Antara berkata apa adanya dan menyakiti.

Teguran halus malam tadi menyapaku, “ pernyataanmu Itu menyakitkan,” aku terperanjat dan terkejut mendengarnya. “Dimana letak salahku?, bukankah aku menyampaikan sesuai dengan fakta di lapangan dan sesuai dengan ilmu yang kukuasai.”Tanyaku penasaran.

Kemarin dalam sebuah pertemuan, aku diminta menyampaikan laporan sesuai dengan bidangku sebagai seorang ankuntan. Aku menyampaikan semua fakta yang berupa bukti-bukti nota penjualan cash maupun kredit, nota pembelian barang , pembelian kendaraan, dan semua bukti yang berkaitan dengan pembukuan. Dari bukti-bukti tersebut kutemukan bahwa, pengelola sering memutuskan sebuah kebijakan sendiri tanpa musyawarah. Akibatnya banyak terjadi penjualan barang dibawah harga pokok penjualan, pembelian barang yang terlalu tinggi harganya (karena tidak dibuat pembanding harga di beberapa toko terlebih dahulu), berani membeli barang persediaan hanya satu item barang dengan harga sebesar 40 % dari modal awal yang disetor, belum hal-hal lainnya yang kudapati. Semua ini disebabkan kebiasaan syle yang one men show, tak terbiasa tanpa musyawarah. Dan semua yang hadir tidak mengetahuinya, karena tak pernah mendapatkan berita. Padahal niat awal pendirian usaha ini nantinya, akan di serahkan ke Lembaga Nazir Wakaf dibawah Rumah Zakat untuk dikelola dan dibesarkan. Pengelola dan saya sama-sama berniat tak mengambil sepeserpun keuntungan yang terjadi. Modal yang kami dapat sebagian dari sumbangan wakaf, sebagaian lagi dari dana pinjaman yang sangat lunak. Dan kreditor siap dengan resiko duit tak kembali jika ternyata usaha tsb rugi.

Sebenarnya tujuan dari usaha ini adalah keuntungan yang diniatkan dari awal oleh pendirinya, untuk menghidupi kelangsungan kebutuhan anak yatim, termasuk membiayai pendidikannya kelak. Sebab dana infaq yang terhimpun melalui rumah zakat, perbulannya hanya pas-pasan untuk makan ala kadarnya. Atas dasar inilah kami membentuk sebuah usaha yang hampir berjalan satu tahun.

Maka selain melaporkan laporan keuangannya, aku memberikan masukan-masukan sesuai dengan latar belakang keilmuanku yang tak seberapa atas temuan-temuanku berdasarkan bukti tertulis/nota yang kudapati. Dengan kalimat penutup. “Semoga Allah menjaga niatan kita agar senantiasa tulus, ikhlas dan terjaga dari jebakan aktualisasi diri. Dan semua yang kita lakukan hanya karena-NYA”.

Begitu kalimatku selesai, kuterima teguran tsb , kesalahanku adalah mengatakan kalimat penutup itu, padahal kumaksudkan terutama untuk diriku sendiri, tetapi katanya, jika untuk diriku sendiri tak perlu disampaikan.

Saya pikir dengan musyawarah untuk mencapai kata sepakat sekalipun secara pribadi tak cocok, tetap bagus untuk meminimkan melesetnya perhitungan. Ruwet juga berbahasa rupanya. Jadi saya harus gimana donk?

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,