Assalamu’alaikum Bapak SBY

 

Sebelumnya saya mau minta maaf kalau saya sudah lancang untuk ikut curcol ke Bapak, sebenarnya saya juga menyadari kalau tugas Bapak sebagai Bapak bagi Negara Indonesia kita yang tercinta sudah sangat menyita waktu, perhatian, tenaga, dan pikiran Bapak. Tetapi saya ingin juga curcol ke Bapak seperti yang teman-teman saya lakukan, oh ya Pak, mungkin saja Bapak kurang mengerti apa itu curcol, karena ini merupakan bahasa tidak resmi alias bahasa alay (anak layangan), padahal saya bisa dikatakan bukan termasuk jamaah alay lho pak hanya ikut-ikutan saja memakainya, oh ya kembali ke masalah curcol, curcol adalah singkatan kata dari curhat colongan, kalau dalam bahasa resmi bisa dibilang keluhan.

 

Saya sangat berharap kalau curcol saya ini bisa dibaca oleh Bapak secara langsung sewaktu Bapak masih menjabat sebagai Presiden mengingat dua tahun lagi Bapak sudah akan menyelesaikan tugas mulia tersebut, oh ya perkenalkan dahulu saya adalah pedagang di pasar Temanggung yang sehari-hari menjual alat-alat pancing dan alat-alat tulis, sehubungan dengan profesi saya tersebut maka saya juga akan curcol masalah yang ada hubungannya dengan itu.

 

Pak SBY yang tercinta, sebagai presiden yang terpilih dengan metode baru yaitu presiden yang terpilih secara langsung, pada awal dilantiknya Bapak kami sangat berharap banyak agar Bapak bisa membawa angin perubahan di segala bidang terutama pemberantasan masalah korupsi, kolusi, nepotisme sampai ke akar-akarnya, namun sungguh sayang kepercayaan dan harapan kami yang pada awalnya sudah besar sedikit demi sedikit mulai luntur, hal itu karena Bapak lebih mengedepankah pencitraan diri, pemberantasan korupsi yang pada awalnya sudah bagus, lama-kelamaan mulai melempem selayaknya kerupuk yang terkena cipratan air atau seperti balon yang bocor yang lama-kelamaan kempis.

 

Yang paling banyak menyita perhatian banyak masyarakat adalah kasus skandal Bank Century yang sekarang sudah bermetaforsis menjadi Bank Permata dengan alasan bisa berdampak sistemik kalau tidak diselamatkan (menurut perhitungan para ahli yang berkompeten di bidang perbankan dan pengambil kebijakan di negeri ini), namun konon menurut prhitungan para ahli laiinnya sudah merugikan negara sebanyak 6.7 Triliun, wah angka sebanyak itu nolnya berapa ya Pak? bingung juga saya, karena ketika saya mencoba menulisnya di kalkulator saya ternyata angka digitnya kurang (maklum yang biasa saya hitung hanya sejumlah ribuan saja).

 

Sehubungan dengan profesi yang sedang saya geluti ini (doakan agar sukses ya Pak), maka sebagai seorang pedagang alat-alat pancing maka angan-angan saya langsung jauh membayangkan, seandainya saja uang sejumlah itu dibelikan ikan (lele, combro, tawes, bader, nila, gurame) lalu di lepas ke sungai-sungai di seluruh Indonesia, maka akan sangat banyak sekali dampaknya positifnya bagi banyak rakyat Indonesia, saya ilustrasikan saja, berapa banyak anak-anak sampai orang dewasa yang akan menikmati acara memancing massal tersebut (sejenak melupakan beban hidup), berapa banyak petani pembibit yang bisa menikmati kecipratan rezeki nomplok tersebut, berapa banyak pedagang alat-alat pancing yang juga ikut kebanjiran pembeli, berapa banyak para perajin pembuat alat-alat pancing yang akan ikut kecipratan order barang-barang, selanjutnya banyak pengangguran yang akan terserap ke lapangan pekerjaan pengerjaan pembuatan alat-alat pancing, pembibitan dan lain-lain, ke depannya tidak ada lagi penduduk Indonesia yang harus mengadu nasib sampai ke negeri arab juga ke negeri tetangga yang terkenal dengan para malingnya kalau di negeri kita tersedia banyak lapangan pekerjaan, juga kelestarian alam di sungai-sungai Indonesia akan terjaga dengan baik, itu menurut bayangan saya sebagai rakyat yang berkecimpung di bisnis yang berkaitan dengan pancing memancing.

 

Sebenarnya saya ingin curcol banyak hal, namun rasanya tidak etis dan bijaksana bila diperpanjang lebar, mengingat waktu dan tenaga Bapak yang sudah sangat banyak tersita untuk mengurusi banyaknya “anak” yang Bapak punya.

 

Kurang lebih itu saja curcol saya untuk Bapak, sangat berharap banyak bila seandainya bisa berbincang-bincang langsung bukan kapasitasnya sebagai rakyat dan penguasa, tetapi sebagai anak yang berbincang ke orang tuanya, ngobrol santai sembari menikmati secangkir kopi capucinno di teras belakang istana

 

Sekian

 

Wassalamu’alaikum

 

 

NB: Curhat Untuk SBY ini adalah Proyek Nulis Buku Bareng yang diprakarsai oleh Pak Abrar Rifai. Untuk informasi selengkapnya, bisa klik: https://www.facebook.com/notes/abrar-rifai/buku-antologi-curhat-untuk-sby/10150384111250622

September 25, 2011 at 11:31am

 

Tags: ,