Oleh Chilmi Muhammad S

Saat itu, masih teringat olehku betapa bahagia bercampur dengan rasa tak kuasa ketika setiap pagi aku bisa pergi ke sekolah dengan tidak mengenakan celana pendek lagi, yang seolah mencerminkan kedekilan bocah ketika akan bermain. Mimpi yang sedari kecil ku tancapkan jauh dalam relung jiwaku kini telah tergapai. Dulu ketika aku masih menjadi bocah ingusan, sering ku tatap sebuah sekolah yang begitu indah, yang setiap hari kulihat banyak siswanya keluar masuk dengan kendaraan produk mewah. Mereka terlihat bangga walaupun aku mengerti bahwa sesungguhnya itu semua hanya pemberian orang tua mereka yang tak sanggup menahan rasa congkaknya.

Kini tahukah kalian, aku pun menjadi bagian dari mereka itu. Kulangkahkan kakiku dengan lagak anak gedongan. Tanpa tengok kanan kiri lagi, segera akupun ingin tahu dan berkenalan dengan para siswa yang beruntung lainnya sepertiku. Kabarnya SMA ini merupakan sekolahnya anak-anak penikmat dunia. Begitulah setidaknya obrolan para tukang becak di luar sana.

“Tuhan, apakah memang aku pantas bisa masuk sekolah semegah ini” gumamku sendiri dalam hati.

Sekalipun saat itu aku bisa mengerti mengapa Tuhan menakdirkanku bisa masuk dalam sekolah itu. sebuah prestisius tersendiri bagi orang tua yang memiliki anak bisa mengenyam pendidikan di sekolah itu

“Ah mungkin ini hadiah Tuhan untuk orang tuaku yang selama ini berdo’a dalam malam-malamnya” pertanyaankupun ku jawab sendiri

Kembali kulanjutkan perjalananku menyusuri sudut demi sudut guna menemukan sebuah ruangan kelasku. Belum lama melangkah, kakiku terjerembak oleh ketakjuban pada sebuah bangunan yang mereka katakan itu sebagai sebuah musholah. Cukup menggelikan menurutku, di dalam sebuah lahan yang begitu luas, yang tentunya aku yakin pasti jumlah siswa di situ lebih banyak dari segerombolan manusia purba di zaman dulu hanya memiliki bangunan tempat beribadah sebesar kandang kuda milik tetanggaku. Jika kubandingkan dengan lahan parkir dan lapangan olahraganya yang seluas stadion Gelora Bung Karno (GBK).

“Namun biarlah, mungkin begini cara orang kota menghargai bagaimana nikmatnya pemberian Tuhan mereka”

Setelah itu aku pun melanjutkan perjalananku. Akhirnya kutemukan juga sebuah raungan berukuran bangunan gudang di sekolahku yang lama. Tampak dari luar ku lihat sebuah papan kayu bertuliskan angka favorite para pemain sepak bola. Dimana angka itu sering melekat di bagian punggung kaos para pemain terkenal . Kembali aku pun dibuat takjub oleh pemugaran dari system baru pemerintah. Dari angka satu menjadi sepuluh

“Memang sekarang sudah zaman ya angka-angka pada ditambahi, maka tak usah heran kalau banyak korupsi dimana-mana” aku lagi-lagi kembali bergumam

***

Hari pertama masuk sekolah, aku langsung bertemu dengan wajah-wajah baru yang terasa asing bagiku. Mereka terlihat sekali sangat nasionalis, bukan karena mereka semua taat dan patuh pada peraturan sekolah atau cinta dengan upacara pelantikan siswa baru, tetapi bagiku ukuran nasionalis di negara ini terlihat dari bagaimana berbagai suku dan budaya bisa bersatu. Bersatu sama-sama bisa menghargai dan mencintai pendidikan di negara tempat bapak ibunya dilahirkan.

Beberapa menitpun berlalu, kenasionalisanku pun semakin terasa ketika saat itu aku berjumpa dengan seorang teman baru yang berasal dari sebuah etnis yang berbeda dengan warga pribumi. Sepintas sosok baru dihadapanku ini terlihat begitu berpesona dan menawan untuk ukuran laki-laki labil. Dengan aksesoris kacamata putih dia selalu berlagak seolah adalah anak pemilik sekolah. Kesana kemari selalu diikuti oleh beberapa teman yang mungkin sepaham dengan ideologinya.

Tak terasa beberapa hariku pun terlewati dengan biasa saja bersama seorang laki-laki tadi di sebelahku. Sampai pada suatu waktu tak kusangka di laci bangkuku ku temukan sebotol yang saat itu kesebut dengan istilah “Vodka” karena aku tahunya minuman beralkohol cuma hanya satu jenis yakni jenis spesies tersebut. Dengan nada sayu, laki-laki berkacamata putih itu berkata

“Tolong aku titip barang itu ya, nanti waktu istirahat aku ambil” begitu lah bisikan merdunya terhembuskan di telingaku.

Entah karena jiwaku memang pengecut atau memang karena kebaikannya selama ini dalam meng back up diriku saat ada masalah, aku pun dengan polosnya menjawab

“Baiklah” serayaa kuanggukkan kepalaku

Tidak berapa lama jam istirahatpun datang menyapa, terlihat beberapa gerombolan laki-laki berkacamata putih tadi datang berkelompok seperti srigala yang mendekati bangkai babi hutan. Mereka menunggu barang yang di awal tadi sempat kuasumsikan dengan kata “Vodka”.

Belum sempat ku ambil sebotol minuman itu dari laci mejaku, terlihat salah seorang dari grombolan itu tengah bersiap membuka minuman cola yang berkarbonnasi tinggi. Akupun bertanya layaknya bocah tolol

“Buat apa minuman itu?, bukankah sebotol minuman di dalam laci ini sudah cukup bila dibagikan untuk beberapa anak disini?”

Seorang pemegang minuman cola itupun menjawab “minuman ini akan aku campurkan dengan minuman dalam laci mejamu. Sudah cepat keluarkan botol minuman itu !! terlihat jiwa anak ini mulai bergereget dengan nafsunya

Akupun menurutinya, setelah kukeluarkan kuserahkanlah botol minuman itu dengan pasrah, mulailah mereka mencampur adukkan kedua minuman tadi. Jika kalian tahu apa yang sedang terlintas dalam benakku saat itu, ya cuma tiga kata, yakni

“Pesta miras oplosan”

Perlahan namun pasti, akupun mulai menjauh dari tempat itu, karena begini-begini di dalam jiwaku masih tersisah cipratan ludah barokah dari guru ngajiku saat kecil dulu. Bak seorang pencuri akupun segera kabur. Usaha belum berbuah hasil, langkah kakikupun dihentikan oleh pemuda berkulit hitam dan berbibir tebal. Dia ingin aku untuk di tempat itu dan merasakan seteguk minuman surga dunia tersebut.

Dengan raut muka memelas, aku pun memohon agar tidak diperbolehkan ikut mencoba, tetapi mereka dengan berdali kebersamaan terus memaksaku. Hingga akhirnya teman sebangkuku tadi yang ku juluki dalam cerita ini dengan istilah laki-laki berkacamata putih datang dan membiarkanku pergi tanpa harus mencoba rasa dari minuman racikan teman-temannya tadi

Sebelum aku pergi jauh dari tempat itu, laki-laki berkacamata putih tadi berpesan

“Tolong jangan kamu bilang siapapun apa yang kita lakukan sekarang jika kamu memang ingin kami tetap menjadi temanmu”

Akupun hanya mengiyakan saja tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

setelah kejadian tersebut, mereka semua semakin menggila dalam berpesta, bukan lagi menunggu saat jam istirahat, malah di saat ada guru di depan kelaspun tak mereka hiraukan, selama situasi dan kondisi aman mereka pun sudah bisa bermabuk ria di belakang.

Di bagian akhir cerpen ini saya hanya bisa berkata
“Sungguh beginikah potret kehidupan dunia pendidikan Indonesia saat ini? Entah siapa yang patut dipersalahkan, yang terpenting marilah kita berlomba-lomba untuk bisa menjadi siapa yang akan menyelamatkannya”.

 

Tags: , , ,