Pernah mencoba menggoreng sesuatu dalam wajan yang telah diisi minyak goreng namun apinya baru saja dinyalakan? Pertama, yang terlihat adalah tiadanya reaksi dari minyak goreng tersebut. Maklumlah, dia belum panas. Kedua, jelaslah menyalahi teori tentang aturan menggoreng.

 

Pada pria, konsep seperti ini relatif bisa dan mudah untuk dilakukan. Sebab kodratnya seorang pria itu jauh lebih cepat terstimulasi (apalagi secara visual) dibandingkan wanita, sehingga ibarat fast food, hidangan dengan cepat dapat terlayani dan tersajikan.

 

Berbeda dengan pria, wanita memerlukan proses yang jauh lebih lama dan sifatnya lebih gradual, artinya ada tahapan-tahapan penting yang harus dilalui untuk pencapaian orgasme yang sempurna.

 

Ada istilah/ slang dalam bahasa Jawa, “Jogja” yang maksudnya adalah “njujug saja” artinya langsung ke masalahnya. Dalam konteksnya dengan masalah yang kita bahas ini adalah situasi dimana dalam suatu hubungan seksual, si lelaki tanpa ba bi bu langsung ambil ancang-ancang dan goool… nah di sini, jogja tidak lagi menjadi istimewa, padahal sesungguhnya Jogja itu istimewa seistimewa orang-orangnya.

 

Begitulah, dalam suatu hubungan suami istri perlu disadari bahwa secara kodrati memang ada perbedaan tingkat persiapan untuk mencapai orgasme antara pria dan wanita. Sayangnya, sungguh banyak sekali kaum pria yang tidak menyadari masalah ini, dan menganggap bahwa kaum wanita itu persis sama dengan mereka sehingga siap untuk dilakukan penetrasi kapan saja.

 

Kanjeng Nabi Muhammad menurut sirah, belum pernah melakukan hubungan suami istri tanpa terlebih dahulu yakin akan kesiapan istri beliau untuk penetrasi itu. Nabi melakukannya dengan cara mencumbui bidadari beliau tersebut. Dengan kata lain, Nabi mengajarkan pada kita tentang pentingnya melihat “kesiapan” pasangan kita untuk masuk ke tahap penetrasi.

 

Kalau begitu bagaimana mempersiapkan pasangan untuk masuk ke kondisi yang siap dalam melakukan hubungan? Pemanasan. Ya, melakukan pemanasan, cumbu rayu atau sering diistilahkan dengan foreplay. Di sini tentu saja masing-masing pihak dapat dan harus berperan aktif agar tujuan awal dari suatu hubungan suami istri yakni orgasme bisa tercapai dengan sempurna.

 

Tahap pemanasan, cumbu rayu atau foreplay ini bisa dilakukan dengan saling melakukan pijatan yang sifatnya relaksasi, baik dengan maupun tanpa menggunakan minyak zaitun atau lainnya yang disukai. Bisa pula dengan usapan, belaian, rabaan, yang kategorinya “luar biasa”. Di samping itu, pada tahap ini stimulasi-stimulasi juga dilakukan pada seluruh titik-titik khusus, dengan menyisakan satu atau dua titik yang paling khusus bagi tiap pasangan untuk distimulasi paling akhir sebelum dilakukan penetrasi.

 

Wanita biasanya selalu memberitahukan akan kesiapannya untuk tahap penetrasi, sekalipun demikian, tetap harus dilihat apakah memang vagina sudah siap untuk penetrasi. Kesiapan ditandai dengan jumlah cairan dari vagina yang cukup, karena jumlah cairan yang cukup pada vagina akan membantu kenyamanan kedua pihak dalam melakukan hubungan.

 

Berapa lama waktu yang diperlukan dalam melakukan foreplay? Tidak ada jawaban yang pasti. Alam akan menuntun Anda dan pasangan untuk berjalan meniti jembatan kebirahian, menikmati alunan dan rintihan gairah, menangguk romansa menunggang libido untuk menyeberang hingga sampai pada kesempurnaan orgasme. Jadi tidak perlu mematok diri harus 10 menit, 20 menit 1 jam dan sebagainya, itu semua adalah deretan angka-angka yang menjerumuskan kita pada situasi yang tidak sehat.

 

Kesimpulannya, dalam keadaan normal, semakin sempurna pemanasan atau foreplay yang dilakukan, maka semakin sempurna pula orgasme yang akan diraih oleh pasangan tersebut. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mengabaikan proses atau tahapan foreplay ini.

 

Pilihlah Jogja yang istimewa karena memang istimewa seistimewa orang-orangnya, bukan jogja yang membuat pasangan Anda (terutama wanita) kecewa dan pusing kepala.

 

Tags: , , ,