Dear, SBY-ku…

Dari dulu saya pengin bisa curhat ke Bapak. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan ke Bapak. Namun apa boleh buat, saya tidak mempunyai daya untuk menyampaikan uneg-uneg saya sampai ke Cikeas atau Istana Negara. Maka, izinkanlah saya untuk menyampaikan sedikit curahan hati saya untuk Bapak tercinta, yang  menjadi orang nomor satu di negeri ini. Yaitu negeriku tercinta, Indonesia.

 

Presidenku yang tercinta…

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SD sampai dengan SMP, kebanyakan di ruang tamu rumah rakyat Indonesia, persis menghadap pintu depan, foto ukuran 10 R dengan pigura dari kayu yang diukir, terpampang wajah penuh senyum setengah badan, dialah Pak Soeharto dan wakilnya.

 

Waktu itu, Pak Harto adalah magnet. Laksana Raja Midas, apapun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Siapapun yang dirangkul Pak Harto, maka buatnya terbentanglah jalan yang lurus dan nyaman, tanpa ada aral merintang. Sampai-sampai ada semacam hokum tak tertulis di kalangan pejabat negeri ini, siapapun tidak akan pernah bisa menjadi “besar” tanpa restu Pak Harto. Maka orang-orang berbondong-bondong mendekatinya. Bahkan kalau perlu, maaf, dengan menjilat pantatnya.

 

Kalau yang jadi ukuran adalah dirinya dan keluarganya serta kroni-kroninya, maka Pak Harto boleh dibilang sukses besar. Bayangkan, 32 tahun berkuasa, bahkan hamper-hampir sendirian memegang kendali atas negeri ini; militernya, para pejabatnya, rakyatnya, bahkan hokum dan catatan sejarahnya. Keluarga Pak Harto; mulai dari anak, menantu, cucu, sampai saudara tiri dan adik ipar menjadi salah satu keluarga terkaya di dunia. Sungguh prestasi spektakuler; siapa yang mampu menandinginya? Bahkan, dalam 1000 tahun perjalanan bangsa kita ke depan, belum tentu ada pemimpim yang menyamai “kesuksesan” Pak Harto tersebut.

 

Akan tetapi kalau ukurannya adalah negeri ini, maka Pak Harto boleh dibilang gagal total. Faktanya, 32 tahun kepemimpinannya, negeri ini kini terpuruk sedemikian dalam; krisis ekonomi berkepanjangan, korupsi kian merajalela, system pendidikan kita tidak bisa diandalkan dan lain-lain.

 

Namun, setelah era reformasi 98, kini semuanya berubah. Pak Harto ibarat pesakitan. Ia dicaci dimana-mana. Termasuk oleh mereka yang pernah dibesarkannya, orang yang dulu membungkuk-bungkuk dihadapannya,. Bahkan ia juga dianggap sebagai sumber segala petaka yang terjadi di negeri ini. Barangkali hanya satu kata yang tepat untuk menggambarkan seluruh perjalanan hidup Pak Harta: TRAGIS!.

 

Terlepas dari apa dan bagaimana gaya kepemimpinan Pak Harto selama ini, saya tidak hendak ikut-ikutan menghujat atau memujanya. Satu hal yang pasti, Pak Harto tidak mempersiapkan pengganti. Pak Harto turun dari jabatannya bukan karena suatu proses regenerasi yang terencana, tetapi dipaksa oleh keadaan. Salah satu ukuran keberhasilan pemimpin adalah kalau komunitas yang dipimpinnya tetap berjalan normal, pun bila Sang Pemimpin lengser keprabon mandek pandito. Andai saja Pak Harto mau belajar dari Mr. Lee Kuan Yew, mantan PM Singapura, ceritanya pasti akan lain. Paling tidak, ia tidak akan menjadi pesakitan.

 

Ada beberapa hal kenapa Pak Harto lengser. Pertama, Pak Harto kebablasan. Saking lamanya dan enaknya jadi Presiden, ia lupa bahwa manusia tetaplah makhluk yang terbatas. Tidak ada kekuasaan manusia yang langgeng. Kedua, selama 32 tahun memimpin negeri ini, orientasi Pak Harto memang bukan pada kesejahteraan dan kemakmuran rakyat banyak, tetapi pada kesejahteraan dan kemakmuran keluarga dan kroni-kroninya. Karenanya ia lantas berpikir, kalau bisa selama mungkin berkuasa, kenapa tidak.

 

SBY-ku…

Kisah Pak Harto adalah kisah tragedy seorang anak manusia yang terjebak oleh jabatan dan kekuasaan sendiri. Semoga Bapak SBY bisa belajar dari padanya. Jabatan dan kekuasaan bukan segala-galanya; karena itu jangan mempertaruhkan segala-galanya demi merebut dan mempertahankannya. Jabatan dan kekuasaan adalah sarana, bukan tujuan; ia kan berguna selama ia menjadi PELAYAN, dan berbahaya kalau menjadi TUAN.

 

Presidenku, kepemimpinan Bapak masih tersisa 2 tahun lagi sebelum pemilu 2014. mudah-mudahan, Bapak bisa belajar dari kepemimpinan Pak Harto, sehingga tidak mengulangi kesalahan dalam sejarah. Sebab, kekuasaan batapapun tetaplah titipan yang harus dipertanggung-jawabkan, bukan warisan yang digunakan seenaknya dan semaunya.

 

 

 

—————-

NB: [CUS] atau Curhat Untuk SBY ini adalah Proyek Nulis Buku Bareng yang diprakarsai oleh Pak Abrar Rifai. Untuk informasi selengkapnya, bisa klik: https://www.facebook.com/notes/abrar-rifai/buku-antologi-curhat-untuk-sby/10150384111250622

September 23, 2011 at 1:55pm

 

Tags: ,