As.Wr.Wb. Salam hormat Bapak SBY.

Seandainya boleh setiap orang di negeri ini berkirim surat atau berkirim SMS kepada Pak SBY, mungkin saya termasuk orang yang akan berkirim surat, atau mungkin juga surat saya yang paling sering diantarkan oleh pak Pos, bisa jadi surat saya juga surat terpanjang yang pernah pak SBY terima, bisa-bisa melebihi isi berita di surat kabar pagi ini. Atau bisa jadi SMS saya yang paling sering masuk di HP pak SBY, paling tidak bertanya kabar : sarapan di mana Pak SBY, atau makan siangnya gak usah pakai sambel kacang  nanti asam uratnya kambuh, atau mungkin hanya sekedar ucapkan selamat malam dan selamat istirahat.

Mohon maaf sebelumnya, karena saya menyebut Bapak hanya dengan nama SBY, padahal saya tahu itu sangat tidak sopan, tetapi itu sering saya dengar dan sering pula tertulis besar sekali di surat kabar. Seharusnya saya memanggil Bapak dengan nama lengkap Susilo Bambang Yudoyono, dengan tambahan gelar di depan seperti kata Yang MuliaTuan atau Baginda, seperti yang sering tersebut dalam cerita-cerita rakyat, untuk memanggil Pemimpin Tertinggi atau seorang Penguasa. Tapi karena negeri ini bukan Negeri Dongeng, dan bukan pula Kerajaan, maka saya lebih baik memanggil bapak dengan sebutan Pak SBY saja. Bukan berarti saya tidak menghormati Bapak, justru ini adalah panggilan tertinggi dan sangat terhormat menurut saya, yaa hitung-hitung sekalian berhemat kertas dan tinta, jika melalui SMS supaya bisa memuat kata-kata lebih banyak. Andai saja Bapak SBY punya akun FB, yaa saya kan bisa jadi teman di FB, bisa gabung di grup ini Proyek Nulis Buku Bareng.

Sebenarnya saya tahu, setiap orang boleh saja mengirim surat kepada Bapak, tetapi saya yakin surat saya tidak akan pernah sampai di tangan Bapak, apalagi membacanya, karena Bapak sangat sibuk dari pagi hingga malam, bahkan tidak ada hari libur bagi Bapak, tidak ada kalender merah bagi Bapak, karena setiap hari terus saja memikirkan Negeri ini. Jadi mana mungkin sempat membaca surat dari rakyat jelata seperti saya, paling juga hanya akan di baca oleh orang-orang yang setia membantu Bapak bekerja. Walau begitu saya sudah merasa senang, karena paling tidak surat saya sudah sampai di Jakarta sana, dibaca atau tidak, bagi saya tidak terlalu penting.

Jakarta itu menurut saya sangat jauh sekali Pak SBY, maklum saja saya tinggal di Sangatta jauh di Pelosok Desa, jangankan pesawat, angkot saja tidak mau masuk ke daerah tempat tinggal saya, paling juga hanya ada ojek, itupun harus yang sudah kenal, jika tidak mana ada yang mau mengantarkan ke daerah tempat tinggal saya di pelosok ini.

Saya merasa lebih dekat Bulan di langit sana daripada Jakarta, karena bulan bisa saya pandang dari halaman rumah, sedangkan Jakarta tidak dapat saya lihat, padahal saya sudah naik di puncak tertinggi “Gunung Menangis” tanjakan tersulit yang harus di lalui jika dari Kota Samarinda, tapi tetap saja Jakarta tidak terlihat, malah terasa Bulan lebih dekat sepertinya hanya nyangkut di pucuk kelapa di “Bukit Pelangi” sana di kawasan Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.

Kapan yaa kira-kira Bapak SBY bisa jalan-jalan ke Sangatta, tapi jika ke Sangatta, biar saya bongceng  naik kendaraan roda dua saja, supaya Bapak SBY tidak mabuk di jalan, karena jalan ke Sangatta sudah banyak rusak, banyak lobangnya dalam-dalam apalagi musim hujan begini, jika naik mobil pak SBY bisa nginap di jalan, tapi jika dibonceng saya, pasti sampai di Sangatta, mau bertanding kecepatan dengan mobil juga boleh. Maaf yaa Pak SBY, karena saya hanya punya kendaraan roda dua saja, lagi pula jika Pak SBY ke Sangatta, pasti jalan-jalan di perbaiki,  kan Bapak mau lewat, tapi jika yang lewat hanya penjual sayur, atau orang seperti saya saja, jalannya tidak akan di perbaiki, gitu Pak SBY.

Hitung-hitung kita bisa berhemat biaya, karena di Sangatta kadang-kadang Bensin atau minyak tanah atau juga gas elpiji sangat sulit di dapatkan. Padalah di tempat saya ini penghasil batu bara, ada juga sumur gas, juga banyak sekali sumur-sumur minyak, tidak kurang dari 150 sumur yang tiap hari dipompa, tapi di tempat saya sering kali kehabisan minyak, sampai-sampai antrian mobil di Pom Bensin itu mencapai dua kilo meter, bisa juga antrian derijen minyak tanah disusun rapi hingga memenuhi lapangan volly terkadang sampai berminggu-minggu.  Mengapa begitu ya Pak SBY?

Wah jika sampai di Sangatta, terus jangan nginap di rumah saya ya Pak SBY, karena di rumah saya belum ada Air PDAM,  yang ada hanya air sumur, lagi pula dirumah saya belum ada listrik PLN, saya hanya pakai mesin disel sendiri dinyalakan hanya malam hari saja, itu juga patungan dengan tetangga untuk beli solarnya. Sudah daftar juga di PLN sana, tapi belum lama, baru dua kali Pemilu Langsung, kira-kira seumur dengan masa Jabatan Bapak SBY, namun sampai sekarang juga belum di pasang, sudah tiga kali ganti Kepala  PLN belum juga di pasang, sampai-sampai saya di hapal oleh orang PLN lho, belum lagi saya masuk ke kantor PLN, saya sudah dapat senyuman dan di sapa ramah “Belum ada pemasangan Pak” begitu terus, padahal jika rumah Pejabat di daerah saya yang pasang, rumahnya belum jadi listrik PLN sudah di pasangkan.

Ketika saya pulang ke kampung halaman sering saya berpikir, kapan anak-anak dapat menikmati kemajuan Negeri kita ini, seperti di negeri dongeng sana. Televisi tidak ada, buku sulit diidapatkan, padahal anak-anak di kampung halaman saya sana, semangatnya untuk sekolah luar biasa sekali. Pagi-pagi mereka berangkat ke sekolah, walau tanpa alas kaki, terkadang juga, jika hujan hanya berpayung daun pisang, tapi tetap saja mereka berangkat ke sekolah, walau sekolahnya hanya SD Filial yang jauh dari Ibukota Kecamatan dan hanya ada satu ruangan kelas. Gurunya juga bukan guru benaran, hanya seorang perantau yang sedih melihat kondisi anak-anak, sehingga mengorbankan waktunya untuk memberikan pelajaran membaca dan menulis serta berhitung. Padalah seperti yang saya dengar, bahwa dana untuk pendidikan itu besar sekali, katanya sih 20 persen, tapi saya juga tidak mengerti apa maksudnya, apa 20 persen yang sampai untuk pendidikan anak-anak, ataukah 20 persen itu juga termasuk untuk anak-anak yang jauh berada di kampung halaman saya sana.

Semoga saja pada tanggal merah nanti Bapak SBY sempat menceritakan atau jika mungkin sekalian bisa jalan-jalan ke kampung halaman saya sana, karena selama ini tempat-tempat seperti di kampung halaman saya itu tidak pernah di kunjungi oleh Pejabat negeri ini, paling juga ada yang berkunjung lima tahunan, saat-saat kampanye ada yang datang, dengan perahu yang membawa muatan penuh janji-janji, begitu terpilih malah lupa dengan janjinya. Kadang sih ada juga warga masyarakat yang datang ke kantor sang Pembawa Janji  tadi, tapi biasanya mereka tersebut sangat dihormati, bahkan selalu di jaga ketat oleh Petugas Keamanan sehingga hanya diperbolehkan duduk dihalaman kantor.

Kapan ya Pak SBY….saya bisa jalan-jalan ke Jakarta, masuk ke halaman Istana Negara, atau mutar-mutar di Tugu Monas, atau berkeliling di pertokoan Manga Dua, atau melihat-lihat pasar Tanah Abang, yaa seperti orang rekreasi gitulah. Agak jenuh juga rasanya saya sudah melihat pedagang sayur pasar tradisional di Sangatta Seberang sana, atau di Pasar Teluk Lingga, setiap pagi mereka selalu di datangi orang yang bukan pembeli, tapi di datangi oleh petugas Retribusi. Menurut cerita yang saya dengar, uang itu sih di setor ke Negara, digunakan untuk biaya pembangunan, untuk menggaji para Pejabat Negeri ini, juga untuk mendanai proyek-proyek, seperti studi banding para pejabat dan bos-bos besar pergi  ke Luar Negeri, pulang-pulang bawa “oleh-oleh gantungan kunci”, padahal jujur saja pedagang sayur yang menggelar dagangannya di pinggir jalan itu tidak perlu gantungan kunci, karena ada saja di antara mereka yang rumahnya tidak punya daun pintu, jadi kunci apa yang akan di gantung.

Mohon maaf pak SBY, curhat untuk bapak SBY kali ini mungkin terlalu luas, seluas negeri kita ini, dan banyak sekali yang di curhatkan, tapi masih belum sebanyak jumlah pulau-pulau di negeri ini, apalagi jika dibanding dengan permasalahan di negeri yang Bapak pimpin ini. Satu diantara pulau tersebut adalah tempat saya tinggal, yaitu di Provinsi Kalimantan Timur yang langsung berbatasan dengan negara tetangga. Sebagai seorang yang ahli dalam strategi berperang, saya sebenarnya ingin mendengar cerita Bapak SBY tentang, bagaimana pengamanan di setiap perbatasan antar negara, termasuk yang ada di daerah saya. Jujur saja rasanya saya ingin sekali mendengar cerita tentang pulau Sipadan dan Ligitan atau cerita di Ambalat, tetapi saya juga takut jika terjadi perang, karena saya tidak pandai menembak, dan bukan hanya itu kekhawatiran saya juga karena teringat dengan saudara-saudara saya yang sering mengeluhkan  pelayanan negeri kita, dan justru mereka sering membanggakan negara tetangga di banding Negeri kita. Saya ingin sekali mendengarkan cerita Bapak SBY tentang cara menanamkan rasa bangga Indonesia melalui meningkatkan pelayanan di wilayah perbatasan.

Terima kasih pak SBY, jika berkenan membaca curhat saya ini, karena tadi pagi saya juga sempat membaca surat kabar, walau surat kabar tiga bulan lalu, tapi cukup membuat saya berpikir agak keliru. Tertulis besar judul berita Presiden SBY…, dalam benak saya mengapa orang menulis seperti itu, seharusnya “Presiden RI, SBY…” tapi begitulah yang sering saya lihat di TV atau berita di korang-koran. Sepertinya berita di buat tanpa filter samasekali. Khawatir saja akan menyulut api pergolakan di masyarakat kita, hanya karena berita yang belum jelas sumbernya, kemudian di besar-besarkan melalui berita, hingga akhirnya meletus seperti balon ulang tahun.

Terima kasih sekali lagi Pak SBY, mohon maaf karena telah menyita waktu bapak SBY, hanya kerena curhat orang seperti saya dari “ndeso klutuk” ini. Semoga pak SBY tidak bosan membacanya. Selamat bertugas Pak SBY.

As.Wr.Wb.

Salam : Haidi Yan ([email protected])

—————-

NB: Curhat Untuk SBY ini adalah Proyek Nulis Buku Bareng yang diprakarsai oleh Pak Abrar Rifai. Untuk informasi selengkapnya, bisa klik: https://www.facebook.com/notes/abrar-rifai/buku-antologi-curhat-untuk-sby/10150384111250622

September 24, 2011 at 8:25pm ·
 

Tags: ,