oleh : Siska Ferdiani

 

Defensif ??”  Jidatku berkserut demi mendengar istilah asing itu. “Apa pula itu?”

Defensif itu maksudnya sikap bertahan, bu Sis.” Pak Ari yang baru selesai sholat langsung nimbrung

”Sikap bertahan? Maksudnya?” Lipatan dahiku semakin dalam

”Iya, tadi Tio merasa, tertuduh, tersudut dan terancam, maka muncullah sikap defensifnya. Sikap defensif  itu bisa berkonotasi positif atau negatif. Dan dari cerita bu Yani tadi, sepertinya Tio sudah punya bibit sikap defensif negatif yakni suka ngeyel, membantah dan berdebat.” Pak Ari menjawab pertanyaanku dengan panjang x lebar x tinggi …

”Trus, pemicunya apa pa? Kenapa seseorang bisa bersikap defensif seperti itu? Penanganannya bagaimana pa? Trus Apakah sikap defensif  ini ada hubungannya dengan pola didik orang tua?”” Aku memberondong pak Ari dengan banyak pertanyaan.

”Waaaahhh … pertanyaannya kaya wartawan aja nih bu Sis, heheee. Satu-satu ya bu, tentang pemicunya, menurut berbagai literatur, defensif  ini terkait erat dengan rasa takut. Logisnya, kalau orang merasa kurang atau merasa takut, kecenderungan yang dominan  adalah membela diri bukan?”Ku jawab dengan anggukan kepala cepat. Sementara pak Ari meneruskan kuliahnya …

”Sejauh  ini sikap defensif  memang sifat atau  prilaku yang perlu diperbaiki, untuk kasus anak-anak seperti To ini memang sangat berhubungan dengan pola didik orang tua. Karena, pola defensif  ini kemungkinan besar tercetus dari pola komunikasi yang buruk dengan orang tuanya.”

”Contoh komunikasi yang buruk itu seperti apa pak Ari?” Aku memperbaiki cara dudukku, wajahku lurus menatap pak Ari.

”Misalnya begini, banyak orang tua yang komunikasinya bersifat evaluatif. Seperti kisah seorang ibu yang masuk ke rumah dengan wajah ditekuk karena melihat pot bunga di ruang tamu pecah, dan langsung berteriak, “Bobby, di mana kamu?”. Tahu reaksi sang anak? Dengan wajah takut ia langsung menjawab, “Bukan aku yang memecahkannya, Bu..” Padahal, jika si ibu bertanya dengan kalimat lain dan dengan nada datar, “Siapa yang memecahkan pot ini?” tentu jawaban Bobby akan jauh berbeda kan.”

“Ehmm begitu ya pak, lalu bagaimana dengan orang tua yang selalu bersikap otoriter, apakah bisa membuat anak bersikap defensif?” Tanyaku lebih lanjut

“Oooohh itu sudah pasti. Sikap defensif juga muncul tatkala ayah atau ibu begitu mendominasi komunikasi, bersikap otoriter, mengintimidasi dan melakukan berbagai perintah serta komando dari hal kecil hingga besar, maka anak-anaknya tentu akan merasa kesal dan membangkang, walaupun tak berani terang-terangan. Selain itu, gaya bicara yang bossy, sok bijak, sok wibawa, sok pintar yang kelihatan selalu punya jawaban atas suatu persoalan., sikap yang superior, dan Sikap yang netral, tidak menunjukkan baik penolakan maupun dukungan terhadap perilaku dan prestasi anak, itu semua adalah pencetus munculnya bibit defensive dalam diri anak, yang outputnya berupa : sikap menolak, membangkang, berbohong, melawan, antipati dan menutup diri. Begitu bu Siska.”

”Ehmmmm, tapi itu kan dari sisi pola komunikasi orang tua. Untuk Tionya sendiri perlu ditreatment apa pak, untuk meminimalisir sikap defensifnya?”Bu Yani sudah mulai tenang, dan ikut serta dalam diskusi kami.

”Waduh, pada penasaran nih ceritanya. Sebentar dulu, saya minum dulu ya, tenggorokan jadi kering nih. Heheeee …”Dengan sigap aku kembali melompat ke dispenser lalu mengulurkan segelas air putih dingin dan disambut Pak Ari dengan senyum lebar, keliatan banget ya penasarannya … heheee …

”Jadi begini, untuk Tio sendiri, hal pertama yang perlu di tanamkan adalah ’pemahaman untuk berubah’. Ini penting karena kalau Tionya sendiri belum paham bahwa sikapnya itu buruk dan tidak ada keinginan untuk berubah, maka akan sulit untuk memperbaiki diri. Kedua, Tio harus mengurangi perdebatan, tetapi utamakan dialog, naaahh disini pola komunikasi orang tua juga harus mendukung, begitu juga dengan komunikasi antar teman, disini bu Yani bisa ikut membantu mengingatkan Tio. Ketiga, Tio harus berlatih membuka diri, misalnya belajar mendengarkan pendapat orang lain, jadi jangan maunya menang sendiri.”

“Ehmm, begitu ya pa. Terus, kalo dikaitkan dengan perilaku mencurinya itu sendiri bagaimana pa?” “Trus bagaimana cara mencegah dan menangani perilaku mencuri tersebut Pak Ari?” Aku dan bu Yani berebutan mengajukan pertanyaan, tetapi sayang ….

KKKKKKRRRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNGGGGGG …

Bel pulang mengakhiri obrolan kami, tak terasa kami sudah duduk selama 2 jam membahas kasus defensive dan pencurian ini.  Untuk sementara, kasus itu menggantung, banyak pertanyaan yang belum terjawab, sementara kami masih menunggu respon dari orang tua Tio. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa yang dilakukan kedua orang tuanya sekarang? Semoga saja mereka tidak gelap mata dan memperlakukan Tio dengan kasar dan atau memutuskan sesuatu dengan gegabah. Selain itu, ada suatu hal yang menggelitik rasa penasaranku, kalau benar Tio yang mengambil uang Tiur, dimana dia menyembunyikannya? Aaahh misterius sekali bukan?

***

Ke esokkan harinya. Kedua orang Tio datang ke sekolah. Dihadapan pak Kepsek, bu Yani dan pak Ari, mama Tio bercerita dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, bahwa Tio sudah mengakui perbuatannya. Awalnya ketika di desak, Tio berkilah ini itu membuat papanya hilang kesabaran dan memukulnya. Setelah itu baru Tio mengaku, memang dialah yang mengambil uang Tiur dan jajan dengan uang itu juga dan sisa uangnya dia sembunyikan di pakaian dalamnya. Tio tergiur mengambil uang itu, ketika tak sengaja melihat tas Tiur yang terbuka dan terlihat dompetnya yang tebal. Ternyata Tio sudah lama memendam keinginan untuk punya uang saku lebih, dia ingin jajan penganan enak di kantin dan beli mainan seperti teman-temannya. Tapi karena mamanya hanya memberi uang saku yang terbatas, terpaksa Tio hanya bisa menelan ludah dan gigit jari saat melihat teman-temannya melahap aneka jajanan dengan lahap. Saat teman-temannya menceritakan mainan terbaru yang dimilikinya, Tio hanya bisa terdiam, karena dia jarang membeli mainan baru.

Papa dan mama Tio pun mengakui kesalahan mereka dalam mendidik anak. Mereka tidak pernah menanamkan kebiasaan menabung untuk memenuhi keinginan pribadi anaknya. Mereka juga menyesal tidak memperhatikan kebutuhan Tio untuk membeli mainan atau mencicipi jajanan enak. Selain itu, dengan pola komunikasi yang buruk, cenderung otoriter dan mendidik gaya tangan besi, memperburuk sikap defensif anaknya. Kini mereka berdua meminta bantuan pihak sekolah untuk memberikan saran dan masukan berkaitan dengan treatment yang tepat untuk membantu ‘proses pemulihan’ Tio.

Akhirnya terkuaklah penyebab perilaku defensif Tio dan misteri pencurian itu. Ternyata memang benar kata pak Ari, gaya mendidik, pola asuh dan komunikasi orang tua lah yang membuat Tio bersikap buruk seperti itu, sampai akhirnya mencuri karena kebutuhan mendasarnya sebagai anak tak terpenuhi. Tetapi alhamdulillah, orang tua Tio sudah menyadari kesalahannya dan berjiwa besar dalam menghadapi kasus ini serta sangat terbuka dengan saran masukan dari pihak sekolah. Melihat keseriusan  dan perhatian orang tuanya, aku yakin Tio akan cepat ‘pulih’.

Kasus Tio ini pun menjadi pelajaran berharga untuk kami, para orang tua muda, agar senantiasa belajar untuk terus memperbaiki diri. Karena kami sadar, setiap anak punya bibit sikap defensif, tetapi pola asuh dan komunikasi orang tua yang menentukan apakah bibit defensif akan tumbuh menjadi positif atau negatif.

 

(terinspirasi dari kasus serupa yang terjadi di sekolah, nama dan karakter tokohnya adalah rekayasa)

 

Sumber :

http://www.e-psikologi.com/epsi/individual_detail.asp?id=477

http://madhusein.multiply.com/journal/item/65

http://www.telaga.org/audio/bagaimana_menangani_perilaku_anak_yang_mencuri_1

http://bundazone.com/prilaku-bermasalah/memahami-tindakan-mencuri-yang-dilakukan-oleh-anak/

http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/problem-mencuri.htm

 

~0~

Gambar sekedar ilustrasi diambil dari sini

 

Serial Lunch Time lainnya :

Lunch Time 1 – Belajar Menulis 1

Lunch Tme 2 – Belajar Menulis 2

Lunch Time 3 – Saat si Defensif Mencuri (1)

 

Tags: , , ,