Oleh: Irawati Syahriah

Pertanyaan yang sering menggelitik ini kerap terlontar dari orang tua yang notebene pasangan sarjana bahkan pasca sarjana dengan ekonomi mapan, segala fasilitas lengkap tersedia, tetapi kok prestasi anak-anak mereka pas-pasan. Boleh jadi tolak ukurnya adalah nilai-nilai akademik sepert angka di raport mereka ataupun prestasi non akademik lainnya, seperti akhlakul karimah, ataupun deretan penghargaan tertulis maupun tidak tertulis lainnya.disekolah maupun dalam kesehariannya.

Namun disisi lain ada anak yang kedua orangtuanya adalah bukan orang berada, bahkan mereka serba kekurangan, bisa melejit menjadi anak yang cerdas dengan meraih prestasi bagus di atas rata-rata teman sekelasnya, padahal fasilitas[i] serba minim, ke sekolahpun sering jalan kaki bahkan uang saku pun kadang tak punya.

Anak adalah cermin orang tua, sebuah cermin tidak akan pernah berkata bohong, bila anak kita nakal. Haruskah telunjuk kita arahkan pada orang lain? Pun bila anak kita prestasinya tak menggembirakan, mungkin ada yang salah selama ini dalam pola hubungan kita dengan anak.

Ternyata kuncinya adalah ada pada cinta tulus yang kita berikan kepada anak kita. Tetapi timbul lagi sebuah argument, “ mana mungkin orangtua tak cinta kepada anaknya’?.

Disinilah masalahnya, kita sering mencurahkan cinta kita kepada anak dengan berbagai syarat, dengar lah ancaman seorang ayah dan ibu keika marah kepada anak-anaknya, “awas lho, kalau kamu tidak mau nurut sama Papa dan mama , kami tidak sayang lagi. Otak anak yang masih polos merekam penyataan ini, sehingga ketika suatu hari sang anak melakukan kelalaian dengan tidak mentaati peraturan yang di terapkan orangtuanya, maka anak merasa sudah tidak di sayang lagi.

Cinta tanpa syarat kepada anak adalah ibarat menghidupkan kabel-kabel potensi kecerdasan yang tersedia sejak anak dilahirkan.

Otak manusia memiliki kabel, ada yang cukup besar yaitu disebut neuron, ukurannya sangat kecil, layaknya tanda titik diakhir kalimat dibagi seratus, sedangkan yang kecil lagi disebut interneuron (glial), yang juga membentuk sambungan. Namun kemampuan interneuron ini melebihi kemampuan neuron sepuluh kali lebih cepat, dalam mengadakan koneksi antar neuron, antar glial. Maupun neuron dengan glial.

Dalam studi kasus neuropsikologis, yang dilakukan olehPhilip harden dan Robert Phill meneliti studi kasus yang dilakukan terhadap anak-anak yang mempunyai IQ di atas rata-rata, namun nilai raportnya jeleknya, ternyata ditemui fakta bahwamereka memiliki fungsi korteks frontal cacat, yang ditandai dengan mudahnya mereka mengikuti dorongan hati, sering bikin ulah mengacau, dan mudah cemas.

Adapun penyebab cacatnya korteks frontal adalah karena sirkuit emosi pada diri mereka tidak terbentuk , yang diakibatkan pengalaman masa kecil yang salah atau trauma, misalnya tidak disayang, baik oleh kedua orangtuanya maupun orang terdekat yang sehari-hari bergaul dengan mereka. Perlakuan tanpa cinta dan kasih sayang membuat “kabel-kabel” itu rusak bahkan hangus terbakar. Padahal sirkuit emosi ini terbentuk melalui pengalaman masa kanak-kanak.

Dengan cinta dan kasih sayang yang tulus maka sambungan-sambungan akan terbentuk dan membentuk jaringan-jaringan kecerdasan. Kalau sambungan-sambungan itu lengkap maka saluran ke seluruh kecerdasan akan terbangun. Kalau sambungannya lengkap, saluran ke seluruh kecerdasan akan terbangun, dan bisa jadi meliputi seluruh aspek kecerdasan, yang kita ketahui ada 8 ( delapan) kecerdasan menurut teori Howard Garner, yaitu :

  1. kecerdasan bahasa,
  2. Kecerdasan music
  3. Kecerdasan ruang atau spasial
  4. Kecerdasan logika matematika
  5. Kecerdasan bodily kinestetik atau kemampuan gerak tubuh
  6. Kecerdasan interpersonal, kemampuan pemahaman diri
  7. Kecerdasan intrapersonal atau kemampuat membuat hubungan dengan orang lain’
  8. Kecerdasan naturalis atau kemampuan memahami lingkungan.

Bila anak-anak kita mendapat stimulus berupa cinta kasih yang tulus maka tidak mustahil akan memunculkan 8 kecerdasan diatas, bahkan bisa jadi lebih dari itu.

Mari kita perbaiki pola hubungan dengan anak kita, karena emosi, kecerdasan dan lain-lain terjalin melalui miliaran jaringan penghubung ke setiap bagian neorkoteks.

Interaksi dengan anak terutama awal awal tahun kehidupan mereka, adalah menjadi dasar serangkaian pembelajaran emosi , yang berdampak sangat kuat, dan saking kuatnya , saat kita masih dewasa pembelajaran / pengalaman ini masih sering sering muncul. kita di buat bingung ketika hanyalah karena masalah sepele, emosi kita sering meledak-ledak, kta bingung sendiri, kenapa sih aku jadi mudah emosi seperti ini. Emosi yang membingungkan seperti inilah berasal dari masa -masa awal kehidupan kita. hasil pembelajaran emosi pada awal-awal masa kehidupan ini tidak akan hilang, namun tersimpan di amigdala 9 otak limbik sebagai pusat emosi)

Pada kenyataan, kita seringkali memberi kasih sayang yang tidak patut terhadap anak- anak kita. Kita berlaku cuek terhadap anak, tidak pernah membelai, mencium, karena lelah seharian bekerja kadang anak kita jadikan pelampiasan marah. Kalau pun ada perhatian maka perhatian kita hanyalah basa basi terhadap anak, pertanyaannya sering kita jawab dengan asal-asalan. Bahkan ada orangtua yang marah dan mengumpat anaknya. Karena perilaku kita yang salah inilah yang seringkali membakar bahkan menghanguskan sambungan-sambungan kabel neuron maupun, glial , sehingga gagal membuat sambungan kecerdasan. Maka jangan heran jika kelak anak kita menjadi anak yang mempunyai kecerdasan pas-pasan. Bahkan malas, bodoh dan pembangkang, na uzu billah

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,