Mission

Mission

Alan dan Jennifer tiba di markas Ricardo. Jennifer kembali ke kamarnya, sementara Alan segera berjalan menemui Ricardo. Ricardo dan komplotannya berada di lantai dua sedang melakukan perbincangan serius. Ricardo duduk di tengah memimpin komplotannya yang duduk mengitarinya. Beberapa saat kemudian, Alan pun muncul.

“Hey, Alan, duduklah, malam ini ada tugas untukmu.” Kata Ricardo sambil memainkan serutu di tangannya.

“Tugas apa, bos?” Tanya Alan lalu duduk bersama yang lainnya.

“Tugasmu hanya membawa sebuah barang ke sudut kota Rio. Lalu nanti kau melakukan transaksi dengan seseorang. Awas jangan sampai ketahuan polisi. Tapi jika polisi datang, segera kau melarikan diri. Nanti kita bertemu di suatu tempat.” Tutur Ricardo agak santai.

“Di mana transaksi itu?”

“Di Santo Cristo. Kamu akan ditemani oleh Robert.” Terangnya sambil menunjuk orang yang dimaksud.

“Ingat, kalau transaksi kamu diketahui polisi, maka kamu harus lolos dari kejaran mereka. Pokoknya berhasil atau pun tidak, kamu harus menemui saya di De Neiro.” Lanjut Ricardo.

Alan dilanda dilema. Dia menduga ini pasti transaksi narkoba. Ini adalah misi pertamanya. Bagaimana kalau misinya gagal. Dia pasti akan masuk penjara lagi. Sengsara seumur hidup di balik jeruji besi. Bahkan lebih parah lagi, dia bisa saja tertembak oleh pasukan polisi Rio. Ricardo menangkap gelagat tak tenang pada diri Alan. Dia memaklumi karena Alan memang anak baru dalam komplotannya.

“Tenanglah, Alan, yang kau bawa itu bukan narkoba.”

“Apa itu?”

“Nanti kamu akan tahu.”

Alan agak heran dengan penjelasan Ricardo. Namun setidaknya dia tidak akan membawa barang haram semacam heroin dan sejenisnya. Dia ingin lepas perlahan-lahan dari pekerjaan ini. Mumpung dirinya belum terlibat terlalu jauh.

“Apa kau siap?” Tanya Ricardo agak tegas.

“Ok, sir.”

 

***

Hari sudah malam. Tidak ada bintang-bintang yang terlihat di langit sana. Sepertinya cuaca sedang mendung. Di garasi sudah siap mobil Ferari 250 GTO yang dulu pernah dinaikinya. Alan mengecek keadaan mesin mobil itu. Terdengar suara mesin yang cukup halus. Dia lalu memainkan semua lampu-lampunya yang masih berfungsi dengan baik.

“Hi, buddy, gimana keadaan mobil ini?” Tanya Robert sambil meraba body mobil itu.

“Dia sedang on fire.” Canda Alan dengan masih memainkan gas mobil tersebut.

“Apa kau bisa mengemudikannya.” Robert menyindir Alan.

“Hey, kau jangan meremehkan saya, saya mantan pembalap professional, kawan.” Alan menjawab santai.

“Tepatnya pembalap jalanan.” Ledek Robert.

Robert mengangkat sebuah koper yang dimasukkan ke dalam bagasi. Lalu dia pun masuk ke dalam mobil dengan membawa beberapa peralatan senjata seperti pistol dan senapan mesin AK47.

Let’s go, buddy!” Ajak Robert bersemangat.

Mobil itu mulai berangkat perlahan meninggalkan pemukiman kumuh gangster narkoba. Alan kembali melewati gemerlapnya pusat kota Rio de Janeiro. Alan menginjak pedal gasnya sampai full. Mobilnya melesat kencang meninggalkan mobil-mobil lainnya.

Warna langit di malam itu terlihat semakin gelap. Beberapa kali terdengar suara petir menyambar-nyambar. Suasana alam pun menjadi kelam dan mencekam. Tetesan air hujan mulai jatuh satu per satu di kaca depan mobil yang dikemudikannya. Semakin lama hujan itu turun semakin deras. Jalanan pun menjadi basah dan licin. Adapun Alan masih fokus mengendalikan mobilnya.

Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, akhirnya dia sampai di wilayah Santo Costa. Alan pun berhenti di sebuah tempat. Suasananya nampak sepi. Dia lalu menunggu rekan transaksi mereka. Sesuai dengan intruksi dari Ricardo. Sementara guyuran hujan turun semakin deras saja.

“Robert, mana rekan bisnis kita.” Tanya Alan sambil melihat lingkungan sekitar.

“Tunggu sebentar lagi, mereka akan datang.”

Tak lama kemudian, ada suara sirene mobil polisi yang masih terdengar samar-samar. Beberarapa saat kemudian, suara itu terdengar semakin jelas. Dari kejauhan, Alan melihat ada segerombolan mobil polisi yang mendekatinya.

“Oh, sial, bukan rekan kita yang datang. Tapi polisi yang datang.” Kata Alan segera memacu kendaraanya.

Alan mengemudikan mobil itu secepatnya. Dari arah belakang, terdengar suara tembakan yang mengarah pada mobilnya. Dia menghindari tembakan itu dengan cara mengemudikan zig-zag. Namun, tembakan itu datang bertubi-tubi dari berbagai  arah. Kaca mobil bagian belakang pun pecah. Sesekali Alan dan Robert merunduk untuk menghindari lesatan besi panas itu. Robert pun segera melakukan perlawanan dengan menembakkan berondongan senapan mesin AK47 miliknya. Ada satu mobil yang berusaha menghindar dari tembakan Robert, namun mobil itu terbalik karena menabrak badan jalan.

Mobil Ferrari itu melaju semakin cepat. Pasukan mobil polisi itu pun semakin tertinggal jauh. “Kemana mereka, apakah kita sudah aman, Robert?” Tanya Alan. Namun naas baginya, di depannya sudah menunggu segerombolan mobil polisi yang lain. Ada beberapa polisi berdiri menodongkan pistol ke arah Alan. Tak ada pilihan lain, Alan pun maju terus menerobos pasukan polisi itu lalu melewati trotoar jalan. Mereka semua menghindar tapi terus melakukan serangan ke arah mobil Alan. Kaca bagian depan pun pecah. Lalu tiba-tiba, sebuah peluru meluncur deras ke arah Robert.

“Dooorrr..!”

“Aaaaah…!”

Robert pun terkena tembakan di bagian lengan kanannya.

***

Bersambung

 

Tags: , , , ,