Selepas MTsN, aku berniat untuk melanjutkan ke sebuah Pondok Pesantren di bilangan kota Jember, tepatnya di Balung. Awalnya aku tidak tertarik dengan dunia Pondok Pesantren, namun gara-gara adik laki-lakiku yang pertama, masih kelas satu MTs mengirim surat pada Papa dan Mama dan padaku berbahasa Arab. Wuih…serta merta aku benar-benar jealous tingkat tinggi dan iri juga, pasalnya di MTsN aku benar-benar makan hati untuk belajar Bahasa Arab. Bahasa Arab itu sulit gurunya menyeramkan pula dan aku selalu pulang belakangan berhadiah cubitan lagi, karena urusan mencari mubtada’ khobar yang ndak kelar-kelar. Walhasil, masuk pondok pesantren adalah salah satu niatanku untuk dapat berbahasa Arab, baik lisan maupun tulisan.

Hari pertama di Pondok Pesantren aku lewati dengan setengah hati, karena Papa dan Mama telah pulang ke rumah, dan aku sendiri, walaupun banyak teman, tapi hatiku sepi juga. Lambat-laun akupun terbiasa dengan kehidupan di Pondok Pesantren. Kegiatan seabrek, mengalahkan rasa kangenku pada keluarga. Bayangin saja, jam 04.00 harus sudah stand by di masjid, jamaah shalat subuh, selanjutnya mempersiapkan diri untuk masuk kelas, mandi dan makan pagi, selepas shalat dhuhur berjamaah makan siang dan jam 14.00-15.00 ada pelajaran idhof (tambahan). Setelah itu istirahat sejenak sambil antri kamar mandi dan bersih-bersih kamar atau ma’had (pondok) bagi yang piket. Setelah itu jam 17.00 masuk masjid mengaji dan sholat maghrib berjamaah. Setelah makan malam dan sholat isya’ berjamaah. Jam 20.00 waktunya belajar, makan-makan, ngobrol juga dengan teman-teman bahkan tidur juga he..he..he.. pasalnya, karena kecapean ketika tiba jam belajar, memang benar-benar membawa buku, namun selang setengah jam, yang namanya mata masya Allah, ndak mau kompromi. Akhirnya masjid, depan mabna (kamar), penuh dengan santriwati yang belajar plus tidur juga.

Hubungan antar lawan jenis sangat dijaga di dalam pondok. Berbagai aturan dan ketat menjaga kami 24 jam untuk tidak bertemu muka apalagi menjalin sebuah hubungan. Jadi para pengajar pun hanya ustadz-ustadz yang sudah sepuh (tua) saja yang boleh mengajar di lingkungan pondok pesantren putri.

Bagiku tidak bertemu kaum Adam di pondok pesantren tidak ada masalah, sebab di MTsN dulu aku sudah bertemu banyak kawan laki-laki. Memanage hati memang tidaklah mudah. Ada kisah lucu terjadi padaku. Kebetulan di dekat sekolah ada kamar kecil yang ditempati cleaning service laki-laki. Sebab dulu Madrasah Aliyah berlokasi di dalam pondok putri, dan siswanya berasal dari luar pondok. Sedangkan santriwati punya sekolah sendiri. Nah sebut saja Joko, kami memanggilnya Lek Jojo seorang cleaning service ini sehabis bekerja terkadang kongkow sebentar bercanda dengan santriwati. Lek Joko ini mengenal baik aku dan adikku yang tinggal di Pondok putra. Ia pun menyampaikan salam seorang ustadz jebolan Pondok pesantren terkenal di Jatim padaku. Sebenarnya ustadz itu juga sangat mengenal baik adikku, karena memang ustadznya. Wah…Lek Joko ini menggambarkan ustadz tersebut dengan begitu jelas, bersemangat dan menginginkan aku membalas salamnya. Akupun benar-benar kaget bercampur takut, takut ketahuan bagian keamanan, kalau ketahuan…waduh…tamat riwayatku. Image yang kubangun jatuh deh. Imagenya, aku dikenal sebagai pribadi yang tak banyak bicara dan rajin. Apalah kata dunia kalau aku berhubungan dengan laki-laki di pondok??? Gawat.

Berangkat dari itu semua, aku tak mengindahkan kata-kata Lek Joko, kata-katanya kuanggap angin lalu. Hampir tiap hari dia lewat depan kelasku hanya untuk berucap: “Lel, dapet salam dari ustadz”. Aku menanggapinya dengan senyam senyum, walau lama-lama penasaran juga sama tuh ustadz, tahu namanya ya dari Lek Joko aja untuk urusan tampang, ndak berani.

Selang beberapa bulan, ketika menunggu adzan Maghrib, seorang kakak di bagian keamanan memanggilku. Dia memanggilku dengan senyuman. Aku menghampirinya seraya berpikir, tumben si kakak bagian keamanan senyam-senyum padaku. Lalu si kakak itu menanyakan aktifitasku dan kesehatanku, hingga ia menanyakan ada hubungan apa antara aku dengan salah satu ustadz jebolan Pondok Pesantren terkenal di Jatim itu. “Ya Allah…masya Allah….??? Aku benar-benar dibuat surprise. Kutanyakan darimana si kakak tahu kabar burung tersebut, sengaja kubilang kabar burung, lha…diriku tak merasa?? Ternyata kabar ada hubungan antara aku dan si ustadz itu berasal dari ustadz-ustadz alumni pondok putra yang di Probolinggo, waduh….sampai juga kabar burung kemana-mana. Walhasil aku pun menceritakan bahwa aku tidak mengenal si ustadz tadi, dan Alhamdulillah pernyataannku membawa hasil.

Sejak saat itu, aku mulai ekstra berhati-hati menerima kiriman-kiriman salam, yang entah benar atau tidak. Lebih menjaga diri untuk membuat progress pada diriku ke arah yang lebih baik, mandiri dan santun juga.

Malang, 17 Januari 2013

 

Tags: , , ,