Alan berjalan memasuki sebuah kafe. Dia duduk di dekat jendela sambil memandang kendaraan yang berlalu-lalang. Seorang pelayan mendekatinya lalu menawarkan daftar menu makanan. Alan memesan satu paket stik kentang beserta kopi susu cream. Dia melihat sebuah majalah terbitan Universitas Federal yang tergeletak di atas meja. Dia pun segera mengambilnya lalu membaca beberapa halaman, Alan menemukan sebuah artikel yang cukup menarik perhatiannya. Artikel itu berjudul “Terorisme Atas Nama Agama” ditulis oleh Michele Johnson, seorang dosen di kampus tersebut.

 

Ia menulis, “Akhir-akhir ini saya kira hubungan dialog antar agama semakin hari semakin memburuk saja. Tidak ada lagi keharmonisan, tidak ada lagi kedamaian, semuanya diliputi dengan kekerasan, terror, dan peperangan. Sungguh sangat mengerikan. Dan tragedi yang paling dahsyat di abad ini adalah runtuhnya gedung World Trade Cantre (WTC) yang dilakukan oleh sekelompok teroris Arab.

 

Melihat sejarahnya di masa lalu, penyebaran agama orang Arab memang dilakukan dengan menghunus pedang. Memaklumatkan perang terhadap non Muslim manapun. Sebab memerangi non Muslim adalah sebuah kewajiban agama yang bernilai ibadah. Maka Islam kemudian mencatat kesuksesan setelah melakukan aksi-aksi militernya. Peningkatan angka komunitas Arab-Muslim merupakan kenyataan dari kemenangan perang dan pemaksaan warga penaklukan untuk mengikuti seruan Islam.

fitnah

fitnah

Pedang Islam berhasil menundukkan satu persatu penduduk yang menghuni wilayah Afrika dan Asia. Memang sejarah Islam adalah rentetan-rentetan menakutkan, penuh dengan adegan pertumpahan darah, perang, dan pembantaian. Muhammad menjanjikan mereka yang gugur dalam perang dengan kesenangan abadi. Muhammad memerintahkan kepada pengikutnya mengislamkan seluruh dunia dengan pedang.”

 

Alan cukup terkejut dengan artikel Michele Johnson. Naluri berpikir kritisnya kembali muncul. Bagaimana tidak, secara serampangan ia menuduh pelaku pemboman menara kembar WTC adalah teroris Arab. Karena dunia Arab adalah mayoritas Muslim, maka secara tidak langsung, Michele Johnson telah mengeneralisir bahwa kaum Muslim adalah teroris. Dia sangat tahu bahwa apa yang dikemukakan oleh penulis itu hanya fitnah besar. Alan adalah pemuda yang hobi membaca, dia telah mengamati berbagai artikel di media yang menganalisa tentang bom 911 yang menghancurkan gedung WTC. Benarkah Gedung WTC di New York hancur akibat hantaman pesawat? Apakah mungkin gedung yang disangga baja itu meleleh hanya karena api? Mengapa jet-jet tempur AS tidak mengudara? Siapa sesungguhnya dalang di balik Tragedi 11 September? Apa kepentingan Washington dan Pentagon? Apa kaitannya dengan kepentingan energi di beberapa dekade mendatang. Bagaimana nasib dunia Islam?

 

Alan mendengar banyak pendapat dari berbagai kalangan bahwa tragedy 911 adalah sebuah konspirasi jahat Amerika dan sekutunya. Di antara tokoh-tokoh yang menganalisa tragedi itu di antaranya, pertama, Prof Dr Morgan Reymonds (guru besar pada Texas University, USA) menyatakan ”Belum ada bangunan…baja…ambruk hanya… oleh kobaran api”. Kedua, Michael Meacher (mantan Menteri Lingkungan Inggris, 1997 – 2003) berpendapat ”…perang melawan terorisme dijadikan tabir kebohongan guna mencapai tujuan-tujuan strategis geopolitik AS”.

 

Ketiga,Prof Dr Steven E Jones (guru besar fisika pada Birgham Young University, USA) membeberkan hasil risetnya ”…bahan-bahan peledak telah diletakkan…di bangunan WTC”. Profesor Steven E. Jones dari Brigham Young University, Utah, yang melakukan penelitian dari sudut teori fisika mengatakan bahwa kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin Tower serta gedung WTC hanya mungkin terjadi karena bom-bom yang sudah dipasang pada bangunan-bangunan tersebut. Teori fisika Jones tersebut tentunya sangat bertentangan dengan hasil penelitian FEMA, NIST dan 9-11 Commision bahwa penyebab utama keruntuhan gedung-gedung tersebut adalah api akibat terjangan pesawat dengan bahan bakar penuh.

 

Pernyataan Michele Johnson yang mengatakan Islam disebarkan dengan pedang adalah kesimpulan yang berlebihan dan tidak bercermin pada sejarah. Alan pernah mendengar ceramah dari kyainya dulu di pesantren bahwa Allah tidak mensyariatkan jihad untuk melakukan islamisasi umat manusia. Sebab pemaksaan tidak akan pernah membangun sebuah keyakinan. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (QS. Al Baqarah: 256) Islam tidak pernah memaksa seseorang memeluk agama yang tidak diyakininya dan sangat menjamin kebebasan beragama. Jika benar tuduhan bahwa dalam penebarannya Islam menggunakan pedang, tentu tidak akan ditemukan istilah “jizyah” atau “dzimiyyun”.

 

Jizyah merupakan keharusan bagi non Muslim yang enggan memeluk Islam. Adanya jizyah tidak lain untuk kepentingan dan manfaat bersama seperti halnya kewajiban zakat yang dibebankan kepada kaum Muslim. Setelah menunaikan jizyah, mereka memiliki kebebasan penuh untuk melaksanakan ajaran agamanya masing-masing. Bahkan kata Nabi SAW, “Sesiapa yang menyakiti seorang dzimmi, ia akan berhadapan denganku.” (HR. al khathib) Sabda ini merupakan teks yang secara tegas menyatakan pelarangan terror terhadap non Muslim.

 

Sementara opini yang berkembang bahwa kaum Muslim mengggunakan pedang dalam proyek islamisasinya, bagi Alan, tidak lain sekedar isu murahan yang dijajakan para pembenci Islam. Dulu, penduduk Romawi tidak dihadapkan pada pilihan pedang atau Islam. Melainkan pada Islam atau jizyah. Langkah ini kemudian diadopsi oleh pemerintah Inggris di masa Ratu Elizabeth.

 

Di Indonesia, kita tidak pernah mendengar pasukan tentara Arab yang memaksa rakyat Indonesia masuk Islam. Demikian pula di China, Malaysia, India, dan lainnya. Padahal saat ini di sana, secara kuantitas umat Islam cukup banyak. Bahkan belakangan ini, Islam semakin tersebar ke Amerika dan Eropa, nah kita boleh bertanya tentara Muslim mana yang menyebarkan Islam dengan pedang ke Negara-negara itu. Karena dalam penyebarannya, Islam menggunakan pendekatan rasional dengan memaparkan bukti dan alasan riil. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. Al Nahl: 125)

 

Saat sedang menyimak serius majalah itu, tiba-tiba ada seorang pria menghampiri Alan. Dengan tersenyum dia berkata, “Maaf, saya mau mengambil kembali majalah saya. Tadi tertinggal di sini.”

 

Seketika Alan kaget lalu memandang wajah pria tersebut.

“Oh, silakan. Apakah ini milikmu?” Kata Alan lalu segera menyerahkan majalah tersebut.

“Yup, thanks.”

Setelah mengambil majalahnya, pria itu pun berlalu pergi. Alan tak habis pikir, fitnah terhadap Islam ternyata sudah tersebar di mana-mana. Termasuk di negeri para mafia ini. Tak bisa dibiarkan, dia harus menanyakan hal ini kepada Jennifer. Apakah memang di kampusnya diajarkan paham kebencian kepada Islam. Tak lama kemudian, dari balik kaca terlihat Jennifer sedang berjalan ke arahnya.

 

“Hey, Alan. Sorry, aku agak lama ya?”

“Tak apa, Jenni.” Kata Alan. “Hmm, apakah kau tak mau minum dulu?”

“Yup, sepertinya aku sedang haus.” Ucap Jennifer lalu duduk di depan Alan.

 

Jennifer memanggil pelayan lalu memesan minuman Cocacola dan roti sandwich. Sementara Alan sedang asyik menikmati stik kentangnya.

 

Alan tidak mau menunda lama rasa penasarannya setelah membaca artikel dari majalah kampus itu. Dia ingin menanyakan langsung kepada Jennifer soal tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepada Islam.

 

“Jenni, apakah di kampusmu kerap kali ada diskusi tentang agama-agama?”

“Hmm, sepertinya iya. Tapi menurutku sih agama tidak terlalu penting. Kita hidup di dunia ini hanya sekali. So, nikmatilah hidup ini. Aku gak mau terkekang oleh agama.” Kata Jennifer dengan santai.

 

Dahi Alan berkerut sesaat. Alan cukup terperangah mendengar perkataan Jennifer. Ternyata gadis yang berada di depannya ini seorang yang anti agama. Sungguh sangat disayangkan. Padahal agama adalah petunjuk bagi umat manusia agar tidak tersesat dalam mengarungi kehidupan, sekaligus juga sebagai sarana meraih kebahagiaan di dunia dan hari nanti.

 

“Jenni, aku adalah seorang beragama, namun aku tidak merasa terkekang.” Kata Alan dengan menatap serius wajah Jennifer.

“Benarkah? Ku kira dengan beragama kita harus menaati berbagai aturan yang sangat mengganggu waktuku. Seperti gak boleh ini, gak boleh itu, harus begini dan harus begitu. Sungguh sangat membosankan.” Sahut Jenni enteng lalu menyeruput Cocacola yang berada di depannya.

 

Alan harus berpikir keras, bagaimana seharusnya menjawab komentar Jennifer. Dia harus berusaha menahan emosi, jangan sampai perkataannya semakin kacau. Untuk orang yang masih belum mengenal agama seperti Jennifer, dia memang harus lebih bersabar untuk membimbingnya secara bertahap. Baru saja ingin menjawab pendapat Jennifer, Alan mendapat panggilan telepon dari Ricardo.

 

“Hello, Mr. Ricardo.”

“Alan, kamu di mana? Segera kembali ke markas. Kita mau ada misi penting.”

“Saya bersama Jennifer. Ok, sir, saya segera ke sana.”

“Jenni, saya dapat telepon dari ayahmu. Kita disuruh kembali ke markas segera. Katanya ada misi penting.” Kata Alan lalu bersiap untuk pergi.

“Misi penting apa?” Tanya Jennifer.

“Saya tidak tahu persis. Ayo kita berangkat.”

 

Mereka pun segera melangkah ke arah parkir mobil untuk kembali ke markas. Mobilnya melaju kencang melewati rute yang sama ketika berangkat. Alan nampak fokus dengan kemudinya, sementara Jennifer sedang asyik bersama ponselnya. Saat melewati lampu merah, Alan mempunyai ide untuk menjawab komentar Jennifer tentang agama.

 

Dia berkata, “Jenni, bagaimana pendapatmu jika tidak ada lampu merah di perempatan jalan ini? Apakah lalu lintas akan semakin lancar atau semakin semrawut?”

 

Jennifer hanya menjawab dengan senyuman lalu asyik memainkan ponselnya kembali.

 

***

Bersambung…

 

Tags: , ,