By Hazil Aulia in PNBB – Proyek Nulis Buku Bareng

Menjadi suatu hal yang ganjil, apabila ingin mendapatkan suatu orgasme namun tidak mengenal anatomi organ tubuh pemicu kehadiran orgasme secara detil. Dengan kata lain, patut diduga, orgasme (kalaupun mendapatkannya) yang selama ini diraih hanyalah sebagai suatu kebetulan, dan tanpa ada pertanyaan serta keinginan untuk mengeksplorasi lebih lanjut.

 

Untuk dapat mengatakan bahwa “saya memahami seluk beluk orgasme” tersebut, perlu didukung dengan pengetahuan tentang orgasme itu sendiri, serta organ-organ tubuh yang terlibat di dalamnya. Bagaimana bisa mengatakan memahami, sedangkan konsep, pengertian serta organ tubuh yang terlibat pada peristiwa orgasme tersebut tidak mengetahuinya dengan jelas?

 

Seperti kita ketahui, struktur organ genitalia pria dan wanita itu sangatlah berbeda. Sekalipun berbeda, dengan merenungi ciptaan ilahi tersebut maka tidak ada kata lain selain pujian, rasa syukur, dan rasa malu kepada Sang Maha karena selama ini sebagai manusia kita lebih banyak berperilaku sombong, angkuh dan tidak mempunyai rasa syukur.

 

Secara sederhana, coba perhatikan posisi, bentuk serta fungsi organ genitalia yang kita miliki saat ini. Sang Maha sudah mendesain serta memposisikannya sedemikian rupa sehingga organ tersebut multifungsi, sebagai piranti output urin serta piranti kopulasi, dan apabila kopulasi terjadi, maka kedua organ genitalia yang berbeda tersebut membentuk suatu kesatuan yang pas.

 

Namun, dalam kenyataan sehari-hari, kita lebih sering hanya mengenal organ tubuh kita secara fisik saja, bahkan tak jarang pula nama organ tubuh disamarkan atau malah menjauh dari arti dan fungsi yang sesungguhnya. Kaitannya dengan pendidikan seks sejak dini adalah bahwa sejauh mungkin harus dihindari pemakaian istilah-istilah tertentu yang bukan berupa istilah sebenarnya dari suatu organ. Tidak ada masalah bila organ genitalia untuk pria disebut dengan penis saat mengenalkan organ genitalia pria pada anak, begitu pula dengan istilah vagina bagi organ genitalia wanita, payudara sebagai organ yang nantinya menghasilkan ASI untuk konsumsi bayi, serta puting payudara sebagai tempat keluarnya ASI, sebab itulah istilah yang seharusnya melekat pada organ tersebut, bukan istilah lain yang malah menjauhkan dari makna sebenarnya.

 

Pada organ genitalia pria atau yang disebut dengan penis, ada beberapa komponen di dalamnya, seperti terlihat pada gambar.

 

 

Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum (kantung zakar) dan testis (buah zakar). Struktur dalamnya terdiri dari vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis.

 

Sperma (pembawa gen pria) dibuat di testis dan disimpan di dalam vesikula seminalis. Saat hubungan seksual terjadi, sperma yang terdapat di dalam cairan yang disebut semen dikeluarkan melalui vas deferens dan penis yang mengalami ereksi.

 

Penis terdiri dari:

  • Akar (menempel pada didnding perut)
  • Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
  • Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).
  • Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung glans penis.
  • Dasar glans penis disebut korona.

Pada pria yang tidak disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona menutupi glans penis. Sirkumsisi hakekatnya untuk mengedepankan aspek kesehatan, karena bila tidak dilakukan sirkumsisi, besar kemungkinan terjadi penumpukan smegma yang nantinya akan mengundang penyakit, baik bagi pria maupun bagi wanita pasangannya.

 

 

Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:

  • 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan
  • Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra. Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).

 

Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh. Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehinga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).

 

Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan. Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria yang utama).

 

Epididimis terletak di atas testis dan merupakan saluran sepanjang 6 meter. Epididimis mengumpulkan sperma dari testis dan menyediakan ruang serta lingkungan untuk proses pematangan sperma. Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis. Saluran ini berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra dan membentuk duktus ejakulatorius. Struktur lainnya (misalnya pembuluh darah dan saraf) berjalan bersama-sama vas deferens dan membentuk korda spermatika.

 

Uretra memiliki 2 fungsi:

  • Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih
  • Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

 

Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul dan mengelilingi bagian tengah dari uretra. Biasanya ukurannya sebesar walnut dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia.

 

Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma. Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis.

 

Selama melakukan hubungan seksual, penis menjadi kaku dan tegak sehingga memungkinkan terjadinya penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina) Ereksi terjadi akibat interaksi yang rumit dari sistem syaraf pada pria, pembuluh darah, hormon dan psikis.

 

Rangsang yang menyenangkan menyebabkan suatu reaksi di otak, yang kemudian mengirimkan sinyalnya melalui korda spinalis ke penis. Arteri yang membawa darah ke korpus kavernosus dan korpus spongiosum memberikan respon, yaitu berdilatasi (melebar). Arteri yang melebar menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah erektil ini, sehingga daerah erektil terisi darah dan melebar. Otot-otot di sekitar vena yang dalam keadaan normal mengalirkan darah dari penis, akan memperlambat aliran darahnya. Tekanan darah yang meningkat di dalam penis menyebabkan panjang dan diameter penis bertambah.

 

Ejakulasi terjadi pada saat mencapai klimaks, yaitu ketika gesekan pada glans penis dan rangsangan lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan korda spinalis. Saraf merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis dan vas deferens, vesikula seminalis dan prostat. Kontraksi ini mendorong semen ke dalam uretra. Di sini terlihat peran pikiran (mind) yang bila dilatih, akan mampu melakukan pengendalian terhadap proses ejakulasi.

 

Selanjutnya kontraksi otot di sekeliling urretra akan mendorong semen keluar dari penis. Leher kandung kemih juga berkonstriksi agar semen tidak mengalir kembali ke dalam kandung kemih. Setelah terjadi ejakulasi (atau setelah rangsangan berhenti), arteri mengencang dan vena mengendur, sehingga akibatnya aliran darah yang masuk ke arteri berkurang dan aliran darah yang keluar dari vena bertambah, sehingga penis menjadi lunak.

 

 

Sedangkan organ genitalia pada wanita atau yang disebut dengan vagina, juga terdapat beberapa komponen di dalamnya seperti pada gambar berikut.

 

 

Reproduksi wanita dirancang untuk sejumlah fungsi:

  • Memproduksi sel telur yang diperlukan dalam proses reproduksi
  • Sebagai sarana transportasi sel telur menuju tempat fertilisasi.
  • Tempat terjadinya fertilisasi di tuba falopii.
  • Tempat implantasi hasil fertilisasi di uterus sebagai awal proses kehamilan. Ovarium menghasilkan hormon seksual wanita yang perlu bagi keberlangsungan fungsi reproduksi.
  • Bila tidak terjadi fertilisasi dan atau implantasi maka sistem reproduksi akan mengalami proses menstruasi (pelepasan mukosa uterus setiap bulan)

 

Selama menopause produksi hormon seksual dari sistem reproduksi wanita yang penting bagi berlangsungnya siklus reproduksi secara bertahap akan berkurang. Bila seorang wanita sudah berhenti menghasilkan hormon seksual maka wanita tersebut sudah mengalami menopause.

 

Struktur anatomi organ reproduksi wanita.

 

Anatomi reproduksi wanita terdiri dari struktur eksternal dan struktur internal.

Peran struktur eksternal:

  • Jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita
  • Melindungi organ genitalia internal dari infeksi mikro organisme

 

Struktur Eksternal Sistem Reproduksi Wanita:

  • Labia mayora: Labia mayora menutup dan melindungi sejumlah struktur eksternal. Struktur ini homolog dengan skrotum pada pria. Labia mayora memiliki kelenjar lemak dan kelenjar keringat. Setelah pubertas labia mayora akan ditutupi dengan rambut pubis.
  • Labia minora: Labia minora panjangnya kira kira 5 sentimeter dan terletak di dalam labia mayora mengitari orifisium vaginae dan meatus urethrae eksternus.
  • Kelenjar Bartholin: Kelenjar ini terletak di samping orifisium vaginae dan memproduksi cairan encer (mukus).
  • Klitoris: Labia minora kiri dan kanan bertemu pada bagian anterior di daerah klitoris , susatu tonjolan kecil sebesar kacang tanah yang homolog dengan penis pada pria. Pada kasus-kasus tertentu, bisa terjadi seorang wanita memiliki struktur klitoris yang melebihi ukuran normal, tentu saja hal ini tidak perlu dirisaukan. Klitoris tersebut terutup lipatan kulit yang disebut preputium yang juga terdapat pada pria. Seperti halnya penis, klitoris adalah struktur erektil yang peka terhadap rangsangan.
  • Vagina: Vagina adalah saluran yang menghubungkan serviks (bagian terbawah uterus) dengan bagian luar tubuh dan dikenal pula sebagai jalan lahir.
  • Uterus: Uterus adalah organ berbentuk seperti buah pir, memiliki rongga untuk tempat pertumbuhan dan perkembangan janin. Uterus terbagi menjadi dua bagian yakni serviks uteri dan corpus uteri yang akan menampung janin selama kehamilan. Serviks memiliki saluran di dalamnya yang disebut sebagai kanalis servikalis yang berperan sebagai saluran masuk sperma dan saluran keluar darah haid/ menstruasi.
  • Ovarium: Ovarium adalah dua buah kelenjar berbentuk bulat lonjong dan pipih yang terdapat di samping uterus. Ovarium menghasilkan sel telur dan hormon seksual wanita.
  • Tuba Falopii: Saluran yang berada di bagian atas uterus kiri dan kanan yang berperan sebagai saluran ovarium untuk perjalanan sel telur dari ovarium ke uterus.

 

Mengenal akan komponen serta fungsi dari organ genitalia akan sangat membantu dalam mencapai orgasme pada situasi normal, sebab tiap pasangan akan mengetahui kapan dan bagaimana seharusnya suatu komponen distimulasi sehingga pencapaian orgasme berlangsung sempurna.

 

Yogyakarta, 15 April 2012

Beberapa bagian dari tulisan ini diambil dari internet