oleh: Muhibbatul Husnah

Acara diba’iyah (sholawat kepada Nabi Muhammad SAW) rutinan di desaku di adakan tiap malam senin ba’da Isya’. Anggotanya rata-rata dari yang gadis kelas VII SMP sampai ibu-ibu yang umurnya sekitar 35 an. Seperti biasa ibu-ibu yang punya anak kecil (paling besar kelas 1 SD) di bawah ke acara tersebut. Keramaian pun tak akan terhindarkan. Tidak hanya anak-anak yang rame tapi para anggotanya juga sibuk ngerumpi mulai dari ibu nyai nya, pimpinan fatayat sekaligus muslimatnya sampai yang balitapun ikut nambahi rame dengan menangis mengajak ibunya pulang karena ngantuk. Saat awal kali ikut gabung dalam jam’iyah ini yang ada di hati hanya rasa kecewa karna acara sholawatan jadinya tempat ngerumpi. Beberapa kali pertemuan coba aku nikmati dan akupun terbiasa dengan suasana yang tidak aku sukai itu.

Sambil sholawat bersama aku juga sering mengamati tingkah laku anak-anak kecil yang sedang bermain tersebut. Kalau tidak hujan biasanya mereka lebih suka main di luar rumah. Kadang mereka rebutan mainan, jajan dan masih banyak lagi. Untuk acara diba’iyah kali ini kebetulan hujan sehingga anak-anak pun main di dalam. Seperti biasa sambil bersholawat aku mengamati mereka. Mereka saling bercengkrama, berbicara. Aku tidak tahu pasti apa yang dibicarakan mereka karena ramainya suasana. Tiba-tiba seorang anak laki-laki dan anak perempuan sekolah TK A saling menjilat lidah mereka. Lho spontan aku kaget. Dalam pikiranku menenangkan “mungkin mereka canda” dan hal itu pun diikuti anak yang lain, sesama laki-laki. Akupun mencolek seseorang yang dekat dengan anak-anak biar mereka biar diingatkan untuk tidak main seperti itu. Orang tuanya pun mungkin tidak tahu apa yang dilakukan anak-anak mreka karena sibuk dengan hal yang di bahasnya. Berpikiran porno jelas tidak karena mereka anak kecil, yang dalam pikiranku bisa saja mereka akan tertular virus atau bakteri kan.

Tak lama mereka berhenti bermain tiba-tiba anak laki-laki tersebut membuka celananya dan yang perempuan menyingkap roknya dan mau membuka CD nya dan saling mengadukan keduanya. Spontan aku menjerit dan yang lain pun kaget dan melihat adegan tsb. Dan semua orang mencegahnya. Tidak lama mereka berhenti bermain ternyata anak perempuan tadi main hamil-hamilan dan jarik yang dimasukkan dalam bajunya tadi dikeluarkan dibungkus seperti bayi. Astaghfirullahal ‘Adzim …. kenapa dunia semakin gila seperti ini. Aku tidak pernah berfikir anak-anak itu melakukan kesalahan. Aku tidak tahu apakah mereka melihat adegan-adegan seks itu dari TV atau bagaimana karena notabennya tempatku di desa dan masing-masing kedua orang tua mereka juga gaptek. Tidak mungkin karna melihat di situs internet atau apa. Bisa jadi melihat adegan orang tuanya juga.

Aku harusnya tidak boleh berfikir negatif tentang apa yang dilakukan anak tadi. Tapi dalam pikiranku masih sangat merasa penasaran kenapa anak-anak sekecil itu berbuat hal tersebut. Pikirankupun melayang ke sosok orang tua mereka. Terus terang anak kecil perempuan itu adalah anak adopsi. Anak tersebut aku beri nama inisial K. Aku akan menceritakan asal muasal cerita keluarga tersebut.

Di desaku ada seorang duda mempunyai lima orang anak, 3 perempuan dan 2 laki-laki. Mereka sudah besar semua dan sebagian sudah berkeluarga. Kecuali anak perempuan P terakhir saat ayahnya mau menikah lagi mungkin dia masih duduk di bangku sekolah kelas 2 SMA. Duda tersebut menikah dengan janda cerai beranak dua. 1 laki-laki L ikut ayahnya, dan 1 perempuan ikut janda tersebut. Beberapa tahun kemudian L tersebut dinikahkan dengan P jadi ayah menikah dengan ibu, anak menikah dengan anak bawaan masing-masing. Setelah L dan P mempunyai satu anak, L pun kerja , aku lupa persis kerjanya di mana, kalau tidak di kalimantan ya Malaysia. Karena dianggap tidak tanggung jawab akhirnya P pun mengajukan cerai. Mereka resmi bercerai. Saat L pulang alhasil dia pun akan tetap main ke rumah ibunya walaupun sudah tidak menikah dengan P. Ketika L kembali kerja ke tempatnya ternyata P hamil lagi tanpa suami, semua orang menganggap bahwa anak itu adalah anaknya mantan suami tadi. Anak itupun lahir, gadis kecil cantik nan imut, yang dilahirkan tanpa ayah dan di beri nama K (bahkan nama aslinya pun mempunyai arti sakit dan prihatin). Sekitar umur 1,5 tahun K tumbuh. Saat itu tiba-tiba kakak perempuan dari P meninggal. Dan meninggalkan satu atau dua orang anak (aku tidak tahu persis). P pun ikut membantu dirumah kakak iparnya dan sering tidur di sana. K di rawat oleh kakak perempuan yang satunya di desaku. Belum lama kakaknya meninggal jabatan istri itupun turun kepada P artinya P menikah dengan kakak iparnya dengan membawa anak pertamanya. Tidak lama mereka menikah ternyata P sudah mau melahirkan lagi. Semua orang hanya geleng kepala. Berarti anak ketiga dari suami barunya adalah hasil di luar nikah. Entah anak dari kakak iparnya atau laki-laki yang sebelumnya pernah dekat dengan dia.

Walaupun K diasuh oleh kakaknya setidaknya K masih sering main ke rumah ibu kandungnya. Dari situ aku memberi kesimpulan sendiri apakah K melakukan adegan yang tidak wajar tadi karena melihat adegan orangtuanya. Apakah gen sifat ibunya tadi bisa menurun ke anaknya. Kalau untuk anak laki-laki tadi aku tidak bisa memberikan kesimpulan apapun. Bisa saja kesimpulanku salah dan mungkin benar-benar salah.

Dari kejadian tersebut semakin membuatku berfikir bahwa para orang tua harus berhati-hati dalam bersikap, bertindak dan berkata karena sebagai contoh atas prilaku putra-putrinya. Betapa tugas mendidik anak itu sangat berat. Baik tidaknya seorang anak tergantung pada orang tua. Kalau orang tuanya yahudi apakah anaknya juga yahudi? Kalau orang tuanya nasrani apakah juga ikut nasrani? Kalau orang tuanya bejat apakah anaknya juga ikut bejat? Kalau anaknya seorang kyai apakah anaknya juga akan menjadi kyai? Kalau anaknya guru apakah anaknya juga akan menjadi tauladan kebaikan dari sesosok putra seorang guru. Amanah yang Allah titipkan pada hambanya ini butuh dikelola oleh tangan-tangan yang baik, mengarahkan putra-putrinya pada hal-hal yang baik. Sebisa mungkin menjadi generasi yang baik dan menjadi waladun sholih.

Ya Allah izinkanlah kami kelak menjaga titipan Mu yang penuh amanah ini. Bekalilah jiwa dan diri kami sehingga bisa mendidik titipanMu dengan bijak dan amanah. Tunjukilah jalan kami menuju keridloan Mu dalam membimbingnya. Jangan jadikan kami nantinya para orang tua yang salah arah.

RABBANA HAB LANA MIN AZWAJINA QA DZURRIYATINA WA QURRATA A’YUNINA WA JA’ALNA LILMUTTAQINA IMAMA ….AMIN

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,