Oleh Siska Ferdiani

 

“Bu Yani, makannya khusyu banget sih, jidatnya sampe berkerut-kerut gitu.” Mendengar teguranku yang tiba-tiba itu, sontak bahunya terangkat dan nasi yang sedang dikunyahnya nyaris tersembur.

Uhuk … uhuuuk … UHUUUUUKKK

“Eeehhh aduuuhh maap … jadi keselek deh tuh, minum minum, nii minum dulu buu …”Segelas air yang kuangsurkan ditenggaknya hingga nyaris tandas.

Aku menatapnya dengan intens, pupil mataku melebar, “Kamu kenapa sih jeng? Ada yang dipikirin yaa??”

“Ehmm enggaakk … enggak napa-napa kok bu. Eh udah selesai nih makannya, saya naik duluan ya.” Tatapan mataku mengiringi kepergian sobatku itu dari kantin. Di tengah jalan, ku lihat seorang ibu menghentikan langkahnya. Alis mata bu Yani tertarik ke atas, dengan ragu dia menyalami tamunya itu. Tapi kemudian mereka berdua menaiki tangga bersama.

Setelah mereka menghilang di balik tangga, aku kembali beralih ke santapan siangku. Tiba-tiba menu botok ayam kesukaanku sudah tidak mengundang selera lagi. Aku memutuskan untuk menyudahi lunch dan segera beranjak ke ruang guru di lantai atas. Saat melewati ruangan BP, langkahku terhenti demi mendengar keributan di dalam …

““SAYA TIDAK MENCURI BU.” Suara teriakan anak laki-laki

BRAAAAAAAAAKKKK …

“DEMI ALLAH, SAYA TIDAK MENGAMBIL UANGNYA TIUR PAK. BU YANI JANGAN MENUDUH SEMBARANG YA, MANA BUKTINYA.”

PLAAAAAAAKKK …

SREEEEEEEETTTT …

KREEEEEEEEEKKK …

                Pintu ruangan terbuka. Aku menyurutkan langkah ke belakang, sementara di ambang pintu berdiri seorang ibu. Untuk sesaat dia tertegun dan menatapku nanar, matanya merah dan basah. Sedetik kemudian dia berlalu dari hadapanku sambil menyeret Tio, siswa kelas V. Sementara di dalam ruang BP, ku lihat bu Yani terduduk lemas di sofa, wajahnya pucat dan penuh air mata.

Aku masih berdiri mematung di depan pintu, sampai guru BP menegurku, “Bu Sis, masuk bu, temani bu Yani dulu ya. Saya belum sholat zuhur nih.” Aku hanya menganggukkan kepala dan masuk. Duuuhh … ono ospo ini? Suara apa itu tadi yaa?

Perlahan ku dekati rekanku itu, lalu merangkul pundaknya,

“Cup … Cup … Cuuup …”

“Aaaahh … Bu Siska, emang aku anak kecil apa?” Bu Yani mengelak dari rangkulanku.

“Abisnyaaaa aku bingung harus bagaimana. Ehmm Maaf ya bu, aku tak bermaksud menguping, tapi tadi aku bener-bener gak sengaja mendengar suara ribut-ribut di sini. Sebetulnya … apa yang terjadi? Siapa ibu tadi? Ibunya Tio kah?” Aku mencecarnya dengan banyak pertanyaan.

“Ambilin aku minum dulu napa. Masih deg-degkan nih.” Segera ku ambilkan air dari dispenser dan mengangsurkan padanya. Dalam sekejap gelas itu kosong. Aku menanti bu Yani memulai cerita, sementara tanpa ku sadari, kakiku mulai bergerak-gerak sendiri. Setelah menyeka air matanya, akhirnya dengan satu helaan nafas panjang, bu Yani mulai berkisah …

Tiur, siswi kelas V mengadu kehilangan sejumlah uang. Ketika jam Istirahat pertama (pukul 09.30 WIB) Tiur berniat untuk bayar SPP ke TU, tapi uang yang dititipkan mamanya itu sudah raib. Dompetnya kosong. Bahkan letaknya pun sudah berubah. Maka saat itu juga, bu Yani menggeledah seluruh tas dan loker siswa lainnya. Bahkan kelas sebelah pun tak luput dari penggeledahan. Tetapi tak ada jejak selembarpun.

Setelah penggeledahan, Tiur dan kawannya Diah, kembali menghadap bu Yani. Kebetulan saat pelajaran olahraga di jam pertama tadi, Diah dan Tiur kembali ke kelas untuk mengambil botol minum, di kelas hanya ada Tio seorang, saat melihat kedatangan mereka, Tio seperti kaget dan langsung buru-buru keluar. Bu Yani tak begitu saja percaya, dia berlari ke kantin. Bu Yani bertanya pada petugas di sana apakah ada anak kelas lima yang jajan pakai uang besar. Dan bu kantin mengiyakan, bahwa ada anak laki-laki yang jajan banyak dan membayar pakai uang 50 ribuan. Petugas kantin pun mengenali anak laki-laki itu, tak lain adalah Tio.

Dengan berpegang kata-kata bu kantin, bu Yani bergegas ke ruang BP, menemui pak Ari dan mengkonsultasikan masalah ini. Atas saran pak Ari, bu Yani menelepon mamanya Tio untuk mengkonfirmasi uang saku yang dibawa Tio hari ini. Ternyata Tio hanya diberi uang saku 2000 setiap harinya, tak lebih dan tak kurang. Segera saja Tio di panggil ke ruang BP. Beberapa pertanyaan di ajukan, tetapi tidak mengarah ke penuduhan. Semua pertanyaan di jawab Tio dengan ekspresi wajah yang datar-datar saja, padahal banyak terjadi ketidaksinkronan jawaban dengan para saksi.    

 

“Lalu tadi saat lunch, mamanya Tio datang ke sekolah, karena merasa ada yang ‘aneh’ saat aku meneleponnya tadi. Maka Tio di panggil lagi ke ruang BP dan di depan ibunya dan pak Ari, saya jelaskan duduk perkaranya. Dari awal Tio sudah menyangkal, dia bersikeras tidak pernah mengambil uang Tiur. Kami terus mendesaknya, dia tetap bertahan dengan jawabannya. Lalu saya ceritakan kesaksian Diah, Tiur, bu kantin dan bahkan mamanya sendiri, tau-tau Tionya berteriak-teriak seperti yang ibu dengar tadi. Tio berdiri dan berteriak sambil menudingkan jarinya kepada saya, bahkan dia juga menggebrak meja. Coba bayangkan bu, mamanya aja sampai melotot, wajahnya langsung merah. Spontan mamanya menampar Tio, lalu menyeretnya pulang.” Bu Yani menarik nafas panjang di akhir ceritanya.

“Begitu ceritanya bu. Saya tak pernah menyangka Tio akan begitu defensif. Memang dia terkenal suka ngeyel, membantah dan berdebat, tapi tak pernah berlaku kurang ajar seperti itu.” Matanya kembali berembun.

Defensif ??”  Jidatku berkserut demi mendengar istilah asing itu. “Apa pula itu?”

(bersambung ke  Lunch Time 4 – Saat si Defensif Mencuri (2) )

 

Serial Lunch Time lainnya :

Lunch Time 1 – Belajar Menulis 1

Lunch Tme 2 – Belajar Menulis 2

 


 

Tags: , , , ,