oleh: Akung Krisna

Salam sejahtera bagi sahabat-sahabat PNBB. Semoga semua dalam kondisi yang menyenangkan dan tetap penuh ceria.

Sebelumnya saya ingin meminta maaf terlebih dahulu kepada sesepuh disini secara khusus dan kepada warga PNBB lainnya karena baru sekarang sempat mengirimkan tulisan ini. Saya tidak ingin menyampaikan beragam alasan supaya tidak diberi gelar “Raja Alasan”.

Sejak group ini di lahirkan melalui ‘rahim’ Pakde Heri Cahyo, rasa-rasanya sangat sulit untuk mempercayai keakraban dan kehangatan yang kita jumpai bersama. Pernah suatu ketika, sebelum group ini ada, seorang teman dekat saya pernah bertanya apa ada group yang mewadahi saya dan teman-teman penggemar dan pembelajar menulis? Saya jawab, tidak ada. Berhari-hari lamanya, pertanyaan itu terngiang terus di telinga dan melintas di benak ini. Entah dengn ilmu apa, mungkin Ajian Serat Jiwa, Pakde Heri Cahyo seperti mendengar percakapan saya dengan teman itu. Makanya sampai saat ini saya tidak pernah berani melawan dan menentangnya. Takut kena aji-aji lainnya.

Satu-persatu group ini didatangi oleh sahabat-sahabat yang luar biasa. Saya memandang sebagai pribadi-pribadi yang hebat, unik, dan tentunya ‘Super Gaul’. Bagaimana tidak? Meski tidak memiliki tingkat usia yang sama, latar belakang pendidikan, profesi, agama dan suku, sahabat-sahabat seakan sudah seperti mengenalnya sejak lama, jauh sebelum kehadiran group ini. Tidak berlebihan jika saya boleh berharap semoga persahabatan dan silaturahim disini dapat bermanfaat dan dapat berjalan sepanjang waktu. Perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara kita semoga saja bisa dengan arif dan bijak kita pahami sebagai suatu karunia terindah dari Tuhan sebagai pemberian yang sangat spesial bagi kita sebagai mahluk yang smpurna di muka bumiNya.

Kehadiran group PNBB juga di barengi dengan sebuah milestone proses penerbitan buku antologi cerpen Masa Kecil Yang Tak Terlupa yang dibidani juga oleh Pakde Heri Cahyo dan Ustadz Abrar Rifai serta beberapa sahabat lainnya. Mungkin tidak pernah terbayangkan oleh saya, jika tidak ada ‘relawan’ seperti beliau-beliau tentunya tidak akan pernah ada milestone apa pun. Setiap orang sudah pasti punya kesibukannya, bahkan ada yang sangat sibuk sekali. Sampai-sampai di sekeliling kita merasa waktu 24 jam dalam sehari itu sangat kurang. Andai saja bisa protes kepada Tuhan pastilah orang-orang itu minta dalam sehari itu menjadi 25 atau bahkan 30 jam! Tidak begitu dengan Pakde Heri Cahyo dan kawan-kawannya, yang kebetulan bisa satu kota dengan beliau di Kota Malang. Tanpa banyak cingcong dan pamrih apapun, mereka telah begitu baiknya untuk meluangkan waktu, tenaga dan fikirannya untuk mewujudkan sebuah buku yang nilainya mungkin jauh lebih tinggi daripada harga ongkos cetak dan ongkos kirimnya. Saya – dan kita – sepertinya perlu banyak belajar kepada mereka bagaimana bisa begitu ikhlas dan ringannya hati untuk melakukan tugas-tugas dari mulai mencetuskan tema, memompa semangat untuk menulis, membaca satu-persatu secara cermat naskah-naskah tulisan kita (yang masih amburadul), mengoreksi kekurangan ini dan itu, merayu putri cantiknya untuk membuat design cover buku, serta harus menyisihkan pula waktu yang seharusnya diberikan kepada istri dan anak-anak tercintanya malah disisihkan kepada kita semua untuk mewujudkan semua impian dan harapan; membuat buku. Tidak ada kata yang patut disampaikan kepada beliau-beliau selain berterima kasih yang setinggi-tinggi serta doa tulus kita, agar mereka selalu diberikan kesehatan dan mendapat keberkahan dari Tuhan dalam menjalani kehidupan ini.

***

ekitar dua minggu lalu, ketika tampilan design cover buku Masa Kecil Yang Tak Terlupa mulai disebarluaskan, serentak kita merasa berbahagia. Itu baru lihat foto covernya saja, bayangkan saja bagaimana jika buku itu benar-benar sudah berada di tangan kita masing-masing. Pasti jauh lebih berbahagia daripada saat ini.

Pada proses di tahap ini kita semua tiba-tiba ada rasa tidak sabar, menggebu-gebu dan penasaran agar buku tersebut bisa lebih cepat dirampungkan. Kalau perlu mendesak penerbit melalui Pakde Heri Cahyo dan kawan-kawannya untuk merampungkan secepat mungkin. Padahal kalau difikir-fikir, tanpa diddesak seperti apapun, tanpa pengakuan secara pribadi, tentunya Pakde Heri juga punya perasaan yang sama seperti kita itu. Ingin cepat selesai dan menimang-nimang hasil karyanya lalu menikmatinya.

Pada jeda saat inilah, entah siapa yang memulai muncul semangat yang luar biasa dari sahabat-sahabat PNBB untuk saling bekerjasama dan bahu membahu untuk memikirkan cara bagaimana memasarkan buku ini secara luas. Memang kita adalah bukan penulis-penulis terkenal dan handal, yang setiap tulisan-tulisannya selalu ‘ditagih’ dan ‘diperebutkan’ oleh para penerbit-penerbit papan atas di dunia literasi Indonesia. Berbeda jauh dengan mereka, cukup mengirimkan tulisan dan duduk manis. Semuanya sudah di handle oleh penerbit. Sejak editing, lay out, cover design hingga urusan penjualan dan pemasarannya. Namun kita janganlah berkecil hati, toh memang kita menulis bukan karena materi, tetapi karena hati. Sehingga ketika kita bersama-sama berkarya dalam sebuah buku maka masalah-masalah yang terkendala dapat kita hadapi dengan hati yang ringan pula.

Dalam fikiran yang cukup spontan kemudian kita bersama-sama coba memasarkan buku kita melalui akun pribadi fesbuk kita. Begitu juga dengan saya, tanpa terlalu banyak pertimbangan segera saja meng-up load photo design cover hasil karya Nadia, putri Pakde Heri. Awalnya saya sendiri tidak pernah mengira jika dengan meng-upload seperti itu ternyata mendapat respon yang cukup mengagetkan. Selang 10 menit, segera mengalir pesanan permintaan buku itu. Sontak, saya pun terkaget-kaget. Lalu segera saya muncul pula di group PNBB untuk sekedar menyampaikan good news ini. Kemudian beberapa sahabat yang saat itu sedang online dan segera kami berinteraksi. Secara otomatis kami pun saling bertukar kabar, tentang bagaimana proses menawarkan sebuah produk, khususnya buku melalui online.

Sejujurnya, saya bukanlah pakar dalam marketing online. Cuma kebetulan saja saya memiliki usaha di bidang online, Siomay Onlen. Saya juga harus mengakui bahwa saya pun terus terang tidak pernah mempelajari secara khusus tentang lika-liku bisnis online. Bonek aja koq…!! Jadi jika ditanya atau diminta untuk menguraikan teori dan beragam materi, saya angkat tangan. Namun begitu, saya bukan tidak ingin memberikan pengalaman-pengalaman saya dalam menjalankan bisnis online itu, khususnya berkaitan dengan memasarkan buku karya sahabat-sahabat di PNBB ini.

Sebenarnya menarik sekali ketika beberapa sahabat PNBB menanyakan bagaimana caranya saya bisa mendapatkan respon yang cepat dan baik ketika saya meng-up load  design cover. Saya agak sulit menjelaskan dan menerangkannya disini. Tetapi setelah saya analisa secara lebih mendalam ada beberapa hal yang bisa saya simpulkan antara lain:

* Buatlah deskripsi semenarik mungkin!

Disini tentunya kita harus mengetahui secara garis besar isi buku tersebut. Penjual yang  baik adalah penjual yang mengetahui seluk beluk produk yang dijualnya. Secantik atau  seganteng apapun diri kita, mustahil orang akan tertarik kepada produk kita jika kita  sangat minim knoweledge product-nya. Kalau perlu kita juga tahu kelemahan-  kelemahannya.

* Hindarilah menjual seperti seorang pengemis!

Sering saya jumpai, sales marketing/marketing executive baik itu dari perusahaan   perbankan, asuransi, property atau lainnya tak beda dengan seorang pengemis. (Maaf,   saya bukan sedang merendahkan profesi pengemis, karena kita semua memang bukan   dan jangan sampai menjadi pengemis). Mereka sering menggunakan kata-kata yang   tidak mengundang empati dan simpati. Sebagai contoh : “Paaak, toloong doong beli.    Target saya belum terpenuhi nih….”

Ditambah lagi dengan nada suara dan gerakan   tubuh yang merayu dan menggoda.  Sungguh buat saya ini sangat tidak profesional.  Kalah jauh dengan Tukang Asongan di perempatan lampu merah. Cukup jelas ya, saya   tidak ingin memperpanjangnya.

* Berikan yang terbaik!

Ada sebuah buku yang saya beli namun tidak pernah saya ingat isinya kecuali judulnya, GOOD SERVICE is GOOD BUSINESS. Dari sekian ilmu bisnis yang dikemas   menjadi teori, rumus, formula dan entah apalagi, saya selalu ingat akan kalimat ini.

Bahkan terkadang bisnis itu sendiri tidak bisa ‘selalu’dihitung untung dan rugi semata.   Kaitannya dengan menulis dan memasarkan karya (buku) disinilah kita masing-masing  berjuang untuk memberikan yang terbaik. Apanya? Ya kualitas tulisan kita. Kita semua  adalah pembelajar, mari kita coba terus belajar dan belajar untuk terus memperbaiki   dan meningkatkan kualitas tulisan. Coba sebentar kita evaluasi, seberapa banyak yang   menikmati tulisan-tulisan kita,  apakah itu berupa status dan notes facebook atau yang   lainnya. Jangan pernah bosan untuk belajar dari tulisan-tulisan orang lain, maka   disitulah kita tidak hanya sekedar membaca. Tetapi perlu juga untuk mencermati dari   karakter dari setiap tulisan. Coba cari karya-karya populer dari tokoh-tokoh yang kita   kaguni. Apa yang membuat kita kagum? Apa yang membuat tulisannya berbeda dengan   yang lain? Atau hal-hal lainnya.

* Peliharalah hubungan persahabatan sebaik mungkin dan jaga sekuat tenaga!

Kita pernah kesal dengan seseorang yang selalu ada maunya. Jika ada perlu ia datang,   jika tidak maka ia menghilang. Kalau pernah merasa kesal seperti itu, mudah saja. Kita   jangan seperti dia. Begitu juga dengan hal-hal lainnya. Percayalah membangun   hubungan persahabatan dan silaturahim itu sangat bermanfaat. Dalam artian tidak untuk   saling memanfaatkan tetapi saling memberikan manfaat. Betapa indah dan nikmatnya   hidup ini jika kita memiliki hubungan yang baik dengan semua orang. Pepatah lama   yang tidak akan pernah usang patut kita ingat, “Seribu teman kita selalu merasa kurang,   tapi satu orang musuh terlalu banyak untuk diri kita”.

Mungkin masih banyak lagi yang bisa diuraikan tapi beberapa hal diatas itulah yang menurut hemat saya setidaknya yang saya jadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menjalankan interaksi sosial sekaligus berbisnis online.

Salam menulis dan berbisnis….

Akung Krisna

Jakarta, 22 Oktober 2011

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,