Oleh: Hesti Setiarini*

Aku tidak tahu tulisan ini mau dimasukkan ke rubrik apa. Jadi ya curhat sajalah. Begini. Beberapa waktu lalu saat mudik ke Jakarta, adik iparku yang mempunyai 2 orang anak balita mengeluh. Itu dikarenakan anak sulungnya Saskia yang berumur 5 tahun akhir-akhir ini sering merengek minta dibelikan rumah yang mempunyai kolam renang! Ya ampun..!

Ternyata ini akibat suatu ketika murid-murid TK diajak ‘berwisata’ ke rumah salah seorang murid yang yang ada kolam renang cukup luas dan berada di wilayah bergengsi. Entah dengan alih-alih ingin menghibur atau mengajak murid-murid yang berasal dari golongan masyarakat biasa itu untuk menikmati suasana lain, atau memang ingin memenuhi ambisi ‘pamer diri’ si empunya rumah karena merasa paling berada di antara mereka. Upaya studi banding, kah? Yang jelas anak-anak yang masih polos itu cuma bisa melongo, terheran-heran, dan ujung-ujungnya jadi ingin memiliki rumah seperti itu!

Aku jadi ingin berbagi saja tentang apa yang dijalankan oleh anak-anakku di sekolah sini. Seperti umumnya negara maju, di Jepang juga tidak ada perbedaan status sosial. Orang berada, setengah berada atau tidak berada, semua sama. Sejak TK sudah ditanamkan hal positif ini dan itu sangat bermanfaat bila mereka sudah menjadi bagian dari anggota masyarakat. Misalnya kedudukan di suatu perusahaan hanya berlaku pada saat jam kerja saja. Selepas itu tak ada boss tak ada bawahan. Bercanda bersenda gurau layaknya teman saja. Profesionalisme dan kinerja maksimal yang diutamakan.

Nah, kembali ke dunia pra sekolah, dunia Taman Kanak-kanak. Aku ambil contoh misalnya perayaan ulang tahun. Bagi masyarakat Jepang ulang tahun itu hari istimewa untuk pribadi saja. Artinya tak perlu sampai harus bersusah payah menghabiskan biaya besar, menggelar pesta mewah jor-joran mengundang banyak orang. Jadi peraturan TK disini melarang untuk merayakan ulang tahun secara pribadi di sekolah. Ini agar mencegah adanya kesenjangan sosial itu. Tapi bukan berarti hari istimewa itu tak dapat dinikmati bersama dengan teman-teman, lho.

Perayaan ulang tahun gabungan. Ya, menggabungkan murid-murid yang berulang tahun dan dirayakan setiap akhir bulan. Bagaimana dengan acara, konsumsi, hadiah? Semua ada dan dijamin tak mengurangi kemeriahan. Untuk acara biasanya para guru mengundang orang tua anak yang berulang tahun dan pasangan orang tua-anak itu dijadikan bintang istimewa. Anak-anak dipersilakan bertanya apa saja pada orang tua tentang teman yang berulang tahun itu. Misalnya bagaimana bunyi tangis waktu lahir, apa masakan ibu yang disuka, dan pertanyaan lucu lainnya.

Semua melibatkan murid-murid secara aktif. Ada acara kuis, acara permainan, menyanyikan lagu ulang tahun bersama. Hadiahpun dibuat sendiri oleh para murid dari bahan-bahan yang ada, dengan ide guru tentunya. Konsumsi? Ada kue atau makanan sederhana tapi istimewa yang dibuat oleh para guru dari bahan yang ada atau tidak memakan anggaran banyak seperti kue cake labu merah atau sponge cake yang dibuat kecil2 dan dihias sendiri oleh para murid.

Acara ulang tahun gabungan selama 2 jam itupun berlangsung sederhana, meriah dan penuh kesan bagi yang berulang tahun. Oya, sejak masuk Sekolah Dasar tidak ada lagi acara ulang tahun bersama. Para orang tua dipersilakan untuk merayakan hari istimewa putra putrinya sendiri.

***
(Kitakami, 26 November 2011)
Penulis Tinggal di Jepang

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,