5 polisi itu termasuk petinggi polisi yang ada di Sao Paulo. Dalam penggrebekan itu memakan 15 korban jiwa. Informasi ini sangat mengerikan bagi Alan. Bagaimana jika penggrebekan itu terjadi di rumah ini? Mungkin dia bisa mati konyol.

 

Telepon rumah di kamar Alan berdering. Dia segera mengangkatnya. Ricardo menyuruhnya untuk turun ke lantai satu. Ada beberapa hal yang akan dibicarakan oleh komplotan narkoba tersebut. Alan pun segera turun. Di sana telah menunggu Ricardo, Sergio, Antonio, Robert dan komplotannya yang lain.

 

To the point, tadi malam saya dapat kabar bahwa kawan kita di Sao Paulo telah dihabisi oleh polisi setempat.” Kata Ricardo.

“Oh, ya?” Tanya Antonio penasaran.

“Kekalahan mereka disebabkan jumlah polisi yang menyerbu sangat banyak. Dengan senjata yang lengkap pula. Ini harus menjadi perhatian serius buat kita semua.”

 

Alan menyimak serius pembicaraan Ricardo. Dia tak menyangka jika gembong narkoba yang diberitakan di televisi itu adalah teman Ricardo. Ini sungguh bahaya. Pasti dalam waktu dekat ini, polisi juga akan menyerbu markas Ricardo. Itu artinya, dirinya juga akan menjadi korban.

 

“Saya baca berita itu di televisi tadi pagi, Mr. Ricardo. 15 orang yang meninggal” Ucap Alan ikut dalam pembicaraan.

“Tapi jangan khawatir, daerah kita di sini sangat kuat. Kalau ada yang macam-macam ke sini kita habisi mereka.” Ujar Sergio.

“Yeah, polisi Rio de Janeiro tidak dapat berbuat banyak di sini.” Kata Robert.

 

Beberapa saat kemudian, Jennifer muncul kemudian mendekati ayahnya.

“Ayah, bisakah kau temani aku ke kampus?” Ujar Jennifer.

“Ayah sedang sibuk, sayang.”

“Ayolah, ayah.” Desaknya dengan suara manja.

“Hmm, kamu, Alan, bisa temani anakku ke kampus?”

 

Alan kelihatan gugup. Dia agak grogi untuk menemani gadis cantik seperti Jennifer. Apalagi dia belum terlalu akrab dengan putri Ricardo itu. Dia khawatir Jennifer masih marah akibat kejadian di kolam renang tadi.

 

“Alan….” Ricardo kembali memanggil Alan.

“Ok, Mr. Ricardo.” Jawab Alan agak gugup.

“Bagus, jaga Jennifer baik-baik. Pakai saja mobilku yang di parkiran depan itu.”

Yup, Thanks sir.” Jawab Alan.

 

Alan pun berlalu bersama Jennifer. Mereka berdua berjalan keluar lalu segera menuju tempat parkiran. Di sana terdapat berbagai koleksi mobil milik Ricardo, di antaranya ada mobil Toyota Camry 2012, warnanya hitam mengkilap, ada Chevrolet Silverado 2500 HD berwarna silver dengan style yang gagah, ada pula Ferrari 250 GTO yang desain modern ala mobil balap. Mobil yang terakhir itu pernah dinaiki Alan ketika kabur dari penjara.

 

“Kamu mau naik mobil yang mana, Jenni? Banyak sekali mobil di sini.” Kata Alan takjub.

“Kita naik Chevrolet yang warna silver itu, I like it.”

“Ok.” Kata Alan sembari berjalan menuju mobil tersebut.

 

***

 

Mobil itu bergerak cepat melewati jalan José Higino menuju Extra-Maracanã Mall. Kata Jennifer, tempat itu adalah fashion mall yang banyak sekali menyediakan mode baju terbaru. Harganya juga terbilang elit, mungkin hanya bisa dijangkau oleh masyarakat menengah ke atas. Di saat Arif sedang asyik menyetir, seketika Jennifer bertanya.

 

By the way, kenapa kamu bisa sampai di Brazil, Alan?”

 

“Hmm, awalnya saya ditawari pekerjaan oleh kawan saya di kota ini. Namanya Leo. Dia bisa dibilang sudah sukses hidup di Brazil. So, saya memberanikan diri datang ke kota ini. Dia janji bakal menemui saya kalau sudah sampai di Rio.

“So, terus?” Jennifer agak penasaran.

 

“Ketika saya sudah sampai di kota ini, kawan saya ini tak bisa dihubungi. Ponselnya tak aktif. Lalu saya terdampar di terminal Rio.  Sampai akhirnya saya dirampok. Barang-barang dan uang saya habis dibawa kabur. Tak hanya itu, saya pun dituduh menjual ekstasi. Padahal itu ulah si perampok menaruh ekstasi di tas saya.” Terang Alan cukup serius.

 

“Bagaimana kamu bisa bertemu dengan ayah saya?” Jennifer kembali bertanya.

“Di penjara, saya satu sel dengan dia.”

Oh my God, what a pity you are.” Jennifer menyindir Alan.

“It’s just my adventure, Jenni. I’m happy.”

“Yeaaah… Aventura…” Ucap Jenni.

“Apa itu Aventura?” Tanya Alan.

“Aventura itu bahasa kami. It means adventure.” Jelas Jennifer.

“Hmm.”

 

Alan pun mengangguk mengerti. Lalu keduanya terdiam dalam lamunan masing-masing. Saat itu, mobil yang dikemudikan Alan melaju kencang melewati sebuah perempatan yang memiliki rambu lampu merah. Saat mobilnya melintas, lampu itu masih dalam keadaan hijau, namun ketika baru melewati garis batas sedikit saja lampu sudah berubah berwarna merah. Karena tanggung, Alan pun meneruskan laju mobilnya semakin cepat. Di pinggir jalan terlihat ada polisi lalu lintas memberi sinyal bahwa mobilnya ditilang. Namun Alan tak menghiraukan itu lalu berlalu begitu saja. Polisi lalu lintas itu segera mengejar mobilnya.

 

Oh, shit! Kita mendapat masalah baru.” Kata Jennifer.

 

Alan pun menginjak pedal gasnya lebih kencang. Dia menyalip sejumlah mobil agar bisa lolos dari kejaran polisi. Suara sirene terdengar sangat keras di belakangnya. Alan berbelok ke arah jalan yang lebih sepi. Namun mobil polisi itu masih mengikutinya, malah semakin lama semakin banyak.

 

Come on, Alan, kita menangkan permainan ini!” Jennifer memotivasi.

“Permainan?! Ini gawat Jenni.” Gumamnya menggerutu.

 

Alan pun jadi tertantang ingin membuktikan bakat balapnya kembali. Ketika di Bandung, Alan adalah langganan masuk podium dalam kompetisi balapan liar. Dan saat ini, dia harus menguji skillnya di kota Rio de Janeiro. Alan membawa mobilnya kembali ke jalan raya yang cukup ramai. Mobilnya berbelok dan menyalip layaknya sedang bermain racing car di playstation 3. Dia pun mulai menikmati permainan ini. Sampai akhirnya Alan melihat ada barisan parkir mobil di pinggir jalan. Dilihatnya ada satu ruang kosong di antara mobil-mobil itu yang kelihatannya cukup untuk satu mobil. Alan pun langsung mengerem mendadak sambil berputar masuk ke dalam satu ruang kosong itu. Mobilnya terlihat diam seperti mobil-mobil yang sedang parkir lainnya. Iringan mobil patroli polisi itu berlalu begitu saja. Sepertinya mereka kehilangan jejak mobil Alan.

 

That’s cool, Alan.” ucap Jennifer kagum dengan aksi Alan.

I beat you.” Kata Alan meluapkan kemenangannya.

 

Keduanya pun tertawa bersama. Setelah melihat keadaan sudah aman, Alan dan Jennifer melanjutkan perjalanan mereka ke kampus Jennifer. Jennifer menyuruh Alan untuk mengganti plat nomor mobil yang bisa diubah secara otomatis agar tidak lagi dideteksi oleh polisi lalu lintas itu. Mobil Chevrolet milik Ricardo sungguh keren.

 

“Hey, apakah kamu tahu di mana komunitas orang Asia di Rio.” Tanya Alan meneruskan obrolannya.

“Hmm, di mana ya? Oh ya, saya pernah mengunjungi satu tempat di Givea. Di sana banyak orang Asia. Ada dari China dan Jepang. Tapi ada juga dari mereka berwajah Arab.” Jawab Jennifer.

“Oh, ya?”

“Para lelakinya biasanya berjenggot, sementara wanitanya memakai jubah. Mereka menutupi semua tubuhnya kecuali kedua telapak tangan dan wajahnya.”

 

Alan akhirnya mendapat kabar gembira. Di tengah negeri antah-berantah ini masih ada komunitas Muslim yang bisa bertahan. Mudah-mudahan suatu saat nanti Alan bisa bertemu dengan mereka.

“Baiklah Alan, kita hampir sampai di Universitas Federal do Rio de Janeiro. Pelanlah kita akan berbelok lalu masuk ke dalam.” Kata Jennifer.

“Baik, Nyonya Jennifer.” Jawab Alan sedikit bercanda.

Mobil itu berhenti di tempat parkir kampus.

 

Universitas Federal do Rio de Janeiro adalah salah satu universitas federal terbesar di Brasil, di mana perguruan tinggi negeri mayoritas terdiri dari lembaga-lembaga terbaik dan paling berkualitas. Universitas ini pertama kali didirikan pada tanggal 7 September, 1920 oleh Presiden Epitácio Pessoa. Awalnya Universitas ini bernama Universidade do Rio de Janeiro. Ia kemudian diganti sebagai Universidade do Brasil, pada tanggal 5 Juli 1937. Pada tanggal 17 Desember 1945, Universitas mencapai status otonomi penuh di bawah Brasil Departemen Pendidikan . Pada tahun 1965 itu diubah namanya menjadi Universitas Federal Rio de Janeiro.

 

“Alan, apakah kau tidak ingin ikut masuk?” Ajak Jennifer sambil membuka pintu mobilnya.

“Oh, ku kira tak usah Jenni. Lebih baik aku menunggu di luar saja.” Kata Alan dengan masih memegang stir mobil.

“Hmm, baiklah. Lebih baik kamu menunggu di kafe sebelah sana.” Kata Jennifer menunjuk suatu tempat. “Aku akan kembali secepatnya jika urusanku selesai.”

“Ok, berapa lama, Jenni?”

“Ya, sekitar setengah jam-an.”

“Baik, aku menunggumu di kafe ya.”

“See you soon.”

Jennifer pun bergegas berlalu memasuki sebuah ruangan di kampus universitas Federal do Rio de janeiro.

 

***

Bersambung..

 

Tags: ,