Oleh: Abrar Rifai

ibu

ibu

 

Adalah Mas Akung Krisna, sahabat kita dari Jakarta yang saat ini ibunya sedang terbaring sakit di sebuah rumah sakit di Maroko. Dari berbagai status, catatan dan posting-postingannya yang lain, tergambar dengan jelas bahwa Mas Akung benar-benar sedang didera sedih yang teramat sangat. Sebagai sahabat, saya bisa merasakan kesedihannya. Saya turut larut dalam setiap duka yang dipostingkannya di fesbuk. Sampai, terus terang, saya tidak bisa untuk berkomentar di bawah postingannya. Karena saya kesulitan untuk menemukan ungakapan yang pas sebagai bentuk keterlibatan saya pada apa yang saat ini dirasakannya.

 

Sebagai bentuk keterlibatan saya dalam sedihnya Mas Akung, saya telah melakukan doa bersama beserta keluarga dan seluruh santri Pondok Pesantren Putri Babul Khairat. Kami berharap semoga ibunda Mas Akung segera Allah kembalikan kesehatannya seperti sedia kala. Karena sejatinnya hanya Dialah yang bisa menyembuhkan kesehatan setiap hamba-Nya. Berobat hanyalah kewajiban ikhtiyar yang harus dilakukan oleh manusia.

 

Ibu adalah pusaka kehidupan. Keberadaannya adalah jimat. Ketiadaannya adalah keramat. Hanyalah orang gila yang akan menyia-nyiakan ibunya. Hanyalah orang gak waras yang tega menitipkan ibunya dipanti jompo. Dan hanya binatanglah yang tega menyuruh-nyuruh ibunya layaknya pembantu.!

 

Wa bil walidaini ihsana = dan berbaktilah kepada kedua orang tua”  begitu perintah Allah dalam al-qur`an. Pun ketika Rasulullah saw ditanya tentang manusia yang yang paling berhak mendapatkan prioritas perhatian, kasih sayang dan semua kebaikan kita, beliau dengan tegas menjawab; “Ummuk = ibumu!”  beliau ditanya tiga kali, beliau tetap menjawab “Ummuk!”. Pada pertanyaan yang ke empat, Rasulullah baru menjawab; “Abuuk = ayahmu.” Begitu juga dalam riwayat yang lain, Rasulullah Muhammad saw menegaskan bahwa syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu.

 

Lebih luas lagi kita memahami hadis tentang syurga yang berada di bawah telapak kaki ibu, bahwa semua kebahagiaan, dunia dan akherat, selamanya tak akan pernah tercapai kecuali dengan mencarinya di bawah telapak kaki ibu kita. Kedamaian hidup di dunia yang menjadi idaman semua orang tak akan pernah dirasakan, tanpa adanya ridha dari ibu kita. Dan keselamatan akherat jelas hanya bisa kita peroleh kalau ibu kita ridha kepada kita.

 

Kenapa posisi ibu begitu sangat mulia? Bagaimana bisa syurga sampai berada di telapak kakinya? Apa gerangan yang menyebabkan sampai Allah memperlakukan kita tergantung bagaimana keridha-an dan kemurkaan ibu (orang tua) kepada kita? Bagi akal yang masih waras dan berfungsi dengan baik, mudah sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas! Adalah karena Allah menciptakan kita melalui perantaraan beliau. Sembilan bulan dengan segala sakit dan beratnya, ibu mengandung kita. Air susu yang beliau berikan pada kita, tak akan pernah kita dapatkan melainkan dari teteknya. Belum lagi, ketika beliau melahirkan kita, nyawa beliau menjadi taruhannya. Mengerang beliau menahan sakit saat kita berusaha keluar dari rahimnya untuk berpindah ke alam dunia ini.

 

Pun, sedikit tidur beliau di malam hari, karena banyak terbangun untuk menenangkan dan menyusui kita. Beliau suapi kita dengan penuh cinta. Beliau mandikan kita dengan segala kasihnya. Beliau timang dan ayunkan kita dengan segenap doa dan harapan-harapan indah untuk masa depan kita.

 

Ketika kita tertidur, beliau pandangi wajah kita dengan selaksa rasa suka dan sayangnya. Beliau elus kepala kita. Beliau cium kening kita. Saat kita sudah mulai bisa tertatih, ibu dengan telaten melatih kita untuk semakin tangkas berjalan. Ketika sudah mulai kencang berlari, dengan terengah ibu mengejar kita, hanya karena tak menginginkan kita terjatuh.

 

Memasuki usia taman kanak-kanak, ibu juga yang mengantar dan menunggui kita di sekolah. Saat pertama kali kita mendaftar di sekolah dasar, SMP, SMA dan sampai perguruan tinggi, ibu selalu menengadahkan tangannya ke langit, memohon agar kita mendapatkan prestasi akademik yang terbaik. Saat kita bisa lulus di masing-masing jenjang itu, ibu adalah manusia yang paling berbahagia menyambut keberhasilan kita. Pun saat kita mengucapkan ijab Kabul, atau sedang bersanding di pelaminan dengan pasangan kita, ibulah yang paling bergemuruh hatinya dipenuhi bahagia tiada tara karena melihat kita berbahagia. Begitu juga dalam setiap kesulitan yang kita hadapi, ibulah yang paling sedih. Ibulah yang paling banyak berdoa, agar kesukaran tersebut segera berlalu dari kita.

 

Maka Sodara, muliakanlah ibumu selagi ia masih ada di dunia ini. Rawatlah ibumu, selagi engkau berkesempatan untuk melakukannya. Jadikanlah ibumu sebagai prioritas dalam segala amal shalehmu. Masih ingatkah kita tentang kisah Qais al-Qarni, yang begitu sangat rindu ingin bertemu Rasulullas saw di Madinah. Tapi sampai Rasulullah meninggal dunia, keinginan tersebut tak terlaksana. Karena beliau lebih memilih untuk merawat ibunya yang sudah udzur. Tapi, justru perbuatan Qais yang demikian, mengundang Rasulullah untuk tersenyum bangga pada Qais akan baktinya kepada ibunya.

 

Nah, Kawans, masih hidupkah ibumu, ataukah sudah meninggal?