By Hazil Aulia

Maha Suci Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk dengan sempurna. Sudah sewajarnya bila Sang Maha selalu mengingatkan kita tentang bagaimana bersyukur, bagaimana harus membaca tanda-tanda alam, bagaimana memahami anugrah yang telah diberikan melampaui anugrahNya untuk makhluk lain.

 

Sebagai manusia, selain kita diberi akal untuk berpikir serta hati nurani yang menuntun kita pada jalan yang benar, kita juga dilengkapi dengan hawa nafsu. Satu yang membedakan kita dengan makhluk lain adalah kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu itu.

 

Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tujuannya tidak lain adalah agar saling mengenal satu dengan yang lainnya. Pada konteks saling mengenal ini, sangat banyak terjadi hubungan yang terbangun antara seorang lelaki dengan seorang wanita, dan tidak sedikit hubungan yang terjadi itu berlanjut ke tahap berikutnya, yakni keinginan untuk membina rumah tangga yang dinaungi dalam ikatan resmi sebagai suami istri.

 

Dalam kehidupan berumah tangga, umumnya pula, pasangan suami istri menghendaki kehadiran anak keturunan sebagai pelanjut generasi mereka. Di sinilah kita juga patut bersyukur, bahwa Allah SWT menciptakan rasa dan nafsu yang melekat pada manusia secara instinktif, yang karena rasa dan nafsu tersebut, memunculkan keinginan untuk menyalurkannya dalam bentuk hubungan seksual.

 

Apakah hubungan seksual itu diharamkan? Tidak. Hubungan seksual sama sekali tidak diharamkan. Yang menjadikan haram adalah kriteria yang melekat pada subjek yang melakukan hubungan tersebut. Dalam konteks negara, maka hubungan tersebut baru bisa dilakukan bila pasangan tersebut terdaftar di Kantor Urusan Agama bagi yang Islam, atau di Kantor Catatan Sipil bagi masyarakat lain yang memilih untuk itu. Namun dalam konteks norma dan agama, kriteria bisa bertambah, misalnya hubungan dengan ibu, ayah, saudara sekandung dan sebagainya.

 

Mengapa hubungan seksual tersebut seolah dikerangkengi? Jawabannya adalah karena kita sebagai manusia yang sempurna, diberi akal dan pikiran serta hati nurani, dan sangat-sangat berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya seperti binatang misalnya. Binatang, juga diberi nafsu seksual instinktif dan bisa menyalurkannya setiap saat dengan pasangannya atau pasangan yang dikehendakinya. Secara “keilahian”, Tuhan sudah memberikan sinyal bahwa kita sebagai manusia itu diberi kedudukan yang jauh lebih terhormat dibandingkan dengan makhluk lainnya. Oleh karena itu manusia diharapkan (pilihan) bisa menangkap dan memaknai sinyal tersebut dan memilih jalan yang seharusnya.

 

Hubungan seksual selain berfungsi sebagai suatu proses awal pembentukan makhluk lain untuk keturunan, sejatinya adalah juga untuk membersamai (!) pencapaian rasa kepuasan bagi kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Inilah yang sering tidak disadari oleh pasangan suami istri, karena walaupun tidak tertulis, namun dalam hubungan seksual tersebut timbul hak dan kewajiban bagi masing-masing, yaitu hak untuk dipuasi serta kewajiban untuk memuasi pasangannya. Sayangnya, dalam berbagai kesempatan, seringkali justru istri yang tidak terpenuhi haknya oleh suami.

 

Rasa kepuasan tersebut terkait dengan istilah orgasme (dalam beberapa literatur sering juga disebut dengan The Big “O”). Lalu, apa sebetulnya pengertian orgasme tersebut? Secara etimologi, orgasme berasal dari kata Bahasa Yunani “orgasmos” yang dalam kamus Oxford English Dictionary diartikan sebagai “to swell as with moisture, be excited or eager”. Bila merujuk ke Kinsey Reports, orgasme didefiniskan sebagai “The expulsive discharge of neuromuscular tensions at the peak of sexual response.” Deskripsi yang lebih teknis ditulis oleh Masters and Johnson, konsultan dan seksolog, bahwa orgasme adalah “A brief episode of physical release from the vasocongestion and myotonic increment developed in response to sexual stimuli.”

 

John Money, dan kawan-kawan, mendefinisikan orgasme sebagai: “The zenith of sexuoerotic experience that men and women characterize subjectively as voluptuous rapture or ecstasy. It occurs simultaneously in the brain/mind and the pelvic genitalia. Irrespective of its locus of onset, the occurrence of orgasm is contingent upon reciprocal intercommunication between neural networks in the brain, above, and the pelvic genitalia, below, and it does not survive their disconnection by the severance of the spinal cord. However, it is able to survive even extensive trauma at either end.

 

Bila disimpulkan, maka orgasme itu adalah suatu bentuk dari sensasi tubuh yang menyenangkan dan kepuasan menuju ke intensitas puncak yang pada akhirnya bisa melepaskan ketegangan serta menciptakan perasaan puas dan relaksasi.

 

Lalu, apa alasan menuliskan masalah The Big “O” dan membagikannya pada pembaca?

 

  1. The big “O” merupakan satu dari beberapa faktor pendukung dalam hubungan pasutri baik fisik maupun psikis.
  2. 80% wanita tidak mengetahui apapun tentang hal ini, dan hanya 10%-25% saja yang mengalaminya. Dengan kata lain, dari 10 orang wanita, 8 orang tidak tahu sama sekali, dari 10 orang wanita, hanya 2-3 orang saja yang mengalaminya.
  3. Tidak semua laki-laki pula paham dan mau berperanserta menyukseskan hak dan kewajiban dua belah pihak.

 

Menurut majalah “Men’s Health”, berdasarkan survei, ditemukan kondisi bahwa:

  1. 94.7% pria tidak bisa memuaskan wanita di ranjang
  2. 91.7% wanita memanipulasi orgasme.
  3. 74.6% wanita hanya berpura-pura karena sebenarnya mereka tidak puas secara seksual.

 

Begitu pentingnya masalah ini, menjadi titik awal mengapa saya merasa perlu untuk menuliskan dalam tulisan berseri.

 

Dunia telah berubah, banyak hal yang dahulu dianggap tabu untuk dibicarakan, namun sekarang demi kemashlahatan dan kesamaan hak dan kewajiban malah perlu dibicarakan dan didiskusikan. Termasuk di sini yang berkaitan dengan The Big “O”. The Big “O” merupakan bagian dari kehidupan suatu rumah tangga, bagian dari kehidupan pasangan suami istri. Nah, kalau ia merupakan kehidupan maka adalah tugas masing-masing kita untuk menghidupinya bukan?

 

Tidak ada keinginan untuk menuliskan masalah ini dalam rangka pornografi ditinjau dalam bentuk apapun juga. Tulisan ini hanya sebagai upaya untuk lebih menyadarkan kaum wanita bahwa mereka memiliki hak (dan tentu juga kewajiban) untuk mendapatkan The Big “O” dalam kehidupan mereka, begitu juga sebaliknya, kaum pria juga perlu menyadari bahwa pasangannya berhak untuk mendapatkan The Big “O” tersebut sebagaimana ia juga berhak mendapatkannya. Ya, pria dan wanita dalam konteks rumah tangga perlu menghidupi kehidupan itu.

 

Direncanakan tulisan berseri ini dalam urutan sebagai berikut (bisa bertambah pun bisa berkurang sesuai kebutuhan):

[The Big “O”: Bukan XXX] #2 Berbicara Seputar The Big “O”

[The Big “O”: Bukan XXX] #3 The Big “O” Pada Pria dan Wanita

[The Big “O”: Bukan XXX] #4 Mengenali Anatomi Tubuh Secara Detil

[The Big “O”: Bukan XXX] #5 Mengenali Titik-titik Khusus Pada Pasangan

[The Big “O”: Bukan XXX] #6 Pemanasan, Cumbu Rayu atau Foreplay

[The Big “O”: Bukan XXX] #7 The Big “O”, Seberapa Besar O-nya?

[The Big “O”: Bukan XXX] #8 Faktor Pendukung Terciptanya The Big “O”

[The Big “O”: Bukan XXX] #9 Ekspresif Membuat Eksplosif

[The Big “O”: Bukan XXX] #10 Pentingnya Variasi

[The Big “O”: Bukan XXX] #11 The Big “O”, Antara Hak dan Kewajiban

[The Big “O”: Bukan XXX] #12 Kamu Ndak Punya Pulsa?

[The Big “O”: Bukan XXX] #13 Ejakulasi Pada Wanita, Mitos atau Realitas?

[The Big “O”: Bukan XXX] #14 Membugarseksualkan Diri

 

Tak tertutup pula saran atau masukan dari teman-teman, demi tercapainya “menghidupi kehidupan” dalam rumah tangga kita masing-masing.

 

 

Tags: , ,