Oleh: Ivan Alfian

 “Dari Abu Hurairah katanya: Telah bersabda rasullah SAW : Hendaklah engkau menjauhkan diri dari sifat hasud, sebab sifat hasud memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” (HR Abu Daud)

Terkadang saat kita kita memandang suatu permasalahan –meskipun yang sederhana sekalipun- selalu diliputi dengan berbagai prasangka-prasangka yang menakutkan, takut jika hal itu akan melemahkan diri. Saat kita menyaksikan ada teman kita yang berhasil dalam pekerjaannya, masih saja ada prasangka yang tidak baik kepadanya. Prasangka buruk akan melahirkan iri, dengki, dan bahkan kebodohan bagi diri. Sebuah prasangka akan memberikan jawaban-jawaban sebelum kita mengetahui pertanyaannya, dan seburuk-buruknya jawaban adalah bila kita tidak memahami akan permasalahannya.

Lihatlah hadits di atas, betapa merugi seseorang yang selalu diliputi prasangka buruk terhadap saudaranya, bukannya kemuliaan yang diraihnya di kemudian hari namun justru kehinaan yang serendah-rendahnya. Bila kita mampu melepaskan diri dari prasangka maka pandangan kita akan lebih jernih dan akan tumbuh keberanian untuk mengatasi segala permasalahan yang menghadang.

 

Sahabat…. Ada ilustrasi yang menarik tentang hal ini, ketika kita mengenakan kacamata, sebenarnya kita masih tetap melihat dengan mata kita bukan dengan kacamata. Sehingga sebuah kenyataan tetaplah yang nampak di mata bukan yang terpantul dari cermin kacamata. Begitu juga dengan diri kita, melihat dan menilai sesuatu sesungguhnya adalah hati kita melalui mata. Prasangka ibaratkan debu-debu pikiran yang mengaburkan pandangan hati kita sehingga tidak mampu melihat dengan baik. Usaplah prasangka sebagaimana kita menghilangkan debu-debu yang mengotori kacamata kita agar supaya bisa melihat dengan lebih jelas dan jernih kembali.

 

“Kebahagiaan anda akan tumbuh berkembang manakala anda membantu orang lain, namun jika tidak kebahagian akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan tanaman yang harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi” (J. Donald Walters)