pertamax

pertamax

 Oleh Ibeth Beth-i

 Tahukah kamu??? Aku termasuk orang yang gaptek. (Wakakakak, gaptek saja bangga!) Eits, tapi jangan apriori begitu dong! Dibalik itu aku senang belajar. Belajar apa saja, sepanjang itu ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang bermanfaat.

Akun fb pertamaku, sahabatku yang mendaftarkan atas inisiatif dia sendiri, tanpa aku minta! Lalu akun itu menjadi korban hacker berbarengan dengan akun fb Jajang C. Noor dihack. Saat itu agak waswas juga. Masalahnya, saat akun Jajang C. Noor dihack, Bagong Kusudiardjo menjadi korban penyalahgunaannya sebesar satujuta rupiah. Lho, apa hubungannya dengan akun fb-ku? Secara tidak langsung, aku takut akun fb-ku disalahgunakan juga.

Dalam akun fb pertamaku, aku hanya menggunakan jejaring sosial ini untuk mencari teman dan sahabat lama serta berbelanja. Wajar, jika saat itu aku banyak sekali berteman dengan toko online. Di masa-masa awal akun keduaku (Ibeth Beth-i) aku belum banyak menemukan manfaat nyata berfesbuk. Aku hanya membaca catatan teman-teman dan mengikuti halaman yang aku sukai. Sesekali aku mengikuti lomba-lomba menulis yang ada.

 

Suatu hari, entah catatan siapa yang aku baca. Aku menemukan informasi proyek nulis buku bareng dengan tema pengalaman masa kecil yang jatuh dateline-nya hanya beberapa hari lagi. Waktu itu, aku bingung dengan statement “Ini bukan lomba, tetapi proyek!” Pikirku, apapunlah kau menamainya, terserah saja! Setelah itu, akupun mengajukan ‘lamaran’ untuk menjadi anggota grup Proyek Nulis Buku Bareng –waktu itu, belum dicantumkan singkatan PNBB-nya-.

 

Pertama kali bergabung terus terang aku pusing (sangadh!!!) melihat komentar-komentar yang bejibun di setiap postingan. Ditambah dengan istilah-istilah aneh yang selalu menyertai di hampir setiap komentar. Segala macam BBM dibawa-bawa, sajen ada juga. Ah, ini grup juragan minyak yang juga berpraktek sebagai mbah dukun kali, ya…!

 

Semakin lama, akhirnya aku semakin mengenal PNBB. Aku ikuti catatan Pak Kepsek Heri Cahyo tentang proyek cerita masa kecil itu. Selanjutnya aku sangat terbantu dengan adanya Kamus Gaul PNBB (ooo, begitu tho maksuthe, tak pikir mau pada dagang minyak). Akupun dibuat ngakak dengan tulisan-tulisan CUS. Aku ingat, Pak Kepsek mengajak SBY, orang nomor satu di Indonesia untuk berburu pertamax di lapak PNBB. Terus terang sebetulnya aku ingin ikut mengirimkan naskah CUS, tetapi saat itu aku memaknai CUS sebagai tulisan politik yang berat dan tak bisa aku jangkau. Hingga aku tak mampu memaksa otak untuk menggerakan tanganku agar menulis. Kini, menyesal cuy tidak ikut!

 

Setelah tersesat di belantara PNBB, aku menemukan banyak hal menarik dari dunia fesbuk. Mengapa menarik? Karena aku dapat merasakan manfaatnya secara langsung. Di PNBB aku mendapatkan kembali motivasi menulisku yang sudah raib sejak sekurang-kurangnya 4 tahun ke belakang. Mengapa? Karena aku kembali menemukan manfaat menulis!

 

Mengapa belajar di PNBB itu mengasyikkan? Pertama, karena memang terasa manfaatnya. Aku bisa kembali menulis, bahkan fb yang dulu aku gunakan sebagai sarana mencari toko online kini berbalik, akulah pemilik toko online!

 

Kedua, karena semangat grup luar biasa. Aku pernah mendengar seorang ustadz berceramah tentang pergaulan. Jika kita bergaul dengan tukang minyak wangi, setidaknya kita akan tertular wangi parfumnya. Bergaul dengan orang-orang yang antusias dan penuh semangat di PNBB, Insya Allaah kita akan tertulari antusiasme dan semangat mereka.

 

Ketiga, suasana di PNBB layaknya berada dalam sebuah keluarga besar. Dukungan dan bimbingan berkembang pesat antaranggota keluarga. Selain itu, adanya sajen, istilah khusus PNBB, dan kerusuhan-kerusuhan yang beraneka semakin mempererat hubungan emosional antaranggota.

 

Ke empat, PNBB bergerak begitu cepat dalam perkembangannya. Didukung oleh keseriusan para ‘dedengkot’ untuk menjadikan PNBB sebuah grup yang visioner dan bukan hanya komunitas belaka. PNBB yang merupakan sebuah grup berbasis ‘proyek’, bukan sebagai penyelenggara lomba, bagaimanapun menjadi satu daya tarik tersendiri.

 

Karena PNBB kini semangat menulisku kembali. Kini akupun tahu, menulis adalah kebutuhanku. Matursuwun Pakdhe Heri Cahyo dan PNBB! What a crazy group!!!