Oleh: Naz Rifa

Dulu Aku termasuk orang yang tidak terlalu peduli dengan ini, menurutku bisa bahasa ‘ibu’ dan sedikit bahasa inggris serta bisa menyampaikan maksud dengan baik saja sudah cukup. Belakangan baru aku sadari bahwa ternyata prinsip yang ku pegang selama ini hanya menjadikan aku terlihat seperti orang bodoh.

Kesadaran ini semakin bertambah setelah kepulanganku dari KL. Tiba-tiba ada cita rasa yang berbeda saat aku mendapati tulisan berbahasa melayu semenjak di KLIA, bagiku semuanya terasa lucu dan selalu membuatku senyum-senyum sendiri kalau ingat. ya, menurutku bahasa mereka terlalu vulgar 🙂

Seperti tulisan balai ketibaan yang di bandara Indonesia ditulis ruang kedatangan, atau instalasi panggilan darurat untuk mengatakan warung telekomunikasi (fasilitas telfon umum). Pernah juga disatu stesen pemberhentian monorail aku menjumpai tulisan ‘berhati ada penceluk saku’ yang kalau diindonesiakan artinya kurang lebih ‘awas copet’, atau didalam LRT (long rapid transportation) yang didinding tepat diatas tempat duduknya tertulis ‘bagi awak kurang upaya’ (lupa persisnya) atau kalau di indonesiakan berarti ‘untuk orang cacat atau lansia’. atau air kosong untuk air putih ketika kami makan siang di food court. Atau tulisan yang kami temui diparkiran kampus universitas islam antar bangsa (UIA), disana tertulis ‘hanya untuk kaki tangan sahaja’ yang artinya mungkin ‘parkir khusus pegawai’. Saat itu istilah bahasa itu sempat kami plesetkan dan dijadikan bahan bercanda, refleks aku bilang ‘silahkan masuk, tapi kepala sama badannya ditinggal ya mbak, hiii………” 🙂

Di Negara tetangga ini second language (English) sangat familiar, baik dikalangan anak2, remaja, ibu2, bapak2, pekerja, pedangang, terlebih mahasiswa. meskipun tak jarang kita akan menemukan structure yang amburadul atau mix melayu-Inggris. Seperti ‘awak student?’ atau ‘I nak ke market’. Dalam kondisi seperti ini kau bisa bayangkan bukan, betapa menyebalkannya jika harus terpaksa ‘puasa’ bicara hanya karena tidak bisa banyak menggunakan bahasa inggris. Ketika berdialog hanya bisa bilang yes, no, thank you atau how much ketika berbelanja dipusat perbelanjaan, tanpa bisa nawar :). Bagi orang yang suka bercerita dan se-ekspresif diriku itu sungguh menyiksa. Akibatnya, pertemuan dengan sesama warga Indonesia akan sangat ku syukuri (seperti ibu cleaning service asal Surabaya yang aku temui di KLCC), karna kami bisa berbahasa dengan bahasa ‘ibu’ yang bagiku bahkan sudah familiar sejak lahir.

Di Malaysia akulturasi budaya terlihat cukup pesat, Kita bisa menemukan banyak warga Negara asing disana, apalagi di UIA. Dari India, Afrika, Mesir, Syria, jepang, Taiwan, Indonesia bahkan Palestina. Mereka berbicara dengan logat dan ekspresinya masing2. Dari situ kemudian aku menarik kesimpulan, kalau orang yang menguasai banyak bahasa, kemungkinan besar ia akan sangat ekspresif, menyenangkan. Meskipun Akulturasi budaya begitu kuat, aku rasa Malaysia tetap mampu mempertahan khas budaya melayu, mereka bisa menjaganya dengan baik, dibeberapa tempat kita bisa menemukan para wanita dengan pakaian panjang khas kain melayu dan penutup kepala yang pinggirannya dipotong begitu saja, tanpa neci. Sungguh kontras dengan kemajuan pembangunannya.

Tapi bukan ini yang ingin aku bagi. Ada kesimpulan lebih dalam yang aku dapatkan, dengan tidak bisa banyak berbahasa aku jadi tidak bisa menangkap informasi dengan utuh, bahkan mungkin sedikitpun aku tidak mengerti. Secara sederhana bisa dikatakan, bahwa ilmu yang bisa kita serap hanya sampai pada bahasa yang mampu kita fahami, selebihnya tidak. Tidak hanya itu, jika berhadapan dengan musuh, kurasa kita akan kalah dengan mudah, karena mereka dengan mudah bisa menipu dan mengatur strategi didepan kita, sementara kita tidak tau apa2. Bukankah itu sungguh malang?

Kesimpulan ini juga diilhami dari beberapa kisah ketika bepergian ke KL..Entah hari keberapa, aku lupa. Kami menemui 2 orang pebisnis china di dalam LRT, mereka berbicara menggunakan bahasa mandarin (aku tau itu karena sebelumnya aku pernah belajar, meskipun hasilnya juga masih nihil). Dia berbicara cukup jelas dan sangat serius. Tanpa bermaksud ingin tau dan mencampuri urusan orang lain, Entah kenapa tiba2 saja aku merasa menyesal, karena Aku tidak bisa mengerti apa2. dan prediksiku, pastinya dia tidak akan bicara sekeras itu, jika disampingnya adalah orang china yang faham bahasa Mandarin juga.

Cerita lain lagi aku alami pada malam pertama di UIA, rencananya kami akan menghadiri kajian Ma’alim fiiththariq di UIA sebagai ganti tertinggalnya kami dari WIEF conference yang harusnya kami ikuti, kami masuk di cara club assalam yang merupakan perkumpulan anak2 timur tengah di UIA, mereka juga sedang menggelar kajian. Akhwat Syria yang menyambut kami, ia berbicara dengan mbak anita yang mengantar kami dalam bhs inggris yang lancar, sementara kami hanya berbicara seadanya dan memperkenalkan diri. Sebenarnya agak ragu juga, apakah ini forum yang kami tuju atau bukan, rasanya agak aneh kalau teman kami merekomendasikan kami untuk ada di kajian orang2 timur tengah, sementara dia tau kami tidak bias berbahasa arab, apalagi diforum itu tidak ada satupun mahasiswa/I berwajah melayu kecuali kami berdua, Aku dan Kia. Lagi2 kali ini kami agak nekad dan berusaha untuk PD serta berpositif thinking..yang penting ikutin aja dulu, masalah salah masuk forum urusan belakangan, toh nanti kami juga akan tau, tersesat atau tidak… tapi nyatanya hingga kepulangan kami ke Indonesia, bahkan sampai saat ini, kami masih tidak tau dengan pasti apakah forum itu memang forum yang kami tuju atau bukan..dan penyebabnya, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kami tidak mengerti dan tidak bisa berbahasa arab, benar2 memalukan..

Oya, Didalam kajian tersebut semua menggunakan bahasa arab, mulai dari pembukaan sampai penutupan, mereka sangat PD, malam itu ada seorang munsyid yang juga menyanyikan lagu dalam bahasa arab, sayang aku tidak tau artinya. yang paling aku suka dari mereka adalah ekspresinya. Kami mengisi ‘guest’ dalam daftar hadir. Acara berjalan, seorang syekh yang merupakan salah seorang lecture UIA yang jadi pembicara malam itu.

Aku mengikuti kajian itu, meskipun hanya sedikit kata2 yang aku tau, sepertinya kajian itu sangat mengasikkan, sesekali mereka tertawa (dan tentunya kamipun ikut senyum2 tanpa mengerti apa yang membuat mereka tertawa, bagiku sendiri aku sedang mentertawakan kebodohanku), sesekali mereka terlihat serius, lagi2 tanpa aku tau mereka sedang membicarakan apa. 10 menit pertama aku sempat kesal, karena tidak mengerti ‘apa ide utama’ yang mereka bicarakan, yang aku tau mereka membicarakan para sahabat dari Abu bakar, umar, ustman, ali, dst..itu terlihad dari slide yang terpampang di layar. Dalam hati Aku berkata ‘harusnya banyak pelajaran baru yang bisa aku ambil, karena dia menyampaikan dengan sudut pandang orang timur tengah, pemaknaannya mungkin jauh lebih dalam’ itu yang aku fikirkan saat itu. Disaat seperti itu, aku pejamkan mataku, tiba2 saja wajah Murabbiku terlintas, ya saat itu aku ingat pesannya ketika kami berdiskusi sedikit tentang bahasa. ‘jika kita tidak mengerti sesuatu, dengarkan saja dengan khusyu’, jika ikhlas minimal semangatnya akan tertular’ begitu katanya.

Aku turuti pesan itu, sampai akhirnya pada pembahasan sahabat Mus’ab Bin Umair ada bahasa yang bisa sedikit aku mengerti. dalam bahasa Indonesianya Lecture itu berkata begini, ‘jika diantara kalian ada yang merasa waktu kalian sangat senggang tanpa ada pemikiran untuk ummat, ingatlah mus’ab bin umair, jika kalian dengan nyaman makan di KFC, ingatlah mus’ab bin umair. Jika kalian merasa tidak ada kerjaan, ingatlah mus’ab bin umair. Pemuda islam darimana saja kalian berasal, Syria, Egypt, palestin, yordan, Malaysia.. ikutilah jejak Mus’ab bin Umair’ ia mengatakannya dengan lantang. saat itu Aku merasa jantungku berdebar, Aku merasa terpanggil. ‘tidak cukup bagi kita untuk menjadi rijalud da’wah, tapi tirulah Mus’ab..Ikutilah jejak Mus’ab, jadilah arrijalu udkhulud daulah’ ucapnya. Ya arrijalu Adkhulud daulah (pemuda pembuka daulah/peradaban).

Kami pulang hampir jam 12 malam, kondisi kampus masih cukup ramai, terutama diperpustakaan. Malam itu ada komitmen yang turut serta dalam perjalananku menuju asrama, bahwa aku akan berupaya untuk belajar bahasa arab, aku ingin belajar banyak bahasa. Bagaimana mungkin bisa meniru Mus’ab, jika aku tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan banyak golongan, bagaimana mungkin bisa menjadi salahsatu pemuda yang bisa ‘diandalkan’ oleh islam sementara aku penuh keterbatasan. Entahlah, yang pasti malam itu, aku tidur dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Masih tentang bahasa.. kejadiannya tepat di hari terakhir kami di KL, ketika naik KLIA express melalui gerbong bawah tanah menuju bandara untuk terbang kembali ke Indonesia. Di dalam kereta, hanya berjarak 1 kursi dari tempat duduk kami, aku mendapati segerombolan keluarga india. Mereka membawa 4 orang anak yang kelihatannya hampir seusia (mungkin sepupuan, usianya kira2 sekitar 6-7 tahun). Mereka bermain didalam kereta, tepat disebelah tempat duduk kami. sungguh sangat menarik perhatianku. mereka bermain dengan ceria, tertawa-tawa, dan saling berkejaran dan berpindah2 tempat duduk (kebetulan saat itu kereta agak lowong). Tidak sengaja aku melihat mereka tertawa sambil menggeleng2kan kepala. Saat itu aku tau bahwa ternyata ‘goyangan kepala’ khas india yang sering kali aku lihat di TV adalah bakat alami, bukan rekayasa :). selama ini aku tidak suka melihatnya, aku fikir itu terlalu mengada2, agak lebay. Dalam hati aku berkata ‘mungkin akan lebih menyenangkan jika aku tau apa yang mereka bicarakan sehingga terlihat begitu riang’. dan tidak hanya itu, jika saja aku bisa berbahasa india, setidaknya aku bisa berterimakasih padanya karena telah membuat persepsiku tentang gelengan kepala khas negaranya jadi berubah. Tapi itu semua tidak bisa aku lakukan, karena aku tidak bisa bahasa mereka, jadi cuma bisa senyum doang, sebagai tanda persahabatan, hehe…

Saking pentingnya kemampuan berbahasa ini, Bahkan seorang Jurnalist yahudi Charles Rapaport menggunakan strategi yahudi untuk berbicara dan mengerti 10 bahasa, strategi itu mereka sebut Yiddish. System ini menggabungkan kearifan local dengan 4000 campuran bahasa ibrani didalamnya. Bahkan mereka menggunakan formula menghafal dan menguasai bahasa suatu Negara dengan cepat dalam waktu hanya 1 bulan.

Perhitungan formulasi ini dilakukannya dengan melakukan survey kata dalam Koran harian New York times dengan melihat seberapa banyak kata2 tertentu yang muncul dikoran tersebut, termasuk untuk menghitung berapa banyak kosakata yang dibutuhkan seseorang untuk dapat mengerti suatu bahasa dengan baik. Hasilnya, Charles menyimpulkan: yang harus dilakukan seseorang untuk menggunakan bahasa apapun adalah cukup dengan mempelajari 600 kosa kata.

Untuk mempelajari 600 kosa kata tersebut, Mereka menerapkan prinsip 1 hari, orang yahudi harus mempelajari 20 kosakata untuk 30 hari belajar. Dengan kata lain, hanya dalam satu bulan maka mereka akan dapat membaca Koran harian dengan sebuah bahasa asing dan mengerti ide utamanya dalam bahasa apapun yang mereka pilih. Menakjubkan bukan? Kalau begini ceritanya, tidak heran jika Kaum Yahudi sangat sombong dan bisa mengangkangi dunia, ia bisa mengatur bangsa manapun dengan kemampuan bahasanya, kemampuannya menyerap informasi dan strategi dengan utuh.

Inti yang ingin saya sampaikan adalah..Pada prinsipnya kita umat muslim harus lebih gigih belajar dan mencoba, dengan metode apapun. Jangan pernah malu, karena orang pemalu tidak akan pernah belajar apapun. Jangan takut berbicara terbata2 atau membuat kesalahan, karena kesalahan akan selalu kita ingat dan bisa jadi kesalahan itulah yang akan mengantarkan kita pada sebuah kebenaran. Wallahu’alam..

Yuk..sama2 belajar 🙂

 

Tags: , , , , , , , , , , , , ,